Potret Pendidikan

Potret Pendidikan (62)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Potret Realita Pendidikan

Pontianak - Data Penjaminan Mutu Pendidikan (PMP) adalah aset pendidikan. Aset yang perlu dikumpulkan, dikelola dan diberdayakan. Sebagai aset, data PMP perlu pemeliharaan, perawatan dan pemutakhiran. Semua kegiatan tersebut tidak mudah. Dibutuhkan konsistensi dan integritas tinggi. Tugas berat inilah yang saat ini dijalankan oleh para pengawas sekolah. Selain membina satuan pendidikan, mereka juga harus mampu menjaga aset ini dengan teliti dan sinergi.

Banyak kisah perjuangan menjaga aset data PMP. Salah satunya adalah Drs. Gusparudin atau yang biasa dipanggil Pak Gus, salah seorang pengawas SMA di Kabupaten Sintang. Beliau melaksanakan tugas pengumpulan data mutu PMP tahun 2018 di 9 sekolah binaan yang tersebar di 5 kecamatan di kabupaten Sintang.

Pak Gus lahir di Nanga Sayan, 10 September 1961. Beliau mulai bertugas pada 1 April 1989 sebagai guru di SMAN 2 Sintang. Selanjutnya beliau menjadi pengawas sejak 31 Desember 2001 sampai sekarang. Beliau menceritakan bahwa dalam melaksanakan pendampingan pelaksanaan pengumpulan data PMP tahun 2018 penuh tantangan dan pengalaman. Apalagi dilaksanakan bertepatan musim penghujan. Sehingga sosialiasasi ke sekolah binaan dengan jarak tempuh mencapai 7 jam perjalanan darat menggunakan sepeda motor dari ibukota kabupaten terasa sulit.

Beliau bertutur beberapa kali pernah terjatuh dari motor. Karena sebagian jalan belum beraspal. Sehingga menyebabkan roda sepeda motor mudah tergelincir. Resikonya sepeda motor menjadi cepat rusak. Bermalam di jalan pun menjadi pengalaman kehidupan dalam perjalanan kedinasan. Dalam setiap kunjungan ke sekolah yang medannya sulit beliau pasti membawa bekal senter dan pisau.

Beliau berkisah bahwa semua kecamatan di Sintang pernah dikunjungi. Beliau juga mengisahkan bahwa wilayah binaannya sangat luas. Dari jalan yang mulus sampai yang licin dan berlumpur. Sedangkan jumlah pengawas SMA/ SMK kabupaten Sintang jumlahnya masih terbatas. Namun dari secuil kisah duka tersebut terselip perasaan suka dan gembira.

Perasaan suka adalah ketika tiba di sekolah binaan. Sambutan hangat dari warga sekolah membuat rasa capek dan lelah seolah terbayarkan. Pak Gus dapat melihat langsung proses pembelajaran dan kondisi nyata pendidikan di daerah terpencil, tertinggal dan terluar. Pak Gus juga dapat memberikan bimbingan serta masukan kepada sekolah untuk berubah menjadi lebih baik, menjadi penyemangat serta inovasi manajemen sekolah yang baik dan benar. Semua situasi tersebut merupakan kepuasan batin yang tidak dapat diukur dengan materi dan bahkan menjadi pengalaman abadi turut memajukan pendidikan negeri.

Perjuangan pengumpulan data ini beliau lakukan karena waktu antara pelaksanaan bimbingan teknis (bimtek) pengawas petugas pengumpulan data mutu pendidikan dengan rencana cut off pengiriman data PMP hanya 2 bulan. Sehingga pengawas harus segera menyosialisasikan hasil bimtek tersebut kepada sekolah binaan. Tujuannya agar sekolah dapat segera mengisi data PMP sesuai dengan kondisi nyata yang terjadi di sekolah. Sehingga setiap sekolah dapat menyelesaikan proses pengisian dan pengiriman tepat pada waktunya.

Pak Gus adalah salah satu dari ribuan pengawas sekolah di Indonesia yang berjuang demi kualitas data mutu pendidikan. Kebenaran dan validitas data adalah pertaruhan. Berkunjung mendatangi sekolah binaan adalah tantangan. Keikhlasan dan tanggung jawab adalah keseriusan. Keseriusan yang menjadi bagian dari proses penjaminan mutu pendidikan.

Senin, 22 Oktober 2018 07:44

Kemendikbud akan Bangun Museum Pendidikan

Written by
Jakarta, Kemendikbud --- Sebagai salah satu cara memperkenalkan sejarah, khususnya terkait pendidikan di Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana mendirikan museum pendidikan. Untuk mematangkan gagasan tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy berdiskusi langsung dengan menteri-menteri pendidikan era sebelumnya di kantor Kemendikbud, Jakarta dalam bentuk Diskusi Kelompok Terpumpun (17/10/2018). 
 
Sebanyak empat mantan menteri hadir dalam diskusi ini, yaitu Wardiman Djojonegoro (1993-1998), Yahya Muhaimin (1999-2001), Abdul Malik Fajar (2001-2004), dan Muhammad Nuh (2009-2014). Selain mendukung, keempatnya memberikan usulannya masing-masing agar museum ini nantinya bisa menjadi museum yang tidak hanya memberikan rekreasi, tetapi juga edukasi dan juga inspirasi.
 
Muhadjir Effendy menginginkan agar museum tingkat nasional ini memiliki koleksi khusus tentang pendidikan. Tidak hanya itu, museum ini dapat menghadirkan alur cerita pendidikan Indonesia sejak zaman pra-sejarah hingga saat ini. Dengan begitu generasi muda pun bisa melihat sejarah pendidikan Indonesia sebagai bagian dari pembelajaran bagi mereka.
 
“Museum Pendidikan ini diharapkan dapat menjadi wahana sumber sumber informasi (sejarah) pendidikan nasional Republik Indonesia, sumber informasi  pendidikan nasional, dan wahana memori kolektif pendidikan yang berkarakter,” tegasnya.
 
Mendikbud era tahun 1993-1998, Wardiman Djojonegoro, menyampaikan dukungannya atas pendirian Museum Pendidikan. “Saya sangat setuju Pak Menteri menggagas pendirian Museum Pendidikan, karena saya ikut rapat setahun yang lalu dan akhirnya sekarang jadi. Semoga pendiriannya cepat, dan segera diputuskan gedung yang mana. Harus nyaman bagi pengunjung, bisa duduk, baca, bisa lihat video, dan dengar musik,” ucapnya
 
Dukungan pun disampaikan oleh Muhammad Nuh, Mendikbud era tahun 2009-2014. Ia mengatakan bahwa ide untuk membangun Museum Pendidikan sangat bagus, karena ciri negara maju ada tiga, yakni sungainya bersih, museumnya bagus, dan sekolahnya bagus. “Alhamdulilah hari ini kita akan menggagas dan merealisasikan pendirian museum pendidikan yang modern. Oleh karena tidak sekadar tempat koleksi tetapi di desain modern, kombinasi aset-aset masa lalu diterjemahkan ke masa kini, tetapi harus ada unsur masa depannya,” pesan M. Nuh.
 
“Saya berharap Museum Pendidikan ini menjadi pengingat kita akan perjalanan pendidikan di Indonesia, dan pengingat bahwa perjalanan suatu bangsa yang besar tidak luput dari perjalanan sejarah pendidikannya. Akhir kata, saya berharap Museum Pendidikan ini dapat memberikan edukasi, inspirasi, dan juga rekreasi bagi kita semua,” pesan Mendikbud.
 

Selain menghadirkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan terdahulu, diskusi kelompok terpumpun ini juga menghadirkan pejabat eselon 1 dan 2 Kemendikbud periode sebelumnya, baik saat masih bernama Depdikbud, Depdiknas, Kemendiknas maupun Kemendikbud, serta pejabat eselon 1 dan 2 yang aktif saat ini.

Selasa, 25 September 2018 19:29

JARTI, Penebar Inspirasi Pelosok Negeri

Written by

Pontianak - Jarti merupakam sosok mulia penebar inspirasi ke berbagai pelosok negeri. Mereka adalah pengajar pengganti (Jarti). Tugas mereka adalah menggantikan sementara para guru daerah khusus yang saat ini sedang mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG). Jarti  ditugaskan tersebar ke berbagai daerah terpencil, tertinggal dan terluar (3T) wilayah Indonesia. Jarti dikontrak selama 3 bulan mulai 1 September sampai dengan awal Desember 2018.

Tanpa Jarti  proses belajar mengajar di sekolah akan terganggu, padahal mutu pendidikan harus terjaga selalu. Tanpa mereka kegiatan di sekolah akan minus, karena siswa-siswinya tak bisa mengembangkan bakat dan kreativitasnya dengan serius. Tanpa mereka masa depan anak-anak di daerah akan terbelenggu, karena selama 3 bulan tiada guru yang mengajarkan ilmu. 

Jarti hadir membawa harapan. Harapan anak-anak di daerah 3T tetap mendapatkan pendidikan. Harapan anak-anak daerah 3T menatap masa depan. Harapan anak-anak daerah 3T mendapatkan keadilan sosial. Semua harapan ini adalah solusi pemerintah (Kemdikbud) untuk terus konsisten melayani seluruh warga negara untuk mendapatkan kemudahan akses pendidikan.

Jarti juga merupakan agen budaya. Mereka bisa saja membawa budaya untuk dikenalkan kepada siswa-siswi di daerah yang berbeda dengan suka cita. Jarti sebagai agen budaya adalah mengayakan pengetahuan siswa-siswi akan ragam budaya nusantara. Sebaliknya Jarti juga bisa mempunyai pengetahuan baru tentang budaya baru dimana dia mengajar di lingkungan baru.

Bagi jarti mengajar adalah pengabdian. Pengabdian tertinggi setiap warga kepada negaranya. Pengabdian tulus agar pendidikan berjalan mulus. Pengabdian mental yang tak lekang oleh medan dan tantangan alam. Mereka adalah pahlawan. Penakluk pegunungan, sungai, bukit dan jalan terjal. Mereka sadar namun tak gentar. Mereka hadapi semua itu hanya untuk bisa berperan memajukan pendidikan Indonesia.

Adalah Andreas Anus Aris, seorang jarti yang bertugas di SDN 07 Nanga Pak, Kecamatan Sayan Kabupaten Melawi Provinsi Kalimantan Barat. Sebagai jarti, dia tidak disediakan tempat menginap di sekolah. Sehingga harus bolak-balik dari rumah ke sekolah dengan jarak tempuh selama 3 jam. Jalur darat dan sungai pun harus dilalui untuk sampai ke sekolah.

Begitu juga bagi Hersy Yuliarti, seorang jarti yang bertugas di SDN 03 Sebangki kabupaten Landak Provinsi Kalimantan Barat. Dia harus berangkat subuh untuk sampai ke sekolah dengan jarak tempuh 2 jam. Semua itu dilakukan karena ingin berbagi ilmu kepada siswa-siswi di daerah terpencil.

Lain halnya dengan Sabri, seorang jarti yang bertugas di SDN 03 Menggelai kecamatan Boyan Tanjung kabupaten Kapuas Hulu. Dia harus menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam untuk menuju ke sekolah. Lokasi sekolah yang terpencil mengharuskan dia berangkat lebih awal dan pulang menjelang petang. Jalur tempuhnya pun menantang. Sehingga perlu kehati-hatian demi menjalankan misi pendidikan.

Sekelumit kisah jarti ini adalah pembuktian bahwa mereka benar-benar peduli. Peduli pentingnya pendidikan untuk bangsa. Peduli untuk saling berbagi dan menginspirasi. Apapun yang mereka bisa lakukan untuk menjadikan mereka menjadi pribadi yang luar biasa. Mereka mengubah lelah menjadi gairah. Mengubah pesimis menjadi optimis. Mengubah jati diri menjadi bagian dari solusi.

Selamat berjuang. Tebarkan energi, teruslah mengedukasi, jadilah inspirasi ke pelosok negeri.

Banda Aceh, Kemendikbud --- Dalam rangka menyambut Asian Games ke-18 tahun 2018 yang tinggal dua minggu lagi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy beserta jajarannya, terus berupaya menggelorakan ajang empat tahunan tersebut, antara lain, dengan menggelar kegiatan jalan sehat bersama siswa dan warga sekitar. Setelah di Papua dan Jakarta pada pekan lalu, kali ini Mendikbud mengajak siswa dan warga Kota Banda Aceh untuk jalan sehat sejauh 5 KM, dimulai dari halaman kantor Gubernur Aceh, di Jalan Teuku Nyak Arief, Banda Aceh.

Sebelum jalan sehat dimulai, Muhadjir berpesan kepada siswa dan guru yang hadir agar kegiatan ini dijadikan momentum untuk kembali membiasakan jalan kaki ketika berangkat ke sekolah maupun pulang dari sekolah.

“Saya berpesan kepada para guru, supaya anak-anak harus berolahraga setiap hari walaupun tidak lama, terutama dianjurkan kepada anak-anak agar ketika berangkat ke sekolah dan pulang dari sekolah jalan kaki. Karena jalan kaki adalah olahraga yang paling murah dan bisa sambil lalu,” disampaikan Mendikbud di halaman Kantor Gubernur Aceh, sebelum melepas peserta jalan sehat pada Minggu pagi (5/8/2018).

Sejalan dengan itu, untuk mendukung tradisi jalan kaki seperti di negara-negara maju, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) saat ini telah membuat kebijakan yang mengajarkan siswa untuk terbiasa jalan kaki yakni melalui sistem zonasi. Mendikbud menjelaskan tujuan dari sistem zonasi adalah siswa yang terdekat dari sekolah harus diprioritaskan untuk bisa diterima, bukan hanya karena penilaian akademik.

“Kalau anak itu berasal dari keluarga yang dekat dengan sekolah, maka tidak perlu diantar pakai mobil, tidak perlu diantar pakai kendaraan pribadi, tetapi cukup dengan jalan kaki,” jelas Mendikbud di depan 3.000 peserta jalan sehat.

Mendikbud menambahkan tujuan dari penyelenggaraan jalan sehat ini adalah pertama untuk ikut menyambut, memeriahkan, menyongsong dan mendoakan pelaksanaan Asian Games yang ke-18 tahun 2018 di Indonesia. Kedua mulai mentradisikan, membiasakan kembali agar suka berjalan kaki. "Dengan begitu kita akan sehat, keluarga sehat, insya allah akhlaknya juga sehat, budi pekertinya sehat, dan kecerdasannya juga sehat," ujarnya.

Dalam kesempatan ini, turut hadir Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, yang mendampingi Mendikbud Muhadjir melakukan jalan sehat bersama warga. Iriansyah menjelaskan bahwa acara jalan sehat tersebut merupakan salah satu kegiatan dalam rangka memeriahkan Asian Games ke-18. “Anak-anak suka sepeda yang ada di depan? Mau? Nah kalau mau jalan dulu. Sesudah jalan baru yang beruntung dapat sepeda,” ujarnya.

Asian Games ke-18 akan berlangsung selama dua minggu, pada 18 Agustus - 2 September 2018, digelar di Jakarta dan Palembang, diikuti 45 negara Asia. Ajang kompetisi multi cabang olahraga empat tahunan ini akan dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo di Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta pada tanggal 18 Agustus mendatang.

Senin, 16 Juli 2018 08:33

Mendikbud Pantau Hari Pertama Sekolah di Papua

Written by

Abepura - Papua, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) mengawali kunjungan kerja di provinsi Papua dengan menghadiri apel hari pertama sekolah (HPS) di beberapa sekolah. Mendikbud mengaku bangga dengan sekolah di Papua yang tidak kalah dengan sekolah di daerah lain.

"Saya berkunjung ke SD yang sangat bagus, tidak kalah dengan SD di tempat lain, khususnya di Jawa. Saya minta Pemerintah Provinsi Papua bisa mengimbaskan sekolah yang bagus ini ke sekolah-sekolah lainnya di Papua yang kondisinya masih kurang," disampaikan Mendikbud Muhadjir Effendy saat mengunjungi Sekolah Dasar (SD) Negeri Kotaraja, Abepura, Papua, pada hari pertama masuk sekolah, Senin (16/7).

Pagi ini, Mendikbud memberikan motivasi kepada para siswa untuk terus belajar dan memberikan kemajuan untuk Papua. Ia berpesan agar sekolah dapat menyambut siswa dengan suasana yang menggembirakan dengan memberikan harapan dan semangat mempersiapkan masa depan bersama.

Pengenalan terhadap fasilitas dan peraturan sekolah, menurut Muhadjir, perlu disampaikan dengan baik dan penuh keramahan. Para guru memperkenalkan diri juga dengan penuh keterbukaan. Kemudian mendengarkan harapan dari siswa. Disampaikan mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini, pendidik perlu memahami bahwa setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai minat dan bakat masing-masing.

Zonasi Untuk Pemerataan Pendidikan Berkualitas

Dengan sistem zonasi yang sudah mulai diterapkan, Mendikbud berharap hal tersebut dapat merekatkan, menyinergikan antara tripusat pendidikan, yaitu sekolah, masyarakat, dan keluarga. Sehingga perlu disadari bahwa tanggung jawab pendidikan tidak hanya di satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama. "Diharapkan jika ada hal-hal negatif yg menerpa siswa kita, bisa diatasi dengan kerja sama antara tiga pihak itu.” kata Mendikbud.

Kebijakan zonasi ditetapkan pemerintah untuk kebaikan yang lebih besar. Khususnya mempercepat pemerataan pendidikan yang berkualitas. Saat ini angka partisipasi kasar (APK) dan angka partisipasi murni (APM) dirasa sudah cukup tinggi. Namun, menurut Mendikbud kualitasnya belum merata. "Misalnya di wilayah Papua ini, kalau di kota-kotanya sudah baik, sudah cukup maju, tetapi di wilayah pegunungannya masih belum. Kalau dibiarkan nanti akan semakin menganga kesenjangan itu. Tidak boleh begitu," tutur Mendikbud.

Oleh karena itu, zonasi akan menjadi pintu masuk pembenahan pendidikan nasional. Segera, kebijakan zonasi akan menghadirkan rekomendasi berbasis data yang dapat digunakan "Saya tahu banyak yang belum paham, dan mungkin tidak puas karena adanya perubahan. Yang penting adalah mengubah sikap mental, cara pandang masyarakat. Ini bagian dari revolusi mental di bidang pendidikan," jelas Mendikbud.

Turut dalam kunjungan kerja kali ini Sekretaris Jenderal, Didik Suhardi; Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Hamid Muhammad; Staf Ahli bidang Hubungan Pusat dan Daerah, James Modouw; Staf Khusus Monitoring Implementasi Kebijakan, Alpha Amirrachman; Direktur Pembinaan SD, Khamim; Direktur Pembinaan SMP, Supriano.

"Saya mohon betul agar pemerintah provinsi Papua, dan pemerintah kabupaten/kota segera mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang sudah digariskan pemerintah pusat. Agar segera terwujud pemerataan yang berkualitas itu," pungkas Muhadjir.

Selain meninjau pelaksanaan hari pertama sekolah, Mendikbud dijadwalkan menghadiri Rapat Koordinasi Dinas Pendidikan se-Papua dan juga melepas Jalan Sehat Siswa dan Guru dalam rangka menyemarakkan Asian Games 2018.