Senin, 17 Desember 2018

Warta Pendidikan (332)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Dunia Pendidikan

PONTIANAK - LPMP Kalbar menggelar diseminasi hasil program sekolah model Provinsi Kalimantan Barat tahun  2018. Mengambil lokasi di LPMP Kalimantan Barat, kegiatan ini dibagi dua tahap. "Diseminasi hasil program sekolah model merupakan bagian dari rangkaian proses penjaminan mutu pendidikan. Diseminasi ini penting untuk menyebarluaskan informasi tentang aktivitas yang telah sekolah lakukan dalam rangka memenuhi standar  nasional pendidikan. Diseminasi ini juga merupakan sarana pertukaran informasi antar sekolah binaan LPMP yang disebut dengan sekolah model," ujar kepala LPMP Kalimantan Barat drs. Aristo Rahadi, M.Pd, di sela agenda tersebut. Tahap pertama dilaksanakan pada 9 - 11 Desember 2018, dan diikuti oleh sekolah model binaan LPMP yang berasal dari 8 Kabupaten/kota di Kalbar. Yaitu Kapuas Hulu, sambas, Sintang, Melawi, ketapang, Kubu Raya , Bengkayang dan Pontianak. Kegiatan tahap pertama ini diikuti oleh 174 sekolah model yang berasal dari 8 Kabupaten kota tersebut. Sekolah Model ini merupakan sekolah yang disupervisi dan difasilitasi oleh LPMP Kalimantan Barat dalam hal pemenuhan standar nasional pendidikan. Diseminasi  tahap pertama ini diramaikan dengan pameran hasil karya sekolah model, penampilan tarian dari siswa berprestasi, pertukaran cinderamata, sampai presentasi best practice dari setiap sekolah model. Presentasi best practice mereka akan di nilai oleh fasilitator daerah yang selama ini membimbing mereka selama program sekolah model ini di luncurkan tahun 2016 silam.Kegiatan Diseminasi sekolah model tahap pertama 2018 ini juga di hadiri oleh Perwakilan pejabat Dinas pendidikan. Kehadiran perwakilan dari pejabat dinas tersebut menunjukkan komitmen mereka yang tinggi dalam melakukan pengawasan terhadap semua program peningkatan mutu pendidikan di wilayah Kalbar. Kegiatan diseminasi hasil program sekolah model juga dikunjungi oleh Majelis Guru Besar Daerah Kuching (MGBDK), Majelis Guru Besar Daerah Kuching ini merupakan perwakilan – perwakilan kepala sekolah Malaysia di daerah  Kuching. Dalam lawatannya MGBD ke Pontianak mengunjungi LPMP Kalbar dan beberapa sekolah yang ada di Kalbar. Majelis Guru Besar Daerah Kuching sangat mengapresiasi Program Sekolah Model ini dan mereka sangat tertarik untuk menerapkan hal yang sama di daerah Kuching. (pontianak.tribunnews.com)

 
Jakarta, Kemendikbud – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Penataan Guru dan Tenaga Kependidikan di Jakarta, Kamis (15/11/18). Rakor yang dihadiri unsur dinas pendidikan dan kepegawaian daerah ini bertujuan untuk mengumpulkan data tentang jumlah dan pemetaan guru saat ini.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy berharap melalui rakor ini akan menghasilkan data yang bisa digunakan sebagai dasar penataan guru. Menurutnya, dengan data yang jelas, maka pengambilan keputusan untuk penempatan guru akan lebih baik.
 
“Saya minta detil guru yang ada di setiap daerah. Dengan data riil tersebut, akan dipahami betul bagaimana sebenarnya kebutuhan guru di masing-masing daerah,” tutur Muhadjir dalam sambutannya saat membuka Rakor.
 
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Supriano dalam laporannya menyampaikan bahwa dari rakor ini, kita akan dapatkan gambaran bagaimana pemetaan guru di Indonesia. Hasil tersebut juga bisa digunakan untuk memetakan keperluan formasi di 2019.
 
“Dengan rakor ini kita akan memperoleh kesepakatan jumlah formasi atau kebutuhan guru per sekolah, per jenjang, per mata pelajaran yang akan diusulkan oleh bupati, walikota, atau gubernur melalui Badan Kepegawaian Daerah (BKD) untuk keperluan formasi tahun 2019 yang akan datang,” jelasnya.
 
Ia pun berharap dapat menyamakan persepsi tentang perencanaan dan pengendalian kebutuhan guru. Tak sampai di situ, dari sini juga bisa dikumpulkan data meliputi, analisis jabatan guru, analisis beban guru, penghitungan kebutuhan guru, serta distribusi guru berbasis zona.
 

Rakor Pemetaan Guru dan Tenaga Kependidikan diikuti oleh 396 peserta yang berasal dari Lampung, Bengkulu, Banten, DKI Jakarta, Kalimantan Utara, Kalimantan barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah.

Mendikbud Luncurkan 10 Buku Karya Lengkap Bung Hatta

Written by Selasa, 13 November 2018 09:06

Jakarta, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, meluncurkan 10 Buku Karya Lengkap Bung Hatta, Bapak Proklamator Indonesia. Mohammad Hatta, lebih dikenal dengan Bung Hatta, telah menulis sejak usia 16 tahun hingga usia 77 tahun. Semasa hidupnya, Bung Hatta telah menghasilkan lebih dari 800 karya tulis dalam bahasa Indonesia, Belanda, maupun Inggris. Kumpulan hasil karya ini kemudian dibukukan ke dalam 10 buku.

"Merupakan suatu kehormatan bagi kami, pagi ini hadir tokoh-tokoh yang banyak mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara, hadir di kantor Kemendikbud dalam rangka peluncuran buku pemikiran lengkap dari Bung Hatta. Ini adalah langkah besar yang telah dilakukan dalam mengumpulkan karya tulis Bung Hatta", demikian disampaikan Mendikbud, Muhadjir Effendy, dalam sambutannya saat peluncuran buku karya Bung Hatta tersebut, di kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Selasa (13/11).

Mendikbud mengungkapkan pengalamannya saat bersentuhan dengan hasil pemikiran Bung Hatta. Mendikbud menyampaikan banyak orang menganggap Bung Hatta sebagai pakar ekonomi dan negarawan, termasuk Bapak Koperasi. Namun sebenarnya, menurut Mendikbud, Bapak Proklamator tersebut adalah seorang yang memiliki perspektif ilmu pengetahuan yang sangat lengkap.

"Saya punya pengalaman intelektual sendiri dengan Beliau. Dalam disertasi saya, kebetulan saya menulis tentang militer, ternyata peletak dasar profesionalisme militer Indonesia itu adalah Mohammad Hatta, dengan kebijakan rasionalisasi militer pada tahun 1949", ungkap Mendikbud. Menurut Mendikbud, itulah sebetulnya yang mendasari perkembangan TNI yang pada akhirnya harus membuat pilihan menjadi TNI profesional. "Ini yang mungkin tidak banyak diketahui. Kita bisa membayangkan jika seandainya waktu itu Mohammad Hatta tidak mengambil langkah yang sangat berani yaitu melakukan rasionalisasi militer, mungkin Indonesia setelah pasca kemerdekaan itu terjadi perang saudara karena masing-masing laskar memiliki senjata yang tidak kalah bagusnya dari tentara republik", jelas Mendikbud.

“Dengan terbitnya buku ini, akan menjadi sebuah karya besar yang bisa kita jadikan suri teladan untuk anak cucu kita tentang pemikiran-pemikiran Beliau yang akan tetap otentik dan abadi," tambah Mendikbud.

Direktur Jenderal Kebudayaan (Dirjen Kebudayaan) Kemendikbud, Hilmar Farid, menerangkan bahwa penerbitan "10 Buku Karya Lengkap Bung Hatta" merupakan hasil kerja sama Kemendikbud dengan Perhimpunan Indonesia untuk Pengembangan Ekonomi dan Sosial (BINEKSOS) dan penerbit Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi Sosial (LP3ES).

“Kami menyetujui melakukan kerja sama untuk menerbitkan buku ini, karena pemikiran Bung Hatta masih sangat relevan dengan situasi sekarang ini. Dengan membaca karya Bung Hatta kita diingatkan kembali bahwa niat utamanya yaitu mengembangkan ekonomi dan untuk kebahagiaan orang banyak. Oleh karena itu, saya menyambut dengan baik dan mendukung sekali gagasan ini," kata Dirjen Hilmar.

Sementara itu, perwakilan dari keluarga, sekaligus puteri sulung Bung Hatta, Meutia Hatta, menyampaikan harapannya agar nilai-nilai dan pokok-pokok pikiran Bung Hatta yakni membangun perekonomian nasional untuk mencapai peningkatan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menjadi modal dasar bagi anak bangsa khususnya pemuda zaman milenial yang sering menyebut dirinya sebagai hidup di zaman now.

"Saya berharap bahwa penyebutan dan penekanan mengenai zaman now tidak menjuruskan kaum muda kita untuk mengabaikan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Zaman now tidak boleh kosong. Tugas pemuda zaman now tidak saja melanjutkan perjuangan para pahlawan dan para perintis kemerdekaan, tetapi lebih dari itu, mereka perlu meningkatkan daya juang, kapabilitas, ilmu pengetahuan teknologi, dan ilmu pengetahuan humaniora di dalam zaman milenial yang serba digital dan penuh distrupsi ini. Humanisme harus tetap terjaga dan pembangunan tetap dalam garis membangun manusia Indonesia seutuhnya sesuai dengan nilai-nilai Pancasila," pungkasnya.

Sepuluh Buku Karya Lengkap Bung Hatta terdiri dari 10 judul, yaitu, Buku 1: Kebangsaan dan Kerakyatan; Buku 2: Kemerdekaan dan Demokrasi; Buku 3: Perdamaian Dunia dan Keadilan Sosial; Buku 4: Keadilan Sosial dan Kemakmuran; Buku 5: Sumber Daya Ekonomi dan Kebutuhan Pokok Masyarakat; Buku 6: Gerakan Koperasi dan Perekonomian Rakyat; Buku 7: Filsafat, Ilmu, dan Pengetahuan: Buku 8: Agama, Pendidikan, dan Pemuda; Buku 9: Renungan dan Kenangan; Buku 10: Surat-surat. (*)

Jakarta, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyampaikan bahwa kebanyakan masyarakat Indonesia mengenal lagu kebangsaan Indonesia Raya hanya dalam satu stanza saja. Padahal, syair atau lirik pada stanza kedua dan ketiga juga penting untuk diketahui, dipahami dan dihayati.

"Kita sudah terbitkan peraturan menterinya untuk dapat menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza sebagai bentuk penguatan pendidikan karakter bagi peserta didik," diungkapkan Muhadjir dalam Konser Akbar Lagu Kebangsaan Indonesia Raya Tiga Stanza, di Taman Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu (28/10).

Menurut Muhadjir, lagu Indonesia Raya yang selama ini dinyanyikan dan diperdengarkan hanya sepertiga dari keseluruhan lagu kebangsaan karya Wage Rudolf Supratman tersebut. Sejak 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mulai memperkenalkan kembali dua stanza lainnya, khususnya di lingkungan pendidikan, agar kemudian dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air dan bangsa dari kalangan generasi muda.

"Padahal masih ada stanza kedua yang merupakan inti, dan stanza ketiga yang merupakan epilog dari lagu kebangsaan ini," tuturnya.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 22 Tahun 2018 tentang Pedoman Upacara Bendera di Sekolah mengatur agar sekolah menyelenggarakan upacara bendera pada hari Senin, dan atau pada hari kemerdekaan dan hari-hari besar nasional lainnya. Yang berbeda, kini upacara di sekolah wajib menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya Tiga Stanza sebagaimana diatur pada pasal 17 dan 18 peraturan ini. "Sebelum ada peraturan ini saya lihat sudah cukup banyak sekolah yang juga mengajarkan atau memperkenalkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dalam tiga stanza," ujar Mendikbud.

Konser akbar merayakan lagu kebangsaan Indonesia Raya Tiga Stanza digelar Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-90. Menghadirkan 210 alumni paduan suara dan orkestra Gita Bahana Nusantara (GBN) tahun 2015 sampai 2017 yang berasal dari seluruh provinsi di Indonesia. Konser akbar yang diselenggarakan untuk ketiga kalinya ini juga menghadirkan Putri Ayu dan Kunto Aji  sebagai solis, serta konduktor Purwa Tjaraka.

Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid mengaku bangga dengan keberadaan para alumni atau purna GBN yang bersedia berlatih dan menggelar konser akbar lagu kebangsaan Indonesia Raya Tiga Stanza. "Mereka hadir di sini dengan keinginan dan juga dana pribadi," ujarnya.

Dalam rangka penguatan pendidikan karakter kepada generasi muda, Dirjenbud menjelaskan bahwa penanaman nilai-nilai seni budaya dan adiluhung bangsa dilakukan melalui beberapa kolaborasi antara seniman tradisi dan sekolah melalui gerakan Seniman Masuk Sekolah (SMS) yang berlangsung di berbagai wilayah di Indonesia. Selain itu, juga terdapat program Belajar Bersama Maestro (BBM) yang diselenggarakan setiap tahunnya.

"Sesuai dengan arahan pak menteri, sekarang ini pendidikan karakter tidak hanya terbatasi pada ruang-ruang kelas saja. Siswa dapat belajar di sanggar budaya, museum, cagar budaya, semua kita fasilitasi," pungkas Hilmar Farid. (*)

Jakarta, 28 Oktober 2018
Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Mendikbud: Pemerintah Bekerja Keras Penuhi Hak Guru

Written by Selasa, 02 Oktober 2018 08:59

Jakarta, Kemendikbud -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) menyampaikan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terus berupaya mengangkat kembali posisi guru sebagai profesi terhormat. Selain terus berupaya memenuhi hak dan memperbaiki kesejahteraan para guru, pemerintah juga mendorong agar guru semakin berdaya sesuai dengan profesinya.

"Saat ini kita sedang berusaha keras menjadikan guru sebagai pekerjaan profesional. Sehingga tidak sembarang orang menangani pekerjaan guru," disampaikan Mendikbud Muhadjir Effendy dalam sambutannya pada Lokakarya Hari Guru Sedunia Tahun 2018, di kantor Kemendikbud, Jakarta, Selasa (2/10).

Guru, menurut Mendikbud, adalah 'akar rumput' pendidikan nasional. Perannya sangat penting, meski seringkali dianggap remeh karena posisinya. "Tidak akan ada pendidikan yang 'menghijau' jika tidak ada guru. Dan juga pendidikan tidak akan subur kalau gurunya, tidak 'subur'. Karenanya, sebelum bicara tentang pendidikan yang berkualitas, sejahterakan guru. Dan beri dia status yang membikin dia bangga, sehingga dia memiliki self-dignity," tuturnya.

Ditambahkannya, saat ini Kemendikbud terus berupaya memberikan hak-hak guru agar memiliki martabat dan kepercayaan diri. Diyakini Mendikbud, hal tersebut dapat mendorong kualitas proses pembelajaran yang lebih baik.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah mendorong jelasnya status guru. Namun, dengan keterbatasan kemampuan pemerintah, pengangkatan guru tidak bisa dilakukan serta merta, tetapi bertahap. "Setelah tes CPNS ini, masih ada peluang untuk guru yang usianya sudah 35 tahun untuk mengikuti tes calon pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja," ujar Muhadjir.

Menjadi guru profesional

Sekarang ini, menurut Mendikbud, tugas Kemendikbud adalah mendorong para guru dapat menjadikan peserta didiknya cerdas dan berkarakter. Untuk itu, pola pelatihan guru akan diubah agar semakin memberdayakan dan memperkuat posisi guru sebagai tenaga profesional.

Setidaknya terdapat tiga hal yang menjadikan guru sebagai profesi yang terpandang. Yang pertama adalah kompetensi inti (keahlian). Hal ini mencakup kecakapan pedagodis dan juga kepribadian (karakter) pendidik. Kedua, adalah kesadaran dan tanggung jawab sosial.

"Dia abdikan dirinya untuk kepentingan keahliannya, dan manfaat keahliannya dia persembahkan untuk kepentingan masyarakat. Kalau tidak, maka pekerjaan profesional itu justru bisa membahayakan banyak orang," kata Mendikbud.

Dan yang ketiga adalah adanya semangat kesejawatan dan kebanggaan terhadap korpsnya. Salah satu ciri profesi, menurut Mendikbud, adalah adanya asosiasi profesi.

"Asosiasi profesi itu untuk saling mengasah kemahiran, kecakapan, bersama-sama. Saling tukar menukar pengalaman tentang ilmu dan keahliannya. Seharusnya asosiasi guru juga demikian," ujar Muhadjir.

Peningkatan Kualitas Proses Pembelajaran

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Supriano, mengajak guru meningkatkan kualitas pembelajaran untuk menghadapi tantangan abad 21. Guru diharapkan menghadirkan pembelajaran yang mendorong aktivitas (belajar untuk mempraktikkan) dan kompetensi. Serta pembelajaran yang mengasah keterampilan berfikir tingkat tinggi/high order thinking skills.

Menurut Dirjen Supriano, fokus pelaksanaan program Ditjen GTK di tahun 2019 adalah mendorong peningkatan kualitas pembelajaran di kelas. Pengembangan kompetensi guru akan merujuk pada potret mutu yang sudah cukup spesifik, seperti analisis hasil ujian nasional. Dicontohkannya, jika nilai matematika pada ujian nasional di suatu zona masih rendah, maka para guru di dalam zona tersebut akan berdiskusi tentang strategi peningkatan mutu mata pelajaran matematika di zona tersebut.

"Ada masalah apa? Geometri atau Aljabarnya atau Kalkulusnya? 'Kan ada guru di zona itu yang pintar materi itu, nanti didiskusikan di MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) di zona itu. Jadi namanya peningkatan kompetensi proses pembelajaran," jelas Dirjen GTK.

Melalui pendekatan sistem zonasi, pemerintah akan mendorong pelatihan guru profesional oleh MGMP dan Kelompok Kerja Guru (KKG). "Yang menyiapkan guru inti dan instruktur kabupaten/kota itu Ditjen Dikdasmen (Pendidikan Dasar dan Menengah). Kami di Ditjen GTK yang menyiapkan model pembelajarannya, kemudian unit-unit pembelajaran, bukan modul. Guru inti menjadi fasilitator bersama guru-guru di zona itu," tuturnya.

Paradigma guru masa kini hendaknya menjawab empat tantangan besar, di antaranya revolusi industri 4.0, globalisasi, kebutuhan domestik terkait daya saing dan penyediaan tenaga kerja, serta mendidik generasi Z. Perubahan dunia yang begitu cepat dan tidak linear ini mengubah cara bekerja dan belajar. Untuk itu, pendidikan masa depan, menurut Dirjen GTK, harus berpusat pada siswa, baik secara aspek akademis, juga kepribadian/karakter.

Menyoal posisi guru di era revolusi industri 4.0, Dirjen Supriano mengingatkan agar para guru tidak melupakan perannya sebagai pendidik. Guru harus mampu menjadi teladan agar bisa menjalankan pendidikan karakter yang sangat penting di masa depan. "Dengan perkembangan teknologi, mengajar bisa dilakukan tanpa guru. Kalau cuma mengajar saja, guru bisa digantikan. Sebagai pendidik, guru masih akan dibutuhkan sampai kapanpun," katanya.

Lokakarya Nasional Hari Guru Sedunia

Hari Guru Sedunia dirayakan tanggal 5 Oktober setiap tahun di seluruh dunia dengan mengikutsertakan pemerintah dan lembaga pemerintah, organisasi multi-dan bilateral, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), sektor swasta, akademisi dan perguruan tinggi, guru dan ahli di bidang pendidikan. Dengan diadopsinya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG- 4 tentang Pendidikan Berkualitas, dan target khusus (SDG 4.c) yang mengakui bahwa Guru sebagai kunci pencapaian Agenda Pendidikan pada tahun 2030. Hari Guru Sedunia menjadi kesempatan meraih pencapaian SDG-4 dan juga memberikan langkah-langkah nyata untuk mengatasi tantangan dalam bidang pendidikan, terutama terkait dengan profesi dan profesionalisme guru.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud menjadi salah satu penerima Penghargaan UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization)-Hamdan bin Rashid Al-Maktoum untuk Praktik Luar Biasa dan Kinerja dalam Meningkatkan Efektivitas Guru tahun 2018. Penghargaan UNESCO-Hamdan bin Rashid Al-Maktoum akan diserahkan oleh Direktur General UNESCO kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tanggal 5 Oktober 2018, di Kantor Pusat UNESCO, Paris, Perancis.

Lokakarya Nasional Hari Guru Sedunia Tahun 2018 diselenggarakan atas kerja sama Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kantor UNESCO Jakarta, dan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU). Mengangkat tema “Hak Atas Pendidikan berarti Hak Untuk Guru dan Tenaga Kependidikan Berkualitas”, lokakarya nasional dihadiri 350 peserta yang mewakili unsur guru dan tenaga kependidikan, kementerian dan lembaga (KL), universitas, sekolah internasional, lembaga internasional dan UN agencies, dan pemerhati, dan pakar pendidikan