Warta Pendidikan

Warta Pendidikan (384)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Dunia Pendidikan

Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerja sama dengan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) kembali menggelar kompetisi sepak bola jenjang pendidikan SMP, Gala Siswa Indonesia (GSI) tingkat nasional tahun 2019. Kompetisi ini diikuti siswa dari 34 provinsi se-Indonesia, berlangsung pada tanggal 8 s.d. 19 Oktober 2019.

“Tahun 2019 ini kita kembali menyelenggarakan Gala Siswa Indonesia, kejuaraan sepak bola tingkat SMP, yang kedua kalinya, setelah tahun lalu kita berhasil melaksanakan. Penyelenggaraan GSI memiliki landasan hukum yang sangat kuat yaitu berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 3 tahun 2019,” terang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy saat membuka Gala Siswa Indonesia jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) Tingkat Nasional Tahun 2019, di Gelanggang Olahraga (GOR) Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (8/10/2019).

Mendikbud berharap agar para siswa yang berlaga dalam pertandingan ini bisa menunjukkan bakat dan permainan terbaik mereka. Pemenang kejuaraan ini akan mendapatkan kesempatan berlatih sepak bola dari klub terkenal di luar negeri. “Satu lagi pesan saya, jaga sportivitas, junjung tinggi kejujuran, bermainlah dengan cerdas, tunjukkan bahwa anak-anak SMP Indonesia bisa diandalkan bermain sepak bola,” kata Mendikbud.

“Seperti tahun lalu, akan saya minta yang nanti menjadi juara untuk mendapatkan kesempatan berlatih ke luar negeri, mengikuti pelatihan di beberapa klub sepak bola yang terkenal baik di Asia maupun di Eropa. Mudah-mudahan nanti bisa berjalan dengan baik. Karena itu, kalau ingin Anda semua berangkat keluar negeri untuk mengikuti pelatihan khususnya di klub-klub terkenal, jadilah juara pada kesempatan kali ini”, imbuh Mendikbud.

Penyelenggaraan GSI, kata Mendikbud, harus menjadi titik balik dunia persepakbolaan Indonesia. Namun harus disadari bahwa kerja sama antar instansi sangat penting untuk pembinaan bibit-bibit unggul di bidang persepakbolaan. “Harapan besar saya untuk event GSI ini akan bisa terdeteksi talenta-talenta hebat yang memiliki bakat istimewa di bidang persepakbolaan. Tapi memang Kemendikbud tidak mungkin berjalan sendirian. Oleh karena itu, harapan kami agar pihak Kemenpora akan memberikan dukungan. Begitu pula dengan KONI dan PSSI,” tutur Mendikbud.

“Saya berterima kasih kepada PSSI dan KONI yang selama ini telah bekerja sama dengan baik. Berdasarkan pengamatan saya, tahun ini pelaksanaannya jauh lebih rapi, dan saya berharap akan muncul talenta-talenta yang terdeteksi dan bisa dibina selanjutnya,” ucap Mendikbud.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kemendikbud, Didik Suhardi, mengungkapkan, penyelenggaraan GSI dilaksanakan secara bertahap, mulai dari tingkat sekolah, kemudian tingkat kecamatan, tingkat kabupaten/kota, dan tingkat provinsi. “Pada tingkat kecamatan di ikuti oleh 2.524 kecamatan, dengan jumlah pertandingan sebanyak 3.517 kali. Kemudian, yang lolos bertanding di tingkat kabupaten yaitu sebanyak 268
tim dengan jumlah pertandingan sebanyak 1.351 kali, yang lolos di tingkat kabupaten kemudian maju ke pertandingan tingkat provinsi dengan jumlah pertandingan sebanyak 335 kali. Jumlah sekolah yang terlibat dalam GSI sebanyak 11.723 sekolah, dengan melibatkan 122.979 siswa. Jadi yang sudah datang ke Jakarta ini adalah mereka yang terbaik di antara yang terbaik”, tutur Didik.

Pertandingan GSI tingkat nasional dilaksanakan di dua lapangan, yakni di stadion Gelanggang Olahraga (GOR) Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan, dan stadion Cendrawasih Cengkareng, Jakarta Barat. “Saya berharap pelaksanaan GSI ini dapat menumbuhkan talenta-talenta yang luar biasa dan maju bersama memajukan persepakbolaan Indonesia,” pungkas Didik.

 

foto

Kamis, 10 Oktober 2019 10:06

Bulan Oktober, Bulan Bahasa dan Sastra

Written by

Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan kembali menggelar kegiatan kebahasaan dan kesastraan yang bertepatan pada setiap bulan Oktober, yaitu Bulan Bahasa dan Sastra. Kegiatan ini bukan hanya untuk memperingati 91 tahun Sumpah Pemuda, melainkan untuk membina dan mengembangkan bahasa dan sastra Indonesia, serta bertekad memelihara semangat dan meningkatkan peran masyarakat luas dalam menangani masalah bahasa dan sastra.

Bulan Bahasa dan Sastra secara rutin diselenggarakan Kemendikbud pada bulan Oktober sejak tahun 1980 sebagai salah satu bentuk memperingati hari lahirnya Sumpah Pemuda, yang menyepakati Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Tema yang diusung pada kegiatan ini adalah “Maju Bahasa dan Sastra, Maju Indonesia”.

Kegiatan diselenggarakan selama bulan Oktober yang puncak pelaksanaannya pada 28 Oktober 2019 di Provinsi DKI Jakarta. Kegiatan ini terdiri dari beberapa rangkaian kegiatan, mulai dari debat bahasa, lomba mendongeng, festival teater, bedah buku, kuis, hingga festival film pendek, diselenggarakan secara beruntun selama bulan Oktober 2019. Pada minggu pertama Oktober 2019 digelar kegiatan Debat Bahasa Antarmahasiswa, Pemartabatan Bahasa Negara di Lingkungan Dharma Wanita Persatuan Pusat, dan Simulasi Layanan Kebahasaan yang berlangsung pada 1 s.d. 4 Oktober 2019.

Selanjutnya, pada minggu kedua, digelar Lomba Mendongeng bagi Difabel dan Festival Teater Rakyat yang berlangsung pada 6 s.d. 13 Oktober 2019. Pada minggu ketiga, digelar Bedah Buku Penerimaan Penghargaan Sastra Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kuis Pelita dan Bahasa, dan Zona Literasi yang berlangsung pada 15 – 18 Oktober 2019.

Kemudian pada minggu terakhir digelar Bincang-Bincang Satu Dasarwasa Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2019 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, hingga ditutup dengan Festival Film Pendek Bahasa Derah yang berlangsung pada 21 Oktober 2019 hingga puncak pelaksanaan pada 28 Oktober 2019.

Tempat pelaksanaan rangkaian kegiatan ini di Gedung Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, di Rawamangun, Jakarta Timur. Terdapat beberapa narahubung di setiap kegiatan untuk memudahkan peserta untuk melakukan pendaftaran ataupun menanyakan informasi lebih lanjut mengenai kegiatan.

Bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa, Bahasa Indonesia juga mewadahi berbagai macam pengetahuan baik berasal dari kearifan nusantara maupun konsep peradaban barat. Beberapa upaya yang dilakukan untuk memajukan bahasa Indonesia antara lain melaksanakan peraturan perundangan yang menjaga dan memastikan keberadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa sejarah, mengembangkan lema atau kosakata, melakukan pembinaan dan penyuluhan bahasa, serta menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional.

FLS2N  merupakan kegiatan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional yang bertujuan untuk memberikan wadah berkreasi dengan menampilkan karya kreatif dan inovatif peserta didik Sekolah Dasar dengan mengedepankan sportivitas dalam pengembangan diri secara optimal sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan. Pada tahun 2019, Provinsi Kalimantan Barat mengirimkan 7 siswa SD untuk mengikuti lomba setelah melalui beberapa tahap seleksi, yaitu :

NO

NAMA

CABANG LOMBA

ASAL SEKOLAH

KABUPATEN/KOTA

1

Nimas Mucika Novesa

Menyanyi solo

SD Islam Terpadu Nurul Islam

Singkawang

2

Fahril Ismaji

Pantomin

SDN 32 Pontianak Tenggara

Pontianak

3

Angeline Keisya Andani

Gambar bercerita

SD Bruder Melati

Pontianak

4

Abdel Azis

Seni tari

SDN 40 Pontianak Utara

Pontianak

5

Toher

Seni tari

SDN 40 Pontianak Utara

Pontianak

6

Ahmad Khoiruddin

Seni tari

SDN 40 Pontianak Utara

Pontianak

7

Suchi Nurhaliza

Kriya Anyam

SDN 06 Peniti

Sekadau

 

Peserta FLS2N-SD dari Provinsi Kalimantan Barat berangkat mengikuti lomba tingkat nasional di Hotel Allium Tangerang, Banten beserta 5 orang pelatih (Sumiati, S.Pd, SD pelatih penyanyi solo, Fahrizal, SH  pelatih pantomin, Yeny Widjaja pelatih gambar bercerita, Asmanto, S.Pd pelatih seni tari, Janjemah, S.Pd, SD pelatih kriya anyam)  dan 1 orang ketua tim dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat (Ryan Wahyudi, A.Md) untuk mengikuti perlombaan yang terdiri dari 5 jenis bidang lomba, yaitu lomba menyanyi solo, lomba seni tari, lomba pantomime, lomba gambar bercerita dan kriya anyam.

 

Setelah mengikuti FLS2N-SD yang dilaksanakan tanggal 15 - 21 September 2019, beberapa prestasi berhasil diraih oleh peserta dari Provinsi Kalimantan Barat, yaitu :

  1. Juara 1 tari, diraih oleh Abdel Aziz, Toher dan Ahmad Khoiruddin dari SDN 40 Pontianak Utara
  2. Juara 3 pantomin, diraih oleh Fahril Ismaji dari SDN 32 Pontianak Tenggara
  3. Juara harapan 2 gambar cerita, diraih oleh Angeline Keisya Andani dari SD Bruder Melati Pontianak

 

Kegiatan FLS2N-SD ini diharapkan dapat meningkatkan kreativitas dan memotivasi peserta didik untuk mengekspresikan diri melalui kegiatan sesuai dengan minat, bakat dan kemampuannya. Melalui kegiatan FLS2N-SD ini pula diharapkan dapat tetap terpeliharanya semangat dan komitmen para praktisi pendidikan di daerah, sehingga memungkinkan mereka selalu berupaya mengembangkan proses pendidikan khususnya bidang seni dan budaya.

Natuna, Kemendikbud --- Program digitalisasi sekolah akan didukung dan ditindaklanjuti dengan peningkatan kompetensi guru, khususnya di bidang penguasaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Hal ini karena guru merupakan ujung tombak dan penentu keberhasilan program digitalisasi sekolah untuk mempercepat terciptanya sumber daya manusia Indonesia yang unggul.

"Kunci berhasil atau tidaknya program digitalisasi sekolah ada pada guru. Jadi kompetensi guru harus baik. Guru harus belajar tiap hari baik bersama instruktur, belajar sendiri, ataupun belajar dengan koleganya dalam asosiasi guru," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy saat meluncurkan program digitalisasi sekolah di Gedung Srindit Ranai Kabupaten Natuna Kepulauan Riau, Rabu (18/9/2019).

Peningkatan kompetensi guru merupakan program prioritas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang terus ditingkatkan kualitas pelaksanaannya. Peningkatan kompetensi guru dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud. Program ini akan dilaksanakan berbasis zona dengan mengoptimalkan peran kelompok kerja guru (KKG) dan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP).

Menurut Mendikbud, peran guru di era revolusi industri 4.0 semakin penting dan vital. "Guru tidak hanya mengajar, namun sekarang guru harus menguasai sumber-sumber dimana anak-anak bisa belajar. Anak-anak bisa belajar dari mana saja, dan guru mengarahkan," kata Muhadjir Effendy. Dengan kata lain guru berfungsi sebagai penghubung sumber belajar atau resorce linker.

Guru juga berperan sebagai fasilitator dalam pembelajaran. "Peran guru memfasilitasi, mencari narasumber yang relevan, siswa harus belajar dengan siapa, kemudian memerlukan fasilitas apa," ujar mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang tersebut.  

Selain itu, peran guru yang juga sangat penting adalah sebagai penjaga gawang informasi atau gate keeper. "Informasi mana yang membahayakan harus dibendung oleh guru. Ancaman kita semakin lama sangat besar, pengaruh ideologi yang bertentangan dengan Pancasila," kata Mendikbud menambahkan.

Rabu, 18 September 2019 07:51

Kemendikbud Luncurkan Program Digitalisasi Sekolah

Written by admin2019

Jakarta, Kemendikbud --- Dalam rangka pengembangan digitalisasi sekolah khususnya di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan program Digitalisasi Sekolah. Peluncuran perdana program ini dilakukan langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, pada Rabu (18/09/2019), ditandai dengan pemberian sarana pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) kepada sekolah serta komputer tablet kepada siswa.

“Digitalisasi Sekolah merupakan terobosan baru di dunia pendidikan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dalam berbagai aspek pengajaran,” kata Mendikbud pada jumpa pers peluncuran program Digitalisasi Sekolah, di Perpustakaan Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Selasa (17/09/2019).

Kelebihan sistem ini, kata Mendikbud, mempermudah proses belajar mengajar, karena para siswa dapat mengakses semua bahan ajar ataupun bahan ujian dalam satu jaringan. “Sarana pembelajaran TIK yang diberikan berupa PC, laptop, LCD, router, dan eksternal hard disk. Sekolah yang akan menerima sarana pembelajaran tersebut di Kabupaten Natuna sebanyak 38 unit sekolah, terdiri dari 25 SD, 9 SMP, 3 SMA, dan 1 SMK. Sarana pembelajaran TIK ini bertujuan untuk mempermudah sekolah melaksanakan program Digitalisasi Sekolah,” jelas Mendikbud.

Sedangkan untuk komputer tablet akan diberikan kepada 1.142 siswa, terdiri dari 508 siswa SD, 303 siswa SMP, 228 siswa SMA, dan 103 siswa SMK. Komputer tablet tersebut telah dipasangkan aplikasi rumah belajar yang menyediakan delapan fitur utama, yakni sumber belajar, buku sekolah elektronik, bank soal, laboratorium maya, peta budaya, wahana jelajah angkasa, pengembangan keprofesian berkelanjutan, dan kelas maya.

“Mengingat letak geografis sekolah sasaran dan kondisi cuaca yang tidak memungkinkan, maka pemberian sarana pembelajaran TIK dan tablet akan diberikan kepada 18 sekolah dan 590 siswa. 20 sekolah dan 552 siswa yang terkendala faktor geografis dan cuaca akan tetap diberikan bantuan digitalisasi sekolah,” ujar Mendikbud.

Digitalisasi Sekolah merupakan implementasi dari new learning, yang disiapkan untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Karakteristik new learning tersebut adalah student centered, multimedia, collaborative work, information exchange, dan critical thinking and informed decision making. Total anggaran untuk pembelian sarana pembelajaran TIK dan komputer tablet sebesar Rp 3.176.000.000.

“Dana tersebut diambilkan dari BOS Afirmasi dan BOS Kinerja. Tahun 2019 Kemendikbud telah menganggarkan bantuan sarana pembelajaran TIK dan tablet melalui BOS Kinerja untuk 6.004 sekolah dan 692.212 siswa. Sedangkan BOS Afirmasi untuk 30.277 sekolah dan 1.061.233 siswa,” terang Mendikbud.

Selain program Digitalisasi Sekolah, Kemendikbud juga mencanangkan lima program lain. Program tersebut adalah percepatan pencairan Program Indonesia Pintar (PIP), Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP), seTARA Daring dan E Modul Pendidikan Kesetaraan, serta laman Sahabat Keluarga, dan Bimbingan Calon Fasilitator (BCF) Pendidikan Keluarga dalam Jaringan. *

Halaman 1 dari 77