Minggu, 21 Oktober 2018

Potret Pendidikan (50)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Potret Realita Pendidikan

JARTI, Penebar Inspirasi Pelosok Negeri

Written by Selasa, 25 September 2018 19:29

Pontianak - Jarti merupakam sosok mulia penebar inspirasi ke berbagai pelosok negeri. Mereka adalah pengajar pengganti (Jarti). Tugas mereka adalah menggantikan sementara para guru daerah khusus yang saat ini sedang mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG). Jarti  ditugaskan tersebar ke berbagai daerah terpencil, tertinggal dan terluar (3T) wilayah Indonesia. Jarti dikontrak selama 3 bulan mulai 1 September sampai dengan awal Desember 2018.

Tanpa Jarti  proses belajar mengajar di sekolah akan terganggu, padahal mutu pendidikan harus terjaga selalu. Tanpa mereka kegiatan di sekolah akan minus, karena siswa-siswinya tak bisa mengembangkan bakat dan kreativitasnya dengan serius. Tanpa mereka masa depan anak-anak di daerah akan terbelenggu, karena selama 3 bulan tiada guru yang mengajarkan ilmu. 

Jarti hadir membawa harapan. Harapan anak-anak di daerah 3T tetap mendapatkan pendidikan. Harapan anak-anak daerah 3T menatap masa depan. Harapan anak-anak daerah 3T mendapatkan keadilan sosial. Semua harapan ini adalah solusi pemerintah (Kemdikbud) untuk terus konsisten melayani seluruh warga negara untuk mendapatkan kemudahan akses pendidikan.

Jarti juga merupakan agen budaya. Mereka bisa saja membawa budaya untuk dikenalkan kepada siswa-siswi di daerah yang berbeda dengan suka cita. Jarti sebagai agen budaya adalah mengayakan pengetahuan siswa-siswi akan ragam budaya nusantara. Sebaliknya Jarti juga bisa mempunyai pengetahuan baru tentang budaya baru dimana dia mengajar di lingkungan baru.

Bagi jarti mengajar adalah pengabdian. Pengabdian tertinggi setiap warga kepada negaranya. Pengabdian tulus agar pendidikan berjalan mulus. Pengabdian mental yang tak lekang oleh medan dan tantangan alam. Mereka adalah pahlawan. Penakluk pegunungan, sungai, bukit dan jalan terjal. Mereka sadar namun tak gentar. Mereka hadapi semua itu hanya untuk bisa berperan memajukan pendidikan Indonesia.

Adalah Andreas Anus Aris, seorang jarti yang bertugas di SDN 07 Nanga Pak, Kecamatan Sayan Kabupaten Melawi Provinsi Kalimantan Barat. Sebagai jarti, dia tidak disediakan tempat menginap di sekolah. Sehingga harus bolak-balik dari rumah ke sekolah dengan jarak tempuh selama 3 jam. Jalur darat dan sungai pun harus dilalui untuk sampai ke sekolah.

Begitu juga bagi Hersy Yuliarti, seorang jarti yang bertugas di SDN 03 Sebangki kabupaten Landak Provinsi Kalimantan Barat. Dia harus berangkat subuh untuk sampai ke sekolah dengan jarak tempuh 2 jam. Semua itu dilakukan karena ingin berbagi ilmu kepada siswa-siswi di daerah terpencil.

Lain halnya dengan Sabri, seorang jarti yang bertugas di SDN 03 Menggelai kecamatan Boyan Tanjung kabupaten Kapuas Hulu. Dia harus menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam untuk menuju ke sekolah. Lokasi sekolah yang terpencil mengharuskan dia berangkat lebih awal dan pulang menjelang petang. Jalur tempuhnya pun menantang. Sehingga perlu kehati-hatian demi menjalankan misi pendidikan.

Sekelumit kisah jarti ini adalah pembuktian bahwa mereka benar-benar peduli. Peduli pentingnya pendidikan untuk bangsa. Peduli untuk saling berbagi dan menginspirasi. Apapun yang mereka bisa lakukan untuk menjadikan mereka menjadi pribadi yang luar biasa. Mereka mengubah lelah menjadi gairah. Mengubah pesimis menjadi optimis. Mengubah jati diri menjadi bagian dari solusi.

Selamat berjuang. Tebarkan energi, teruslah mengedukasi, jadilah inspirasi ke pelosok negeri.

Banda Aceh, Kemendikbud --- Dalam rangka menyambut Asian Games ke-18 tahun 2018 yang tinggal dua minggu lagi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy beserta jajarannya, terus berupaya menggelorakan ajang empat tahunan tersebut, antara lain, dengan menggelar kegiatan jalan sehat bersama siswa dan warga sekitar. Setelah di Papua dan Jakarta pada pekan lalu, kali ini Mendikbud mengajak siswa dan warga Kota Banda Aceh untuk jalan sehat sejauh 5 KM, dimulai dari halaman kantor Gubernur Aceh, di Jalan Teuku Nyak Arief, Banda Aceh.

Sebelum jalan sehat dimulai, Muhadjir berpesan kepada siswa dan guru yang hadir agar kegiatan ini dijadikan momentum untuk kembali membiasakan jalan kaki ketika berangkat ke sekolah maupun pulang dari sekolah.

“Saya berpesan kepada para guru, supaya anak-anak harus berolahraga setiap hari walaupun tidak lama, terutama dianjurkan kepada anak-anak agar ketika berangkat ke sekolah dan pulang dari sekolah jalan kaki. Karena jalan kaki adalah olahraga yang paling murah dan bisa sambil lalu,” disampaikan Mendikbud di halaman Kantor Gubernur Aceh, sebelum melepas peserta jalan sehat pada Minggu pagi (5/8/2018).

Sejalan dengan itu, untuk mendukung tradisi jalan kaki seperti di negara-negara maju, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) saat ini telah membuat kebijakan yang mengajarkan siswa untuk terbiasa jalan kaki yakni melalui sistem zonasi. Mendikbud menjelaskan tujuan dari sistem zonasi adalah siswa yang terdekat dari sekolah harus diprioritaskan untuk bisa diterima, bukan hanya karena penilaian akademik.

“Kalau anak itu berasal dari keluarga yang dekat dengan sekolah, maka tidak perlu diantar pakai mobil, tidak perlu diantar pakai kendaraan pribadi, tetapi cukup dengan jalan kaki,” jelas Mendikbud di depan 3.000 peserta jalan sehat.

Mendikbud menambahkan tujuan dari penyelenggaraan jalan sehat ini adalah pertama untuk ikut menyambut, memeriahkan, menyongsong dan mendoakan pelaksanaan Asian Games yang ke-18 tahun 2018 di Indonesia. Kedua mulai mentradisikan, membiasakan kembali agar suka berjalan kaki. "Dengan begitu kita akan sehat, keluarga sehat, insya allah akhlaknya juga sehat, budi pekertinya sehat, dan kecerdasannya juga sehat," ujarnya.

Dalam kesempatan ini, turut hadir Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, yang mendampingi Mendikbud Muhadjir melakukan jalan sehat bersama warga. Iriansyah menjelaskan bahwa acara jalan sehat tersebut merupakan salah satu kegiatan dalam rangka memeriahkan Asian Games ke-18. “Anak-anak suka sepeda yang ada di depan? Mau? Nah kalau mau jalan dulu. Sesudah jalan baru yang beruntung dapat sepeda,” ujarnya.

Asian Games ke-18 akan berlangsung selama dua minggu, pada 18 Agustus - 2 September 2018, digelar di Jakarta dan Palembang, diikuti 45 negara Asia. Ajang kompetisi multi cabang olahraga empat tahunan ini akan dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo di Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta pada tanggal 18 Agustus mendatang.

Mendikbud Pantau Hari Pertama Sekolah di Papua

Written by Senin, 16 Juli 2018 08:33

Abepura - Papua, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) mengawali kunjungan kerja di provinsi Papua dengan menghadiri apel hari pertama sekolah (HPS) di beberapa sekolah. Mendikbud mengaku bangga dengan sekolah di Papua yang tidak kalah dengan sekolah di daerah lain.

"Saya berkunjung ke SD yang sangat bagus, tidak kalah dengan SD di tempat lain, khususnya di Jawa. Saya minta Pemerintah Provinsi Papua bisa mengimbaskan sekolah yang bagus ini ke sekolah-sekolah lainnya di Papua yang kondisinya masih kurang," disampaikan Mendikbud Muhadjir Effendy saat mengunjungi Sekolah Dasar (SD) Negeri Kotaraja, Abepura, Papua, pada hari pertama masuk sekolah, Senin (16/7).

Pagi ini, Mendikbud memberikan motivasi kepada para siswa untuk terus belajar dan memberikan kemajuan untuk Papua. Ia berpesan agar sekolah dapat menyambut siswa dengan suasana yang menggembirakan dengan memberikan harapan dan semangat mempersiapkan masa depan bersama.

Pengenalan terhadap fasilitas dan peraturan sekolah, menurut Muhadjir, perlu disampaikan dengan baik dan penuh keramahan. Para guru memperkenalkan diri juga dengan penuh keterbukaan. Kemudian mendengarkan harapan dari siswa. Disampaikan mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini, pendidik perlu memahami bahwa setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai minat dan bakat masing-masing.

Zonasi Untuk Pemerataan Pendidikan Berkualitas

Dengan sistem zonasi yang sudah mulai diterapkan, Mendikbud berharap hal tersebut dapat merekatkan, menyinergikan antara tripusat pendidikan, yaitu sekolah, masyarakat, dan keluarga. Sehingga perlu disadari bahwa tanggung jawab pendidikan tidak hanya di satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama. "Diharapkan jika ada hal-hal negatif yg menerpa siswa kita, bisa diatasi dengan kerja sama antara tiga pihak itu.” kata Mendikbud.

Kebijakan zonasi ditetapkan pemerintah untuk kebaikan yang lebih besar. Khususnya mempercepat pemerataan pendidikan yang berkualitas. Saat ini angka partisipasi kasar (APK) dan angka partisipasi murni (APM) dirasa sudah cukup tinggi. Namun, menurut Mendikbud kualitasnya belum merata. "Misalnya di wilayah Papua ini, kalau di kota-kotanya sudah baik, sudah cukup maju, tetapi di wilayah pegunungannya masih belum. Kalau dibiarkan nanti akan semakin menganga kesenjangan itu. Tidak boleh begitu," tutur Mendikbud.

Oleh karena itu, zonasi akan menjadi pintu masuk pembenahan pendidikan nasional. Segera, kebijakan zonasi akan menghadirkan rekomendasi berbasis data yang dapat digunakan "Saya tahu banyak yang belum paham, dan mungkin tidak puas karena adanya perubahan. Yang penting adalah mengubah sikap mental, cara pandang masyarakat. Ini bagian dari revolusi mental di bidang pendidikan," jelas Mendikbud.

Turut dalam kunjungan kerja kali ini Sekretaris Jenderal, Didik Suhardi; Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Hamid Muhammad; Staf Ahli bidang Hubungan Pusat dan Daerah, James Modouw; Staf Khusus Monitoring Implementasi Kebijakan, Alpha Amirrachman; Direktur Pembinaan SD, Khamim; Direktur Pembinaan SMP, Supriano.

"Saya mohon betul agar pemerintah provinsi Papua, dan pemerintah kabupaten/kota segera mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang sudah digariskan pemerintah pusat. Agar segera terwujud pemerataan yang berkualitas itu," pungkas Muhadjir.

Selain meninjau pelaksanaan hari pertama sekolah, Mendikbud dijadwalkan menghadiri Rapat Koordinasi Dinas Pendidikan se-Papua dan juga melepas Jalan Sehat Siswa dan Guru dalam rangka menyemarakkan Asian Games 2018.

 

Generasi Cerdas Berkarakter Kekuatan Indonesia!

Written by Selasa, 17 Juli 2018 08:32

Hari Pertama Sekolah adalah momentum baik untuk optimalisasi peran para pelaku pendidikan untuk berfokus pada penguatan karakter anak. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) bertumpu pada kontribusi tri pusat pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat).

Melalui pengelolaan manajemen berbasis sekolah, ketiga unsur tersebut diharapkan mampu bersinergi untuk mengusahakan pendidikan karakter bagi anak kapanpun dan dimanapun.

Bagi keluarga, Pendidikan dalam keluarga adalah yang pertama dan utama. Dengan 2 hari libur (Permendikbud No.23/2017), keluarga mendapat waktu berkualitas untuk berperan dalam pendidikan karakter anak.

Bagi sekolah, Guru diharapkan mampu mengasah potensi setiap siswa, dengan menciptakan kegiatan belajar yang dinamis dan kreatif. Dengan penyesuaian beban kerja guru (PP No.19/2017), guru diharapkan dapat lebih maksimal dan intensif membimbing siswanya. Di sisi lain, kepala sekolah sebagai manajer yang berusaha memajukan dan menciptakan citra baik sekolahnya.

Bagi masyarakat, Saat ini masyarakat sudah diberi ruang yang luas untuk terlibat aktif dalam penyelenggaraan pendidikan. Masyarakat dapat berkolaborasi dengan Komite Sekolah (Permendikbud No.75/2016) untuk berkontribusi bagi kemajuan pendidikan Indonesia.

Bagi siswa, Gali potensi dan asahlah karaktermu dimanapun dan kapanpun. Keluarga, sekolah, dan masyarakat siap membantumu menjadi pribadi cerdas dan berkarakter.

Generasi Cerdas Berkarakter Kekuatan Indonesia!


Palangka Raya, 17 Juli 2017


Muhadjir Effendy

Jakarta, Kemendikbud -- Siswa Sekolah Dasar (SD) Indonesia kembali mengharumkan nama bangsa dalam kompetisi matematika internasional. Sebanyak 12 siswa SD yang mewakili Indonesia membawa pulang dua emas, dua perak, dan enam perunggu dalam ajang Bulgaria International Mathematics Competition (BIMC) Tahun 2018.

"Artinya kita tidak boleh pesimis. Anak-anak ini sudah membuktikan bahwa kita juga mampu bersaing di kancah internasional," disampaikan Direktur Pembinaan Sekolah Dasar, Khamim, saat menyambut kedatangan delegasi BIMC di bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Sabtu (7/7).

Untuk kategori tim/kelompok, delegasi Indonesia berhasil meraih satu emas (champion), dua perak, dan dua perunggu. Sedangkan untuk kategori individu, Indonesia memperoleh satu emas atas nama Felicia Grace Angelyn Ferdianto dari SD Cahaya Nur, Kudus. Satu medali perak atas nama Yedija Nicholas Kurniawidi dari SD Karangturi, Semarang.

Empat medali perunggu diraih oleh Ahmad Fikri Azhari (SD Muhammadiyah Plus, Batam); Mafazi Ikhwan Dhandi Hibatullah (SDS Al Furqon, Jember); Matthew Allan (SDS Kristen 10 Penabur, Jakarta); dan Ryan Suwandi (SDS Tzu Chi, Jakarta). Dan lima orang siswa lainnya mendapatkan penghargaan merit (harapan) dalam kompetisi yang diikuti 28 negara tersebut.

Khamim menjelaskan bahwa delegasi BIMC terdiri dari para siswa berprestasi yang merupakan juara dari OSN tahun 2017. "Pembekalan delegasi dilakukan dalam dua tahapan; pada bulan Mei dan Juni," ujar Khamim, Direktur Pembinaan SD.

Yedija (12) mengungkapkan rasa senang dan bangganya bisa mempersembahkan medali perak dalam kategori individu. Menurutnya medali emas yang diraih timnya merupakan bentuk kerja sama yang baik bersama tiga orang anggota kelompok lainnya. "Dari kecil aku memang suka matematika. Serunya matematika itu tantangannya memecahkan soal, mencari caranya," kata siswa yang dipanggil Jade ini sambil tersenyum.

Peraih medali emas individu, Felicia (12) mengungkapkan kegembiraan sekaligus keterkejutannya meraih emas di ajang bergengsi tersebut. Meski BIMC bukanlah kompetisi internasional pertamanya, siswi yang juga gemar melukis dan membaca komik ini tidak mengira ia akan mendapatkan medali emas.

Ibunda Felicia, Lisa Triana mengungkapkan bahwa putrinya memang menggemari matematika sejak kecil. Bakat dan minat Felicia ditemukan sejak Taman Kanak-kanak saat memenangkan lomba di tingkat kabupaten. Pembinaan dan pengembangan diri anaknya disesuaikan dengan keinginan si buah hati. "Dia cita-citanya jadi guru. Saya fasilitasi saja. Yang penting dia kalau nanti jadi guru ya mengajar dengan hati," tutur Lisa.

Pembinaan Berkelanjutan

Ibnu Hadi (37), Dosen Universitas Negeri Jakarta yang menjadi salah satu pendamping delegasi BIMC menyampaikan perlunya pembinaan yang berkelanjutan. Menurut Ibnu, kualitas siswa Indonesia yang berkompetisi di ajang internasional tidak kalah dengan siswa di negara-negara maju lainnya. "Tantangan bagi guru untuk bisa memancing potensi siswa yang selama ini terpendam," ungkap Ibnu.

Penerapan kurikulum 2013 dan pembiasaan mengerjakan soal-soal penalaran tingkat tinggi dirasa sudah tepat dan perlu dijaga konsistensinya. "Yang penting kita kontinu dan terus dievaluasi. Kita harus mencari pembanding di negara lain, kalau bisa sama, atau bahkan bisa lebih. Kuncinya memang di guru," jelas Ibnu.

Dengan lebih dari 148 ribu sekolah dan lebih dari 25,5 juta siswa Sekolah Dasar, Kemendikbud berkomitmen untuk terus melakukan pemerataan kualitas pendidikan. Direktur Pembinaan SD mengungkapkan pembinaan dilakukan secara berjenjang dan berkelanjutan bagi para siswa berprestasi. Para juara yang telah mengharumkan nama bangsa di kancah internasional ini akan diberikan Beasiswa Bakat Prestasi.

"Juara OSN tahun 2018 nanti akan diikutsertakan pada kompetisi internasional di tahun 2019. Ini sebenarnya pembinaan berkelanjutan dan memberikan apresiasi kepada siswa kita," kata Khamim.