Potret Pendidikan

Potret Pendidikan (58)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Potret Realita Pendidikan

Sabtu, 15 Oktober 2016 09:59

Mendikbud Gagas Guru Wajib 8 Jam di Sekolah

Written by

Solo -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Muhadjir Effendy, menggulirkan gagasan guru harus berada di sekolah delapan jam per hari. Hal tersebut ia sampaikan saat memberikan anugerah Kawastara Pawitra di Kota Solo, Jawa Tengah, Sabtu 15 Oktober 2016.

"Saya sedang merancang guru wajib di sekolah selama delapan jam. Terutama yang sudah mendapat tunjangan profesi," ujar Muhadjir.

Mendikbud mengatakan profesionalitas guru salah satunya diukur melalui waktu kerja. "Kalau guru baru 1 atau 2 jam sudah pulang, ya tidak profesional namanya. Apalagi kalau sengaja dicepatkan untuk les, yang membuka les dia sendiri. Itu tidak profesional," urainya.

Gagasan tersebut mendorong guru untuk tidak mengurangi porsi materi di sekolah. "Belajar harus tuntas di sekolah. Waktu di rumah digunakan anak-anak dengan keluarga. Jangan beban dibawa pulang," kata dia.

Muhadjir juga mengatakan delapan jam di sekolah tidak melulu dapat dimanfaatkan untuk terus memberikan materi namun juga membimbing siswa-siswi dengan kegiatan lain. " Misalnya ada bimbingan, pengawasan, kegiatan ekstrakulikuler, dampingi siswa-siswinya," imbuhnya.

Menurut Muhadjir sudah seharusnya guru memberikan yang terbaik untuk para siswanya. "Gaji guru dan tunjangan profesi itu dari rakyat. Sehingga harus memberikan yang terbaik bagi rakyat," kata dia.

Muhadjir juga mengatakan pekerjaan-pekerjaan administratif yang dilakukan guru harus dikurangi. "Supaya mereka fokus mendidik," ujarnya.

Gagasan guru berada di sekolah selama delapan jam ini, lanjutnya, masih dalam pembahasan. "Ini masih kita pelajari dari sisi aspek-aspek legalnya," kata dia.

Di awal kepemimpinannya di Kemendikbud menggantikan Anies Baswedan, Muhadjir pernah membuat gagasan sekolah sehari penuh atau full day school bagi siswa. Namun, gagasan ini banyak ditentang sehingga dikaji ulang. Menurutnya, sekolah sehari penuh bisa memaksimalkan pengawasan anak, terutama bagi orang tua anak yang sibuk bekerja. sumber : lampost.co

Sabtu, 24 September 2016 09:12

Guru SD Daerah Terpencil Ini Dikirim Mengajar ke Malaysia

Written by

Tabalong - Sejak melakoni profesi guru pada 2011 lalu, Zainatir mengajar di SDN Waling 2, Desa Waling Kecamatan Bintang Ara, Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).
Jarak desa ini dari pusat kabupaten sekitar 45 menit perjalanan bersepeda motor. SD itu hanyalah sekolah kecil yang jumlah muridnya 44 orang.
Guru yang mengajar di  sekolah berjumlah 13 orang, sudah termasuk kepala sekolah. Zainatir adalah guru kelas V. Kelasnya hanya berisi sembilan murid.
"Rasanya berat. Saya bakal rindu. Terutama para pengajarnya, kami sudah seperti keluarga. Tak ada dusta diantara kami," ujarnya.


Zainatir duduk di ruang dewan guru yang sempit dan sederhana. Ruangan itu tak ada komputer, proyektor, apalagi televisi layar datar.
Ruangan itu hanya berisi meja kayu, kursi plastik, dan papan pengumuman berisi daftar nama guru.
Ditemani teh panas dan tempe goreng dia mengawali cerita seperti apa kronologi dia bisa dikirim untuk mengajar ke Kuala Lumpur, Malaysia.


Zainatir yang selama ini guru dari SD terpencil ini tidak pernah menyangka sendiri bisa mengalahkan dua ribu guru terbaik se-Indonesia.
Bulan Mei silam dia mengikuti seleksi proses pengiriman guru untuk mengajar di luar negeri. Tes yang diikuti pun  cukup menguras energi.
Alhasil pada tahap pertama dia bisa terpilih untuk seleksi selanjutnya. Tes tahap awal itu hanya menyisakan 104 guru. Nama Zainitir masuk salah satunya.
Lantas dia mengikuti tes pada tahap kedua di Jakarta pada Agustus lalu.  Di tes kedua ini Zainatir juga dinyatakan lolos bersama tiga guru lainnya.
Satu guru berasal dari Jawa Barat, seorang lagi dari Sumatera Barat, ditambah dari Sulawesi Selatan, dan Zainatir dari Kalimantan Selatan.
Keempatnya diberi kesempatan oleh Kemendikbud untuk mengajar di luar negeri. Dua guru dikirim ke Jeddah, seorang guru ke Riyadh, dan Zainatir ke Kuala Lumpur.


"Awalnya suami yang lihat pengumuman seleksi itu di situs Kemendikbud. Dia pengen betul ikut, tapi kurang syarat administrasi. Dia lalu pinta saya mencoba," kisah wanita kelahiran Pasar Panas, Tabalong ini.
Dikatakannya tes dianggapnya cukup berat. Seluruh peserta dituntut harus bisa menulis dan berbicara dalam Bahasa Inggris. Di depan juri, satu demi satu peserta diminta memeragakan caranya mengajar.
"Pak Hakim bilang saya pasti menang. Saya orangnya realistis, melihat saingan sebanyak itu rasanya mustahil," aku ibu satu anak ini.  Marzuki Hakim adalah Kepala Dinas Pendidikan Tabalong.


Lantas, apa rahasia di balik keberhasilan Zainatir?
Ramadan lalu, ternyata ia meminta didoakan oleh sang ibu pada malam Lailatul Qadar. Malam-malam dengan hitungan ganjil pada 10 hari terakhir bulan puasa.
"Kalau berdoa sendiri makbulnya lambat, tapi doa seorang ibu setaraf doa para wali," jawab guru 30 tahun itu.
Sekarang, Zainatir sedang menyiapkan keberangkatan ke Kuala Lumpur. Kontrak awal tiga tahun mengajar, dimulai dari Januari tahun depan.
"Sekarang asik browsing, baca-baca di internet, bagaimana sih budaya orang di sana," ujarnya.
Kini dia juga mempersiapkan diri untuk menjalani hubungan jarak jauh dengan suami dan anak-anak. Sebab, Zainatir tak bisa langsung memboyong sang suami ke Malaysia. "Bagaimana rasanya LDR-an? Wah, saya jadi blank!" ujarnya

 

Sumber : http://www.jawapos.com

Denpasar, Kemendikbud --- Pengadaan buku teks pelajaran Kurikulum 2013 tahun pelajaran 2016/2017 dilakukan oleh sekolah. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana pengadaan buku dilakukan dengan lelang di pusat oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/jasa Pemerintah (LKPP), tahun ini buku pelajaran dibeli melalui e-katalog. Dengan mengakses situs https://e-katalog.lkpp.go.id/backend/buku_kurikulum_2013, guru dapat langsung memilih buku yang akan digunakan sepanjang semester.

 
Disampaikan Sekretaris Jenderal Kemendikbud Didik Suhardi, pengadaan buku teks pelajaran dipilih untuk meningkatkan transparansi transaksi jual beli buku. Ada lebih dari 40 juta eksemplar buku dengan total 105 judul yang dapat dibeli lewat situs tersebut. "Kenapa online shop, karena kita ingin transparansi ada di atas meja. Harganya lebih rendah dari het (harga eceran tertinggi)," kata Didik usai membuka Dialog Pendidikan yang mengangkat tema: "Kurikulum 2013 dan Permasalahannya di Daerah", di Denpasar, Bali, Sabtu (6/08/2016).
 
Pembelian buku lewat e-katalog memperkecil kemungkinan masalah yang timbul akibat pengadaan yang dilakukan terpusat. Misalnya, sekolah sudah membayar buku yang disiapkan namun bukti tidak dapat dikirim karena masalah teknis, atau sebaliknya. Dengan e-katalog, transaksi jadi lebih mudah. Guru tinggal buka laman e-katalog, melakukan pemesanan, buku dikirim, dan pembayaran dilakukan dengan menggunakan dana BOS.
 
Didik menuturkan, untuk pengadaan buku ini sepuluh perusahaan telah menandatangani kontrak. Pemesanan buku di situs tersebut sudah dapat dilakukan sejak tanggal 10 Juli lalu. Berdasarkan surat edaran Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor : 10/D/KR/2016 tanggal 1 Juli 2016, kepala sekolah menugaskan operator Dapodik untuk melakukan pemesanan buku pada halaman daring penyedia dengan menggunakan user ID  dan password Dapodik.
 
Buku yang disediakan di e-katalog ini merupakan buku referensi yang disiapkan oleh pemerintah. Adanya buku ini tidak untuk membatasi ruang kreatif guru karena guru tetap dapat menggunakan buku lain saat mengajar di kelas selama kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD) nya selaras. "Buku ini hanya salah satu referensi, guru bisa memiliki referensi lain untuk bahan mengajarnya," kata Didik.
 
Terkait adanya peredaran lembar kerja siswa (LKS) di sekolah, Didik mengatakan dinas pendidikan daerah dapat menindak dengan tegas. Keberadaan LKS dianggap bisa mengebiri kreativitas siswa karena meminimalisir cara belajar siswa aktif. Siswa diharapkan berdiskusi dengan temannya, namun jika siswa diberi LKS, mereka terpaku di situ. Untuk itu, di petunjuk teknis penggunaan dana BOS sangat tegas dinyatakan dana bos tidak boleh digunakan membeli LKS.
 
Direktur Pembinaan SMA Purwadi Sutanto mengatakan, buku yang disediakan di katalog daring terdiri dari semua mata pelajaran inti. Untuk mata pelajaran peminatan, kata dia, diserahkan pada kebutuhan pasar. Mata pelajaran inti itu seperti agama, bahasa Indonesia, matematika, penjas, bahasa Inggris, prakarya, kewirausahaan. "Mata pelajaran inti itu kelompok a dan b. Untuk peminatan (kelompok c) diserahkan ke pasar. Penerbit yang mau menyusun peminatan disilakan," kata Purwadi di kesempatan yang sama.
 
Pembayaran buku teks pelajaran K13 melalui dana BOS dilakukan setelah pesanan buku diterima oleh sekolah. Pembayaran dilakukan dengan salah satu cara yaitu, pembayaran non-tunai melalui payment gateway yang disediakan oleh masing-masing penyedia; atau dengan pembayaran non-tunai melalui transfer langsung kepada penyedia.
Jakarta, Kemendikbud --- Mengawali tahun pelajaran baru di tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan beberapa gerakan yang belum lama ini dilaksanakan, antara lain gerakan mengantar anak di Hari Pertama Sekolah. Melalui gerakan tersebut, Menteri Anies menjelaskan bahwa ini merupakan suatu upaya untuk menghidupkan interaksi antara guru dan orangtua. Di mana interaksi ini nantinya akan meningkatkan kolaborasi antara kedua belah pihak. Karena kolaborasi antara guru dan orangtua merupakan faktor penting dalam pendidikan.
 
“Di sebagian sekolah, kolaborasi antara orangtua dan guru telah terjadi. Tapi di sebagian sekolah lainnya, terjadi saja tidak. Untuk bisa kolaborasi, harus ada komunikasi. Di situlah, hari pertama sekolah, kita ingin terjadi komunikasi, “ kata Menteri Anies di acara halal bihalal bersama Keluarga Besar Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) di Gedung Guru, Jakarta, (20/7/2016).
 
Menteri Anies juga menyampaikan terima kasih serta berharap kepada PGRI, agar kemitraan yang telah terjalin baik saat ini dapat terus terjaga dan ditingkatkan. Ia juga mengingatkan bahwa tugas masih banyak. Karenanya dibutuhkan kerja sama yang terus berlanjut dari kedua pihak. Sehingga kolaborasi ini diharapkan dapat lebih meningkatkan pendidikan di Indonesia.
 
“Tidak ada yang sempurna, tapi kita terus berikhtiar untuk menyempurnakan. Kita tidak bergerak menunggu semua sempurna. Kita bergerak sambil mengisi yang kurang, sambil menata yang kurang,” tuturnya.
 
Dalam kesempatan ini, Plt. Ketua Umum PB PGRI, Unifah Rosyidi, mewakili PB PGRI pun memberikan apresiasi terhadap kebijakan Mendikbud terkait Hari Pertama Sekolah dan larangan untuk melakukan perpeloncoan. Menurutnya, gerakan Hari Pertama Sekolah merupakan salah satu langkah penting untuk membangun kesepahaman untuk perbaikan pendidika
 
“Guru mengerti harapan orangtua, demikian juga orangtua, memahami tugas-tugas utama guru sebagai pendidik,” ucapnya.
 
Unifah juga menyatakan akan mendukung pemerintah dalam mengembangkan dunia pendidikan. Karena itu PGRI bersama pemerintah siap membantu dalam penyelesaian masalah pendidikan, terutama yang menyangkut permasalahan guru.
 
“PGRI akan memberikan dukungan terciptanya pendidikan yang bermutu melalui peran kami sebagai organisasi guru,” kata Unifah.

Jakarta, Kemendikbud --- Seperti halnya ekosistem pendidikan yang harus hidup, ekosistem dunia perbukuan juga harus hidup untuk mendorong peningkatan kualitas buku. Hidupnya ekosistem perbukuan itu harus disertai interaksi yang aktif antarpelaku di dunia perbukuan, salah satunya interaksi antara penulis dengan pembaca.

"Kualitas buku akan sangat ditentukan oleh respons pembacanya," ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan saat membuka Islamic Book Fair 2016 di Istora Senayan, Jakarta, (27/2/2016).

Ia mengatakan, interaksi antarpelaku di dunia perbukuan itu salah satunya bisa diwujudkan dengan melengkapi data penulis di setiap buku yang diterbitkan. Data penulis tersebut antara lain berupa alamat penulis, surat elektronik (email), nomor telepon, bahkan nama akun media sosial, sehingga para pembaca dapat memberikan respons langsung kepada penulis mengenai kualitas buku yang bersangkutan.

"Jika semua penerbit dan penulis memasukkan infonya (biodata), maka akan jadi modal untuk meningkatkan mutu buku untuk edisi berikutnya," kata Mendikbud.

Seiring dengan tujuan meningkatkan kualitas buku yang digunakan di sekolah-sekolah, Mendikbud mengatakan Kemendikbud akan memberlakukan aturan di mana setiap buku yang akan dimasukkan ke sekolah-sekolah harus menyertakan data penulisnya secara lengkap. Dengan begitu, masyarakat terutama orang tua dan guru dapat memberikan respons berupa masukan atau kritik terhadap konten buku tersebut untuk meningkatkan kualitas buku.

"Semua buku yang masuk ke sekolah harus memasukkan kontak tentang penerbit dan penulisnya secara lengkap," tutur Mendikbud.

Ia menuturkan, Kemendikbud hanya bisa mengatur hal tersebut untuk buku-buku yang digunakan di sekolah, tidak bisa berlaku untuk buku-buku terbitan lain. Karena itu ia mengimbau Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) agar melengkapi data penulisnya sehingga masyarakat dapat memberikan kritik dan masukan yang berguna untuk meningkatkan kualitas buku.

"Ekosistem perbukuan hidup bila ada informasi. Dan informasi yang baik membuat pelakunya dapat berinteraksi dengan baik pula," tutur Mendikbud.