Rabu, 24 Oktober 2018

JARTI, Penebar Inspirasi Pelosok Negeri

Written by  Ragni/Kim Published in Potret Pendidikan Selasa, 25 September 2018 19:29
Rate this item
(1 Vote)

Pontianak - Jarti merupakam sosok mulia penebar inspirasi ke berbagai pelosok negeri. Mereka adalah pengajar pengganti (Jarti). Tugas mereka adalah menggantikan sementara para guru daerah khusus yang saat ini sedang mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG). Jarti  ditugaskan tersebar ke berbagai daerah terpencil, tertinggal dan terluar (3T) wilayah Indonesia. Jarti dikontrak selama 3 bulan mulai 1 September sampai dengan awal Desember 2018.

Tanpa Jarti  proses belajar mengajar di sekolah akan terganggu, padahal mutu pendidikan harus terjaga selalu. Tanpa mereka kegiatan di sekolah akan minus, karena siswa-siswinya tak bisa mengembangkan bakat dan kreativitasnya dengan serius. Tanpa mereka masa depan anak-anak di daerah akan terbelenggu, karena selama 3 bulan tiada guru yang mengajarkan ilmu. 

Jarti hadir membawa harapan. Harapan anak-anak di daerah 3T tetap mendapatkan pendidikan. Harapan anak-anak daerah 3T menatap masa depan. Harapan anak-anak daerah 3T mendapatkan keadilan sosial. Semua harapan ini adalah solusi pemerintah (Kemdikbud) untuk terus konsisten melayani seluruh warga negara untuk mendapatkan kemudahan akses pendidikan.

Jarti juga merupakan agen budaya. Mereka bisa saja membawa budaya untuk dikenalkan kepada siswa-siswi di daerah yang berbeda dengan suka cita. Jarti sebagai agen budaya adalah mengayakan pengetahuan siswa-siswi akan ragam budaya nusantara. Sebaliknya Jarti juga bisa mempunyai pengetahuan baru tentang budaya baru dimana dia mengajar di lingkungan baru.

Bagi jarti mengajar adalah pengabdian. Pengabdian tertinggi setiap warga kepada negaranya. Pengabdian tulus agar pendidikan berjalan mulus. Pengabdian mental yang tak lekang oleh medan dan tantangan alam. Mereka adalah pahlawan. Penakluk pegunungan, sungai, bukit dan jalan terjal. Mereka sadar namun tak gentar. Mereka hadapi semua itu hanya untuk bisa berperan memajukan pendidikan Indonesia.

Adalah Andreas Anus Aris, seorang jarti yang bertugas di SDN 07 Nanga Pak, Kecamatan Sayan Kabupaten Melawi Provinsi Kalimantan Barat. Sebagai jarti, dia tidak disediakan tempat menginap di sekolah. Sehingga harus bolak-balik dari rumah ke sekolah dengan jarak tempuh selama 3 jam. Jalur darat dan sungai pun harus dilalui untuk sampai ke sekolah.

Begitu juga bagi Hersy Yuliarti, seorang jarti yang bertugas di SDN 03 Sebangki kabupaten Landak Provinsi Kalimantan Barat. Dia harus berangkat subuh untuk sampai ke sekolah dengan jarak tempuh 2 jam. Semua itu dilakukan karena ingin berbagi ilmu kepada siswa-siswi di daerah terpencil.

Lain halnya dengan Sabri, seorang jarti yang bertugas di SDN 03 Menggelai kecamatan Boyan Tanjung kabupaten Kapuas Hulu. Dia harus menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam untuk menuju ke sekolah. Lokasi sekolah yang terpencil mengharuskan dia berangkat lebih awal dan pulang menjelang petang. Jalur tempuhnya pun menantang. Sehingga perlu kehati-hatian demi menjalankan misi pendidikan.

Sekelumit kisah jarti ini adalah pembuktian bahwa mereka benar-benar peduli. Peduli pentingnya pendidikan untuk bangsa. Peduli untuk saling berbagi dan menginspirasi. Apapun yang mereka bisa lakukan untuk menjadikan mereka menjadi pribadi yang luar biasa. Mereka mengubah lelah menjadi gairah. Mengubah pesimis menjadi optimis. Mengubah jati diri menjadi bagian dari solusi.

Selamat berjuang. Tebarkan energi, teruslah mengedukasi, jadilah inspirasi ke pelosok negeri.

Read 76 times Last modified on Selasa, 25 September 2018 21:42