Teknologi Pendidikan

Teknologi Pendidikan (19)

konten yang terkait dengan teknologi pendidikan

Bogor, Kemendikbud — Repositori Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berhasil  menjadi tempat penyimpanan informasi dan publikasi digital kementerian terbaik di Indonesia. Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kemendikbud, Evy Mulyani optimis Repositori Kemendikbud akan memberikan manfaat luas kepada publik, terlebih di masa pandemi COVID-19.  

“Saat ini keberadaan sumber belajar dalam jaringan (daring) sangat di butuhkan oleh masyarakat. Repositori ini juga diharapkan dapat berkontribusi untuk kemajuan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia Indonesia ke depannya,” kata Evy saat menanggapi keberhasilan Kemendikbud menjadi repositori kementerian terbaik melalui telepon selular, Jumat (28/08).

Pustakawan Ahli Madya, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia  (Perpusnas RI), Tatat Kurniawati mengatakan bahwa Repositori Kemendikbud menjadi nomor satu untuk jenis Perpustakaan Khusus. Repositori ini menjadi wadah bagi perpustakaan khusus dalam mendokumentasikan, menyimpan, melestarikan, dan mendayagunakan karya cetak karya rekam (KCKR) di lingkungan lembaganya.

“Saya sangat mengapresiasi kerja keras Perpustakaan Kemendikbud dalam mengumpulkan dan mendokumentasikan KCKR di lingkungan Kemendikbud ke dalam repositori institusi. Hal ini karena Perpustakaan Nasional RI sedang mendorong perpustakaan khusus untuk membangun repositori institusi dalam rangka e-deposit KCKR”, ujar Tatat Kurniawati dalam kegiatan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) Serah Simpan Karya Cetak Karya Rekam (KCKR) dan E-Deposit di Lingkungan Kemendikbud di Bogor (25/8/2020).

Untuk diketahui, Repositori Kemendikbud dikelola dan dikoordinasikan oleh Perpustakaan Kemendikbud di bawah BKHM. Repositori ini merupakan hasil kolaborasi antara Perpustakaan Kemendikbud dengan pustakawan/pengelola perpustakaan di seluruh unit kerja dan unit pelaksana teknis (UPT) Kemendikbud. Sebanyak 138 satuan kerja di lingkungan Kemendikbud telah bergabung dan mendokumentasikan hasil karya cetak dan karya rekamnya dalam repositori ini.

Koleksi tersebut terdiri dari berbagai kategori seperti bahasa dan kesusastraan, buku sekolah, guru, kebijakan umum Kemendikbud, kebudayaan, dan berbagai tema lainnya. Lebih lanjut Evy Mulyani memberikan apresiasi kepada seluruh pihak khususnya bagi pustakawan/pengelola perpustakaan yang telah berkontribusi aktif dalam pengembangan dan pengelolaan Repositori Kemendikbud.

“Saat ini terdapat lebih dari 13.000 koleksi yang tersedia di dalam Repositori Kemendikbud dan telah diunduh lebih dari empat juta kali oleh publik,” jelas Evy.

Sejalan dengan amanah Undang-undang Nomor 13 Tahun 2018 tentang serah simpan KCKR, Perpustakaan Kemendikbud akan mengintegrasikan repositori institusi dengan sistem e-deposit nasional yang sedang dikembangkan oleh Perpustakaan Nasional RI. Dengan integrasi ini diharapkan dapat mempermudahkan proses serah simpan KCKR ke Perpustakaan Nasional.

Pustakawan Perpusnas RI lain yang menjadi narasumber dalam DKT ini, Suci Indrawati menambahkan bahwa dengan integrasi ke sistem e-deposit artinya Kemendikbud ikut mendukung koleksi nasional dan bibliografi nasional Indonesia. “E-Deposit Perpustakaan Nasional memudahkan perpustakaan dalam menyimpan, melestarikan, serta mendayagunakan koleksi digital baik karya cetak maupun karya rekam,” kata Suci.

Repositori dibangun Perpustakaan Kemendikbud pada tahun 2016 sesuai dengan tugas dan fungsi BKHM yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 46 Tahun 2019. Dalam aturan tersebut dijelaskan, BKHM bertugas melakukan pengelolaan perpustakaan kementerian dan melaksanakan serah simpan karya cetak dan karya rekam di lingkungan kementerian.

Repositori Kemendikbud menjadi bukti bahwa paradigma perpustakaan abad 21 bukan hanya sebagai tempat menyimpan, membaca, dan meminjam koleksi, namun juga berperan sebagai penghubung dan penyedia akses terhadap data, informasi, dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh pemustakanya. Evy berharap, Repositori Kemendikbud memudahkan masyarakat dalam mengakses informasi dan hasil terbitan/publikasi di lingkungan Kemendikbud secara cepat.

Dalam kesempatan ini, Kepala BKHM turut mengajak seluruh masyarakat untuk memanfaatkan sumber informasi yang terdapat dalam Repositori Kemendikbud sebagai media sumber belajar baik di masa pandemi maupun ke depannya. “Silakan mengakses repositori Kemendikbud pada http://repositori.kemdikbud.go.id.  Koleksi repositori ini akan terus diperbaharui,” tutup Evy.

JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberikan penjelasan hanya akan mempermanenkan ketersediaan berbagai platform Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), baik yang bersifat daring maupun luring, yang selama ini telah ada untuk mendukung siswa dan guru dalam proses belajar mengajar selama masa pandemi Coronavirus Disease (COVID-19). Penggunaan platform ini tidak diwajibkan, tetapi akan dibuat tersedia. Adapun metode pembelajaran yang diberikan kepada siswa akan tetap ditentukan berdasarkan kategori zona pandemi.  

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Iwan Syahril menegaskan sesuai Surat Keputusan Bersama Empat Kementerian pada Juni lalu, satuan pendidikan yang berada pada zona hijau dan memenuhi berbagai persyaratan ketat lainnya dapat melaksanakan metode pembelajaran secara tatap muka. Jumlah daerah yang melakukan pembelajaran tatap muka akan terus meningkat seiring dengan waktu.

Adapun PJJ hanya akan dilakukan pada satuan pendidikan di zona kuning, oranye, serta merah, dan tidak akan permanen. “Yang akan permanen adalah tersedianya berbagai platform PJJ, termasuk yang bersifat daring dan luring seperti Rumah Belajar, yang akan terus dilangsungkan guna mendukung siswa dan guru dalam proses belajar mengajar,” jelas Iwan pada Bincang Sore secara virtual, di Jakarta, pada Senin (06/07/2020).

Iwan menambahkan, terkait pemanfaatan berbagai platform pendidikan berbasis teknologi yang telah tersedia, Kemendikbud mendorong pembelajaran dengan model kombinasi (hybrid). Model ini sangat bermanfaat menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan inovatif dalam menghadapi revolusi industri 4.0. “Saya yakin model pembelajaran berbasis kombinasi pembelajaran ini akan terbukti efektif meningkatkan kemampuan dan kompetensi siswa dalam bersaing di dunia global saat ini,” jelas Iwan.

Melalui pembelajaran dengan model kombinasi, guru dan siswa akan terus melanjutkan penerapan teknologi yang dikombinasikan dengan tatap muka sebagai metode pembelajaran terpadu. Dengan begitu, alat bantu pembelajaran tidak hanya berupa buku teks saja, namun berbagai platform teknologi yang telah dimanfaatkan dalam PJJ selama pandemi. “Yang paling penting adalah peran guru tidak akan tergantikan teknologi dalam pembelajaran. Namun, untuk mengakselerasi kompetensi siswa peran teknologi akan sangat mendukung,” jelas Iwan.

Iwan menjelaskan, teknologi hanyalah alat, sehingga kunci utama terletak pada kualitas dan kompetensi para pendidik dalam memanfaatkan teknologi sehingga mampu menciptakan pembelajaran yang efektif kepada murid-muridnya. Untuk itu, Kemendikbud telah melakukan beberapa hal antara lain menciptakan laman Guru Berbagi. “Kami telah menciptakan sebuah ekosistem belajar buat guru, yang sifatnya gotong royong yaitu laman Guru Berbagi,” ujar Iwan.

Data per 3 Juli 2020 menunjukkan akses laman Guru Berbagi telah mencapai 5,9 juta akses dengan 950 ribu lebih pengunjung. Sebanyak 1,2 juta unduhan di antaranya materi dan Rencana Proses Pembelajaran (RPP) baik untuk PAUD, SD, SMP, SMA dan SLB yang bersifat dalam jaringan (daring) maupun luar jaringan (luring). “Pelatihan penggunaan teknologi masif kami luncurkan melalui seri webinar per jenjang dan ada topik umum dan khusus per kelasnya,” kata Iwan.

Senada dengan itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Kabalitbang dan Perbukuan) Kemendikbud Totok Suprayitno mengatakan pandemi COVID-19 memberikan hikmah positif terutama pada akselerasi pemanfaatan teknologi. “Bagi dunia pendidikan, walaupun menghadirkan berbagai tantangan besar, pandemi COVID-19 memunculkan pembelajaran positif, salah satunya adalah pemanfaatan teknologi dengan skala besar yang begitu cepat guna mendukung proses pembelajaran,” kata Totok.

Oleh karena itu, berbagai macam sumber pembelajaran selama masa pandemi COVID-19 akan tetap diterapkan pada satuan pendidikan di masa kebiasaan baru atau pasca pandemi. “Sumber pembelajaran yang dilakukan oleh guru sangat terbuka ada Rumah Belajar, modul, Buku Sekolah Elektronik, dan sebagainya. Tidak ada kebijakan untuk mengarahkan ke produk tertentu. Apapun itu yang bisa meningkatkan pembelajaran silakan diunduh,” pungkas Totok.

     
Waktu : 22-04-2020 09:00 - 22-04-2020 14:00
Tempat : Youtube
Lokasi : https://www.youtube.com/channel/UCbNmhYhCjf-PI_YzLeBnGgQ

Topik 1: Fasilitasi LPPKSPS dalam Coaching dan Counselling di Masa Pandemi Covid-19

Topik 2: Sharing Best Practice implementasi Coaching dan Counselling di Masa Pandemi Covid-19

 

Link ke kelas webinar:  

LPPKSPS

Sebagai inisiatif dalam menghadapi penutupan sekolah sementara karena Covid-19, LPPKSPS menyelenggarakan 2 webinar selama 2 hari berturut-turut tentang Strategi Kepemimpinan Pembelajaran dan Partisipasi Pengawas Sekolah dalam Coaching dan Counselling di Masa Pandemi Covid-19, tanggal 21-22 April 2020.

Pembelajaran Jarak Jauh disajikan secara interaktif menggunakan perangkat Microsoft Teams bagi 200 pendaftar pertama. Acara ini terbuka untuk umum dan GRATIS. Namun bagi yang kehabisan kursi, anda masih dapat menyaksikan secara live streaming webinar pada channel youtube LPPKSPS.

Penyakit koronavirus 2019 (bahasa Inggriscoronavirus disease 2019, disingkat COVID-19, akhirnya menghampiri Indonesia setelah pada tanggal 2 Maret 2020 pemerintah Indonesia mengumumkan 2 orang WNI yang dinyatakan positif Covid-19. Semenjak setelah pengumuman tersebut, jumlah WNI yang terpapar Covid-19  terus meningkat. Bahkan sekarang seluruh provinsi di Indonesia telah memiliki kasus pasien positif Covid-19.

Berbagai kebijakan pun telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk mencegah meluasnya penyebaran Covid-19. Salah satunya pada sektor pendidikan dimana dikeluarkan Kebijakan Belajar di Rumah (BDR). Kebijakan ini tercantum pada Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tanggal 17 Maret 2020 tentang Pembelajaran Secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19), dimana salah satu pointnya menyatakan bahwa khusus untuk daerah yang sudah terdampak Covid-19 berlaku ketentuan bahwa pemberlakuan pembelajaran secara daring dari rumah bagi siswa dan mahasiswa.  

 Pemberlakuan pembelajaran secara daring dari rumah bagi sebagian besar siswa dan guru seperti mimpi buruk di siang bolong yang menimbukan kepanikan. Guru yang sebelumnya enggan bahkan fobia  dengan pembelajaran yang menggunakan teknologi, merasa lebih terbebani apalagi pembelajaran tersebut merupakan pembelajaran secara daring. Bagi banyak guru, pembelajaran tatap muka masih bisa dilaksanakan dalam kondisi normal dan tidak semua guru terbiasa dengan metode pembelajaran daring. Selain itu, masih terdapat banyak kendala dalam pelaksanaan pembelajaran daring, baik dari kompetensi guru, orangtua, maupun infrastruktur pendukung. Banyak orang tua terutama di daerah yang tidak mempunyai gawai yang memadai,sehingga anak kesulitan dalam sistem pembelajaran daring ini.

 Namun dalam situasi wabah Covid-19 yang semakin mengkhawatirkan, dengan segala keterbatasan, fobia dan keengganan melaksanakan pembelajaran daring, mau tidak mau harus dilakukan, sedikit demi sedikit harus dikikis. Hambatan bukan jadi alasan untuk menyerah menggunakan teknologi selama alatnya tersedia. Apabila tidak dipaksakan maka selamanya guru, orang tua dan anaknya gagap teknologi. Untuk itulah guru, orang tua dan siswa harus dipaksa untuk mengenal bagaimana penggunaan teknologi dalam pembelajaran sehingga lama-lama akan terbiasa, yang selanjutnya generasi berikutnya akan mampu memanfaatkan teknologi untuk menyelesaikan berbagai macam tugas dalam kehidupannya.

 Terjadi percepatan literasi digital dalam pembelajaran bagi guru, siswa, orangtua dan penggiat pendidikan dengan adanya Wabah Covid-19 ini. Intenet dan penggunaan gawai yang selama ini lebih banyak digunakan sebagai sarana hiburan dan informasi, sekarang menjadi sarana pembelajaran yang tidak hanya bagi sekolah tapi juga bagi masyarakat luas.

 Wabah Covid-19 ini pun akan mengevolusi beberapa metode atau model pembelajaran yang sudah biasa atau konvensional. Para guru dipaksa untuk meninggalkan proses pembelajaran konvensional dan memunculkan proses pembelajaran yang tidak biasanya salah satunya yaitu pembelajaran secara daring. Pembelajaran secara daring akan meminimalisir proses pembelajaran dengan pertemuan fisik. Bukan hal yang aneh apabila proses pembelajaran daring akan diteruskan meskipun wabah penyakit sudah selesai. Karena tidak hanya sebatas wabah Covid-19, keadaan belajar di rumah dapat juga terjadi dengan kondisi tertentu seperti bencana alam ataupun terjadi konflik sosial yang tidak memungkin siswa untuk belajar di sekolah akan tetapi memungkinkan sebagai suatu variasi dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran. 

 

Pada akhirnya sekolah menjadi terbiasa bahwa tidak selamanya guru harus mengajar langsung di sekolah dan siswa tidak harus belajar dengan hadir langsung di sekolah. Sekolah akan menyadari bahwa yang sesungguhnya dibutuhkan siswa adalah bukan lagi apa yang dipelajari melainkan bagaimana caranya belajar. Dalam hal ini, peran seorang guru sangat dibutuhkan, karena mereka harus membimbing siswa tentang caranya belajar dengan memanfaatkan internet dan gawai.

 Kreativitas guru dalam memberikan  materi pembelajaran secara daring pun akan mulai dipacu untuk ditingkatkan. Mulai dari membuat video pembelajaran yang bisa diunggah di Youtube, sosial media ataupun di aplikasi yang berbasis Learning Management System (LMS) seperti Google Classroom, Moodle, Edmondu, Rumah Belajar dan aplikasi pembelajaran daring lainnya baik yang gratis ataupun yang berbayar.  Selain itu guru juga dapat memaksimalkan penggunaan aplikasi tatap muka seperti Webex, Zoom, Skype, Hangout dan sebagainya dalam pelaksanaan kegiatan belajar secara daring.  

 Dengan banyaknya platform khusus pembelajaran daring, guru harus selektif memilih dan menggunakannya. Guru harus melihat apakah platform pembelajaran itu layak atau tidak untuk direkomendasikan ke siswa atau malah dapat membingungkan mereka. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru ketika menggunakan platform pemebelajaran tersebut, seperti : kemudahan mengakses, tingkat kemudahan atau kesulitan tiap menu atau fasilitas yang ada di platform tersebut, kapasitas perangkat gawai yang diperlukan atau besarnya memori yang dibutuhkan, dan yang paling penting adalah factor keamanan dalam penggunaannya.

 

Oktariana Dwi W, S.Pd, M.Pd

Pengembang Teknologi Pembelajaran Ahli Muda LPMP Kalimantan Barat

               
Sunday, 12 April 2020 21:15

Pelatihan Membuat Website dengan New google sites

Written by

 

khususnya bapak/ibu Guru di mana pun berada. BPMPK akan mengadakan "Pelatihan Pembuatan Website dengan New Google Site" secara daring (online)

Pembuatan website ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana e-pembelajaran bagi guru dan siswa dengan menggunakan New Google Site. Harapannya pada masa beraktifitas di rumah ini guru dapat mengembangkan sendiri sebuah fasilitas e-pembelajaran berbasis web untuk proses pembelajaran siswanya selama #BelajarDiRumah

Ayo ikut pelatihan ini, GRATIS!!! Syaratnya:
1. Bapak/Ibu adalah guru
2. Daftarkan diri Bapak/Ibu melalui https://m-edukasi.kemdikbud.go.id/bimtek-online
3. Memiliki laptop/PC
4. Pastikan akses internet lancar

Catat dan ingat waktu pendaftarannya. Kami tunggu pastisipasi Bapak/Ibu karena jumlah peserta terbatas.

Page 1 of 4