Potret Pendidikan

Potret Pendidikan (58)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Potret Realita Pendidikan

Jakarta, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, kesadaran akan lingkungan dan wacana tentang Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan perlu diberikan kepada para siswa. Seluruh elemen pendidikan perlu menjalankan apa yang disebut sebagai Education for Sustainable Development (ESD). “Pendidikan berbasis lingkungan atau pendidikan berbasis keunggulan lokal ini juga sedang kita bangun melalui gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK),” ujar Mendikbud. Hal tersebut dikemukakannya saat menghadiri acara pemberian penghargaan Adiwiyata Nasional tahun 2016 di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta (13/12/2016). Sebanyak 489 sekolah mendapatkan Penghargaan Adiwiyata Nasional pada tahun 2016. Adiwiyata merupakan penghargaan yang diberikan kepada sekolah-sekolah yang dinilai telah menjalankan pendidikan lingkungan hidup dan mewujudkan lingkungan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan hidup. Dalam gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), tutur Mendikbud, semua warga sekolah harus mampu mengintegrasikan, memperdalam, memperluas, sekaligus menyelaraskan semua hal yang berkaitan dengan pendidikan karakter. Pengintegrasian dilakukan pada kegiatan kelas, luar kelas di sekolah, dan luar sekolah (masyarakat/komunitas). Selain itu juga dilakukan perpaduan pada kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, serta pelibatan secara serempak warga sekolah, keluarga, dan masyarakat. Mendikbud mengatakan, pendidikan berbasis lingkungan juga membutuhkan kepemimpinan kepala sekolah yang menjadikan sekolahnya sebagai wahana pendidikan lingkungan bagi siswa-siswanya yang menghabiskan banyak waktu di sekolah. Apabila siswa menjalani hari-harinya dengan pembiasaan kepedulian terhadap lingkungan, maka karakter cinta lingkungan akan mengakar pada dirinya. “Dari kepala sekolah dan guru yang berdaya, serta didukung masyarakat yang peduli dan mau terlibat, maka akan tumbuh generasi muda yang kontributif terhadap lingkungan di sekitarnya juga terhadap masa depan bumi dan umat manusia,” kata Mendikbud. Ia juga menuturkan, dalam praktiknya, PPK mensyaratkan guru-guru yang tidak kaku, melainkan guru-guru yang mampu mengembangkan kurikulum dan menyesuaikannya dengan konteks lokal. “Menyesuaikan kurikulum dengan konteks lokal tak sekadar hanya menambahkan muatan konten lokal, namun juga termasuk memanfaatkan segala kekuataan dan kenyataan lingkungan sekitar sebagai media pendidikan bagi siswa,” tuturnya. Pada acara pemberian penghargaan Adiwiyata Nasional tahun 2016 itu, Mendikbud juga memberikan apresiasi yang tinggi kepada perwakilan sekolah yang meraih Piagam Adiwiyata Nasional, kampung yang meraih Penghargaan Kampung Iklim, serta para peserta lomba poster lingkungan. Ia mengajak semua pihak untuk terus memperjuangan pendidikan untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan berkemajuan. “Tujuan pendidikan karakter adalah untuk membangun nilai-nilai kebangsaan, relijius, gotong royong, kemandirian, dan integritas secara masif. Melalui nilai-nilai tersebut saya yakin pendidikan kecintaan pada lingkungan juga akan semakin meningkat,” ujarnya. Program Adiwiyata sebagai upaya pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup telah dilaksanakan sejak tahun 1975. Pada tahun 1996 disepakati kerja sama pertama antara Departemen Pendidikan Nasional dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup, yang diperbaharui pada tahun 2005 dan tahun 2010. Di tahun 2006, ditandatangani nota kesepahaman antara Menteri Negara Lingkungan Hidup dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang bertujuan untuk mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan hidup melalui kegiatan pembinaan, penilaian, dan pemberian penghargaan Adiwiyata kepada sekolah.

LPMP Provinsi Kalimantan Barat   menggelar upacara bendera peringatan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2016 di halaman kantor LPMP Provinsi Kalimantan barat, Jumat (25/11/2016). Kepala LPMP  bertindak sebagai pembina upacara dalam upacara HGN tersebut. Upacara berlangsung khidmat, dimulai pukul 07.30 WIB. 

 
Dalam sambutan yang dibaca oleh Kepala LPMP Provinsi Kalimantan Barat, Mendikbud menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasi, komitmen, dan segala ikhtiar yang telah dilakukan oleh para guru, pamong, dan tenaga kependidikan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. "Selamat memperingati Hari Guru Nasional tahun 2016 dan HUT ke-71 PGRI," kata Mendikbud.
 
Mendikbud menambahkan, guru memiliki peran yang sangat mulia dan sangat strategis. Oleh sebab itu, Mendikbud mengajak kepada seluruh guru dan tenaga kependidikan Indonesia untuk bangga terhadap profesinya tersebut. Sejak ditetapkannya Undang-undang Nomor 14 Tahun 2015, tentang Guru dan Dosen, maka secara resmi guru dinyatakan sebagai pekerja profesional.
 
Kamis, 03 November 2016 08:21

Wisata Sejarah Kembalikan Patriotisme Pemuda

Written by

Liputan6.com, Jakarta - Menjelang Hari Pahlawan 10 November, wisata sejarah digelar dan diikuti para pelajar. Ketua Panitia Pusat Peringatan Hari Pahlawan 2016 Bambang Sulistomo mengatakan, wisata sejarah merupakan salah satu upaya membangkitkan kembali semangat patriotisme para generasi muda.

"Saya bahagia siswa-siswi datang ke museum, karena kita ke sini untuk mengingatkan kembali semangat para pahlawan," kata Bambang di Jakarta, Rabu 2 November 2016.

Bambang yang juga merupakan putra dari Pahlawan Nasional Bung Tomo ikut serta dalam wisata sejarah ke Monumen Kesaktian Pancasila atau yang lebih dikenal dengan Lubang Buaya.

Di hadapan 150 siswa siswi dari 17 SMA sederajat di wilayah DKI Jakarta, Tangerang dan Depok, Bambang mengajak mereka mengingat kembali sejarah dan perjuangan para pahlawan.

"Salah satu tujuan wisata sejarah ke Lubang Buaya adalah untuk melihat langsung bukti sejarah Kesaktian Pancasila," ucap Bambang.

Dia mengatakan, Indonesia yang berideologikan Pancasila, merupakan ideologi yang bisa menjawab semua kelemahan ideologi lain, karena Indonesia adalah negara heterogen dengan berbagai suku dan budaya.

"Kita coba membangkitkan semangat anak-anak muda. Kita satu bangsa yang beragam, tapi tetap ideologi kita Pancasila," kata Bambang seperti dilansir Antara.

Para pelajar itu diajak melihat bukti-bukti kekerasan dan kekejaman PKI di lokasi pembantaian para jenderal dalam peristiwa yang dikenal Gerakan 30 September 1965 atau G30S. Mereka berkeliling sambil mendengarkan penjelasan pemandu museum.

Wisata sejarah adalah salah satu kegiatan dalam rangkaian peringatan Hari Pahlawan 2016 yang jatuh pada 10 November.

Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan kepahlawanan kepada generasi muda melalui kunjungan ke tempat sejarah antara lain Monumen Kesaktian Pancasila, TMPN Kalibata dan Museum Satriamandala.

Bulungan, Kaltara, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengapresiasi pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) yang telah berperan dan berkontribusi dalam dunia pendidikan. Kontribusi Pemprov Kaltara tersebut antara lain diwujudkan dengan menghibahkan tanah seluas 4 hektar di Kabupaten Bulungan, Kaltara, untuk pembangunan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Kalimantan Utara. Pemprov Kaltara juga meluncurkan program bantuan pendidikan “Kaltara Cerdas” untuk meningkatkan akses pendidikan di provinsi tersebut.

 
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara yang telah menghibahkan tanah untuk pembangunan LPMP,” ujar Mendikbud saat acara peletakan batu pertama LPMP Kaltara, di Desa Bumi Rahayu, Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, (1/11/2016).
 
Ia mengatakan, LPMP Provinsi Kaltara akan dibangun pada tahun 2017 untuk membantu pemprov Kaltara dalam pengembangan dan penjaminan mutu pendidikan di Kaltara.  
 
“Ke depan, Kemendikbud juga akan membangun P4TK (Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan) dan sekolah berasrama (boarding school) untuk membantu pengembangan pendidikan di Kaltara, khususnya pengembangan pendidikan di daerah terdepan, terluar dan tertinggal,” tutur Mendikbud.
 
Sebelumnya, dalam perjalanan menuju lokasi pembangunan LPMP Kaltara, Mendikbud juga sempat berkunjung ke SDN 02 Tanjung Selor. Di sana ia berdialog dengan para siswa dan kepala sekolah SDN 02 Tanjung Selor mengenai fasilitas pendidikan, didampingi Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Hamid Muhammad. Dalam kesempatan tersebut, Mendikbud juga menyerahkan bantuan pendidikan untuk SDN 02 Tanjung Selor berupa bantuan dana untuk pembelian alat olahraga. Mendikbud juga berjanji akan membantu pembangunan perpustakaan di sekolah tersebut.
 
Kunjungan kerja Mendikbud dan rombongan kemudian berlanjut ke Universitas Kaltara untuk menghadiri peluncuran bantuan pendidikan “Kaltara Cerdas”. Peluncuran “Kaltara Cerdas” dihadiri Gubernur Kalimantan Utara, Irianto Lambrie, serta jajaran pemerintah daerah di Provinsi Kalimantan Utara. Unsur lain dari pemangku kepentingan di bidang pendidikan di Kaltara juga hadir dalam acara peluncuran tersebut, antara lain guru, kepala sekolah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) peduli pendidikan, dan mahasiswa.
 
Dalam sambutannya saat peluncuran “Kaltara Cerdas”, Mendikbud menyampaikan tiga fokus pemerintah di bidang pendidikan, yaitu perluasan akses pendidikan, penguatan pendidikan karakter, dan penguatan pendidikan vokasi. Terkait pendidikan vokasi, ia mengatakan, masa depan pendidikan vokasi harus benar-benar dapat menyiapkan tenaga kerja yang profesional dan berkarakter.
 

“Saya harap Kaltara dapat mengembangkan pendidikan vokasi yang hebat,” katanya. Setidaknya ada lima bidang prioritas dalam pendidikan vokasi sesuai arahan Presiden Joko Widodo, yaitu bidang maritim/kelautan, pertanian, ekonomi kreatif, pariwisata, serta teknologi dan rekayasa.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mempersiapkan peraturan menteri (permen) untuk mengharuskan setiap siswa menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya saat memulai pelajaran. Aturan ini akan berlaku di seluruh sekolah di Tanah Air sebagai bentuk pendidikan karakter bangsa. LAGU INDONESIA RAYA "Ada sekolah yang (murid-muridnya) tidak pernah menyanyikan (Indonesia Raya) lagi. Padahal, dalam Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1958 disebutkan bahwa lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai pernyataan perasaan nasional," kata Dirjen Kebudayaan Kemdikbud, Hilmar Farid di Jakarta, Jumat (28/10). Bentuk aturan tersebut, menurut Hilmar, adalah permen dan desainnya sudah disusun. Yang dibutuhkan selanjutnya adalah sosialisasi. Direktorat Jenderal (Ditjen) Kebudayaan ingin langsung mempraktikkannya sebagai bentuk sosialisasi sambil menunggu aturan tersebut selesai dibuat dan dikeluarkan. "Kapan (aturan) itu keluar? tidak tahu kapan waktunya, tergantung Menteri (Muhadjir Effendy)," ujar Hilmar saat ditanya kapan permen itu akan dikeluarkan. Alasan dari adanya sekolah yang tidak lagi mengajak muridnya menyanyikan lagu Indonesia Raya, menurut dia, kombinasi dari banyak faktor. Salah satunya, karena kebijakan sebelumnya yang tidak sampai. "Kalaupun nanti aturan baru tersebut dijalankan harapannya itu dijalankan karena arti penting dari lagu Indonesia Raya itu sendiri, bukan karena paksaan". Dengan aturan ini, pemerintah berharap, semua murid menyanyikan lagu Indonesia Raya saat hendak memulai pelajaran. Selain itu, murid juga menyanyikan lagu wajib nasional atau lagu daerah saat menutup pelajaran. Ia berharap dengan bantuan dari 1.800 alumni Gita Bahana Nusantara yang tersebar di 34 provinsi, maka pendidikan karakter bangsa melalui lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dinyanyikan secara benar dapat berjalan optimal. "Bukan ingin agar tiga stanza lagu Indonesia Raya dinyanyikan semuanya, kami hanya ingin memperkenalkan keseluruhannya saja dan bagaimana menyanyikannya dengan baik." sumber : kompas.com