Penjaminan Mutu

Penjaminan Mutu (139)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Penjaminan Mutu Pendidikan

Pontianak - Pelaksanaan kurikulum 2013 telah memasuki proses implementasi di satuan pendidikan sasaran tahun 2018. Berbagai permasalahan tak lepas dalam Implementasi kurikulum 2013 ini. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan implementasi kurikulum 2013 di sekolah sasaran.
Sebagai langkah awal persiapan sebelum dilakukannya Monitoring dan Evaluasi (Monev) Implementasi Kurikulum 2013 di Induk Klaster dilakukanlah kegiatan Review Instrumen Monev Implementasi Kurikulum 2013. Kegiatan ini melibatkan Widyaiswara LPMP Kalimantan Barat dan beberapa Instruktur Kurikulum 2013 Tingkat Provinsi dari Jenjang SD, SMP, SMA dan SMK. Waktu Pelaksanaan selama 1 Hari  yaitu pada 26 September 2018.
Produk yang akan dihasilkan dari kegiatan ada dua. Pertama adalah instrumen dan aplikasi monev, digunakan untuk pengumpulan Data Monitoring Implementasi K-13 di Induk Klaster yang dilengkapi dengan aplikasi pengolahan data. Produk yang kedua adalah bahan penguatan yang akan digunakan petugas monev pada saat memberi penguatan kepada Guru yang mengimplementasi K-13 terkait dengan permasalahan yang dialami.
Monev akan dilaksanakan selama dua hari dengan rincian hari pertama akan dilakukan Review Dokumen Program dan RPP Guru oleh petugas monev. Setelah itu dari hasil review dokumen dilakukanlah diskusi dan penguatan kepada Guru. Hari kedua petugas monev akan melakukan observasi di Kelas Melihat Guru Mengajar di Kelas Berdasarkan Instrumen Supervisi dan dilanjutkan dengan Penguatan Kembali/ Feed Back Pembelajaran.

Jakarta, Kemendikbud --- Sebagai upaya pemerataan pendidikan yang berkualitas di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom), bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyalurkan bantuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy memberikan arahan pada saat penyerahan bantuan di Gedung A Kantor Kemendikbud, Jakarta (21/9/2018).
 
Mendikbud mengatakan bahwa Kemendikbud membangun sekolah 3T dengan berbagai aktivasi. “Sebagai perwujudan nawa cita, Pak Presiden meminta Kemendikbud membangun Indonesia ini, membangun sekolah sektor pendidikan dari pinggiran. Maka dari itu, Kemendikbud membangun sekolah 3T melalui berbagai aktivasi, antara lain adalah media kemanfaatan yang berbasis online (daring), media perangkat TIK, dan memberikan pelajaran untuk guru yang mengajar di sekolah-sekolah khusus,” jelasnya.
 
Ia lanjut menegaskan mengenai komitmen Kemendikbud tentang pemerataan pendidikan yang berkualitas. “Saya ingin membuat kebijakan di pendidikan kita. Di Papua, di Maluku Utara, dan garis dalam kan perlu ada subsidi, kalo pendekatan itu tidak segera diubah di sektor pendidikan, maka kita tidak akan mungkin segera menciptakan suasana apa yang dinasihati pemerintah kerja, yaitu pemerataan yang berkualitas. Kita merata sudah, tapi kualitasnya yang belum merata. Tidak hanya merata akses tapi kualitasnya,” ujarnya.
 
Pada acara penyerahan ini, peserta yang berasal dari daerah 3T, juga diberikan bimbingat teknis tentang bagaimana memanfaatkan bantuan, terutama untuk kegiatan belajar mengajar. “Hari ini para peserta akan diberikan materi yang terkait dengan bagaimana memanfaatkan TIK termasuk juga memanfaatkan fasilitas yang sudah ada di Kementerian termasuk Rumah Belajar,” kata Sekretaris Jenderal (Setjen) Kemendikbud Didik Suhardi.
 
Ia berharap sekolah-sekolah bisa memanfaatkan Rumah Belajar dengan sebaik-baiknya dan pemerataan pendidikan bisa diwujudkan. “Beberapa kabupaten kota sudah mulai melakukan kerja sama untuk memanfaatkan (aplikasi) Rumah Belajar ini. Kami selalu menyosialisasikan agar dimanfaatkan sebaik-baiknya pada sekolah-sekolah. Apa yang ada di Pustekkom dan apa yang ada di kementerian dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, sehingga semangat kita bahwa pemerataan pendidikan yang berkualitas betul-betul kita bisa wujudkan,” ujarnya.
 
Bantuan TIK yang diberikan terdiri dari perangkat TIK penunjang belajar di kelas. Dimana Kemendikbud membantu untuk peralatan TIK dan softwarenya sedangkan Kominfo membantu jaringannya. Pada kesempatan kali ini, Pustekkom menghadirkan perwakilan sekolah dari Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Jakarta, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy meminta kepada panitia pelatihan kepala dan pengawas sekolah untuk menyusun materi Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) yang lebih profesional. Hal tersebut diutarakan saat ia memberikan sambutan pada Rapat Koordinasi Pelatihan Calon Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah di Jakarta (30/8/2018). Mendikbud berharap materi yang nanti disajikan diharapkan lebih fokus kepada profesi, baik untuk kepala sekolah maupun pengawas sekolah.
 
"Saya mohon diklatnya harus betul-betul mengadaptasi dari rencana perubahan kita, misalnya kepala sekolah ya aspek manajerial malah lebih ditekankan di dalam diklat. Tidak usah diajari lagi tentang BBM, tentang metode," tuturnya saat membuka Rakor. "Dia sudah ga mengajar lagi, tetapi bagaimana tentang mengembangkan sekolah, terutama tentang pendekatan ekosistem, pendekatan PPK, itu yang harus ditekankan," lanjutnya
 
Selain itu, mantan rektor UMM ini juga menyarankan agar diadakan lokakarya untuk simulasi permasalahan sekolah. Hal ini dilakukan dengan pengambilan contoh sekolah yang dilanjutkan dengan bagaimana melakukan problem mapping, problem sensing, problem structuring, hingga perumusan kebijakan. 
 
Ia pun berharap profesi kepala sekolah dan pengawas sekolah harus menjadi jenjang karir bagi guru. "Kepala sekolah harus (berasal dari) guru terbaik. Pengawas sekolah harus (berasal dari) kepala sekolah terbaik. Tidak boleh pengawas sekolah tidak pernah menjadi kepala sekolah. Kecuali dalam keadaan yang sangat khusus, seperti guru yang sangat berprestasi yang kemudian diangkat menjadi kepala sekolah," ujarnya.
 
Sesuai laporan yang disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Guru dan Tenaga Kependidikan Supriano, Rakor Pelatihan Calon Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah tahun 2018 ini diikuti oleh 82 kepala dan pejabat yang berasal dari Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK), dan Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS) dari seluruh Indonesia.

Jakarta, Kemendikbud --- Perubahan yang sangat cepat menghadirkan tantangan dalam dunia pendidikan. Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) memegang peranan penting dalam penyiapan generasi muda yang mampu menghadapi berbagai tantangan zaman. Melalui Pemilihan GTK Beprestasi dan Berdedikasi tahun 2018, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mendorong semakin banyak guru yang mampu menyiapkan peserta didik menjadi generasi emas Indonesia.

"Pendidik dan tenaga kependidikan adalah agen perubahan di daerah. GTK berprestasi dan berdedikasi inilah yang akan menjadi role model (teladan) di daerahnya masing-masing," disampaikan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Supriano, pada pembukaan Pemilihan GTK Beprestasi dan Berdedikasi tahun 2018, di Jakarta, Minggu (12/8).

Menurut Dirjen GTK, Kemendikbud telah menggulirkan tiga kebijakan besar dalam rangka menyiapkan generasi emas penerus bangsa di era yang semakin global. Pertama adalah gerakan literasi nasional. Literasi bukan hanya terkait baca tulis saja, tetapi juga terkait informasi
literasi teknologi, khususnya digital. "Negara yang mampu bersaing adalah yang mampu menguasai teknologi, informasi, sumber daya, dan bisnis," kata Supriano.

Kedua, pembelajaran abad 21 yang salah satunya diupayakan melalui Kurikulum 2013. Menurut Dirjen GTK, terdapat 4 kompetensi dasar yang wajib dimiliki setiap peserta didik, yakni kompetensi untuk berfikir kritis (critical thinking). Kemudian kemampuan berkomunikasi, baik melalui media maupun secara interaksi langsung. Setelah itu, kemampuan berkolaborasi dan kerja sama. Dan yang terakhir adalah kreativitas untuk menghasilkan inovasi.

Masa depan yang serba tidak pasti dan ditandai dengan perubahan yang sangat cepat di berbagai bidang mendorong pemerintah melakukan pengembangan kurikulum. Selain kompetensi, menurut Dirjen GTK, pemerintah memandang perlu menguatkan karakter peserta didik yang merupakan generasi penerus bangsa. "Ketiga, yang paling penting adalah karakter. Banyak orang cerdas, tetapi gagal karena tidak memiliki karakter yang baik. Dalam panduan kita jelas, nasionalis, religius, mandiri, gotong royong, dan kejujuran (integritas)," ungkap Supriano.

Dilanjutkan Supriano, bahwa pendidikan karakter tidak bisa diceramahkan saja, tetapi harus ditumbuhkan dan dibiasakan melalui contoh dan teladan bapak dan ibu guru. Untuk itulah, pendidik menjadi kunci keberhasilan program penguatan pendidikan karakter (PPK) yang digulirkan pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017.

Kegiatan Pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi Tahun 2018 diikuti 914 peserta dari berbagai jenjang pendidikan mulai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai Pendidikan Menengah, termasuk perwakilan Sekolah Indonesia di Luar Negeri (SILN). Pengumuman pemenang untuk setiap kategori akan dilakukan pada tanggal 15 Agustus 2018.

Menutup sambutannya, Dirjen GTK berpesan agar kompetisi yang akan dilalui dapat dipandang sebagai pembelajaran, dan bukan sekadar kompetisi yang menghasilkan juara saja. Perwakilan yang hadir dari berbagai provinsi di tanah air diharapkan dapat menjalin komunikasi dan semangat saling berbagi wawasan serta pengetahuan agar mempercepat pemerataan mutu pendidikan. "Tujuan kita, bagaimana mengeratkan bangsa ini melalui pendidikan," pesan Dirjen GTK.

Sinergi Peningkatan Kualitas Pendidikan

Mendatang, program peningkatan kompetensi guru akan difokuskan pada perbaikan proses pembelajaran. Kemendikbud mendorong guru untuk dapat membantu peserta didik menguasai kompetensi abad 21 dan karakter yang baik. "Jadi, kita akan berfokus pada proses pembelajaran yang menyenangkan dan bisa mendorong pencapaian empat kompetensi abad 21 (critical thinking, creativity, collaboration, communication)," kata Dirjen GTK.

Supriano mengajak guru untuk tidak mudah puas dan terus meningkatkan kompetensinya. Praktik baik berbagi pengetahuan dan pengalaman melalui kelompok profesi sangat diharapkan. Dan bagi guru yang telah mendapatkan tunjangan profesi agar dapat mengalokasikan sebagian dana tersebut untuk pengembangan diri.

"Praktik peningkatan kompetensi dari guru belajar dari sesama guru itu sangat penting. Untuk itu, kita harapkan, tunjangan profesi guru itu juga dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kompetensi," ujarnya.

Sinergi antara unit-unit utama di Kemendikbud akan diperkuat. Saat ini, apa yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) GTK diarahkan untuk dapat melengkapi kebijakan yang dilaksanakan oleh Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) yang mengelola pembinaan satuan pendidikan. Penyelarasan program antara Ditjen GTK dan Ditjen Dikdasmen terkait pembenahan sekolah akan disinkronkan dan diperkuat lagi.

"Apa yang menjadi program Dikdasmen akan kita dukung dari sisi gurunya. Pendidikan kita bangun secara komprehensif, tidak parsial dan berjalan sendiri-sendiri. Ketika zonasi diterapkan, kita akan 'keroyok' bersama-sama," pungkasnya. 

Jakarta, Kemendikbud --- Salah satu upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk meningkatkan pemerataan mutu pendidikan di Indonesia adalah dengan Lokakarya Program Pertukaran Kepala Sekolah. Dalam lokakarya yang digelar di Jakarta (23/7/2018), sebanyak 480 kepala sekolah yang terdiri dari 320 kepala sekolah imbas dan 160 kepala sekolah mitra dari Provinsi Aceh hingga Papua dikumpulkan untuk bertukar pengetahuan dan pengalaman.

Lokakarya ini terbagi ke dalam  dua sesi, yaitu in 1 dan in 2. Peserta akan mengikuti lokakarya in 1 selama empat hari dengan difasilitasi oleh 23 orang fasilitator. Setelahnya, selama tujuh hari, setiap dua orang kepala sekolah imbas akan magang di tempat kepala sekolah mitra. Mereka akan mempelajari tiga hal utama dari tugasnya sebagai kepala sekolah, yaitu manajerial, supervisi, dan kewirausahaan.

Selesai dari magang, mereka kembali mengikuti lokakarya in 2 selama tiga hari. Kemudian kepala sekolah imbas akan kembali ke sekolahnya masing-masing dengan didampingi langsung oleh kepala sekolah mitra selama tujuh hari. Mereka akan menerapkan apa yang telah dipelajari sebelumnya melalui metode adopsi, adaptasi, dan pengembangan. Selanjutnya pendampingan dilanjutkan secara daring.

Dalam sambutannya, mewakili Direktur Pembinaan Tenaga Kependidikan, Kepala Sub Direktorat  Abubakar Umar berpesan kepada seluruh peserta agar setelah mengikuti program ini, segera membagikan pengalamannya kepada rekan-rekan sejawat lainnya. "Mohon nanti begitu dari sini, kita sampaikan apa yang kita dapatkan kepada sahabat-sahabat kita, sehingga mereka bisa mendapatkan informasi dan memperoleh manfaatnya," tuturnya.

Kepala sekolah mitra yang diundang merupakan hasil seleksi berdasarkan capaian mereka dalam penerapan Kurikulum 2013, Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), dan Indeks Integritas Ujian Nasional (IIUN) di sekolahnya. Selain kepala sekolah, juga ada 49 pengawas sekolah yang berasal dari daerah kepala sekolah imbas yang juga akan bertugas memantau proses melalui sistem daring.

Program ini merupakan bagaian implementasi dari nawa cita nomor tiga dan lima yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dan meningkatkan kualitas hidup manusia melalui peningkatan kualitas pendidikan.