LPMP Inside

LPMP Inside (40)

Semua konten yang berkaitan dengan keseharian di lingkungan LPMP

Halal Bihalal Keluarga Besar LPMP Kalimantan Barat

 

Ayat-ayat suci Alquran dilantunkan. Sari tilawah dibacakan. Pengajian diselenggarakan. Salam, silaturahim dan maaf-mafan dilakukan. Rangkaian kegiatan kebaikan dilaksanakan di Auditorium Ki Hajar Dewantara dalam rangka Halal Bihalal 1440 Hijriyah keluarga besar LPMP Kalimantan Barat.

 

Para tetamu hadir beserta keluarga. Tak hanya ASN, mantan pejabat, staf dan fungsional juga diundang menghadiri acara. Seluruh undangan berkumpul dalam acara yang dikemas dalam suasana keakraban dan kekeluargaan namun juga disertai hiburan.

 

Dalam acara ini kepala LPMP Kalimantan Barat, Drs. Aristo Rahadi, M.Pd menyampaikan sambutan mengenai makna bulan Syawal yang berarti peningkatan. Kepala LPMP Kalimantan Barat mengajak seluruh jajarannya untuk meningkatkan diri dalam segala hal. Baik peningkatan dalam hal ruhani (ibadah) ataupun dalam hal jasadi (layanan).

 

Sementara itu ustadz H. Zulfan Affan Abdurrahman yang didaulat untuk memberikan tausyiah mengingatkan seluruh keluarga besar LPMP tentang syukur. Banyak orang sering mencari apa yang tidak ada. Tetapi sedikit orang mampu bersyukur atas apa yang sudah mereka punya. Syukur adalah pengingat. Pengingat atas kelalaian yang seringkali terlupakan atas rezeki yang telah Allah berikan. Syukur juga  mengingatkan untuk berlomba-lomba memanfaatkan waktu dan kemudahan yang telah diberikan dalam usaha meningkatkan ibadah kepada Allah SWT.

 

Di sesi hiburan, grup akustik LPMP Kalimantan Barat yang beranggotakan ASN, CPNS dan tenaga kontrak menyajikan hiburan musik-musik religi populer. Iringan musik yang mereka bawakan menjadi pelengkap kegiatan sebagai unjuk kesenian.

 

Kegiatan diakhiri dengan saling bersalaman dan memaafkan. Satu per satu pimpinan menyalami karyawan dan keluarga besar. Runtut dan rapi seluruh tamu berjajar satu per satu. Ada yang menyeka air mata, ada yang bahagia bertemu kembali teman lama. Inilah indahnya silaturahmi. Meski hanya setahun sekali mampu menyatukan kembali hati. (RD)

 

Minal Aidzin walfaidzin. Mohon maaf lahir dan batin.  

 

 

Pontianak - Senin (6/5/2019), Sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) di Lingkungan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Kalimantan Barat dianugerahi Satyalencana Karya Satya. Tidak seperti biasanya Apel pagi di awal bulan Romadhon 1440 H tahun ini diadakan sekaligus pemberian penghargaan dan penyematan tanda penghargaan Satyalencana Karya Satya.

Satyalancana Karya Satya adalah sebuah tanda penghargaan yang diberikan kepada pegawai negeri sipil yang telah berbakti selama 10 atau 20 atau 30 tahun lebih secara terus menerus dengan menunjukkan kecakapan, kedisiplinan, kesetian dan pengabdian sehingga dapat dijadikan teladan bagi setiap pegawai lainnya.

Rincinya Satyalencana 30 tahun sebanyak 1 ASN, Satyalancana 20 tahun 1 ASN, dan Satyalancana 10 tahun sebanyak 8 ASN.

Dra. Etty Lestari, MPd  Widya Iswara LPMP Kalimantan Barat adalah satu-satu penerima Satyalencana Karya Satya 30 tahun.

Dra. Dwi Karyani, MPd  Kasi Pemetaan Mutu Kalimantan Barat sebagai penerima Satyalencana Karya Satya 20 tahun.

Prosesi penyematan Satyalencana ini dilakukan Kepala LPMP Kalimantan Barat Bapak Drs. Aristo Rahadi, M.Pd disaksikan oleh Pejabat , Widya Iswara dan Staf LPMP Kalimantan Barat .

"penghargaan ini mudah-mudahan bisa menjadi motivasi dan penyemangat bagi  ASN lainnya di lingkungan LPMP Kalimantan Barat" kata Kepala LPMP Kalimantan Barat.

 

 

Selasa, 09 April 2019 12:03

Membangun Branding Melalui Capacity Building

Written by

Pontianak - Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kalimantan Barat siap menuju instansi/ lembaga ZI-WBK (Zona Integitras – Wilayah Bebas Korupsi). Tak mudah menjadi lembaga yang demikian. Banyak aspek menjadi penilaian. Nilai-nilai integritas, kepemimpinan, manajemen, tata nilai, karakter menjadi pertaruhan. Tak hanya bagi pimpinan namun juga untuk seluruh karyawan.

Soliditas perlu dijaga. Komitmen perlu dibangun. Kekompakan perlu pembuktian. “Bersama Kita Bisa” akhirnya dipilih sebagai slogan lembaga. Slogan yang tak cukup hanya diingat dan diucapkan. Slogan ini adalah semangat lembaga menuju ZI-WBK.

Tidak seperti kegiatan yang telah dilaksanakan di tahun sebelumnya yang lebih banyak game dan permainan kelompok, kegiatan capacity building tahun ini berbeda. Di kegiatan ini seluruh sumberdaya bekerja keras dan bekerja cerdas dalam membuat sebuah  produk kreatif yang nyata. Bukti nyata berupa karya. Karya kolaborasi semua sumberdaya yang dipunya. Pimpinan dan karyawan berbaur menjadi satu. Menyayikan lagu sebagai Theme song LPMP Kalimantan Barat menuju WBK dengan seru.

Lirik dalam Theme song dibuat sebagai penyemangat. Dalam liriknya mengemukakan nilai pendidikan tentang 8 standar. Tak hanya dihafal, seluruh sumberdaya harus siap mental dan bersemangat menyukseskan.

Seluruh sumberdaya dikerahkan. Theme song,  operator video, editor video, perekam video, koreografer dan sutradaranya adalah karyawan LPMP Kalimantan Barat. Kegiatan ini adalah kebanggaan. Kebanggan atas partisipasi, inisiasi dan aksi yang menginspirasi. Setidaknya kami bisa mempunyai karya asli sebagai penyemangat untuk meraih mimpi yaitu lembaga yang mampu menjadi Zona Integritas - Wilayah Bebas Korupsi.

Kegiatan  Kegiatan dilaksanakan selama 3 hari, 5 – 7 April 2019 di Kahyangan Resort, kabupaten Bengkayang. Konsep luar ruang dan pantai menjadi latar belakang pengambilan gambar. Perpaduan gerak, tari, seni dan olahraga ditonjolkan sebagai koreografi.

Output kegiatan ini adalah video klip Theme song  LPMP Kalimantan Barat menuju WBK. Mohon bersabar karena sampai berita ini diturunkan hasil akhir video sedang dalam tahap pengeditan. Pada saatnya nanti kami berjanji akan menanyangkan secara resmi.

Tetap semangat, tetaplah menginspirasi (Kim) video

Senin, 11 Maret 2019 10:11

Ki Hadjar Dewantara

Written by

Pendiri Taman Siswa ini adalah Bapak Pendidikan Nasional. Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Hari lahirnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya yang terkenal ialah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan). Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 28 April 1959 dan dimakamkan di sana.
Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya.

Perjalanan hidupnya benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsanya. Ia menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai Lihat Daftar Wartawan
wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya.

Lebih lanjut, silahkan baca di halaman-halaman berikut ini:

sumber : http://dikdasmen.kemdikbud.go.id

Jakarta, Kemendikbud – Memasuki era teknologi informasi, digitalisasi arsip Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) merupakan keharusan, terutama arsip yang digolongkan prioritas. Dengan digitalisasi tingkat keabadian arsip lebih dapat dipertanggung jawabkan dan efisien. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, dalam Peresmian Pusat Arsip Kemendikbud di Ciketing Udik, Bekasi, Jawa Barat, Senin (25/2/2019)

 

Meskipun keautentikan arsip masih sangat dibutuhkan di Indonesia, terutama terkait dengan masalah hukum, seperti pembuktian perkara, namun tidak berarti bahwa digitalisasi dikesampingkan. “Tidak berarti kita tidak perlu memperhatikan proses digitalisasi dan melakukan filmisasi, untuk disimpan di dalam micro film yang saya kira lebih memiliki tingkat keabadian yang dapat dipertanggung jawabkan dan lebih efisien,” tutur Mendikbud.

 

Mengenai rencana digitalisasi, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) siap untuk membantu Kemendikbud mengalihmediakan arsip. Kepala ANRI, Mustari Irawan, yang turut hadir dalam peresmian Pusat Arsip menyampaikan, saat ini sebagian arsip statis yang sudah diserahkan kepada ANRI sudah dialihmediakan. Namun untuk arsip inaktif yang berada di Pusat Arsip, karena statusnya yang masih dibutuhkan, meskipun frekuensi penggunaannya sudah berkurang, maka perlu analisis lebih lanjut untuk proses digitalisasinya.

 

“Bisa saja arsip yang inaktif ini dilakukan digitalisasi, tapi mungkin perlu dianalisis mana yang bisa, mana yang tidak, karena dalam waktu tertentu ada yang bisa dimusnahkan. Tidak semua harus didigitalisasi,” ujar Mustari.

Proses digitalisasi arsip bukan tanpa tantangan. Ke depan, untuk dapat melaksanakan secara penuh, kementerian harus siap secara infrastruktur dan sumber daya manusia. Digitalisasi memerlukan infrastruktur mesin dengan kapasitas tinggi yang mampu melakukan alih media per lembar. Sumber daya manusia yang dapat mengoperasikan pun perlu mumpuni.

 

 

Arsiparis Dituntut Responsif Terhadap Perubahan Teknologi

 

Dalam mengadopsi perubahan teknologi dalam pengarsipan, peran petugas arsip atau pemegang jabatan arsiparis sangat strategis. Untuk itu arsiparis dituntut untuk responsif terhadap berbagai perubahan. “Harus bisa menyimpan arsip tersebut dalam bentuk digital. Karena memang bentuk digital itu nantinya tidak memerlukan banyak space, ruangan. Dia bisa disimpan di cloud system,” jelas Mustari.

 

Mendikbud dalam hal ini mendukung peningkatan kapasitas keterampilan petugas arsip yang ada di lingkungan Kemendikbud. “Saya minta ada peningkatan keterampilan para petugas arsip yang ada di lingkungan Kemendikbud, agar responsif terhadap perubahan yang terkait teknologi kearsipan, misalnya masalah penyimpanan, perawatan, dan kemudian pendistribusian, pemanfaatan. Jadi arsip itu harus benar-benar terukur, dengan menggunakan piranti-piranti yang modern, yang sekarang sudah sangat advanced, sangat maju sekali,” tutur Muhadjir.

 

Salah satu bentuk peningkatan keterampilan bagi arsiparis yang akan dilakukan Kemendikbud adalah dengan mengirimkan tenaga arsiparis untuk melakukan studi banding ke negara lain yang sistem kearsipannya sudah maju. “Karena itu, kalau mereka tidak lakukan studi banding, atau upgrading, saya kuatir kita ketinggalan,” jelas Mendikbud