Potret Pendidikan

Potret Pendidikan (58)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Potret Realita Pendidikan

Senin, 16 Juli 2018 08:33

Mendikbud Pantau Hari Pertama Sekolah di Papua

Written by

Abepura - Papua, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) mengawali kunjungan kerja di provinsi Papua dengan menghadiri apel hari pertama sekolah (HPS) di beberapa sekolah. Mendikbud mengaku bangga dengan sekolah di Papua yang tidak kalah dengan sekolah di daerah lain.

"Saya berkunjung ke SD yang sangat bagus, tidak kalah dengan SD di tempat lain, khususnya di Jawa. Saya minta Pemerintah Provinsi Papua bisa mengimbaskan sekolah yang bagus ini ke sekolah-sekolah lainnya di Papua yang kondisinya masih kurang," disampaikan Mendikbud Muhadjir Effendy saat mengunjungi Sekolah Dasar (SD) Negeri Kotaraja, Abepura, Papua, pada hari pertama masuk sekolah, Senin (16/7).

Pagi ini, Mendikbud memberikan motivasi kepada para siswa untuk terus belajar dan memberikan kemajuan untuk Papua. Ia berpesan agar sekolah dapat menyambut siswa dengan suasana yang menggembirakan dengan memberikan harapan dan semangat mempersiapkan masa depan bersama.

Pengenalan terhadap fasilitas dan peraturan sekolah, menurut Muhadjir, perlu disampaikan dengan baik dan penuh keramahan. Para guru memperkenalkan diri juga dengan penuh keterbukaan. Kemudian mendengarkan harapan dari siswa. Disampaikan mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini, pendidik perlu memahami bahwa setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai minat dan bakat masing-masing.

Zonasi Untuk Pemerataan Pendidikan Berkualitas

Dengan sistem zonasi yang sudah mulai diterapkan, Mendikbud berharap hal tersebut dapat merekatkan, menyinergikan antara tripusat pendidikan, yaitu sekolah, masyarakat, dan keluarga. Sehingga perlu disadari bahwa tanggung jawab pendidikan tidak hanya di satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama. "Diharapkan jika ada hal-hal negatif yg menerpa siswa kita, bisa diatasi dengan kerja sama antara tiga pihak itu.” kata Mendikbud.

Kebijakan zonasi ditetapkan pemerintah untuk kebaikan yang lebih besar. Khususnya mempercepat pemerataan pendidikan yang berkualitas. Saat ini angka partisipasi kasar (APK) dan angka partisipasi murni (APM) dirasa sudah cukup tinggi. Namun, menurut Mendikbud kualitasnya belum merata. "Misalnya di wilayah Papua ini, kalau di kota-kotanya sudah baik, sudah cukup maju, tetapi di wilayah pegunungannya masih belum. Kalau dibiarkan nanti akan semakin menganga kesenjangan itu. Tidak boleh begitu," tutur Mendikbud.

Oleh karena itu, zonasi akan menjadi pintu masuk pembenahan pendidikan nasional. Segera, kebijakan zonasi akan menghadirkan rekomendasi berbasis data yang dapat digunakan "Saya tahu banyak yang belum paham, dan mungkin tidak puas karena adanya perubahan. Yang penting adalah mengubah sikap mental, cara pandang masyarakat. Ini bagian dari revolusi mental di bidang pendidikan," jelas Mendikbud.

Turut dalam kunjungan kerja kali ini Sekretaris Jenderal, Didik Suhardi; Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Hamid Muhammad; Staf Ahli bidang Hubungan Pusat dan Daerah, James Modouw; Staf Khusus Monitoring Implementasi Kebijakan, Alpha Amirrachman; Direktur Pembinaan SD, Khamim; Direktur Pembinaan SMP, Supriano.

"Saya mohon betul agar pemerintah provinsi Papua, dan pemerintah kabupaten/kota segera mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang sudah digariskan pemerintah pusat. Agar segera terwujud pemerataan yang berkualitas itu," pungkas Muhadjir.

Selain meninjau pelaksanaan hari pertama sekolah, Mendikbud dijadwalkan menghadiri Rapat Koordinasi Dinas Pendidikan se-Papua dan juga melepas Jalan Sehat Siswa dan Guru dalam rangka menyemarakkan Asian Games 2018.

 

Selasa, 17 Juli 2018 08:32

Generasi Cerdas Berkarakter Kekuatan Indonesia!

Written by

Hari Pertama Sekolah adalah momentum baik untuk optimalisasi peran para pelaku pendidikan untuk berfokus pada penguatan karakter anak. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) bertumpu pada kontribusi tri pusat pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat).

Melalui pengelolaan manajemen berbasis sekolah, ketiga unsur tersebut diharapkan mampu bersinergi untuk mengusahakan pendidikan karakter bagi anak kapanpun dan dimanapun.

Bagi keluarga, Pendidikan dalam keluarga adalah yang pertama dan utama. Dengan 2 hari libur (Permendikbud No.23/2017), keluarga mendapat waktu berkualitas untuk berperan dalam pendidikan karakter anak.

Bagi sekolah, Guru diharapkan mampu mengasah potensi setiap siswa, dengan menciptakan kegiatan belajar yang dinamis dan kreatif. Dengan penyesuaian beban kerja guru (PP No.19/2017), guru diharapkan dapat lebih maksimal dan intensif membimbing siswanya. Di sisi lain, kepala sekolah sebagai manajer yang berusaha memajukan dan menciptakan citra baik sekolahnya.

Bagi masyarakat, Saat ini masyarakat sudah diberi ruang yang luas untuk terlibat aktif dalam penyelenggaraan pendidikan. Masyarakat dapat berkolaborasi dengan Komite Sekolah (Permendikbud No.75/2016) untuk berkontribusi bagi kemajuan pendidikan Indonesia.

Bagi siswa, Gali potensi dan asahlah karaktermu dimanapun dan kapanpun. Keluarga, sekolah, dan masyarakat siap membantumu menjadi pribadi cerdas dan berkarakter.

Generasi Cerdas Berkarakter Kekuatan Indonesia!


Palangka Raya, 17 Juli 2017


Muhadjir Effendy

Jakarta, Kemendikbud -- Siswa Sekolah Dasar (SD) Indonesia kembali mengharumkan nama bangsa dalam kompetisi matematika internasional. Sebanyak 12 siswa SD yang mewakili Indonesia membawa pulang dua emas, dua perak, dan enam perunggu dalam ajang Bulgaria International Mathematics Competition (BIMC) Tahun 2018.

"Artinya kita tidak boleh pesimis. Anak-anak ini sudah membuktikan bahwa kita juga mampu bersaing di kancah internasional," disampaikan Direktur Pembinaan Sekolah Dasar, Khamim, saat menyambut kedatangan delegasi BIMC di bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Sabtu (7/7).

Untuk kategori tim/kelompok, delegasi Indonesia berhasil meraih satu emas (champion), dua perak, dan dua perunggu. Sedangkan untuk kategori individu, Indonesia memperoleh satu emas atas nama Felicia Grace Angelyn Ferdianto dari SD Cahaya Nur, Kudus. Satu medali perak atas nama Yedija Nicholas Kurniawidi dari SD Karangturi, Semarang.

Empat medali perunggu diraih oleh Ahmad Fikri Azhari (SD Muhammadiyah Plus, Batam); Mafazi Ikhwan Dhandi Hibatullah (SDS Al Furqon, Jember); Matthew Allan (SDS Kristen 10 Penabur, Jakarta); dan Ryan Suwandi (SDS Tzu Chi, Jakarta). Dan lima orang siswa lainnya mendapatkan penghargaan merit (harapan) dalam kompetisi yang diikuti 28 negara tersebut.

Khamim menjelaskan bahwa delegasi BIMC terdiri dari para siswa berprestasi yang merupakan juara dari OSN tahun 2017. "Pembekalan delegasi dilakukan dalam dua tahapan; pada bulan Mei dan Juni," ujar Khamim, Direktur Pembinaan SD.

Yedija (12) mengungkapkan rasa senang dan bangganya bisa mempersembahkan medali perak dalam kategori individu. Menurutnya medali emas yang diraih timnya merupakan bentuk kerja sama yang baik bersama tiga orang anggota kelompok lainnya. "Dari kecil aku memang suka matematika. Serunya matematika itu tantangannya memecahkan soal, mencari caranya," kata siswa yang dipanggil Jade ini sambil tersenyum.

Peraih medali emas individu, Felicia (12) mengungkapkan kegembiraan sekaligus keterkejutannya meraih emas di ajang bergengsi tersebut. Meski BIMC bukanlah kompetisi internasional pertamanya, siswi yang juga gemar melukis dan membaca komik ini tidak mengira ia akan mendapatkan medali emas.

Ibunda Felicia, Lisa Triana mengungkapkan bahwa putrinya memang menggemari matematika sejak kecil. Bakat dan minat Felicia ditemukan sejak Taman Kanak-kanak saat memenangkan lomba di tingkat kabupaten. Pembinaan dan pengembangan diri anaknya disesuaikan dengan keinginan si buah hati. "Dia cita-citanya jadi guru. Saya fasilitasi saja. Yang penting dia kalau nanti jadi guru ya mengajar dengan hati," tutur Lisa.

Pembinaan Berkelanjutan

Ibnu Hadi (37), Dosen Universitas Negeri Jakarta yang menjadi salah satu pendamping delegasi BIMC menyampaikan perlunya pembinaan yang berkelanjutan. Menurut Ibnu, kualitas siswa Indonesia yang berkompetisi di ajang internasional tidak kalah dengan siswa di negara-negara maju lainnya. "Tantangan bagi guru untuk bisa memancing potensi siswa yang selama ini terpendam," ungkap Ibnu.

Penerapan kurikulum 2013 dan pembiasaan mengerjakan soal-soal penalaran tingkat tinggi dirasa sudah tepat dan perlu dijaga konsistensinya. "Yang penting kita kontinu dan terus dievaluasi. Kita harus mencari pembanding di negara lain, kalau bisa sama, atau bahkan bisa lebih. Kuncinya memang di guru," jelas Ibnu.

Dengan lebih dari 148 ribu sekolah dan lebih dari 25,5 juta siswa Sekolah Dasar, Kemendikbud berkomitmen untuk terus melakukan pemerataan kualitas pendidikan. Direktur Pembinaan SD mengungkapkan pembinaan dilakukan secara berjenjang dan berkelanjutan bagi para siswa berprestasi. Para juara yang telah mengharumkan nama bangsa di kancah internasional ini akan diberikan Beasiswa Bakat Prestasi.

"Juara OSN tahun 2018 nanti akan diikutsertakan pada kompetisi internasional di tahun 2019. Ini sebenarnya pembinaan berkelanjutan dan memberikan apresiasi kepada siswa kita," kata Khamim.

"Literasi ini memiliki banyak dimensi, literasi keluarga, sekolah, dan masyarakat. Jadi tidak hanya peran sekolah, namun juga masyarakat dan keluarga. Di keluarga, kesempatan baik orang tua memberikan contoh dengan baik," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy dalam acara Peringatan Hari Buku Sedunia, di Rumah Dunia, Kampung Ciloang, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang Provinsi Banten, Sabtu (21/4/2018).

Orang tua yang biasa membacakan cerita kepada anak-anaknya, adalah contoh baik yang bisa diterapkan oleh semua keluarga. Jika perlu, menurut Muhadjir, para orang tua diajar cara mengajarkan membaca dan membacakan cerita kepada anak-anaknya.

Mendikbud juga menekankan pentingnya memahami apa yang dibaca, bukan sekadar membaca. Jadi, membaca berbeda dengan mengenal huruf-huruf, tetapi membaca adalah memahami kalimat-kalimat yang dibaca. "Sama juga dengan membaca Alquran itu, jangan hanya sekadar baca," imbau Muhadjir.

Mendikbud menambahkan bahwa literasi tidak melulu hanya baca tulis. Jika dilihat dari aspeknya ada banyak: literasi bahasa, literasi hitung, digital, kewarganegaraan, perbankan, lingkungan, dan sebagainya. "Kita dalam literasi tergolong rendah. Pertama karena gerakan literasi masif baru dilakukan sejak 1973, dimulai dengan pembangunan SD Inpres zaman Pak Harto," kata Mendikbud menambahkan.

Dalam kesempatan tersebut, Mendikbud sangat mendukung peringatan Hari Buku Sedunia yang dilakukan bersamaan dengan peringatan Hari Kartini, sekaligus memperingati Hari Pendidikan Nasional. Ia juga mengapresiasi para relawan Gerakan Literasi Nasional yang menggagas acara di Serang Banten ini.

Singkawang, Kemendikbud* -- Pendidikan dasar di jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) selayaknya memiliki 70 persen muatan pendidikan karakter. Hal itu dikarenakan pendidikan karakter menjadi fondasi pendidikan selanjutnya bagi peserta didik.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy menegaskan, sekolah-sekolah pada jenjang SD dan SMP kini harus berubah, harus ada reformasi dan restorasi pendidikan yang mengutamakan pendidikan karakter.

"Kalau di sekolah SD dan SMP itu masih padat dengan memberikan pengetahuan kepada siswa maka itu sudah tidak zamannya lagi," ujar Mendikbud pada acara Seminar Pendidikan di Singkawang, Kalimantan Barat, Kamis (28/12/2017).

Guru menjadi salah satu kunci dalam membenahi pendidikan karakter itu. Mengajar bagi seorang guru merupakan bagian kecil dari tugasnya tetapi mendidik siswa memiliki karakter yang kuat itulah yang menjadi tugas pertama dan utama seorang guru.

Seperti ajaran Ki Hadjar Dewantara bahwa seorang guru seharusnya berada di depan untuk memberikan keteladanan, berada di tengah untuk memberikan inspirasi, dan berada di belakang untuk memberikan dorongan. Namun hingga saat ini sebagian besar guru hanya memberikan dorongan melalui transfer pengetahuan saja kepada siswa-siswanya.

Mendikbud mengatakan, tanggung jawab utama mendidik anak-anak memiliki karakter yang kuat itu tetap ada pada keluarga atau orangtua mereka. Sekolah, kata dia, hanya membantu mereka ketika berada di rumah keduanya.

"Sudah keliru paradigma masyarakat (tentang pendidikan,-) sekarang ini, kalau anaknya sudah masuk sekolah itu sudah orangtua tidak ikut campur mendidik, ini adalah suatu kesalahan besar. Keluarga harus bertanggung jawab terhadap pendidikan anak terutama pendidikan dasar," tutur mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah berupaya mengeluarkan regulasi tentang pendidikan karakter tersebut, yakni Peraturan Mendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah dan Peraturan Mendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Regulasi tersebut juga diperkuat dengan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter.