Potret Pendidikan

Potret Pendidikan (58)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Potret Realita Pendidikan

Yogyakarta, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy meresmikan patung Tino Sidin di Yogyakarta, Kamis (14/12/2017). Patung Tino Sidin “Sang Inspirator” ini dibuat dalam rangka memperingati 92 tahun Tino Sidin dan tiga tahun museum Tino Sidin.

 
Di Taman Tino Sidin ini, Mendikbud Muhadjir berharap nantinya akan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama anak-anak. 
 
“Mudah-mudahan museum yang sudah dibangun ini akan memberi insipirasi, menjadi tempat bermain siapa saja, untuk bergemar apa saja, untuk berkreasi, dan mengembangkan dirinya terutama untuk anak-anak kita,” ujar Muhadjir.
 
Mendikbud Muhadjir juga sangat mengapresiasi keluarga Tino Sidin yang telah melestarikan dan mewarisi ajaran maupun nilai-nilai yang diberikan oleh Tino Sidin. "Saya sangat memberi apresiasi atas kesadaran yang tinggi dalam melestarikan, menularkan, memberikan contoh untuk keluarga-keluarga yang lain,” ucapnya.
 
Tino Sidin (1925 – 1995) atau yang dulu lebih dikenal dengan sebutan 'Pak Tino Sidin' adalah ikon acara televisi ‘Gemar Menggambar’ yang disiarkan TVRI di tahun 1970-an hingga 1990-an. Program acara di TV, yang mengajarkan hal penting pada anak, terutama dalam bidang seni menggambar. Sebagai apresiasi atas karya dan jasa 'Pak Tino Sidin' dalam memperjuangkan kemerdekaan, pendidikan seni, dan budaya, maka dibangunlah Museum Taman Tino Sidin. Sebelumnya museum ini telah diresmikan oleh Muhamad Nuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, pada 14 Oktober 2014.
 
Rangkaian kegiatan yang bertajuk “Tribute to Tino Sidin, 92th Menginspirasi Indonesia” ini bertujuan untuk mengangkat kembali semangat dan cita-cita Tino Sidin dalam mengembangkan kreativitas dan seni khususnya bagi generasi mendatang. Selain itu juga untuk lebih mengenalkan keberadaan Taman Tino Sidin sebagai Museum, Galeri, dan Ruang Seni kepada publik. 
 
Dalam museum ini terpajang antar lain dua lukisan karya Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, dan karya lain dari para seniman seperti; Dyan Anggraini Hutomo, Laretna T. Adhisakti, A.C. Andre Tanama, Andi Purnawan Putra, Edduard (Edo Pop), Heri Dono, Jumaldi Alfi, M. Dwi Marianto, Nasirun, Otok Bima Sidarta, Putu Sutawijaya, Sudarisman, Sudarwoto, Susilo Budi Purwanto, Ugo Untoro, dan Yuswantoro Adi.

Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus memberikan perhatian terhadap kemajuan pendidikan di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T), khususnya dalam memberikan akses Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dengan penyediaan akses internet secara berkelanjutan dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.

Kemendikbud bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkoinfo) dalam penyediaan akses internet di sekolah-sekolah melalui program Redesain – USO (Universal Service Obligation/Kewajiban Pelayanan Universal) menyediakan akses internet di 122 Kabupaten dari 24 Provinsi di Indonesia yang telah ditetapkan dalam Peraturan Presiden RI Nomor 131 tahun 2015 sebagai Daerah Tertinggal tahun 2015 – 2019.

Dari 122 kabupaten tersebut terdapat 35.478 sekolah jenjang SD, SMP, SMA, SMK, dan sebanyak 12.988 (36,60 persen) sekolah di daerah 3T belum memiliki koneksi internet sendiri, atau sudah sekitar 63,40 persen sekolah di daerah 3T sudah terkoneksi internet.

Untuk perluasan akses TIK di daerah 3T, Kemendikbud menyediakan data dan lokasi sekolah, serta rencana penggunaan akses internet yang dibutuhkan, menyiapkan sarana dan prasarana akses komputer, melakukan pelatihan kepada guru dan siswa dalam rangka pemanfaatan TIK, dan melakukan monitoring, evaluasi, dan memberikan laporan terhadap perkembangan TIK di daerah 3T.

Kemendikbud memberikan usulan dan implementasi Program USO, sampai dengan bulan Juni 2017 sebanyak 659 sekolah sudah terimplementasi program tersebut, dengan rincian 28 sekolah di Provinsi Aceh, 1 di Provinsi Bali, 7 di Provinsi Banten, 13 Provinsi Bengkulu, 16 di Provinsi Gorontalo, 2 di Provinsi Jambi, 5 di Provinsi Jawa Barat, 1 Provinsi Jawa Tengah, 14 Provinsi Jawa Timur, 34 di Provinsi Kalimantan Barat, 5 di Provinsi Kalilmantan Selatan, 6 di Provinsi Kalimantan Tengah, 6 di Provinsi Kalimantan Timur, 8 Provinsi Kalimantan Utara.

Selanjutnya 6 sekolah di Kepulauan Bangka Belitung terimplementasi Program USO, 13 di Kepulauan Riau, 11 di Provinsi Lampung, 83 di Provinsi Maluku, 47 di Provinsi Maluku Utara, 54 di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), 80 di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), 42 di Provinsi Papua, 23 di Provinsi Papua Barat, 12 di Provinsi Riau, 18 di Provinsi Sulawesi Barat, 10 di Provinsi Sulawesi Selatan, 25 di Provinsi Sulawesi Tengah, 5 di Provinsi Sulawesi Utara, 19 di Provinsi Sulawesi Tenggara. Kemudian juga 17 di Provinsi Sumatera Barat, 18 di Provinsi Sumetara Selatan, 28 di Provinsi Sumatera Utara, dan 2 di Provinsi DI. Yogyakarta.

Dalam pengembangan TIK di daerah 3T, Kemendikbud juga telah melakukan bimbingan teknis, baik onsite maupun mengundang pengelola TIK ke Jakarta atau Surabaya. Tahun ini sudah sebanyak 164 sekolah di daerah 3T guru atau pengelola TIK diberikan pendidikan dan pelatihan. Pada tahun sebelumnya, di tahun 2015 sebanyak 67 sekolah, dan di tahun 2016 sebanyak 111 sekolah.

Selain pemberian bantuan peningkatan kompetensi guru, Kemendikbud juga memberikan sejumlah tambahan perangkat TIK bagi sekolah-sekolah tersebut. Batuan perangkat dimaksud berupa laptop, server mini lengkap dengan konten digital off line, akses point, dan LCD Proyektor. Sampai dengan tahun 2017 telah terealisasi bantuan untuk sejumlah 164 sekolah.

Untuk memberikan apresiasi kepada Kepala Daerah atas komitmen dalam kepemimpinannya mendorong pendayagunaan TIK dalam Pendidikan dan Kebudayaan, Kemendikbud memberikan Anugerah KIHAJAR tahun 2017 kepada kepala daerah tersebut. Apresiasi dilakukan berdasarkan aspek kebijakan dan anggaran, program, implementasi dan dampak atas pendayagunaan TIK untuk pendidikan *

Senin, 06 November 2017 14:03

Kalbar dapat bantuan tiga mobil perpustakaan keliling

Written by

Pontianak  - Provinsi Kalimantan Barat mendapatkan bantuan tiga mobil perpustakaan keliling dari Perpustakaan Nasional RI, dimana mobil tersebut diharapkan dapat meningkatkan minat baca masyarakat.

"Tahun ini kita mendapatkan bantuan tiga mobil perpustakaan keliling dari Perpustakaan Nasional, dimana bantuan ini merupakan bentuk dukungan Pemerintah Pusat terhadap kegiatan yang dilaksanakan Pemerintah Provinsi Kalbar," kata Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Drs. Ignasius IK, di Pontianak, Senin.

Dia mengatakan, 3 buah mobil unit kendaraan operasional Perpustakaan keliling yakni untuk perpustakaan Povinsi Kalimantan Barat, Perpustakaan Kabupaten Kapuas Hulu dan Perpustakaan Kabupaten Sanggau.

"Terkait upaya kita untuk menumbuhkan budaya literasi masyarakat khususnya Kalbar, kita akan terus mendorong percepatan peningkatan angka minat baca masyarakat yang saat ini masih jauh tertinggal dibandingkan dengan masyarakat dari provinsi lain di Indonesia," tuturnya.

Untuk itu, pihaknya akan berupaya membantu mempersiapkan generasi muda yang lebih cerdas kreatif dan memiliki kemampuan inovasi di masa mendatang, serta dalam rangka untuk membantu mempertemukan pihak yang terlibat dalam dunia literasi, yaitu antara penulis, penerbit dan pembaca dalam satu wadah.

Ignatius menambahkan, pada kegiatan Book Fair yang dilaksanakan pihaknya belum lama ini, didalamnya juga diselenggarakan pameran buku, dan seminar membangun minat baca sejak usia sekolah dengan menghadirkan pembicara seorang Neuroscienntist, Dr. Fikri Suadu, MSc yang dihadiri sebanyak 200 peserta dari kalangan guru dari kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya. Pada kegiatan itu juga dirangkaikan dengan peluncuran i-Library, yakni pelayanan buku digital (e-Book) Perpustakaan Provinsi Kalimantan Barat yang bekerja sama dengan PT. Woolu Aksara Maya.

"Kegiatan Book Fair itu merupakan kegiatan non-komersial, dan pemerintah hanya fokus pada satu tujuan, yakni meningkatkan kecintaan masayarakat pada buku yang tentunya akan sangat berkaitan secara langsung dengan peningkatan minat baca dan budaya literasi, khususnya di Kalimantan Barat," katanya.

Menurutnya, masih banyak hal-hal unik serta sejarah Kalimantan Barat yang belum dikenal luas oleh masyarakat, dan ada baiknya jika sejarah, cerita rakyat dan hal-hal unik tersebut dapat ditulis dan terbitkan dalam bentuk buku.

"Saya yakin bahwa tidak kurang para penulis yang ada di daerah mampu menyusun tulisan tentang Kalimantan Barat, hanya saja selama ini belum terkoneksikan dengan perusahaan penerbitan," tuturnya.

Dia berharap, kedepan, akan terus tumbuh penulis-penulis lokal dan terus menulis dan berkarya, sehingga pihaknya akan hadir guna mendorong budaya literasi masyarakat. (ANTARA News)

Senin, 30 Oktober 2017 15:10

Berani Bersatu di Hari Sumpah Pemuda ke-89

Written by

Jakarta, Kemendikbud --- Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-89 dihiasi dengan pesan pemerintah untuk "Berani Bersatu". Ajakan ini terinspirasi dari semangat 71 pemuda dari berbagai penjuru nusantara yang telah berikrar untuk sebagai satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa 89 tahun silam. Saat upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di kantor pusat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Jakarta (30/10/2017), Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dadang Suhendar dalam pidatonya menyampaikan ajakan pemerintah untuk pemuda masa kini agar "Berani Bersatu" demi meneruskan semangat Sumpah Pemuda ketika itu. Ia menggambarkan betapa jauhnya jarak antara tempat Mohammad Yamin di Sawah Lunto dengan Johannes Leimena di Ambon. Dengan jarak 4.000 km yang hampir sama dengan jarak antara Jakarta dengan Shanghai dan terbatasnya moda transportasi saat itu, namun tak menjadi penghalang bagi mereka untuk bertemu dengan pemuda lainnya untuk berdiskusi bersama. "Fakta sejarah menunjukkan bahwa sekat dan batasan-batasan tersebut tidak menjadi halangan bagi para pemuda Indonesia untuk bersatu demi cita-cita besar Indonesia. Inilah yang kita sebut dengan 'Berani Bersatu'", tuturnya. Dadang pun mengajak untuk mengukuhkan persatuan dan kesatuan Indonesia dan menghentikan segala bentuk perdebatan yang mengarah pada perpecahan bangsa. "Kita seharusnya malu dengan para pemuda 1928 dan juga Bung Karno karena masih harus berkutat di soal-soal ini. Sudah saatnya kita melangkah ke tujuan yang lebih besar, yaitu mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," jelas Dadang. Mengutip pesan dari Bung Karno, "Jangan mewarisi abu Sumpah Pemuda, tapi warisilah api Sumpah Pemuda. Kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, satu bangsa, dan satu tanah air. Tapi ini bukan tujuan akhir," pesan sekaligus ajakan untuk pemuda masa kini untk berani bersatu melawan segala bentuk upaya yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Paris - Laporan terkini dari UNESCO Institute for Statistics (UIS) mengungkapkan bahwa 617 juta anak dan remaja di seluruh dunia tidak mencapai tingkat kemampuan minimum dalam membaca dan matematika.

Angka paling tinggi dilaporkan di Sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan serta Tengah menurut laporan yang disiarkan Kamis (21/9) tersebut.

UIS, yang memperingatkan mengenai "krisis belajar", mendapati lebih dari 387 juta anak usia sekolah dasar dan 230 remaja usia sekolah menengah pertama tidak memiliki tingkat kemampuan minimum dalam membaca dan matematika.

Menurut laporan tersebut, dua-pertiga anak-anak usia sekolah dasar dan lebih separuh anak usia sekolah pertama tak bisa mencapai tingkat kemampuan minimum dalam membaca meski mereka berada di ruang kelas.

UIS menyatakan masalah tersebut terjadi akibat kurangnya akses, dan anak-anak yang keluar dari sekolah hanya memiliki sedikit atau tidak memiliki kesempatan untuk mencapai tingkat kemampuan minimum, selain kegagalan untuk mempertahankan setiap anak tetap belajar dan mempertahankan mereka tetap di jalur. Kualitas pendidikan juga menjadi salah satu faktor.

"Data-data ini mengkhawatirkan, baik dalam hal penyia-nyiaan potensi manusia dan prospek untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan," kata Direktur UIS Silvia Montoya sebagaimana dikutip kantor berita Xinhua.

"Data baru ini adalah seruan untuk bangun bagi penanaman modal yang jauh lebih besar di bidang kualitas pendidikan," ia menambahkan.

Ia berpendapat banyak dari anak-anak itu "tidak tersembunyi atau terkucil dari masyarakat dan pemerintah mereka --mereka duduk di dalam kelas bersama potensi dan aspirasi mereka sendiri" (ANTARA News)