Potret Pendidikan

Potret Pendidikan (58)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Potret Realita Pendidikan

Kamis, 22 Agustus 2013 11:07

Bahagia Mendidik Anak Difabel

Written by

Jakarta - Tidak semua orang dapat memiliki keteguhan hati untuk mendidik anak-anak difabel. Namun, jalan tersebut sudah dipilih oleh Suryani (46) asal Makassar, Sulawesi Selatan. Perempuan yang akrab disapa Bu Ani ini sudah 18 tahun mengabdikan diri sebagai guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Makassar.

 

Meski mengaku cukup sulit, Ani menyatakan senang menjalani profesinya itu. "Suka duka sudah kami alami. Namanya sudah panggilan, kami tetap senang menjalaninya," kata Ani pada JPNN di Istana Negara, Jakarta, Selasa, (20/8).

 

Ani mengaku mendidik anak-anak difabel punya tantangan tersendiri. Terutama, mendidik anak-anak autis. Tak jarang, kata dia, spontanitas anak-anak autis membuat guru harus lebih sigap dalam mengendalikannya. Termasuk menjaga psikologis dan emosi anak didiknya.

 

"Kalau anak yang autis kita harus lebih sigap. Ada yang kalau marah, bisa banting temennya sendiri. Itu kan bahaya," lanjutnya.

 

Dia mengaku memilih menjadi guru di SLB karena ia memiliki sanak keluarga yang juga difabel. Oleh karena itu, ia menyakini semua anak difabel berhak mendapat tempat yang sama di dunia pendidikan. Terkadang, kata dia, ada kontak batin dia dengan anak didiknya  karena kedekatan emosional yang terbangun.

 

Hal yang kadang tidak dirasakan guru lainnya ketika bersama murid nondifabel. Saat ini, kata Ani, ia memiliki sekitar 50 anak didik. "Kami terhibur dengan tingkah anak didik kami. Mereka sangat istimewa," sambungnya.

 

Sama dengan guru lainnya, saat ditemui JPNN, Ani pun tak kuasa menyembunyikan kebahagiaannya karena diundang mengikuti HUT RI ke 68 di Istana Negara, Jakarta. Belum lagi mendapat kesempatan berfoto dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono. Ia mengaku kebahagiaan jadi berlipat ganda.

"Baru pertama kali ke Istana, saya senang sekali. Tidak terbayang sama  sekali. Nanti foto sama Presiden dan ibu negara dipajang di kelas. Kami bangga sekali," kata Ani malu-malu.

 

Sumber : http://www.jpnn.com

Jakarta - Guru-guru yang bertugas di daerah khusus dan yang melayani anak-anak berkebutuhan khusus tugasnya lebih berat dibandingkan dengan guru-guru yang lain. Di samping mendidik dan mencerdaskan anak-anak bangsa, para guru di daerah khusus juga menjadi bagian dari katup pengaman keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Khususnya mereka yang bertugas di daerah perbatasan dan di pulau-pulau terluar Indonesia, di daerah terbelakang, serta masyarakat adat yang terpencil,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh pada acara silaturrahmi antara guru SD berdedikasi di daerah khusus dan guru pendidikan khusus berdedikasi Tingkat Nasional dengan Ibu Negara Hj. Ani Bambang Yudoyono di Istana Negara, Jakarta, Selasa (20/8).

Mendikbud mengatakan, guru-guru pendidikan khusus di samping mendidik dan mencerdaskan bangsa bagi anak-anak berkebutuhan khusus, dengan segala keragamannya, dedikasi guru-guru Pendidikan Khusus menjadi keniscayaan, karena pendidikan adalah hak semua anak Indonesia, tanpa terkecuali.

“Bagi Guru Daerah Khusus dan Guru Pendidikan Khusus berdedikasi, silaturrahmi dengan Ibu Negara di Istana Presiden ini tidak ternilai harganya dan sangat mungkin hanya berlangsung satu kali selama karir dan pengabdian mereka sebagai guru,” kata Menteri Nuh.

Silahturahim ini, kata Mendikbud, merupakan acara yang utama dan luar biasa bagi bapak dan ibu guru karena dapat diterima di ruangan Istana oleh Ibu Negara. Oleh karena itu, lanjut Mendikbud, bagi guru SD yang bertugas di daerah khusus dan guru pendidikan khusus berdedikasi, kegiatan bersilarurrahmi dengan Ibu Negara tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. “Sangat membanggakan sekaligus membangun semangat untuk bekerja lebih baik,” katanya

Menurut Mendikbud, hanya guru-guru yang berdedikasi luar biasa dalam mendidik anak-anak bangsa yang bisa hadir di sini untuk bersilaturrahmi dengan Ibu di Istana.

Acara ini dihadiri oleh Ibu Negara Hj. Ani Bambang Yudoyono,  Herawati Boediono,  Ibu-Ibu Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatupara sesepuh Paguyuban Ria Pembangunan dan Pengurus Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesiadan jajarannya,  Direktur Utama JAMSOSTEK, perwakilan BRI Peduli Pendidikan, para donatur, dan para guru SD dari daerah khusus dan guru pendidikan khusus berdedikasi tingkat nasional.


Guru-guru yang bertugas di daerah khusus dan yang melayani anak-anak berkebutuhan khusus tugasnya lebih berat dibandingkan dengan guru-guru yang lain. Di samping mendidik dan mencerdaskan anak-anak bangsa, para guru di daerah khusus juga menjadi bagian dari katup pengaman keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Sumber : http://kemdikbud.go.id/

Selasa, 02 Juli 2013 11:34

Dedikasi dan Perjuangan demi Masa Depan Lebih Baik

Written by

Jakarta - Sandra Novita Sari dan Birrul Qoddriyah merupakan dua orang yang patut dicontoh dalam kiprahnya mewujudkan masa depan yang lebih baik, untuk orang lain maupun dirinya sendiri. Sandra adalah guru program Sarjana Mendidik di Daerah 3T (SM3T) yang ditempatkan di SMK Negeri 1 Waeri’i, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sementara Birrul adalah anak dari kedua orangtua yang bekerja sebagai buruh tani, namun berhasil menjadi mahasiswa penerima Bidikmisi angkatan 2010 pada program studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

 

Sandra dan Birrul diberi kesempatan untuk tampil dan diwawancarai oleh host Okky Lukman dalam puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2013 yang digelar di studio 4 RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta, Sabtu (29/6). Sandra yang merupakan lulusan Universitas Negeri Semarang mengungkapkan, tantangan terbesar ditemuinya pada tahun pertama mengajar di daerah tersebut. Ia harus membaur bersama warga sekitar, termasuk mengenal adat, sosial, dan bahasa masyarakat Flores.

 

“Di tempat saya mengajar, karakter siswanya cukup unik. Mereka sangat patuh kepada guru dan semangat ingin tahunya tinggi,” ujar Sandra.

 

Berbeda halnya dengan Birrul. Meski hanya menjadi anak dari orangtua berpenghasilan rendah, ia mampu membuktikan diri menjadi salah satu penerima beasiswa Bidikmisi di salah satu perguruan tinggi bergengsi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Menurut Birrul, beasiswa yang diperolehnya itu dapat mengantarkan dirinya semakin dekat dengan cita-citanya menjadi seorang dosen dan peneliti di bidang keperawatan.

 

“Untuk adik-adikku generasi bangsa, optimis dan raihlah terus mimpi kalian, karena jika ada kemauan pasti akan ada jalan,” katanya.

 

Birrul menjelaskan, meski dalam kondisi ekonomi terbatas sekalipun, jangan pernah berhenti meraih mimpi-mimpi. Asalkan dibarengi dengan semangat untuk giat belajar dan kerja keras, tentu cita-cita dapat terwujud. “Yang terpenting selalu optimis dan tidak lupa adalah doa dari kedua orang tua,” ucap Birrul saat ditanya host Okky tentang tips meraih beasiswa Bidikmisi.

 

Sandra yang diberi pertanyaan tentang alasannya mengajar di daerah pedalaman mengungkapkan, dirinya ingin mencerdaskan anak bangsa, khususnya mereka yang ada di pedalaman. Menurutnya, tidak hanya mereka yang tinggal di kawasan perkotaan yang dapat maju, tetapi anak-anak yang ada di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) juga perlu dirangkul. “Agar mereka sejajar dengan teman-teman yang ada di kota,” imbuh Sandra.

Ia mengungkapkan, keterbatasan infrastruktur di wilayah tempatnya mengajar, memaksa ia untuk menggunakan apa yang ada sebagai sarana belajar mengajar. Beruntung dirinya membawa laptop ke daerah tersebut, sehingga dapat mengenalkan anak-anak didiknya terhadap teknologi. “Banyak anak yang bilang, ‘Ibu guru, ajarkan kami tekan-tekan komputer’,” katanya mengulang perkataan murid-muridnya. Lalu bagaimana hasilnya? “Kini anak-anak sudah tidak asing lagi dengan laptop,” tambah Sandra.

 

Sumber : http://kemdikbud.go.id/

Yogyakarta - Penelitian Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) mengenai kompetensi yang harus dimiliki kepala sekolah, hasil kerjasama pemerintah Indonesia, Australia, Eropa, dan Asian Development Bank, terhadap 4070 kepala sekolah di 55 kabupaten/kota dari tujuh provinsi di Indonesia, mengungkapkan supervisi adalah kompetensi terminim yang dimiliki kepala sekolah di Indonesia, dibandingkan dengan kompetensi lain.

 

Nilai tersebut adalah sebesar 3.00 dari skala 1.00-4.00, dengan nilai sebesar 4.00 untuk kompetensi lain. Adapun kompetensi kepala sekolah terdiri dari kompetensi kepribadian sebagai kepala sekolah, manajerial, kewirausahaan, mengajar, dan kompetensi memberikan penyuluhan terhadap guru. Ketujuh provinsi tersebut adalah provinsi Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua.

 

Akibatnya, penilaian, dan peningkatan terhadap kualitas belajar mengajar tidak dapat akurat dilakukan. Karena, kepala sekolah tidak melakukan pengawalan terhadap tugas harian guru. Demikian pernyataan tersebut disampaikan perwakilan pemerintah Australia John Pettit, saat membuka komisi pertama Konferensi Internasional Best Practice Bagi Pengembangan Kepemimpinan Kepala Sekolah (The 4th International Conference on Best Practice for School Leadership Development), di Yogyakarta, Selasa kemarin (11/6).

 

Masih di waktu yang sama, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusa Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (BPSDM dan PMP Kemdikbud), Syawal Gultom mengatakan perlunya diingatkan kembali para kepala sekolah untuk menjalankan tugas supervisi. Sehingga, kompetensi supervisi pun dapat ditingkatkan.

 

Menurut Syawal, penyebab kelemahan kompetensi supervisi berada pada perlakuan prioritas yang diberikan kepala sekolah, terhadap urusan bersifat administratif, dibandingkan dengan supervisi terhadap kegiatan belajar mengajar di sekolah. “Kepala sekolah itu ya guru dengan tugas tambahan sebagai kepsek, maka kita kembalikan ke posisi awal harus bisa supervisi guru di sekolahnya,”ujar mantan rektor Universitas Negeri Medan itu.

Pada tingkat ASEAN, Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Pusbangtendik Kemdikbud) menggelar The 4th International Conference on Best Practice for School Leadership Development, di Hotel Sahid Rich, Yogyakarta, dari tanggal 10-14 Juni 2013. Sebanyak 11 negara Asia Tenggara dengan total 120 orang peserta, yang terdiri dari 90 orang peserta dalam negeri, dan 30 orang peserta luar negeri berpartisipasi dalam perhelatan tahunan ini. Harapannya, para kepala sekolah dari perwakilan masing-masing negara dapat saling berbagi pengalaman, pengetahuan. Sehingga, tidak terdapat kesenjangan informasi mengenai supervisi antar negara partisipan.

 

Sumber : http://kemdikbud.go.id

Sabtu, 08 Jun 2013 10:53

Een Sukaesih Memberikan Kuliah Umum di UPI

Written by

Bandung - Guru luar biasa peraih sejumlah Award Ibu Een Sukaesih kembali ke almamaternya, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Ia didaulat memberikan kuliah umum di kampus yang dulu bernama Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung tersebut.

Sambil berbaring, perempuan yang lumpuh karena rheumatoid arthritis sejak 28 tahun itu memulai dengan mengisahkan masa mudanya. Setamat SMP, ia melanjutkan sekolah ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Sumedang dan kemudian melanjutkan ke IKIP Bandung mengambil jurusan psikologi pendidikan dan bimbingan.

"Tetapi, itu yang harus kita sikapi. Yang terpenting, kita mempunyai semangat untuk meraih yang terbaik agar bisa melewati saat-saat sulit yang kita alami," kata Een di Bandung, Jumat (7/6/2013).

Rheumatoid arthritis telah menyerangnya sejak Een masih di bangku kuliah. "Sakit adalah suatu penderitaan yang teramat sangat yang saya rasakan...diagnosa dokter menyatakan tidak ada obat yang dapat menyembuhkan. Sebenarnya, ketika itu pun hidup saya sudah terasa hancur. Mimpi saya sirna," ujar Een di hadapan sekitar 300 hadirin.

Namun, Een memiliki keyakinan hanya Tuhan yang menentukan segalanya. Karena itu, ia terus melanjutkan kuliah meski dengan menanggung sakit yang sangat.

"Dengan kehendak yang Maha Kuasa, Alhamdulillah, saya tamat dan selesai sampai wisuda," ujar Een. Kemudian, ia mendapat penugasan di SMK Sindang Laut cirebon.

Takdir menggariskan lain. "Ternyata saya harus pulang, karena kondisi penyakit saya semakin parah. Sejak itulah, saya tidak bisa berjalan lagi sampai sekarang," papar Een.

Sudah 28 tahun Een berada dalam kondisi lumpuh total. Selama itu pula, Een membaktikan hidupnya untuk mendidik anak-anak dalam sebuah kamar berukuran 2x3 meter di kampungnya di Sumedang, Jawa Barat.

Berbagai penghargaan di bidang pendidikan yang telah disandang Een. Misalnya, pengahargaan Peraih PR Award 2013 dari Pikiran Rakyat, Teacher Award 2012 dari Komunitas Guru Jawa Barat sebagai 'Guru Sejati', Kartini Award 2012 sebagai perempuan Indonesia terinspiratif bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Kemudian penghargaan dari Kabupaten Sumedang sebagai tokoh masyarakat di bidang pendidikan 2013, penghargaan Universitas Pendidikan Indonesia kategori Pelopor dan Unggul. Lalu penghargaan dari Bank Mandiri Syariah BSM Edu Award, penghargaan Sumedang Motekar, Dompet Duafa Award bidang pemberdayaan pendidikan, dan Liputan 6 Special Award 2013.

 

Sumber : http://news.liputan6.com