Penjaminan Mutu

Penjaminan Mutu (161)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Penjaminan Mutu Pendidikan

Tuesday, 07 July 2020 06:45

Penyusunan Program Kerja Sekolah Binaan secara daring

Written by

Pontianak  - Pada tanggal 6, 8 dan 9 Juli 2020, LPMP Kalimantan Barat melaksanakan Kegiatan Penyusunan Program Kerja Sekolah Binaan secara daring menggunakan Zoom Meeting. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai tahap awal pelaksanaan program sekolah binaan yang merupakan program berkelanjutan yang telah dilaksanakan oleh LPMP Kalimantan Barat sejak tahun 2016 hingga tahun 2020. Sasaran sekolah binaan pada tahun 2020 sejumlah 280 sekolah yang terdiri dari 154 SD, 98 SMP, dan 28 SMA.

Kegiatan Penyusunan Program Sekolah Binaan dibuka pada tanggal 6 Juli 2020 oleh Kepala LPMP Kalimantan Barat, Bapak Asep Sukmayadi, S.Ip, M.Si yang menjelaskan Strategi Program Pelaksanaan Penjaminan Mutu pada masa covid 19 yang akan dilaksanakan LPMP Kalimantan Barat, dengan mengadaptasi perkembangan baru dan target kinerja LPMP Kalimantan Barat yang tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) LPMP Kalimantan Barat, mengacu pada Renstra Kemdikbud 2020-2024.

Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang peserta yang terdiri dari unsur Pengawas Sekolah, Widyaiswara, Pengembang Teknologi Pembelajaran (PTP) dan Fungsional lainnya di LPMP Kalimantan Barat. Kegiatan dipandu oleh narasumber yang berkompeten yaitu Kepala Seksi FPMP, Ibu Suprapti, M.Pd, Widyaiswara LPMP Ibu Etty Lestari, M.Pd dan Bapak Mujahir, MPd.

Program Sekolah Binaan tahun 2020 difokuskan pada penerapan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dalam pengelolaan pembelajaran jarak jauh. Pembinaan akan dilakukan melalui pendampingan secara daring terkait dengan teknis-teknis pengelolaan pembelajaran jarak jauh. Langkah awal dalam keseluruhan pembinaan tersebut dilakukan dengan perumusan petunjuk teknis pengelolaan program, penyusunan bahan ajar dan penyusunan program kerja sekolah binaan. Dengan tersusunnya bahan ajar diharapkan agar semua pihak lebih memahami kedalaman dan ruang lingkup pembinaan sekolah binaan sehingga setiap tahapan pengembangan dapat dilakukan secara optimal.

Hasil yang diharapkan dari kegiatan Penyusunan Program Kerja Sekolah Binaan ini adalah :

  1. Tersusunnya panduan pengembangan program kerja dan strategi pendampingan sekolah binaan.
  2. Tersusunnya Skenario dan bahan Pendampingan Penyusunan Program Sekolah Binaan (RAKS yang terkait dengan Pengelolaan sekolah dan pembelajaran Jarak Jauh)
  3. Tersusunnya Bahan Ajar pendampingan sekolah binaan dalam Menyusun RPP Pembelajaran Jarak Jauh
  4. Tersusunnya Bahan Ajar Pengelolaan Penilaian pembelajaran Jarak Jauh

Dokumentasi

Jakarta, Kemendikbud -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengungkapkan pendekatan belajar dari rumah sebagai langkah strategis pertama Pemerintah dalam upaya pencegahan penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19) secara luas. Kesehatan dan keselamatan para insan pendidikan menjadi prioritas Pemerintah.

"Semenjak awal pandemi, kami langsung menerapkan program Belajar dari Rumah sebagai kebijakan nasional. Kerangka peraturan juga dibuat jauh sebelum perusahaan-perusahaan menerapkan bekerja dari rumah dan melakukan usaha pencegahan lainnya. Kami mengambil pendekatan berbasis keutamaan dalam membuat keputusan, dan keputusan pertama yang diambil adalah mengutamakan Kesehatan. Keselamatan guru, siswa, dan orang tuanya merupakan prioritas utama kami," disampaikan Mendikbud pada Konferensi Pers Internasional "Adaptasi Pendidikan Selama Covid-19", di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (14/05/2020).

Indonesia adalah negara yang memiliki kepulauan terbesar di dunia dengan populasi 45,3 juta siswa dan 2,7 juta guru. Indonesia memiliki sistem pendidikan terbesar keempat di dunia. Hal ini menjadikan upaya penanganan dampak Covid-19 di dunia pendidikan menjadi tidak mudah dan tidak mungkin diseragamkan. Kemendikbud terus bekerja sama dengan Pemerintah Daerah serta berbagai pihak untuk memastikan masa transisi pembelajaran di sekolah menjadi belajar dari rumah dapat berjalan sebaik mungkin.   

Mendikbud mengakui pembelajaran di masa pandemi memang tidak mudah. Namun, Kemendikbud terus berupaya memastikan pembelajaran tetap terjadi. "Harus diakui situasi ini tidak optimal dan pencapaian pendidikan tidak akan sama pada saat krisis Covid-19 ini terjadi di Indonesia dan di negara lain di dunia. Oleh karena itu, kenyataan tersebut harus diterima dan berusaha mengurangi dampaknya sebanyak mungkin. Kemendikbud terus melakukan segala daya, siang dan malam untuk mencoba memperbaiki situasi ini," ungkapnya.

Namun, masa krisis ini menjadi momentum melakukan observasi guna mendapatkan umpan balik di lapangan. Kemendikbud terus berupaya menyediakan beragam solusi untuk memastikan setiap satuan pendidikan melakukan apa yang terbaik bagi mereka. Sekaligus mendorong terjadinya eksperimen guna menemukan pendekatan-pendekatan baru dalam pendidikan di masa depan. "Kemendikbud harus mengambil bagian untuk membantu menghadirkan pemahaman mengenai apa kunci utama keluar dari krisis ini dan bagaimana berpartisipasi dalam hal itu," ujar Nadiem.  

Selanjutnya, prioritas Kemendikbud adalah meningkatkan fleksibilitas penggunaan anggaran sekolah untuk menangani krisis. "Hal pertama yang dilakukan adalah dengan memberikan anggaran (Bantuan Operasional Sekolah) yang dikirimkan dari pemerintah pusat kepada sekolah-sekolah agar dapat digunakan untuk membeli alat kesehatan dan kebersihan diri, juga pulsa/data seluler untuk mendukung aktivitas pembelajaran termasuk pembelajaran daring," jelas Nadiem.

Mendikbud juga menyampaikan beberapa langkah di bidang kebudayaan. Salah satunya membuat platform agar seniman dan pegiat budaya dapat tetap tampil, menghibur dan menyemangati orang-orang yang berada di rumah melalui pertunjukan atau kelas daring. "Serta menyediakan tur virtual di museum serta situs budaya yang penting untuk mempertahankan nasionalisme selama krisis ini," ujarnya.

Belajar dari Covid-19, salah satu hikmah positif yang diambil adalah meningkatnya empati dan pemahaman orang tua kepada para guru. Di sisi lain, guru juga semakin menyadari betapa pentingnya peran orang tua dalam pendidikan. "Dimana orang tua merupakan mitra penting dalam kesuksesan pendidikan seorang siswa," ujar Mendikbud.   

Kemudian, semua pihak dapat melihat masifnya penggunaan teknologi untuk pembelajaran oleh para guru, siswa, dan orang tua. Meski didorong keterpaksaan karena kebijakan belajar dan mengajar dari rumah, tetapi ini menunjukkan pentingnya peningkatan kapasitas adaptasi kepada teknologi, serta penyediaan infrastruktur yang mendukungnya seperti jaringan internet dan listrik.

"Meskipun terlihat di banyak daerah masih berjuang dalam mengadopsi penggunaan teknologi (untuk pembelajaran), banyaknya orang yang dipaksa untuk bereksperimen dan mencoba untuk pertama kalinya, pada akhirnya hal ini mempercepat proses pengadopsian teknologi ke depannya," ujar Mendikbud. (*)

Jakarta, Kemendikbud --- Program Belajar dari Rumah (BDR) yang ditayangkan di TVRI merupakan salah satu alternatif belajar yang diberikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di tengah pandemi Coronavirus Disease (Covid-19). Program ini telah membantu banyak keluarga yang memiliki keterbatasan pada akses internet untuk melakukan pembelajaran jarak jauh dalam jaringan (daring), sehingga anak-anak memperoleh stimuli untuk terus belajar di rumah masing-masing.

Kemendikbud bersama UNICEF telah melakukan survei untuk mengevaluasi pelaksanaan program Belajar dari Rumah di TVRI sejak ditayangkan mulai 13 April 2020 yang lalu.

"Sebanyak 99 persen guru, siswa, dan orang tua, baik di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) maupun non-3T mengetahui adanya program ini," disampaikan Evy Mulyani, Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kemendikbud, di Jakarta, Selasa (05/05).

Dilanjutkan Evy, sebanyak 94% guru di wilayah 3T pernah menonton program BDR di TVRI. Sementara itu, sebanyak 77% guru di wilayah 3T mengaku pernah menonton program BDR TVRI. "Di wilayah 3T, frekuensi guru menonton program BDR ini sebanyak 3,2 kali dalam seminggu. Sementara di wilayah non-3T sebanyak 4,1 kali," ungkapnya.

Secara umum, tingkat kesenangan menonton program BDR cukup baik. Evy menyebutkan bagi siswa, skor yang didapatkan sebesar 7,8 (skala 1-10) dan bagi orang tua sebesar 8,2. Sementara itu, tingkat kesenangan guru di wilayah 3T sebesar 7, dan di wilayah non-3T sebesar 7,5.

TVRI menjadi saluran televisi yang paling banyak ditonton siswa selama pembelajaran dari rumah. Sebanyak 52% responden di wilayah 3T menyatakan menonton lembaga penyiaran publik ini selama masa pembelajaran jarak jauh dari rumah masing-masing. Sementara itu, sebanyak 78,6% responden di wilayah non-3T menyatakan menonton TVRI selama masa pembelajaran dari rumah. "Ini menjadi masukan bagi kami untuk melakukan perbaikan program mendatang. Khususnya pendekatan bagi publik di wilayah 3T," ujar Kepala BKHM Kemendikbud.

Salah satu umpan balik yang didapatkan dari survei ini adalah sebanyak 20% responden siswa mengharapkan penambahan durasi tayangan pembelajaran. "Kami akan berkoordinasi dengan TVRI terkait kemungkinan penambahan jam tayang. Terutama materi pembelajaran kemampuan kecakapan hidup dan vokasi. Mungkin bisa menambah durasi tayangan minimal 45 menit per segmennya," tutur Evy.

Kemudian untuk mengakomodir harapan masyarakat mengenai perbaikan teknis siaran seperti perbaikan sinyal siaran dan perluasan akses program BDR, Kemendikbud juga tengah berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait kemungkinan relai program dengan stasiun televisi lokal. "Kami juga sedang mengkaji metode pembelajaran luar jaringan atau offline lainnya bagi masyarakat 3T yang tidak memiliki televisi. Misalnya menggunakan radio, buku, maupun relawan," ungkap Evy Mulyani.

Dijelaskan Evy, data untuk kelompok responden guru di daerah 3T didapatkan dari survei SMS dan daring. Sedangkan untuk kelompok responden guru di daerah non-3T, siswa, dan orang tua diperoleh dengan menggunakan metode daring. Jumlah responden untuk survei daring sebanyak 1.198 guru, 1.736 siswa, dan 1.373 orang tua.

"Karena keterbatasannya, kedua survei ini tidak dapat merepresentasikan gambaran nasional secara proporsional untuk masing-masing kelompok responden. Survei dilakukan dalam kurun periode 20 - 23 April 2020," pungkas Evy Mulyani.

 

Pontianak,30 Maret 2020 - LPMP Kalbar - Menindaklanjuti program kebijakan Kementerian Pendididikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Kabinet Indonesia Maju, Nadiem Anwar Makarim tentang Merdeka Belajar, maka LPMP Kalimantan Barat pada tanggal 30 Maret 2020 mengadakan telerapat dengan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Kepala BP Paud Dikmas dan Perwalian Wilayah Kalbar dalam rangka Persiapan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun 2020.

Pada telerapat yang dilaksanakan melalui video teleconference, Kepala LPMP Kalbar menyampaikan tentang Pokok-Pokok Kebijakan Merdeka Belajar, Pelaksanaan Program dan Anggaran Ditjen Paud Dikdasmen, Orientasi tugas LPMP/BP PAUD, Pembentukan Gugus Tugas Perwalian, serta Kebijakan Pendidikan dalam masa darurat (Covid 19) yang meliputi Ujian Nasional (UN), Ujian sekolah, kenaikan kelas, Belajar di rumah (BDR) dan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Agenda rapat difokuskan pada Persiapan Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2020 berdasarkan Permendikbud Nomor 44 Tahun 2019 tentang  PPDB sebagai berikut :

  1. Zonasi (paling sedikit 50%)
  2. Afirmasi (paling sedikit 15%)
  3. Perpindahan tugas orangtua/wali (paling banyak 5%)
  4. Prestasi (sisa kuota dari ketiga jalur)

 

Berdasarkan Kebijakan Pendidikan dalam masa covid 19, PPDB diharapkan dapat dilaksanakan secara online untuk menghindari pengumpulan peserta didik dan orangtua dalam suatu tempat untuk menghindari penyebaran Covid 19. Oleh karena itu agenda rapat membahas lebih lanjut tentang pokok krusial PPDB, dengan penyampaian persiapan PPDB oleh Dinas Pendidikan Provinsi dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota serta perkembangan BDR (belajar di rumah)  dalam masa covid 19.

Berdasarkan hasil rapat, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi dan Kabupaten/Kota

 

Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan Program Guru Berbagi untuk membantu guru melaksanakan pembelajaran dalam jaringan (daring) dan jarak jauh pada masa darurat Coronavirus Disease (Covid-19). Melalui laman guruberbagi.kemdikbud.go.id, guru dan penggerak pendidikan dapat saling berbagi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan inspirasi praktik baik pendidikan, khususnya pendidikan jarak jauh saat dianjurkan untuk belajar dan mengajar dari rumah.

“Laman ini juga bisa menjadi ruang bagi guru untuk saling berbagi semangat positif dan strategi pembelajaran yang kreatif, sehingga guru tetap dapat melakukan proses pembelajaran yang berkualitas dan menyenangkan sembari membantu sesama yang masih beradaptasi dalam situasi yang tidak mudah ini,” ujar Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Plt. Dirjen GTK) Supriano di Jakarta, Selasa (31/3/2020).

Supriano menambahkan, laman ini hadir sebagai ruang berbagi ide dan praktik baik yang akan menunjang pembelajaran selama belajar dari rumah (learning from home) atau selama masa darurat.

Staf Khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Bidang Pembelajaran, Iwan Syahril, mengatakan laman Guru Berbagi dihadirkan untuk menunjang belajar dari rumah, baik secara daring atau koresponden, ataupun dalam bentuk lainnya dengan berbagi RPP yang terbaik.

Ditambahkannya, laman Guru Berbagi dapat mendorong ide kreatif dalam proses pembelajaran oleh guru selama kebijakan belajar dari rumah berlangsung. Laman ini dapat menyediakan ruang bagi para guru untuk saling berbagi RPP.

“Dengan kondisi pandemi Covid-19 ini, kita butuh imajinasi baru supaya pembelajaran dapat tetap terjadi. Kita butuh inovasi-inovasi,” jelas Iwan.

Berbagi Praktik Baik

Laman Guru Berbagi bersifat terbuka untuk umum dan dapat diakses di laman https://guruberbagi.kemdikbud.go.id. Hingga berita ini dibuat, sudah terdapat 65 RPP yang diunggah oleh sejumlah guru yang telah mengakses portal tersebut. Terdapat tiga fitur utama pada Laman Guru Berbagi yaitu ada tiga hal dapat dibagikan melalui program Guru Berbagi, yaitu: (1) Berbagi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran; (2) Berbagi Bacaan; dan (3) Berbagi Aksi.  

Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dir. GTK Dikmen dan Diksus), Praptono menyampaikan bahwa guru dari semua jenjang dapat mendaftarkan pada Laman Guru Berbagi menggunakan akun Sistem Informasi manajemen Pengembangan Keprofesian dan Berkelanjutan (SIMPKB). "Organisasi dan relawan penggerak juga dapat berkontribusi menggunakan akun Organisasi Penggerak dan Relawan Penggerak,” katanya.   

Dijelaskan Praptono, dalam laman Guru Berbagi tersedia berbagai panduan, bacaan, dan tips sebagai referensi pembelajaran daring untuk siswa dan kegiatan belajar mengajar. "Laman ini bersifat dua arah. Guru dapat berbagi ide dari praktik baik yang dibagikan guru lainnya. Dengan berbagi, kita menciptakan ruang interaksi, kolaborasi dan kreatif bersama seluruh pengajar di manapun kita berada," tuturnya.

Praptono menambahkan, RPP yang dibagikan bisa disukai oleh teman guru lain. Di sisi lain, RPP yang telah dibagikan dalam laman juga bisa dilaporkan jika ada konten yang tidak sesuai. “Intinya adalah bagaimana guru lain dapat saling memberikan apresiasi dan moderasi (pengawasan) bersama dalam laman ini,” katanya.

Secara teknis Praptono menjelaskan ketentuan yang harus dicatat para calon pengunggah RPP pada Laman Guru Berbagi. (1). File dibuat dalam bentuk PDF. (2). Nama file Rencana Pembelajaran memuat judul dan kelas. (3). Ukuran file maksimal 2MB. (4). Hal-hal yang perlu disertakan dalam file yang akan diunggah yaitu nama pembuat Rencana Pembelajaran, nama sekolah/instansi pembuat Rencana Pembelajaran, surel (email) pembuat Rencana Pembelajaran, Rencana Pembelajaran memuat informasi jenjang dan kelas, serta topik Rencana Pembelajaran.

Berkaitan dengan format dan isi Rencana Pembelajaran, Praptono menyampaikan beberapa hal yang  harus dipenuhi yaitu isi rencana pembelajaran fokus pada pembelajaran jarak jauh, guru-guru diberikan kebebasan untuk menentukan format rencana pembelajaran dengan tetap memperhatikan tujuan pembelajaran, strategi/aktivitas pembelajaran, serta penilaian.

Ia juga menyarankan guru dan penggerak pendidikan mengunggah RPP dengan bentuk aktivitas yang kontekstual dengan kondisi rumah dan lingkungan sekitar, menyertakan 1-3 bentuk asesmen formatif selama pembelajaran, memuat penjelasan dan instruksi belajar yang spesifik dan rinci, serta menekankan adanya proses komunikasi dua arah. Serta agar dokumen para guru dan penggerak pendidikan yang dibagikan tidak hanya menggunakan satu strategi atau keiatan yang monoton.

Yang tak kalah penting adalah partisipasi guru dan penggerak pendidikan juga memerhatikan hak cipta. Ia menyarankan agar dokumen yang diunggah mencantumkan asal sumber belajar, bukan merupakan plagiasi karya orang lain, serta tidak memuat unsur suku, agama, ras (SARA) dan intoleransi. "Jika anda memasukan foto wajah murid, anak-anak, ke dalam RPP anda, pastikan anda sudah meminta izin pada anak dan orang tuanya. Kemendikbud berhak menurunkan RPP yang terverifikasi tidak sesuai ketentuan," ujar Praptono.

Devy Mariyatul Ystykomah, anggota Komunitas Guru Belajar yang merupakan guru SMK PGRI 1 Kediri mengaku peserta didiknya sangat antusias terhadap pembelajaran model daring atau online. Tak jarang ia masih melayani pertanyaan dari siswa-siswanya hingga malam hari. Menurutnya, laman Guru Berbagi ini selain bisa membuat para guru semakin terbiasa untuk menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran, juga memperkaya wawasan dalam menemukan praktik baik untuk diajarkan kembali kepada murid lainnya.

“Sekarang bukan hanya teori yang diperlukan tapi juga praktik baik dari guru lain yang sangat dibutuhkan. Ternyata dengan belajar bareng kita tahu banyak hal maka murid kitalah ujungnya (pembelajaran). Ketika guru belajar, hasilnya untuk muridnya,” ujar Devy yang aktif di bagian pengembangan guru daerah dalam Komunitas Guru Belajar.

Senada Ahmad Fikri Dzulfikar yang tergabung dalam Google Educators Group mengatakan harus ada komitmen dari orang tua dan guru-guru untuk menjalankan pembelajaran daring. "Dalam proses pembelajaran jarak jauh pasti ada ilmu baru dan guru harus mau menerima (model pembelajaran) sesuatu yang baru. Harus punya motivasi sebagai guru pembelajar. Jarak tidak menghalangi kita untuk belajar," ujarnya.

Ahmad juga mengungkapkan kegembiraannya dengan peluncuran laman Guru Berbagi. Hal ini merupakan jawaban atas pertanyaannya terhadap format RPP yang harus ia susun tahun ini merujuk Surat Edaran Nomor 14 Tahun 2019 tentang Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. “Saya masih mencari form RPP digital ini dengan laman ini dengan rekan guru lain. Laman ini adalah jawaban bagi kami. Semoga dengan laman ini bisa menambah banyak ilmu,” harapnya. (*)

Jakarta, 31 Maret 2020
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Laman: www.kemdikbud.go.id

#MerdekaBelajar
#GuruBerbagi  
#BersamaHadapiKorona

Page 1 of 33