Friday, 17 April 2020 15:35

Covid-19 Dan Percepatan Pemanfaatan Teknologi Dalam Pembelajaran

Written by okt
Rate this item
(1 Vote)

Penyakit koronavirus 2019 (bahasa Inggriscoronavirus disease 2019, disingkat COVID-19, akhirnya menghampiri Indonesia setelah pada tanggal 2 Maret 2020 pemerintah Indonesia mengumumkan 2 orang WNI yang dinyatakan positif Covid-19. Semenjak setelah pengumuman tersebut, jumlah WNI yang terpapar Covid-19  terus meningkat. Bahkan sekarang seluruh provinsi di Indonesia telah memiliki kasus pasien positif Covid-19.

Berbagai kebijakan pun telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk mencegah meluasnya penyebaran Covid-19. Salah satunya pada sektor pendidikan dimana dikeluarkan Kebijakan Belajar di Rumah (BDR). Kebijakan ini tercantum pada Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tanggal 17 Maret 2020 tentang Pembelajaran Secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19), dimana salah satu pointnya menyatakan bahwa khusus untuk daerah yang sudah terdampak Covid-19 berlaku ketentuan bahwa pemberlakuan pembelajaran secara daring dari rumah bagi siswa dan mahasiswa.  

 Pemberlakuan pembelajaran secara daring dari rumah bagi sebagian besar siswa dan guru seperti mimpi buruk di siang bolong yang menimbukan kepanikan. Guru yang sebelumnya enggan bahkan fobia  dengan pembelajaran yang menggunakan teknologi, merasa lebih terbebani apalagi pembelajaran tersebut merupakan pembelajaran secara daring. Bagi banyak guru, pembelajaran tatap muka masih bisa dilaksanakan dalam kondisi normal dan tidak semua guru terbiasa dengan metode pembelajaran daring. Selain itu, masih terdapat banyak kendala dalam pelaksanaan pembelajaran daring, baik dari kompetensi guru, orangtua, maupun infrastruktur pendukung. Banyak orang tua terutama di daerah yang tidak mempunyai gawai yang memadai,sehingga anak kesulitan dalam sistem pembelajaran daring ini.

 Namun dalam situasi wabah Covid-19 yang semakin mengkhawatirkan, dengan segala keterbatasan, fobia dan keengganan melaksanakan pembelajaran daring, mau tidak mau harus dilakukan, sedikit demi sedikit harus dikikis. Hambatan bukan jadi alasan untuk menyerah menggunakan teknologi selama alatnya tersedia. Apabila tidak dipaksakan maka selamanya guru, orang tua dan anaknya gagap teknologi. Untuk itulah guru, orang tua dan siswa harus dipaksa untuk mengenal bagaimana penggunaan teknologi dalam pembelajaran sehingga lama-lama akan terbiasa, yang selanjutnya generasi berikutnya akan mampu memanfaatkan teknologi untuk menyelesaikan berbagai macam tugas dalam kehidupannya.

 Terjadi percepatan literasi digital dalam pembelajaran bagi guru, siswa, orangtua dan penggiat pendidikan dengan adanya Wabah Covid-19 ini. Intenet dan penggunaan gawai yang selama ini lebih banyak digunakan sebagai sarana hiburan dan informasi, sekarang menjadi sarana pembelajaran yang tidak hanya bagi sekolah tapi juga bagi masyarakat luas.

 Wabah Covid-19 ini pun akan mengevolusi beberapa metode atau model pembelajaran yang sudah biasa atau konvensional. Para guru dipaksa untuk meninggalkan proses pembelajaran konvensional dan memunculkan proses pembelajaran yang tidak biasanya salah satunya yaitu pembelajaran secara daring. Pembelajaran secara daring akan meminimalisir proses pembelajaran dengan pertemuan fisik. Bukan hal yang aneh apabila proses pembelajaran daring akan diteruskan meskipun wabah penyakit sudah selesai. Karena tidak hanya sebatas wabah Covid-19, keadaan belajar di rumah dapat juga terjadi dengan kondisi tertentu seperti bencana alam ataupun terjadi konflik sosial yang tidak memungkin siswa untuk belajar di sekolah akan tetapi memungkinkan sebagai suatu variasi dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran. 

 

Pada akhirnya sekolah menjadi terbiasa bahwa tidak selamanya guru harus mengajar langsung di sekolah dan siswa tidak harus belajar dengan hadir langsung di sekolah. Sekolah akan menyadari bahwa yang sesungguhnya dibutuhkan siswa adalah bukan lagi apa yang dipelajari melainkan bagaimana caranya belajar. Dalam hal ini, peran seorang guru sangat dibutuhkan, karena mereka harus membimbing siswa tentang caranya belajar dengan memanfaatkan internet dan gawai.

 Kreativitas guru dalam memberikan  materi pembelajaran secara daring pun akan mulai dipacu untuk ditingkatkan. Mulai dari membuat video pembelajaran yang bisa diunggah di Youtube, sosial media ataupun di aplikasi yang berbasis Learning Management System (LMS) seperti Google Classroom, Moodle, Edmondu, Rumah Belajar dan aplikasi pembelajaran daring lainnya baik yang gratis ataupun yang berbayar.  Selain itu guru juga dapat memaksimalkan penggunaan aplikasi tatap muka seperti Webex, Zoom, Skype, Hangout dan sebagainya dalam pelaksanaan kegiatan belajar secara daring.  

 Dengan banyaknya platform khusus pembelajaran daring, guru harus selektif memilih dan menggunakannya. Guru harus melihat apakah platform pembelajaran itu layak atau tidak untuk direkomendasikan ke siswa atau malah dapat membingungkan mereka. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru ketika menggunakan platform pemebelajaran tersebut, seperti : kemudahan mengakses, tingkat kemudahan atau kesulitan tiap menu atau fasilitas yang ada di platform tersebut, kapasitas perangkat gawai yang diperlukan atau besarnya memori yang dibutuhkan, dan yang paling penting adalah factor keamanan dalam penggunaannya.

 

Oktariana Dwi W, S.Pd, M.Pd

Pengembang Teknologi Pembelajaran Ahli Muda LPMP Kalimantan Barat

               
Read 3214 times Last modified on Friday, 17 April 2020 15:52