Sabtu, 24 September 2016 09:12

Guru SD Daerah Terpencil Ini Dikirim Mengajar ke Malaysia

Written by Admin
Rate this item
(0 votes)

Tabalong - Sejak melakoni profesi guru pada 2011 lalu, Zainatir mengajar di SDN Waling 2, Desa Waling Kecamatan Bintang Ara, Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).
Jarak desa ini dari pusat kabupaten sekitar 45 menit perjalanan bersepeda motor. SD itu hanyalah sekolah kecil yang jumlah muridnya 44 orang.
Guru yang mengajar di  sekolah berjumlah 13 orang, sudah termasuk kepala sekolah. Zainatir adalah guru kelas V. Kelasnya hanya berisi sembilan murid.
"Rasanya berat. Saya bakal rindu. Terutama para pengajarnya, kami sudah seperti keluarga. Tak ada dusta diantara kami," ujarnya.


Zainatir duduk di ruang dewan guru yang sempit dan sederhana. Ruangan itu tak ada komputer, proyektor, apalagi televisi layar datar.
Ruangan itu hanya berisi meja kayu, kursi plastik, dan papan pengumuman berisi daftar nama guru.
Ditemani teh panas dan tempe goreng dia mengawali cerita seperti apa kronologi dia bisa dikirim untuk mengajar ke Kuala Lumpur, Malaysia.


Zainatir yang selama ini guru dari SD terpencil ini tidak pernah menyangka sendiri bisa mengalahkan dua ribu guru terbaik se-Indonesia.
Bulan Mei silam dia mengikuti seleksi proses pengiriman guru untuk mengajar di luar negeri. Tes yang diikuti pun  cukup menguras energi.
Alhasil pada tahap pertama dia bisa terpilih untuk seleksi selanjutnya. Tes tahap awal itu hanya menyisakan 104 guru. Nama Zainitir masuk salah satunya.
Lantas dia mengikuti tes pada tahap kedua di Jakarta pada Agustus lalu.  Di tes kedua ini Zainatir juga dinyatakan lolos bersama tiga guru lainnya.
Satu guru berasal dari Jawa Barat, seorang lagi dari Sumatera Barat, ditambah dari Sulawesi Selatan, dan Zainatir dari Kalimantan Selatan.
Keempatnya diberi kesempatan oleh Kemendikbud untuk mengajar di luar negeri. Dua guru dikirim ke Jeddah, seorang guru ke Riyadh, dan Zainatir ke Kuala Lumpur.


"Awalnya suami yang lihat pengumuman seleksi itu di situs Kemendikbud. Dia pengen betul ikut, tapi kurang syarat administrasi. Dia lalu pinta saya mencoba," kisah wanita kelahiran Pasar Panas, Tabalong ini.
Dikatakannya tes dianggapnya cukup berat. Seluruh peserta dituntut harus bisa menulis dan berbicara dalam Bahasa Inggris. Di depan juri, satu demi satu peserta diminta memeragakan caranya mengajar.
"Pak Hakim bilang saya pasti menang. Saya orangnya realistis, melihat saingan sebanyak itu rasanya mustahil," aku ibu satu anak ini.  Marzuki Hakim adalah Kepala Dinas Pendidikan Tabalong.


Lantas, apa rahasia di balik keberhasilan Zainatir?
Ramadan lalu, ternyata ia meminta didoakan oleh sang ibu pada malam Lailatul Qadar. Malam-malam dengan hitungan ganjil pada 10 hari terakhir bulan puasa.
"Kalau berdoa sendiri makbulnya lambat, tapi doa seorang ibu setaraf doa para wali," jawab guru 30 tahun itu.
Sekarang, Zainatir sedang menyiapkan keberangkatan ke Kuala Lumpur. Kontrak awal tiga tahun mengajar, dimulai dari Januari tahun depan.
"Sekarang asik browsing, baca-baca di internet, bagaimana sih budaya orang di sana," ujarnya.
Kini dia juga mempersiapkan diri untuk menjalani hubungan jarak jauh dengan suami dan anak-anak. Sebab, Zainatir tak bisa langsung memboyong sang suami ke Malaysia. "Bagaimana rasanya LDR-an? Wah, saya jadi blank!" ujarnya

 

Sumber : http://www.jawapos.com

Read 2980 times Last modified on Sabtu, 24 September 2016 09:19