Minggu, 21 April 2013 21:30

Guru Aceh di pedalaman Kalimantan Barat

Written by Admin
Rate this item
(1 Vote)

Sekayam - Berprofesi sebagai seorang Guru merupakan impian Aryani. Dia adalah perempuan asal Aceh yang mengikuti program Sarjana Mengajar di Daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (SM3T) di Provinsi Kalimatan Barat. Tepatnya, di SDN 06 Raut, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Aryani berumur 25 tahun. Dia adalah sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP Unsyiah. Selama mengabdi di Kalimantan Barat, dirinya tinggal di mess SMPN 1 Desa Balai Karangan. Ibukota Kecamatan Sekayam.

“Tempat saya tinggal dengan lokasi mengajar berjarak 12 kilometer. Setiap harinya saya hari pergi dengan menggunakan sepeda motor,” ujar anak dari Iskandar, pegawai Bulog Takengon ini dengan almarhumah Aniar ini.

Ibu kandung Aryani adalah korban tsunami yang menimpa Aceh pada akhir tahun 2004 lalu. Musibah tersebut turut merenggut adik laki-lakinya yang masih berumur 4 tahun kala itu. Beruntung, adik laki-lakinnya yang kini berusia 20 tahun dan abangnya yang kini berusia 27 tahun, selamat dalam musibah tersebut.

Menurut gadis kelahiran Sigli ini, jalan menuju ke SDN 06 Raut, Kecamatan Sekayam, sangat berlumpur dan terjang.

“Kalau hujan, jalan susah dilalui. Saya sudah 18 kali terjatuh selama mengabdi disini. Saya disini sendiri, sudah hampir berjalan 5 bulan,” katanya.

Namun pengorbanan dirinya, kata Aryani, belum seberapa bila dibandingkan dengan anak didiknya.

“Anak didik saya, rata-rata harus menempuh jarak sejauh 5 kilometer untuk bersekolah. Itu harus mereka lalui dengan berjalan kali. Ini yang membuat saya tidak mau mengeluh,” katanya.

Aryani mengaku salut atas perjuangan dan semangat belajar anak didiknya disana. “Saya salut sama mereka. Hujan pun mereka tetap datang ke sekolah untuk belajar. Saya sangat berharap mereka semua sukses nantinya,” kata dia.

Murid di SDN 06 Raut berjumlah hampir 200 orang. Rata-rata siswa per kelasnya mencapai 30 orang.

“Sekolah tersebut merupakan tumpuan harapan warga disini. Saya merasa nyaman mengajar disini, walaupun kendala bahasa menjadi persoalan utama,” kata dia.

Selain mengajar, aktivitas Aryani lebih banyak dihabiskan di mess SMPN Balai Karangan. Ada 6 orang guru SM3T asal Aceh yang ditempatkan disana.

“Kalau lagi libur ada 8 orang. Ini karena yang dua lainnya tidak bisa pulang dan harus menetap di lokasi mengajar karena jauh,” ujar Aryani.

Sumber : http://www.atjehpost.com

Read 3621 times Last modified on Sabtu, 04 Mei 2013 13:59