Rabu, 21 November 2018

Secuil Kisah Perjuangan Pengumpul Data Penjaminan Mutu Pendidikan

Written by  HM & Kim Published in Potret Pendidikan Selasa, 23 Oktober 2018 07:47
Rate this item
(4 votes)

Pontianak - Data Penjaminan Mutu Pendidikan (PMP) adalah aset pendidikan. Aset yang perlu dikumpulkan, dikelola dan diberdayakan. Sebagai aset, data PMP perlu pemeliharaan, perawatan dan pemutakhiran. Semua kegiatan tersebut tidak mudah. Dibutuhkan konsistensi dan integritas tinggi. Tugas berat inilah yang saat ini dijalankan oleh para pengawas sekolah. Selain membina satuan pendidikan, mereka juga harus mampu menjaga aset ini dengan teliti dan sinergi.

Banyak kisah perjuangan menjaga aset data PMP. Salah satunya adalah Drs. Gusparudin atau yang biasa dipanggil Pak Gus, salah seorang pengawas SMA di Kabupaten Sintang. Beliau melaksanakan tugas pengumpulan data mutu PMP tahun 2018 di 9 sekolah binaan yang tersebar di 5 kecamatan di kabupaten Sintang.

Pak Gus lahir di Nanga Sayan, 10 September 1961. Beliau mulai bertugas pada 1 April 1989 sebagai guru di SMAN 2 Sintang. Selanjutnya beliau menjadi pengawas sejak 31 Desember 2001 sampai sekarang. Beliau menceritakan bahwa dalam melaksanakan pendampingan pelaksanaan pengumpulan data PMP tahun 2018 penuh tantangan dan pengalaman. Apalagi dilaksanakan bertepatan musim penghujan. Sehingga sosialiasasi ke sekolah binaan dengan jarak tempuh mencapai 7 jam perjalanan darat menggunakan sepeda motor dari ibukota kabupaten terasa sulit.

Beliau bertutur beberapa kali pernah terjatuh dari motor. Karena sebagian jalan belum beraspal. Sehingga menyebabkan roda sepeda motor mudah tergelincir. Resikonya sepeda motor menjadi cepat rusak. Bermalam di jalan pun menjadi pengalaman kehidupan dalam perjalanan kedinasan. Dalam setiap kunjungan ke sekolah yang medannya sulit beliau pasti membawa bekal senter dan pisau.

Beliau berkisah bahwa semua kecamatan di Sintang pernah dikunjungi. Beliau juga mengisahkan bahwa wilayah binaannya sangat luas. Dari jalan yang mulus sampai yang licin dan berlumpur. Sedangkan jumlah pengawas SMA/ SMK kabupaten Sintang jumlahnya masih terbatas. Namun dari secuil kisah duka tersebut terselip perasaan suka dan gembira.

Perasaan suka adalah ketika tiba di sekolah binaan. Sambutan hangat dari warga sekolah membuat rasa capek dan lelah seolah terbayarkan. Pak Gus dapat melihat langsung proses pembelajaran dan kondisi nyata pendidikan di daerah terpencil, tertinggal dan terluar. Pak Gus juga dapat memberikan bimbingan serta masukan kepada sekolah untuk berubah menjadi lebih baik, menjadi penyemangat serta inovasi manajemen sekolah yang baik dan benar. Semua situasi tersebut merupakan kepuasan batin yang tidak dapat diukur dengan materi dan bahkan menjadi pengalaman abadi turut memajukan pendidikan negeri.

Perjuangan pengumpulan data ini beliau lakukan karena waktu antara pelaksanaan bimbingan teknis (bimtek) pengawas petugas pengumpulan data mutu pendidikan dengan rencana cut off pengiriman data PMP hanya 2 bulan. Sehingga pengawas harus segera menyosialisasikan hasil bimtek tersebut kepada sekolah binaan. Tujuannya agar sekolah dapat segera mengisi data PMP sesuai dengan kondisi nyata yang terjadi di sekolah. Sehingga setiap sekolah dapat menyelesaikan proses pengisian dan pengiriman tepat pada waktunya.

Pak Gus adalah salah satu dari ribuan pengawas sekolah di Indonesia yang berjuang demi kualitas data mutu pendidikan. Kebenaran dan validitas data adalah pertaruhan. Berkunjung mendatangi sekolah binaan adalah tantangan. Keikhlasan dan tanggung jawab adalah keseriusan. Keseriusan yang menjadi bagian dari proses penjaminan mutu pendidikan.

Read 56 times