Rabu, 19 Desember 2018

Potret Pendidikan (53)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Potret Realita Pendidikan

Jakarta, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, pengasuhan yang terbaik ialah yang lahir dari tradisi keluarga itu sendiri. Menurutnya, proses mencerdaskan kehidupan bangsa tidak hanya meningkatkan pengetahuan keterampilan peserta didik, melainkan yang terpenting adalah menjadikan mereka memiliki sikap atau karakter yang baik  dengan nilai-nilai Pancasila dan budaya, juga budaya tradisi keluarga.

Mendikbud mencontohkan budaya literasi yang bisa ditumbuhkan sejak anak berusia dini di lingkungan keluarga.  “Orang tua harus membiasakan anak membaca, membaca apa saja. Kalau anak itu sudah kita biasakan membaca, tidak usah disuruh membaca pun, anak akan membaca. Makanya bagaimana kita membangkitkan lingkungan baca itu juga menjadi sangat penting,” ujarnya saat Malam Puncak Apresiasi Pendidikan Keluarga 2018 di Plaza Insan Berprestasi Kemendikbud, Jakarta, Kamis (25/10/2018).

Apresiasi Pendidikan Keluarga adalah sebuah bentuk apresiasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kepada seluruh pelaku pendidikan yang turut mendukung dalam mewujudkan insan serta ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang berkarakter dengan berlandaskan gotong royong. Malam Puncak Apresiasi Pendidikan Keluarga diselenggarakan untuk memberikan apresiasi secara langsung dengan mengundang para pemenang seluruh kategori lomba yang ada. Keluarga yang diberikan apresiasi datang dari asal daerah mereka.

Penyelenggaraan Apresiasi Pendidikan Keluarga tahun ini menghadirkan 83 penerima penghargaan, terdiri dari 10 keluarga hebat terpilih, 40 pemenang lomba jurnalistik dan blog, 12 pemenang lomba film/video pendek, dan 21 sekolah sahabat keluarga mulai tingkat PAUD hingga SMA/K. Mendikbud berharap penghargaan untuk para orang tua hebat bisa menjadi teladan kepada orang tua lain, terutama kepada pasangan-pasangan muda yang sedang membesarkan anak-anaknya.

“Jadi saya yakin, mereka-mereka ini yang tadi dapat penghargaan adalah juga orang-orang yang sangat dihormati dan dijadikan contoh oleh tetangga dan masyarakat sekitarnya,” kata Mendikbud.

Sarwini, seorang tukang becak dari Kota Cilegon, Banten, adalah salah satu penerima Apresiasi Pendidikan Keluarga untuk Kategori Keluarga Hebat. Ia berhasil menguliahkan anaknya di Institut Teknologi Bandung (ITB) hingga lulus S1, dan saat ini sedang menjalani program pascasarjana untuk S2. “Saya tidak bisa menjawab ketika anak saya bilang ingin kuliah di ITB. Ya, tahu sendiri, penghasilan sebagai tukang becak tidak cukup, apalagi cita-cita anak saya tinggi sekali. Saya sebagai orang tua hanya bisa mendukung serta mendoakan yang terbaik untuk anak saya. Alhamdulilah anak saya telah lulus S1 di ITB dan sedang menjalani S2 juga di ITB,” tutur Sarwini.

Selain Sarwini dan istrinya, Durah, pasangan orang tua yang menerima Apresiasi Keluarga Hebat adalah Esin dan Komariah (tukang becak dan tukang sayur keliling), (Almarhum) Lahadalia dan H. Nurjani (tukang bangunan dan asisten rumah tangga). Teguh Tuparman dan Sri Retnanik (satpam dan ibu rumah tangga), Jafar Sidiq dan Nur Afifah (karyawan swasta dan ibu rumah tangga, David Haliyanto dan Ni Wayan Luh (karyawan swasta dan ibu rumah tangga), Henry Ridho dan Laila Sari (teknisi teknologi informasi dan konsultan pendidikan), (Almarhum) Slamet dan Suharni (konsultasi transportasi dan guru honorer), Toha Sinaga dan Juniar Simbolon (jasa transportasi dan ibu rumah tangga), dan Suprianab dan Beski (teknisi elektronik dan ibu rumah tangga). Penghargaan diberikan langsung oleh Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kemendikbud, Widati Muhadjir Effendy. 

Pontianak - Data Penjaminan Mutu Pendidikan (PMP) adalah aset pendidikan. Aset yang perlu dikumpulkan, dikelola dan diberdayakan. Sebagai aset, data PMP perlu pemeliharaan, perawatan dan pemutakhiran. Semua kegiatan tersebut tidak mudah. Dibutuhkan konsistensi dan integritas tinggi. Tugas berat inilah yang saat ini dijalankan oleh para pengawas sekolah. Selain membina satuan pendidikan, mereka juga harus mampu menjaga aset ini dengan teliti dan sinergi.

Banyak kisah perjuangan menjaga aset data PMP. Salah satunya adalah Drs. Gusparudin atau yang biasa dipanggil Pak Gus, salah seorang pengawas SMA di Kabupaten Sintang. Beliau melaksanakan tugas pengumpulan data mutu PMP tahun 2018 di 9 sekolah binaan yang tersebar di 5 kecamatan di kabupaten Sintang.

Pak Gus lahir di Nanga Sayan, 10 September 1961. Beliau mulai bertugas pada 1 April 1989 sebagai guru di SMAN 2 Sintang. Selanjutnya beliau menjadi pengawas sejak 31 Desember 2001 sampai sekarang. Beliau menceritakan bahwa dalam melaksanakan pendampingan pelaksanaan pengumpulan data PMP tahun 2018 penuh tantangan dan pengalaman. Apalagi dilaksanakan bertepatan musim penghujan. Sehingga sosialiasasi ke sekolah binaan dengan jarak tempuh mencapai 7 jam perjalanan darat menggunakan sepeda motor dari ibukota kabupaten terasa sulit.

Beliau bertutur beberapa kali pernah terjatuh dari motor. Karena sebagian jalan belum beraspal. Sehingga menyebabkan roda sepeda motor mudah tergelincir. Resikonya sepeda motor menjadi cepat rusak. Bermalam di jalan pun menjadi pengalaman kehidupan dalam perjalanan kedinasan. Dalam setiap kunjungan ke sekolah yang medannya sulit beliau pasti membawa bekal senter dan pisau.

Beliau berkisah bahwa semua kecamatan di Sintang pernah dikunjungi. Beliau juga mengisahkan bahwa wilayah binaannya sangat luas. Dari jalan yang mulus sampai yang licin dan berlumpur. Sedangkan jumlah pengawas SMA/ SMK kabupaten Sintang jumlahnya masih terbatas. Namun dari secuil kisah duka tersebut terselip perasaan suka dan gembira.

Perasaan suka adalah ketika tiba di sekolah binaan. Sambutan hangat dari warga sekolah membuat rasa capek dan lelah seolah terbayarkan. Pak Gus dapat melihat langsung proses pembelajaran dan kondisi nyata pendidikan di daerah terpencil, tertinggal dan terluar. Pak Gus juga dapat memberikan bimbingan serta masukan kepada sekolah untuk berubah menjadi lebih baik, menjadi penyemangat serta inovasi manajemen sekolah yang baik dan benar. Semua situasi tersebut merupakan kepuasan batin yang tidak dapat diukur dengan materi dan bahkan menjadi pengalaman abadi turut memajukan pendidikan negeri.

Perjuangan pengumpulan data ini beliau lakukan karena waktu antara pelaksanaan bimbingan teknis (bimtek) pengawas petugas pengumpulan data mutu pendidikan dengan rencana cut off pengiriman data PMP hanya 2 bulan. Sehingga pengawas harus segera menyosialisasikan hasil bimtek tersebut kepada sekolah binaan. Tujuannya agar sekolah dapat segera mengisi data PMP sesuai dengan kondisi nyata yang terjadi di sekolah. Sehingga setiap sekolah dapat menyelesaikan proses pengisian dan pengiriman tepat pada waktunya.

Pak Gus adalah salah satu dari ribuan pengawas sekolah di Indonesia yang berjuang demi kualitas data mutu pendidikan. Kebenaran dan validitas data adalah pertaruhan. Berkunjung mendatangi sekolah binaan adalah tantangan. Keikhlasan dan tanggung jawab adalah keseriusan. Keseriusan yang menjadi bagian dari proses penjaminan mutu pendidikan.

Kemendikbud akan Bangun Museum Pendidikan

Written by Senin, 22 Oktober 2018 07:44
Jakarta, Kemendikbud --- Sebagai salah satu cara memperkenalkan sejarah, khususnya terkait pendidikan di Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana mendirikan museum pendidikan. Untuk mematangkan gagasan tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy berdiskusi langsung dengan menteri-menteri pendidikan era sebelumnya di kantor Kemendikbud, Jakarta dalam bentuk Diskusi Kelompok Terpumpun (17/10/2018). 
 
Sebanyak empat mantan menteri hadir dalam diskusi ini, yaitu Wardiman Djojonegoro (1993-1998), Yahya Muhaimin (1999-2001), Abdul Malik Fajar (2001-2004), dan Muhammad Nuh (2009-2014). Selain mendukung, keempatnya memberikan usulannya masing-masing agar museum ini nantinya bisa menjadi museum yang tidak hanya memberikan rekreasi, tetapi juga edukasi dan juga inspirasi.
 
Muhadjir Effendy menginginkan agar museum tingkat nasional ini memiliki koleksi khusus tentang pendidikan. Tidak hanya itu, museum ini dapat menghadirkan alur cerita pendidikan Indonesia sejak zaman pra-sejarah hingga saat ini. Dengan begitu generasi muda pun bisa melihat sejarah pendidikan Indonesia sebagai bagian dari pembelajaran bagi mereka.
 
“Museum Pendidikan ini diharapkan dapat menjadi wahana sumber sumber informasi (sejarah) pendidikan nasional Republik Indonesia, sumber informasi  pendidikan nasional, dan wahana memori kolektif pendidikan yang berkarakter,” tegasnya.
 
Mendikbud era tahun 1993-1998, Wardiman Djojonegoro, menyampaikan dukungannya atas pendirian Museum Pendidikan. “Saya sangat setuju Pak Menteri menggagas pendirian Museum Pendidikan, karena saya ikut rapat setahun yang lalu dan akhirnya sekarang jadi. Semoga pendiriannya cepat, dan segera diputuskan gedung yang mana. Harus nyaman bagi pengunjung, bisa duduk, baca, bisa lihat video, dan dengar musik,” ucapnya
 
Dukungan pun disampaikan oleh Muhammad Nuh, Mendikbud era tahun 2009-2014. Ia mengatakan bahwa ide untuk membangun Museum Pendidikan sangat bagus, karena ciri negara maju ada tiga, yakni sungainya bersih, museumnya bagus, dan sekolahnya bagus. “Alhamdulilah hari ini kita akan menggagas dan merealisasikan pendirian museum pendidikan yang modern. Oleh karena tidak sekadar tempat koleksi tetapi di desain modern, kombinasi aset-aset masa lalu diterjemahkan ke masa kini, tetapi harus ada unsur masa depannya,” pesan M. Nuh.
 
“Saya berharap Museum Pendidikan ini menjadi pengingat kita akan perjalanan pendidikan di Indonesia, dan pengingat bahwa perjalanan suatu bangsa yang besar tidak luput dari perjalanan sejarah pendidikannya. Akhir kata, saya berharap Museum Pendidikan ini dapat memberikan edukasi, inspirasi, dan juga rekreasi bagi kita semua,” pesan Mendikbud.
 

Selain menghadirkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan terdahulu, diskusi kelompok terpumpun ini juga menghadirkan pejabat eselon 1 dan 2 Kemendikbud periode sebelumnya, baik saat masih bernama Depdikbud, Depdiknas, Kemendiknas maupun Kemendikbud, serta pejabat eselon 1 dan 2 yang aktif saat ini.

JARTI, Penebar Inspirasi Pelosok Negeri

Written by Selasa, 25 September 2018 19:29

Pontianak - Jarti merupakam sosok mulia penebar inspirasi ke berbagai pelosok negeri. Mereka adalah pengajar pengganti (Jarti). Tugas mereka adalah menggantikan sementara para guru daerah khusus yang saat ini sedang mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG). Jarti  ditugaskan tersebar ke berbagai daerah terpencil, tertinggal dan terluar (3T) wilayah Indonesia. Jarti dikontrak selama 3 bulan mulai 1 September sampai dengan awal Desember 2018.

Tanpa Jarti  proses belajar mengajar di sekolah akan terganggu, padahal mutu pendidikan harus terjaga selalu. Tanpa mereka kegiatan di sekolah akan minus, karena siswa-siswinya tak bisa mengembangkan bakat dan kreativitasnya dengan serius. Tanpa mereka masa depan anak-anak di daerah akan terbelenggu, karena selama 3 bulan tiada guru yang mengajarkan ilmu. 

Jarti hadir membawa harapan. Harapan anak-anak di daerah 3T tetap mendapatkan pendidikan. Harapan anak-anak daerah 3T menatap masa depan. Harapan anak-anak daerah 3T mendapatkan keadilan sosial. Semua harapan ini adalah solusi pemerintah (Kemdikbud) untuk terus konsisten melayani seluruh warga negara untuk mendapatkan kemudahan akses pendidikan.

Jarti juga merupakan agen budaya. Mereka bisa saja membawa budaya untuk dikenalkan kepada siswa-siswi di daerah yang berbeda dengan suka cita. Jarti sebagai agen budaya adalah mengayakan pengetahuan siswa-siswi akan ragam budaya nusantara. Sebaliknya Jarti juga bisa mempunyai pengetahuan baru tentang budaya baru dimana dia mengajar di lingkungan baru.

Bagi jarti mengajar adalah pengabdian. Pengabdian tertinggi setiap warga kepada negaranya. Pengabdian tulus agar pendidikan berjalan mulus. Pengabdian mental yang tak lekang oleh medan dan tantangan alam. Mereka adalah pahlawan. Penakluk pegunungan, sungai, bukit dan jalan terjal. Mereka sadar namun tak gentar. Mereka hadapi semua itu hanya untuk bisa berperan memajukan pendidikan Indonesia.

Adalah Andreas Anus Aris, seorang jarti yang bertugas di SDN 07 Nanga Pak, Kecamatan Sayan Kabupaten Melawi Provinsi Kalimantan Barat. Sebagai jarti, dia tidak disediakan tempat menginap di sekolah. Sehingga harus bolak-balik dari rumah ke sekolah dengan jarak tempuh selama 3 jam. Jalur darat dan sungai pun harus dilalui untuk sampai ke sekolah.

Begitu juga bagi Hersy Yuliarti, seorang jarti yang bertugas di SDN 03 Sebangki kabupaten Landak Provinsi Kalimantan Barat. Dia harus berangkat subuh untuk sampai ke sekolah dengan jarak tempuh 2 jam. Semua itu dilakukan karena ingin berbagi ilmu kepada siswa-siswi di daerah terpencil.

Lain halnya dengan Sabri, seorang jarti yang bertugas di SDN 03 Menggelai kecamatan Boyan Tanjung kabupaten Kapuas Hulu. Dia harus menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam untuk menuju ke sekolah. Lokasi sekolah yang terpencil mengharuskan dia berangkat lebih awal dan pulang menjelang petang. Jalur tempuhnya pun menantang. Sehingga perlu kehati-hatian demi menjalankan misi pendidikan.

Sekelumit kisah jarti ini adalah pembuktian bahwa mereka benar-benar peduli. Peduli pentingnya pendidikan untuk bangsa. Peduli untuk saling berbagi dan menginspirasi. Apapun yang mereka bisa lakukan untuk menjadikan mereka menjadi pribadi yang luar biasa. Mereka mengubah lelah menjadi gairah. Mengubah pesimis menjadi optimis. Mengubah jati diri menjadi bagian dari solusi.

Selamat berjuang. Tebarkan energi, teruslah mengedukasi, jadilah inspirasi ke pelosok negeri.

Banda Aceh, Kemendikbud --- Dalam rangka menyambut Asian Games ke-18 tahun 2018 yang tinggal dua minggu lagi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy beserta jajarannya, terus berupaya menggelorakan ajang empat tahunan tersebut, antara lain, dengan menggelar kegiatan jalan sehat bersama siswa dan warga sekitar. Setelah di Papua dan Jakarta pada pekan lalu, kali ini Mendikbud mengajak siswa dan warga Kota Banda Aceh untuk jalan sehat sejauh 5 KM, dimulai dari halaman kantor Gubernur Aceh, di Jalan Teuku Nyak Arief, Banda Aceh.

Sebelum jalan sehat dimulai, Muhadjir berpesan kepada siswa dan guru yang hadir agar kegiatan ini dijadikan momentum untuk kembali membiasakan jalan kaki ketika berangkat ke sekolah maupun pulang dari sekolah.

“Saya berpesan kepada para guru, supaya anak-anak harus berolahraga setiap hari walaupun tidak lama, terutama dianjurkan kepada anak-anak agar ketika berangkat ke sekolah dan pulang dari sekolah jalan kaki. Karena jalan kaki adalah olahraga yang paling murah dan bisa sambil lalu,” disampaikan Mendikbud di halaman Kantor Gubernur Aceh, sebelum melepas peserta jalan sehat pada Minggu pagi (5/8/2018).

Sejalan dengan itu, untuk mendukung tradisi jalan kaki seperti di negara-negara maju, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) saat ini telah membuat kebijakan yang mengajarkan siswa untuk terbiasa jalan kaki yakni melalui sistem zonasi. Mendikbud menjelaskan tujuan dari sistem zonasi adalah siswa yang terdekat dari sekolah harus diprioritaskan untuk bisa diterima, bukan hanya karena penilaian akademik.

“Kalau anak itu berasal dari keluarga yang dekat dengan sekolah, maka tidak perlu diantar pakai mobil, tidak perlu diantar pakai kendaraan pribadi, tetapi cukup dengan jalan kaki,” jelas Mendikbud di depan 3.000 peserta jalan sehat.

Mendikbud menambahkan tujuan dari penyelenggaraan jalan sehat ini adalah pertama untuk ikut menyambut, memeriahkan, menyongsong dan mendoakan pelaksanaan Asian Games yang ke-18 tahun 2018 di Indonesia. Kedua mulai mentradisikan, membiasakan kembali agar suka berjalan kaki. "Dengan begitu kita akan sehat, keluarga sehat, insya allah akhlaknya juga sehat, budi pekertinya sehat, dan kecerdasannya juga sehat," ujarnya.

Dalam kesempatan ini, turut hadir Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, yang mendampingi Mendikbud Muhadjir melakukan jalan sehat bersama warga. Iriansyah menjelaskan bahwa acara jalan sehat tersebut merupakan salah satu kegiatan dalam rangka memeriahkan Asian Games ke-18. “Anak-anak suka sepeda yang ada di depan? Mau? Nah kalau mau jalan dulu. Sesudah jalan baru yang beruntung dapat sepeda,” ujarnya.

Asian Games ke-18 akan berlangsung selama dua minggu, pada 18 Agustus - 2 September 2018, digelar di Jakarta dan Palembang, diikuti 45 negara Asia. Ajang kompetisi multi cabang olahraga empat tahunan ini akan dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo di Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta pada tanggal 18 Agustus mendatang.