Potret Pendidikan

Potret Pendidikan (61)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Potret Realita Pendidikan

Selasa, 02 Juli 2013 11:34

Dedikasi dan Perjuangan demi Masa Depan Lebih Baik

Written by

Jakarta - Sandra Novita Sari dan Birrul Qoddriyah merupakan dua orang yang patut dicontoh dalam kiprahnya mewujudkan masa depan yang lebih baik, untuk orang lain maupun dirinya sendiri. Sandra adalah guru program Sarjana Mendidik di Daerah 3T (SM3T) yang ditempatkan di SMK Negeri 1 Waeri’i, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sementara Birrul adalah anak dari kedua orangtua yang bekerja sebagai buruh tani, namun berhasil menjadi mahasiswa penerima Bidikmisi angkatan 2010 pada program studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

 

Sandra dan Birrul diberi kesempatan untuk tampil dan diwawancarai oleh host Okky Lukman dalam puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2013 yang digelar di studio 4 RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta, Sabtu (29/6). Sandra yang merupakan lulusan Universitas Negeri Semarang mengungkapkan, tantangan terbesar ditemuinya pada tahun pertama mengajar di daerah tersebut. Ia harus membaur bersama warga sekitar, termasuk mengenal adat, sosial, dan bahasa masyarakat Flores.

 

“Di tempat saya mengajar, karakter siswanya cukup unik. Mereka sangat patuh kepada guru dan semangat ingin tahunya tinggi,” ujar Sandra.

 

Berbeda halnya dengan Birrul. Meski hanya menjadi anak dari orangtua berpenghasilan rendah, ia mampu membuktikan diri menjadi salah satu penerima beasiswa Bidikmisi di salah satu perguruan tinggi bergengsi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Menurut Birrul, beasiswa yang diperolehnya itu dapat mengantarkan dirinya semakin dekat dengan cita-citanya menjadi seorang dosen dan peneliti di bidang keperawatan.

 

“Untuk adik-adikku generasi bangsa, optimis dan raihlah terus mimpi kalian, karena jika ada kemauan pasti akan ada jalan,” katanya.

 

Birrul menjelaskan, meski dalam kondisi ekonomi terbatas sekalipun, jangan pernah berhenti meraih mimpi-mimpi. Asalkan dibarengi dengan semangat untuk giat belajar dan kerja keras, tentu cita-cita dapat terwujud. “Yang terpenting selalu optimis dan tidak lupa adalah doa dari kedua orang tua,” ucap Birrul saat ditanya host Okky tentang tips meraih beasiswa Bidikmisi.

 

Sandra yang diberi pertanyaan tentang alasannya mengajar di daerah pedalaman mengungkapkan, dirinya ingin mencerdaskan anak bangsa, khususnya mereka yang ada di pedalaman. Menurutnya, tidak hanya mereka yang tinggal di kawasan perkotaan yang dapat maju, tetapi anak-anak yang ada di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) juga perlu dirangkul. “Agar mereka sejajar dengan teman-teman yang ada di kota,” imbuh Sandra.

Ia mengungkapkan, keterbatasan infrastruktur di wilayah tempatnya mengajar, memaksa ia untuk menggunakan apa yang ada sebagai sarana belajar mengajar. Beruntung dirinya membawa laptop ke daerah tersebut, sehingga dapat mengenalkan anak-anak didiknya terhadap teknologi. “Banyak anak yang bilang, ‘Ibu guru, ajarkan kami tekan-tekan komputer’,” katanya mengulang perkataan murid-muridnya. Lalu bagaimana hasilnya? “Kini anak-anak sudah tidak asing lagi dengan laptop,” tambah Sandra.

 

Sumber : http://kemdikbud.go.id/

Yogyakarta - Penelitian Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) mengenai kompetensi yang harus dimiliki kepala sekolah, hasil kerjasama pemerintah Indonesia, Australia, Eropa, dan Asian Development Bank, terhadap 4070 kepala sekolah di 55 kabupaten/kota dari tujuh provinsi di Indonesia, mengungkapkan supervisi adalah kompetensi terminim yang dimiliki kepala sekolah di Indonesia, dibandingkan dengan kompetensi lain.

 

Nilai tersebut adalah sebesar 3.00 dari skala 1.00-4.00, dengan nilai sebesar 4.00 untuk kompetensi lain. Adapun kompetensi kepala sekolah terdiri dari kompetensi kepribadian sebagai kepala sekolah, manajerial, kewirausahaan, mengajar, dan kompetensi memberikan penyuluhan terhadap guru. Ketujuh provinsi tersebut adalah provinsi Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua.

 

Akibatnya, penilaian, dan peningkatan terhadap kualitas belajar mengajar tidak dapat akurat dilakukan. Karena, kepala sekolah tidak melakukan pengawalan terhadap tugas harian guru. Demikian pernyataan tersebut disampaikan perwakilan pemerintah Australia John Pettit, saat membuka komisi pertama Konferensi Internasional Best Practice Bagi Pengembangan Kepemimpinan Kepala Sekolah (The 4th International Conference on Best Practice for School Leadership Development), di Yogyakarta, Selasa kemarin (11/6).

 

Masih di waktu yang sama, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusa Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (BPSDM dan PMP Kemdikbud), Syawal Gultom mengatakan perlunya diingatkan kembali para kepala sekolah untuk menjalankan tugas supervisi. Sehingga, kompetensi supervisi pun dapat ditingkatkan.

 

Menurut Syawal, penyebab kelemahan kompetensi supervisi berada pada perlakuan prioritas yang diberikan kepala sekolah, terhadap urusan bersifat administratif, dibandingkan dengan supervisi terhadap kegiatan belajar mengajar di sekolah. “Kepala sekolah itu ya guru dengan tugas tambahan sebagai kepsek, maka kita kembalikan ke posisi awal harus bisa supervisi guru di sekolahnya,”ujar mantan rektor Universitas Negeri Medan itu.

Pada tingkat ASEAN, Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Pusbangtendik Kemdikbud) menggelar The 4th International Conference on Best Practice for School Leadership Development, di Hotel Sahid Rich, Yogyakarta, dari tanggal 10-14 Juni 2013. Sebanyak 11 negara Asia Tenggara dengan total 120 orang peserta, yang terdiri dari 90 orang peserta dalam negeri, dan 30 orang peserta luar negeri berpartisipasi dalam perhelatan tahunan ini. Harapannya, para kepala sekolah dari perwakilan masing-masing negara dapat saling berbagi pengalaman, pengetahuan. Sehingga, tidak terdapat kesenjangan informasi mengenai supervisi antar negara partisipan.

 

Sumber : http://kemdikbud.go.id

Sabtu, 08 Jun 2013 10:53

Een Sukaesih Memberikan Kuliah Umum di UPI

Written by

Bandung - Guru luar biasa peraih sejumlah Award Ibu Een Sukaesih kembali ke almamaternya, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Ia didaulat memberikan kuliah umum di kampus yang dulu bernama Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung tersebut.

Sambil berbaring, perempuan yang lumpuh karena rheumatoid arthritis sejak 28 tahun itu memulai dengan mengisahkan masa mudanya. Setamat SMP, ia melanjutkan sekolah ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Sumedang dan kemudian melanjutkan ke IKIP Bandung mengambil jurusan psikologi pendidikan dan bimbingan.

"Tetapi, itu yang harus kita sikapi. Yang terpenting, kita mempunyai semangat untuk meraih yang terbaik agar bisa melewati saat-saat sulit yang kita alami," kata Een di Bandung, Jumat (7/6/2013).

Rheumatoid arthritis telah menyerangnya sejak Een masih di bangku kuliah. "Sakit adalah suatu penderitaan yang teramat sangat yang saya rasakan...diagnosa dokter menyatakan tidak ada obat yang dapat menyembuhkan. Sebenarnya, ketika itu pun hidup saya sudah terasa hancur. Mimpi saya sirna," ujar Een di hadapan sekitar 300 hadirin.

Namun, Een memiliki keyakinan hanya Tuhan yang menentukan segalanya. Karena itu, ia terus melanjutkan kuliah meski dengan menanggung sakit yang sangat.

"Dengan kehendak yang Maha Kuasa, Alhamdulillah, saya tamat dan selesai sampai wisuda," ujar Een. Kemudian, ia mendapat penugasan di SMK Sindang Laut cirebon.

Takdir menggariskan lain. "Ternyata saya harus pulang, karena kondisi penyakit saya semakin parah. Sejak itulah, saya tidak bisa berjalan lagi sampai sekarang," papar Een.

Sudah 28 tahun Een berada dalam kondisi lumpuh total. Selama itu pula, Een membaktikan hidupnya untuk mendidik anak-anak dalam sebuah kamar berukuran 2x3 meter di kampungnya di Sumedang, Jawa Barat.

Berbagai penghargaan di bidang pendidikan yang telah disandang Een. Misalnya, pengahargaan Peraih PR Award 2013 dari Pikiran Rakyat, Teacher Award 2012 dari Komunitas Guru Jawa Barat sebagai 'Guru Sejati', Kartini Award 2012 sebagai perempuan Indonesia terinspiratif bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Kemudian penghargaan dari Kabupaten Sumedang sebagai tokoh masyarakat di bidang pendidikan 2013, penghargaan Universitas Pendidikan Indonesia kategori Pelopor dan Unggul. Lalu penghargaan dari Bank Mandiri Syariah BSM Edu Award, penghargaan Sumedang Motekar, Dompet Duafa Award bidang pemberdayaan pendidikan, dan Liputan 6 Special Award 2013.

 

Sumber : http://news.liputan6.com

Rabu, 29 Mei 2013 03:55

Gaji Guru Honor Rp 50.000 Per Bulan

Written by

Soe - Terdapat sekitar 500 guru honor SD dan SMP di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, yang mendapat honor Rp 50.000-Rp 100.000 per bulan. Mereka kebanyakan mengajar di sekolah swasta. Panggilan mengabdi membuat mereka tetap bertahan.

Asnat Bel, guru honor di salah satu SD swasta di Amanuban Timur, 45 kilometer dari Kota Soe, misalnya, mendapat honor Rp 50.000 per bulan.

Sarche Kase (26), yang menjadi guru honor selama lima tahun di sekolah swasta lainnya, mendapat honor Rp 75.000 per bulan dan dibayarkan setiap tiga bulan. ”Saya tidak kuat karena honor itu tidak cukup untuk biaya hidup sehingga saya mengundurkan diri,” kata Sarche yang kini akan berangkat menjadi tenaga kerja wanita ke Malaysia.

Wakil Ketua DPRD Timor Tengah Selatan Ampere Seke Selan di Soe, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan mengatakan, setiap melakukan kunjungan kerja, keluhan seperti itu yang selalu ia terima. Honor guru terlalu kecil sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

”Mereka inginnya menjadi pegawai negeri sipil, tetapi aturan pemerintah pusat tidak memungkinkan,” kata Ampere.

Ia mengatakan, sebenarnya para guru honorer itu bisa digaji dengan dana bantuan operasional sekolah (BOS). Masalahnya, alokasi BOS untuk honor guru dibatasi maksimal 20 persen dari total dana BOS yang diterima sekolah.

”Jika jumlah guru honor ternyata banyak di suatu sekolah, alokasi anggaran yang tersedia harus dibagi rata sehingga honor yang diterima guru menjadi kecil,” ujarnya.

 

Sumber : http://www.kompas.com

Senin, 27 Mei 2013 07:44

Orang Rimba Jambi Pertama yang Lulus UN SMA

Written by

Jambi - Besudut, menjadi yang pertama dan satu satunya siswa asal Orang Rimba Jambi yang lulus Ujian Nasional (UN) SMA dan Sederajat 2013.

 

Kepala Sekolah SMAN 14 Tebo, Suparjo, Minggu mengatakan, Besudut mendapatkan nilai UN 32,2 dengan nilai tertinggi mata pelajaran Matematika 6,25.
Keberhasilan Besudut lulus UN menjadi prestasi baginya karena merupakan satu-satunya Orang Rimba Jambi yang berhasil menamatkan pendidikan formal hingga ke lanjutan tingkat menengah atas.
"Alhamdulilah seluruh siswa di sekolah kami dinyatakan lulus 100 persen, termasuk Besudut dengan memperoleh hasil yang cukup baik," ujar Suparjo di Jambi.
Menurut dia, Besudut yang dikenal dengan nama Irman Jalil termasuk siswa yang tekun dan rajin dalam belajar dengan segala keterbatasannya.
Besudut biasanya datang ke sekolah lebih pagi dibandingkan teman-teman lainnya.
Meski menjadi Orang Rimba Jambi pertama yang lulus UN tingat sekolah atas, Besudut enggan berpuas diri. Mimpinya untuk bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi menurutnya akan terus diperjuangkan.
"Saya akan terus berusaha untuk belajar agar bisa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Saya ingin membuktikan mampu untuk sekolah tinggi sama dengan kelompok masyarakat lainnya," ujar Besudut.
Sementara itu, Manajer Komunikasi Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Rudi Syaf mengatakan, kelulusan Besudut pada UN dipandang sebagai suatu keberhasilan.
"Karena mengingat Besudut adalah satu-satunya Orang Rimba yang berhasil menamatkan sekolah tingkat atas secara formal," ujarnya.
Agar cita cita Besudut untuk sekolah lebih tinggi lagi bisa tercapai, perlu dukungan berbagai pihak untuk membantu pembiayaannya.
Masalah ekonomi bagi siswa Orang Rimba menjadi salah satu kendala, akibat kemarjinalan dan kondisi finansial yang tidak memungkinkan.
Keberhasilan Besudut ini juga diharapkan dapat memacu semangat generasi Orang Rimba Jambi yang saat ini telah 12 orang mengecap pendidikan di SMP dan 53 orang lainnya di sekolah dasar (SD).
 
Sumber : http://www.republika.co.id