Potret Pendidikan

Potret Pendidikan (57)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Potret Realita Pendidikan

Jakarta, 8 Oktober 2020 – Setiap tahun tanggal 5 Oktober sejak tahun 1994, UNESCO merayakan Hari Guru Sedunia (World Teachers Day/WTD) untuk memperingati ulang tahun penandatanganan Rekomendasi ILO / UNESCO 1966 tentang Status Guru. Forum ini membahas seputar hak dan tanggung jawab guru, dan standar untuk persiapan awal mereka, pengembangan profesional berkelanjutan, pengerahan, pekerjaan, kondisi pengajaran dan pembelajaran. Melibatkan para pakar, kegiatan ini juga akan berisi dialog terkait rekomendasi para guru terhadap kebijakan di bidang pendidikan.

UNESCO melalui Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelar peringatan Hari Guru Sedunia dengan tema “Guru: Memimpin dalam krisis, menata masa depan pendidikan di Indonesia”.

Saat ini, permasalahan kepemimpinan guru menjadi sangat relevan untuk merespon krisis. Di tengah perjuangan melawan pandemi COVID-19, peran guru bertambah penting untuk berkontribusi dalam  menyediakan pembelajaran jarak jauh, memperhatikan dan mendukung kelompok rentan, pembukaan kembali sekolah, dan memastikan evaluasi hasil pembelajaran peserta didik yang efektif.

Tantangan lain di tengah proses pembelajaran yang berlangsung dalam jaringan (daring) untuk profesi guru dan tenaga kependidikan yaitu perkembangan teknologi. “Nilai utama dari proses pembelajaran adalah interaksi sosial dan ini tidak dapat digantikan oleh teknologi apa pun. Akan tetapi, kita perlu sadari bahwa teknologi telah mengubah cara hidup kita semua. Mari kita manfaatkan teknologi, maksimalkan kemampuan mengajar kita.,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim saat membuka Peringatan Hari Guru Sedunia (World Teachers Day), yang berlangsung secara virtual di Jakarta, Kamis (8/10).

“Kepemimpinan para guru di masa sulit ini terkait dengan kesanggupan para guru untuk tetap menyiapkan masa depan bagi murid-muridnya meski di tengah keterbatasan, bahkan untuk murid-murid yang termasuk pada kelompok rentan. Upaya tersebut patut kita berikan penghargaan yang setinggi-tingginya,” imbuhnya.

Para guru lanjut Mendikbud, tidak hanya bertugas untuk memastikan kelangsungan pembelajaran, tapi juga berperan mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan murid mereka. Dalam berbagai kesempatan ia kerap menyampaikan bahwa fokus pendidikan adalah murid. Karena investasi yang paling berharga adalah investasi untuk sumber daya manusia.

“Terima kasih saya yang tak terhingga bagi Ibu dan Bapak guru. Yang telah mengorbankan waktu, tenaga, bahkan bagian dari hidupnya sendiri demi para murid,” ucap Mendikbud.

Selain berorientasi pada kebutuhan peserta didik, investasi yang tidak kalah pentingnya adalah guru atau pendidik. Kemendikbud terus memperjuangkan hak para pendidik melalui kebijakan rekrutmen, pengembangan pendidikan, peningkatan profesionalisme, dan peningkatan kesejahteraan guru.

Kemendikbud menghadirkan berbagai kebijakan dan program. Diantaranya, Program Guru Belajar untuk semua jenjang pendidikan. Program ini dirancang untuk membantu sebanyak mungkin guru dan tenaga kependidikan dalam melakukan pembelajaran jarak jauh yang sesuai dengan kondisi pandemi. Selain itu, Kemendikbud telah melatih 60 ribu guru dalam pelatihan ‘Pembelajaran Berbasis TIK’ agar para guru semakin mahir dalam memanfaatkan teknologi dalam mengajar.

Menambahkan strategi pengembangan guru, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Arief Rachman menjabarkan, ada lima bidang pekerjaan UNESCO yang dilakukan, yakni 1). Pemantauan instrumen normatif internasional tentang profesi guru; 2). Mendukung Negara anggota dalam pengembangan dan peninjauan kebijakan dan strategi guru; 3). Mengembangkan kapasitas untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan pembelajaran; 4). Meningkatkan pengetahuan dan berbasis hasil kajian untuk implementasi dan pemantauan target guru di Pendidikan 2030; dan 5). Melakukan advokasi dan berbagi pengetahuan untuk mempromosikan pengajaran dan pembelajaran yang berkualitas.

Perlu diketahui, sebelumnya UNESCO sebagai tuan rumah Gugus Tugas Guru Internasional untuk Pendidikan 2030 telah aktif bekerja sama untuk mengatasi kesenjangan guru yang berkualitas dunia. “UNESCO secara khusus menyerukan anggota serikat untuk memastikan bahwa guru dan pendidik diberdayakan, direkrut secara memadai, terlatih dengan baik, berkualifikasi profesional, termotivasi dan didukung dalam sistem yang memiliki sumber daya yang baik, efisien dan diatur secara efektif”, urai Arief.

UNESCO menyebut, pelatihan, rekrutmen, retensi, status, dan kondisi kerja guru belum cukup ideal saat ini. Selain itu, di seluruh dunia masih terdapat kekurangan guru yang terlatih dengan baik. Data Institut Statistik UNESCO (UIS) menunjukkan bahwa sekitar 69 juta guru yang harus direkrut untuk memenuhi kebutuhan guru pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di tahun 2030.

Oleh karena itu, pada kesempatan Peringatan Hari Guru Sedunia Tahun 2020 ini Mendikbud berharap padaseluruh insan pendidikan agar menjadikan situasi pandemi ini sebagai laboratorium bersama untuk menemukan solusi-solusi serta inovasi-inovasi..

“Saya mengajak kita semua untuk melanjutkan kolaborasi yang telah terbentuk di masa pandemi ini. Karena sekarang saatnya kita menata ulang pendidikan. Sekarang saatnya kita melihat lebih jauh apa yang sebenarnya paling dibutuhkan para guru, murid, dan bangsa ini agar mampu melakukan lompatanlompatan kemajuan,” pesannya.

Director and Country Representative, UNESCO Office Jakarta, Shahbaz Khan menyampaikan rasa terima kasihnya karena selama beberapa tahun terakhir, Kemendikbud telah bekerja sama memperingati Hari Guru Sedunia. Hal ini adalah wujud perhatian pemerintah untuk meningkatkan kualitas guru dan mutu pendidikan di Indonesia.  
“Kita tarus memahami masa depan pendidikan bersumber dari guru yang memiliki jiwa kepemimpinan, pembelajar dan inovatif. Oleh karena itu semua pemangku kepentingan pendidikan mempunyai tanggung jawab untuk  membuat kesamaan qualty education for all, no one  left behind,” katanya.

Senada dengan itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama, Muhammad Ali Ramdhani mengatakan, dibutuhkan eksistensi agar guru mampun menata masa depan. Kemampuan beradaptasi merupakan hal yang substansial, sementara itu kompetensi untuk menghadirkan teknologi menjadi hal yang fundamental. Oleh karenanya, guru harus tampil sebagai sosok dinamis dan kritis dalam menata suatu bangsa.

“Dia harus menjadi pemimpin teladan, inspirator, inovator, katalisator agar mampu mencetak generasi tangguh. Sikapi keterbatasan sebagai peluang untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik. Semoga guru Indonesia mampu menjadi pemimpin yang kritis dalam rangka mewujudkan Indonesia, yang maju berdaulat adil dan makmur.

Apresiasi kepada Guru Berbagi dan Guru Belajar

Dalam kesempatan ini, Kemendikbud juga memberikan penghargaan kepada guru yang aktif dalam program guru berbagi dan guru belajar. Guru Berbagi merupakan gerakan kolaborasi pemerintah, guru, komunitas, dan penggerak pendidikan untuk bersama menghadapi COVID-19. Melalui Gerakan ini, guru saling berbagi ide dan praktik baiknya yang tertuang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Hal ini dilakukan agar sebanyak mungkin guru terbantu dalam melakukan pembelajaran jarak jauh sehingga anak-anak Indonesia lebih mudah untuk belajar dari mana saja.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Kemendikbud, Iwan Syahril pada kesempatan yang sama mengatakan saat ini banyak sekali konten pembelajaran yang kreatif buatan guru dari berbagai pelosok daerah. Sebagai bentuk apresiasi, Kemendikbud telah memilih masing-masing tiga guru dari tiap jenjangnya yang dinilai aktif menggunggah RPP di  laman Guru Berbagi dan Guru Belajar.

Harapannya, penghargaan ini bisa memantik motivasi guru lain untuk berbagi praktik baik dan berkolaborasi dalam penyusunan konten pembelajaran berbasis daring, luar jaringan (luring) dan hybrid. “Tidak masalah sedikit atau banyak karya yang dibuat, yang penting adalah sebagai guru harus terus berkontribusi menghidupkan pendidikan dan menjadi teladan bagi sekitarnya,” ucap Iwan.  

Berikut nama-nama yang penerima penghargaan: Suratiningsih dari TK Negeri Pembina Kawedanan, Magetan, Jawa Timur; Dadan Irsyada dari SDN 061 Cijerah, Bandung, Jawa Barat; Niken Eka Priyani dari SDN 29 IDAI, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat; Fajar Rudhiyanto dari SDN Wonosari II, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta; Zakki Fitroni dari SMPN 01 Batu, Kota Batu, Jawa Timur. Damayanti Nahampun dari Skh Santo Fransiskus Assisi, Balikpapan, Kalimantan Timur. Sri Handayani, S.Pd dari TK Muslimat NU 18 Malang, Jawa Timur. Samin, S.Pd dari SMPN 3 Slogohimo Wonogiri, Jawa Tengah.

Selanjutnya, Anton Setiawan, S.S., M.Pd dari SMP Negeri 26 Surabaya, Jawa Timur; Sugiyono, S.Si., M.Pd dari SMA Negeri 1 Talun, Pekalongan, Jawa Tengah. Preddy Silitonga, S.Si dari SMA Swasta Methodist Tanjung Morawa; Sylvi Noor Aini, S.Pd dari SLB Negeri Cicendo, Kota Bandung; Siti Madinatoen, S.E dari SMKS Berdikari Jember, Jawa Timur;  Rustianah, S.Pd dari SMK Negeri 1 Wirosari Grobogan, Jawa Tengah; Nur Ahita Widiastuti dari KB TK Persatuan Istri Guru Malang, Jawa Timur. Dra. Lifya dari SLB Negeri 1 Padang, Sumatera Barat; Astri Yuliani dari SMKN 1 Batang, Jawa Tengah; Ahmad Thohir Yoga, M.Pd, M.Ed dari MAN 2 Kota Malang, Jawa Timur.

Pada webinar peringatan Hari Guru Sedunia tingkat nasional ini, salah satu sesinya menghadirkan narasumber yang kompeten di tingkat PAUD/TK, SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB. Para narasumber tersebut berbagi praktik baik dan pengalaman seputar pembelajaran di masa pandemi.

Mereka adalah Zatiyah Lesyani, S.Pd dari RA/TK Istiqlal Jakarta; Agung Rahmanto, S.H., M.Pd dari SD Muhammadiyah Sapen, Yogyakarta; Taufik Nufantoro, S.Pd dari SMPN 1 Permata Kecubung; Dr. Harti Suprihatin dari SMAN 4 Bekasi; Sry Mulya Kurniati, M.Pd dari SMKN 6 Palembang; dan Mohamad Hikmat, S.Pd dari SLB N, Batang.

Ditambahkan Mendikbud, belajar dan berbagi merupakan kunci agar dapat menghadapi tantangan bersama. Tanpa adanya belajar dan berbagi, akan mustahil untuk dapat mengatasi semua masalah yang kita dihadapi. Terutama di masa pandemi ini.

“Saya mengajak seluruh insan pendidikan. Untuk menjadikan situasi pandemi ini sebagai laboratorium bersama. Untuk menemukan solusi-solusi serta inovasi-inovasi. Karena sekarang adalah saatnya kita menata ulang pendidikan untuk melihat lebih jauh apa yang sebenarnya paling dibutuhkan para guru dan murid. Apa yang sebenarnya dibutuhkan bangsa ini. Agar mampu melakukan lompatan-lompatan kemajuan,” pungkas Nadiem.







Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretaris Jenderal
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Laman: kemdikbud.go.id
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id

Saturday, 26 September 2020 10:52

Webinar Generasi Berkarakter Hindari Narkoba

Written by

Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) kembali menggelar web seminar (webinar) bertema Generasi Berkarakter Hindari Narkoba. Webinar yang kesebelas kali ini dipandu oleh Paradhita Zulfa Nadia dan penerjemah bahasa isyarat, Nurlailah, serta menghadirkan empat narasumber yaitu Kepala Puspeka Kemdikbud, Hendarman, duta anti narkoba, Olivia Zalianty, atlet bulutangkis muda berprestasi, Fajar Alfian, dan dari Badan Narkotika Nasional (BNN), Eva Fitri Yuanita.
 
Sebagai narasumber pertama, Olivia Zalianty membagikan pengalaman hidupnya sebagai artis yang tetap bisa berprestasi tanpa narkoba. Meski lingkungannya dulu ketika masih bersekolah ada saja yang menyalahgunakan narkoba, namun Olivia tidak terpengaruh. Demikian pula ketika Olivia menjadi selebritas, tetap bisa produktif tanpa narkoba. Oleh karenanya, Olivia pernah didapuk sebagai Duta Anti Narkoba di tahun 2008. Olivia memilih rutin berolahraga untuk tetap sehat, bugar serta positif. Olivia menyebut pentingnya peran orang tua dan keluarga dalam mendukung semua kegiatan positifnya itu.
 
Senada dengan Olivia, atlet bulutangkis, Fajar Alfian bercerita bagaimana remaja dapat produktif, bahkan mengharumkan nama bangsa meski banyak godaan seperti tawaran penyalahgunaan narkoba. Fajar juga memilih olah raga agar menjadi remaja yang positif dan produktif. Menurutnya, olah raga adalah salah satu kegiatan yang bertujuan. Selain menyehatkan, olah raga juga membuat orang memiliki tujuan atau target, apalagi sebagai atlet nasional yang tentunya digembleng untuk terus berprestasi.
 
Pembicara ketiga yakni Eva Fitri Yuanita dari BNN menyerukan pentingnya semua sadar bahaya narkoba. Eva menyebut dalam setahun ada 18 ribu meninggal disebabkan penyalahgunaan narkoba. "Angka ini mengkhawatirkan sehingga tidak berlebihan rasanya jika disebut negara ini dalam kondisi darurat narkoba", tegasnya.

Masyarakat dan pemerintah mesti bergandeng tangan menanggulanginya, demikian juga dengan sekolah. Eva bahkan mengatakan sejak di jenjang pendidikan anak usia dini, anak semestinya sudah diberitahu tentang bahaya narkoba, tentu saja dengan bahasa dan penyampaian yang sesuai. "Pengedar narkoba menyasar remaja dan anak, selain itu banyaknya penduduk di Indonesia menjadi pasar potensial bagi perdagangan narkoba. Modus operandi pengedaran narkoba juga terus berkembang dengan media yang makin beragam melalui internet," tutur Eva.
 
Dalam webinar ini juga disampaikan pengumuman pemenang lomba Blog dan Vlog Pusat Penguatan Karakter dengan mengusung tema "Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19". Lomba ini dimaksudkan untuk memotret bagaimana dunia pendidikan di Indonesia tetap berjalan dengan ragam praktiknya.

Kepala Puspeka Kemendikbud, Hendarman mengatakan lomba ini bertujuan untuk mempertahankan budaya literasi di kalangan millenial. "Semoga dengan adanya lomba blog dan vlog seperti ini, kaum millenial dan generasi Z bisa terus berkarya, serta turut mencerdaskan kehidupan bangsa, sehingga tercipta generasi-generasi yang berkarakter, kuat, dan berdaya, " ujarnya.
 
Tidak hanya disiarkan melalui Zoom saja, webinar ini juga dapat disaksikan melalui kanal YouTube Cerdas Berkarakter Kemdikbud RI, radio Suara Edukasi dan radio Itjen. Selama dua jam, selain disuguhi paparan para pembicara, peserta juga diajak berinteraksi melalui beberapa kuis dengan hadiah yang menawan.
 
Hendarman berharap, pandemi justru ini dapat menjadi kesempatan para remaja untuk menempa diri. "Karena lebih banyak waktu luang, diharapkan remaja dapat mengasah kemampuan dan melejitkannya menjadi Pelajar Pancasila," ujarnya.
 
Puspeka terus berupaya mewujudkan profil pelajar Pancasila, mengingat Pancasila semestinya menjadi visi sekaligus spirit dan pandangan hidup bernegara, terutama remaja.

Bogor, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim, meninjau proses pembelajaran pada Tahun Ajaran Baru 2020/2021 di Kota Bogor dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat untuk mendengarkan aspirasi dari para guru.

Dalam kesempatan itu, Mendikbud mengungkapkan bahwa sejak April lalu Kemendikbud telah melakukan relaksasi Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk membantu sekolah dalam melaksanakan prioritas, termasuk menunjang pembelajaran jarak jauh (PJJ).

“Kami menyadari bahwa pelaksanaan pembelajaran jarak jauh bukan hal yang mudah. Apalagi dengan segala keterbatasan, baik infrastruktur berupa sinyal dan listrik, biaya, dan sebagainya. Oleh karena itu, silakan kepala sekolah membeli kebutuhan yang menjadi prioritas sekolah, misalnya pembelian pulsa untuk guru maupun siswa, hand sanitizer, dan lain-lain,” jelas Mendikbud dalam audiensi dengan guru di SDN 1 Polisi, Kota Bogor, pada Kamis (30/7).

Rhiska Rachmawati, guru kelas 6 di SDN 1 Polisi Kota Bogor yang beraudiensi dengan Mendikbud menuturkan bahwa mereka sudah mendapatkan panduan pembelajaran, baik daring maupun luring dari Dinas Pendidikan Kota Bogor serta bantuan inspirasi konten dari sesama guru.

“Untuk proses pembelajaran sendiri tidak ada kendala yang berarti. Semua kami sesuaikan dengan kondisi siswa dan orang tua mereka. Kami membuat konten yang menyenangkan untuk siswa dan tugas yang diberikan juga kita usahakan agar tidak membebani siswa. Kami juga banyak mendapatkan contoh praktik baik dari konten sesama guru di media sosial,” jelas Rhiska.

Untuk standar kualitas pembelajaran, kata Rhiska, para guru mengedepankan literasi, numerasi, pendidikan karakter, pemahaman akan pandemi COVID-19, dan pola hidup bersih sehat.

Mendengar penjelasan dari guru tersebut, Mendikbud mengapresiasi inovasi dan kreativitas yang telah dilakukan para guru. Menurut Mendikbud, pandemi COVID-19 ini membawa pemahaman baru bahwa dengan komunikasi dan gotong-royong maka proses pembelajaran jarak jauh akan dapat dilaksanakan dengan baik.

“Dengan adanya pandemi ini guru-guru menjadi sangat kreatif dengan menggunakan berbagai platform sehingga mencari mana yang cocok bagi mereka. Demikian pula dengan partisipasi guru penggerak yang memberikan konten gratis bagi sesama guru juga luar biasa,” pungkas Mendikbud. (*)   


Bogor, 30 Juli 2020
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Laman: kemdikbud.go.id
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI

Jakarta, Kemendikbud --- Di hari pertama bekerja setelah hari raya Idulfitri, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim, membaca tiga surat dari siswa siswi terpilih. Surat-surat tersebut merupakan hasil seleksi dari 6.689  surat yang dikirimkan oleh siswa SD dan guru se-Indonesia pada 11-17 Mei 2020 lalu.
 
Surat pertama yang dibaca oleh Mendikbud datang dari Rivaldi R. Yampata, siswa kelas IV SD 016 Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Dalam surat tersebut, Rivaldi menceritakan bagaimana dia harus hidup terpisah dari keluarganya untuk menetap sementara di rumah kerabat  agar bisa tetap mengikuti pembelajaran selama masa pandemi Covid-19. Hal ini disebabkan kondisi keluarga Rivaldi yang tidak memiliki fasilitas pembelajaran memadai seperti gawai maupun internet.
 
“Tahun ini saya dititipkan Mama dengan seorang guru yang sudah lama dikenal. Alhamdulillah selama saya di sini semua tugas yang diberikan guru, bisa saya selesaikan dengan baik karena dibimbing dengan kakak-kakak di rumah saya, Kak Abi dan Kak Tiara. Saya tidak punya HP jadi kalau buat video belajar mereka berdua yang merekam. Saya diberi teks yang harus saya hafal kan lalu mereka merekam saya melafalkan pelajaran itu misalnya bacaan salat dan kosakata bahasa Inggris beserta artinya,” demikian sepenggal surat yang ditulis Rivaldi untuk Mendikbud.
 
Rivaldi yang bercita-cita ingin menjadi polisi itu juga menguraikan kesehariannya beternak lele menggunakan media drum dan berkebun selama ia tinggal di keluarga barunya. Mengomentari hal ini Nadiem sangat terkesan karena Rivaldi dan keluarganya tetap produktif melakukan kegiatan di rumah. “Meskipun dalam krisis bagus bisa berkreasi menjadi wirausaha,” kata Mendikbud.
 
Surat kedua yang dibacakan Mendikbud adalah surat dari Alfiatus Sholehah, siswa kelas VB SDN Pademawu Barat 1, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Seperti halnya Rivaldi, Alfiatus menyampaikan keinginannya untuk segera bisa kembali ke sekolah, bertemu dengan teman-teman dan guru-gurunya.
 
“Bapak Menteri saya dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu. Orang tua saya hanya buruh tani. Dengan adanya corona saya jadi bingung karena belajarnya harus pakai HP Android. Sedangkan saya tidak punya. Saya juga merasa kasihan karena Ibu saya harus cari hutangan untuk membeli paket internetnya agar saya bisa belajar di rumah. Tapi saya ingin segera masuk sekolah ingin ketemu guru dan teman-teman saya. Apalagi sekarang bulan Ramadan. Biasanya di sekolah diadakan kegiatan Pondok Ramadan. Tapi karena Corona semua itu tidak ada lagi,” tulis Alfiatus dalam suratnya kepada Mendikbud.
 
Menjawab kesulitan Alfiatus memiliki paket data internet, Nadiem mengatakan bahwa kini dana BOS bisa digunakan untuk membantu siswa membeli paket internet. “Ingatkan sekolahnya ya,” tegas Menteri Nadiem.
 
Kemudian ketika ditanya, hal penting apa yang bisa diambil sebagai pelajaran atas wabah ini, dengan lantang Alfiatus mengatakan, kesehatan. “Kita harus menjaga kesehatan, Kesehatan sangat penting untuk kita semua,” ucap Alfiatus.
 
Berbeda dengan Rivaldi dan Alfiatus, Atrice G. Napitupulu, siswa kelas IV SD YPPK Gembala Baik, Jayapura, Papua, membacakan sendiri surat yang ditujukan untuk Mendikbud. Walaupun nonmuslim, Atrice mencurahkan kesedihannya mengingat teman-temannya yang muslim tidak bisa mudik dan berkumpul bersama sanak keluarga sebagaimana biasanya akibat dari Covid-19.
 
“Saya juga merasa kasihan sama teman-temanku di komplek yang sedang berpuasa mereka tidak bisa mudik melihat kakek nenek dan keluarganya tidak bisa salat bersama-sama di mesjid. Itu semua karena virus Corona. Lebaran saya juga tidak bisa peta (Pegangan Tangan), makan bakso, es buah dan uang lebaran. Saya berharap virus Corona cepat berlalu ya, Pak, supaya kita semua bisa bersukacita dan bergembira. Salam hormat,” tutur Atrice. 
 
Kepada mereka, Mendikbud mengucapkan terima kasih telah menulis surat dan berharap untuk tetap semangat. “Terima kasih untuk masih semangat di saat krisis seperti ini. Saya tahu belajar dari rumah itu nggak mudah, sulit. Kadang-kadang membosankan, kadang-kadang merepotkan. Tapi tolong tetap semangat, tetap bantu orangtua, tetap bantu kakak-adik. Dan kita pasti akan melalui krisis ini bersama asal kita saling mencintai, asal kita saling membantu. Kita kan bisa melalui krisis ini,” pesan Mendikbud.
 
Mendikbud juga menyampaikan, bahwa di tengah pandemi ini, berbagai keterbatasan tidak menjadi alasan. Dari pandemi ini kita tahu bahwa kita saling membutuhkan. Semua kesulitan ini pasti akan berakhir dan menjadi hal manis untuk dikenang. Semua orang akan bersemangat untuk beraktivitas kembali. Ruang kelas akan dipenuhi energi dari para pencari ilmu generasi penerus bangsa. “Dan saat itu kita akan tahu bahwa kebersamaan kita akan lebih kuat dari sebelumnya, karena kita bertoleransi, karena kita bergotong-royong,” katanya.

Friday, 29 May 2020 06:00

Menyimak Isi Surat Guru untuk Mendikbud

Written by

Jakarta, Kemendikbud—Jujur, tulus, dan bermakna. Tiga kata itulah yang dapat menggambarkan 6.689 surat yang ditulis oleh guru dan murid se-Indonesia kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim. Melalui untaian kata, mereka mengisahkan berbagai cerita inspiratif dalam memaknai Ramadan di masa pandemi Covid-19.
 
Mengomentari begitu banyak surat yang ia terima sejak 11 Mei 2020 hingga 17 Mei 2020, Menteri Nadiem mengungkapkan, terdapat hikmah yang bisa diambil dari masa krisis Covid-19. Suatu bencana baik kesehatan, bencana ekonomi, bencana pendidikan, kata dia, selalu ada hikmahnya. “Jangan sampai kita keluar dari krisis ini tanpa membawa bekal dan hikmah. Kesulitan adalah akar pembelajaran yang penting,” katanya dalam Acara Cerita Inspiratif Guru dan Murid bersama Mendikbud Nadiem Makarim yang disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube Kemendikbud di Jakarta, Selasa (26/5/2020).
 
Dari ribuan surat yang masuk ke Kemendikbud, diambil lima surat terpilih dan dibacakan langsung oleh Mendikbud. Dua surat ditulis oleh guru, tiga lagi berasal dari siswa. Adapun dua guru yang suratnya terpilih mengutarakan rasa senangnya karena tidak menyangka surat mereka akan dibacakan sekaligus dapat berbincang langsung dengan ‘Mas Menteri’.  “Saya senang karena bisa bicara langsung dengan Mas Menteri,” ujar Maria Yosephina Morukh, Guru SD Kristen Kaenbaun, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.
 
Ia bercerita bahwa kondisi wilayah yang berada di pedalaman serta sarana pembelajaran yang minim  membuatnya harus melakukan kunjungan ke rumah-rumah agar para siswa tetap mendapatkan pembelajaran. “Jaringan internet dan siaran televisi di wilayah kami sulit dijangkau, orang tua siswa juga kebanyakan tidak memiliki HP Android sehingga saya rutin mengunjungi siswa secara bergiliran,” tutur Maria yang menggunakan motor untuk berkunjung ke rumah siswanya. 
 
Setiap hari Maria mengunjungi lima rumah untuk memberi tugas kepada siswanya. Maria merasakan semangat yang besar dari siswanya dalam mengerjaka tugas yang ia berikan. “Sambil berkunjung saya ingatkan anak-anak untuk menjaga kebersihan cuci tangan dan memakai masker jika hendak keluar rumah,” Maria melanjutkan.
 
Oleh karena itu, Maria sangat berharap pemerintah dapat memberikan perhatian kepada sekolahnya agar kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan. Di masa sekarang ini, kata Maria, orangtua berupaya mendukung pembelajaran. Namun karena keterbatasan ekonomi dan orang tua tidak punya HP Android sehingga susah dalam komunikasi. “Mohon perhatikan sekolah saya, fasilitasnya agar diperhatikan,” harap Maria.
 
Kondisi lebih beruntung dirasakan oleh guru lain yaitu Santi, seorang guru di SMP Islam Baitul Izzah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Ia mengatakan, wilayah dan fasilitas pembelajaran lebih mudah diakses, tantangan justru datang dari budaya pembelajaran. “Biasanya guru mengajar hanya berpedoman pada buku pegangan guru, namun sekarang kita ‘dipaksa’ belajar memanfaatkan teknologi untuk melakukan pembelajaran secara dalam jaringan (daring),” ungkap Santi.
 
Santi mengaku senang dengan kebijakan Merdeka Belajar Kemendikbud. Ia mendukung perubahan di dunia pendidikan dalam menciptakan metode pembelajaran yang menarik untuk memotivasi siswa belajar. “Kebetuan saya mengajar Bahasa Inggris. Dalam proses pembelajaran, saya gunakan google meskipun belajar tapi seperti tidak sedang belajar,” kata Santi penuh semangat.
 
Pembelajaran jarak jauh memberi kesempatan kepada kita semua memupuk empati, quality time bersama keluarga dan mengasah sisi humanisme. Santi melihat bahwa orangtua menjadi paham bagaimana sulitnya mengajar anak-anak. Di sisi lain, orangtua dan anak bisa mendekatkan diri satu sama lain dengan banyaknya kegiatan yang dihabiskan bersama-sama di rumah. “Selain itu ada rasa syukur dalam hati saya ketika mendengar anak-anak kangen berkumpul dengan teman-teman dan gurunya di sekolah. Artinya anak-anak memahami bahwa sebagai makhluk sosial, interaksi secara langsung adalah sebuah kebutuhan,” tutur Santi.
 
Kepada Mendikbud, Santi berpesan agar kualitas tenaga pendidik, pengembangan teknologi dan penguasaan bahasa asing terutama Bahasa Inggris terus ditingkatkan, karena menurutnya ketiga hal tersebut menjadi modal yang harus dimiliki siswa dalam menghadapi perkembangan zaman.
 
“Penguasaan Bahasa Inggris sejak dini diperlukan untuk dapat mengakses informasi, mencari ilmu di banyak website berbahasa Inggris. Dengan menguasainya (Bahasa Inggris) mereka tidak akan terdikriminasi karena masalah bahasa. Kita ingin membawa Indonesia ke era ekonomi digital tapi berbanding terbalik dengan kualitas guru-guru saat ini. Padahal pemikiran kritis peserta didik harus diimbangi dengan kapabilitas guru-gurunya.  Guru adalah penjual mimpi, kita didik siswa dengan kedisiplinan, tanggung jawab dan kerja keras untuk berhasil menggapai mimpi mereka,” pungkas Santi.
 
Kepada Santi dan Maria, Mendikbud menyampaikan rasa bangganya karena mereka adalah potret tenaga pendidik yang tetap bersemangat menjalankan roda pendidikan di tengah pandemi.  “Saya tidak harus melakukan satu asesmen untuk mengetahui (kinerja) Ibu Maria dan Bu santi. Dari  jawabannya, dari visinya,  passion-nya adalah guru penggerak. Andalah yang kita butuhkan bagi negara kita,” tutup  Mendikbud.

Page 1 of 12