Rabu, 23 Oktober 2019 15:14

Pesan Menko PMK Muhadjir Kepada Mendikbud Nadiem

Written by gtk
Rate this item
(0 votes)

GTK – Lepas sambut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dari Muhadjir Effendy kepada Nadiem Anwar Makarim dilakukan di Gedung A Lantai 3, Kemendikbud, Senayan, Jakarta pada Rabu siang (23/10/2019). Dalam kesempatan tersebut Muhadjir Effendy mengawali sambutannya dengan menerangkan nomenklatur Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Ini tempat yang sangat penuh kenangan untuk saya. Kita menyambut pimpinan baru di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu pak Nadiem Anwar Makarim. Saya kira tidak ada yang tidak kenal beliau yang sudah malang melintang di dunia bisnis Indonesia. Bersamaan dengan itu nanti kementerian ini akan digabung lagi Kementerian Dikti dan Dikdasmen, menjadi satu lagi seperti dulu-dulu,” kata Muhadjir Effendy yang kini menjabat sebagai Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Muhadjir yang menjabat sebagai Mendikbud periode 2016 s.d. 2019 mengucapkan permohonan maafnya kepada segenap rekan kerjanya di lingkup Kemendikbud.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pimpinan eselon 1,2,3 dan seluruh staf. Tentu banyak suka duka. Banyak belajar satu sama lain, terutama saya telah mendapatkan banyak pelajaran dari bapak-ibu sekalian. 3 tahun adalah waktu yang cukup lama, bisa juga terlalu singkat, tergantung bagaimana kita merasakan tahun itu. Saya di sini 3 tahun terasa lama, tapi kadang-kadang ternyata sudah selesai. Saya mohon dimaafkan, mungkin ada ucapan saya, tindakan saya yang menyinggung perasaan, yang membuat bapak dan ibu terluka, sakit hati, saya meminta maaf,” tutur Muhadjir yang pernah menjabat sebagai rektor Universitas Muhammadiyah Malang.

Muhadjir Effendy juga menjelaskan bahwa selama tiga tahun kepemimpinannya di Kemendikbud, ia berusaha mengaplikasikan visi misi Presiden-Wakil Presiden.

“Tentunya yang saya lakukan dalam rangka melaksanakan tugas-tugas seperti yang diamanahkan oleh Undang-Undang, seperti yang telah digariskan oleh bapak Presiden. Karena menteri pada dasarnya pembantu presiden dan tugas utamanya adalah menerjemahkan visi dan misi Presiden-Wapres di bidang masing-masing,” jelasnya.

Menko PMK di Kabinet Indonesia Maju, Muhadjir Effendy menegaskan kembali apa yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo pada saat pelantikannya di gedung parlemen.

”Di sini semua bekerja keras juga memiliki tingkat kompetensi yang cukup bagus dan bisa saya ajak untuk berselancar, berjibaku, berakrobat dengan kebijakan-kebijakan. Sesuai arahan Presiden kita tidak boleh bekerja yang rutin, monoton, tapi harus selalu mencari terobosan-terobosan,” ungkap Muhadjir.

Terkait dengan inovasi, Muhadjir pun berpesan kepada Nadiem untuk melakukan kebijakan-kebijakan yang kontekstual.

“Saya ucapkan selamat datang kepada mas Nadiem untuk terus melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh pejabat sebelum saya dan apa yang sudah saya mulai. Silakan nanti dievaluasi secara menyeluruh, mana yang kira-kira bisa dilanjutkan, silakan dilanjutkan. Tapi apabila ada yang tidak relevan lagi, silakan dilakukan revisi, atau dibuat kebijakan yang baru. Saya kira di sini para pejabat sangat menguasai masalah sehingga nanti tinggal ditanyakan. Kalau nanti ada masalah yang perlu saya sampaikan, jelaskan, tentu saja saya masih sangat terbuka untuk itu,” pesan Muhadjir kepada Nadiem yang merupakan menteri termuda di Kabinet Indonesia Maju.

Muhadjir Effendy sendiri sesungguhnya masih bersinggungan dengan Kemendikbud dikarenakan tugas, pokok, dan fungsi Kemenko PMK turut mengkoordinasi dan mensinkronisasi kinerja Kemdikbud.

“Saya meminta doa dan restu akan menjalankan amanah di tempat yang lain tetapi masih terkait dengan Kemendikbud karena di bawah koordinasi Kemenko PMK, kebetulan sekarang saya bertugas sebagai Menko PMK,” terang Muhadjir Effendy.

“Terima kasih kepada teman-teman wartawan. Saya mendapatkan masukan tentang komunikasi sebagai bahan evaluasi untuk saya ke depan. Sangat banyak yang ingin saya sampaikan, tapi saya khawatir air mata saya menetes,” tutup Muhadjir Effendy.

Read 254 times