Warta Pendidikan

Warta Pendidikan (413)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Dunia Pendidikan

Jakarta, Kemendikbud – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengapresiasi Laporan Pemantauan Pendidikan Global (Global Education Monitoring Report) UNESCO Tahun 2020, pada Webinar Sosialisasi dan Respon terhadap Global Education Monitoring (GEM) Report 2020 dengan tajuk “All Means All”, secara daring di Jakarta (10/9/2020).
 
Laporan GEM tahun ini mencatat kesenjangan tingkat literasi orang dewasa dengan disabilitas di Indonesia mencapai 41%. Di sisi lain, tingkat kehadiran pelajar pendidikan menengah (usia 15 tahun) di Indonesia telah meningkat, walau perkembangannya masih di bawah syarat pencapaian Sustainable Development Goals yang telah disepakati oleh negara-negara anggota PBB pada tahun 2015, termasuk Indonesia.
 
Kemendikbud mengusung semangat inklusivitas dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan pendidikan sejak awal di tahap pembuatan kebijakan. “We never do anything alone. Seluruh kebijakan kita mendapatkan masukan, saran, dan nasihat dari berbagai pemangku kepentingan, ahli-ahli pendidikan, masyarakat, juga wakil pemerintah daerah dan pusat. Semuanya memberikan informasi pada Kemendikbud dalam membuat kebijakan. Sebab dalam pendidikan tidak ada satu jawaban tunggal. Education has the highest level of complexity. Semua butuh kolaborasi untuk mencapai hasil yang lebih baik,” tutur Mendikbud.
 
Tantangan pendidikan di Indonesia, menurut Mendikbud, tanpa pandemi Covid-19 pun sudah sangat besar. Baik secara geografi, budaya, maupun infrastruktur. Namun Kemendikbud tetap berupaya menyusun kebijakan terbaik untuk memastikan pembelajaran tetap berjalan. “PJJ bukanlah kebijakan Kemendikbud. Metode ini dipilih agar pendidikan tetap hadir, khususnya bagi anak-anak usia sekolah, dalam suasana yang menyenangkan dan aman,” katanya.
 
Desmond Lim, perwakilan Kementerian Pendidikan Negara Brunei Darussalam menyampaikan terima kasih atas paparan Mendikbud RI mengenai upaya-upaya luar biasa dan inspiratif yang dilakukan Indonesia untuk mencapai perubahan transformasional. “Terima kasih atas kesempatan ini,” ujarnya.
 
Di waktu yang sama, Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri, Hani Nur Cahya Murni mengapresiasi upaya Kemendikbud dalam mendorong inklusivitas pembelajaran di tengah pandemi. Ia menyebut bahwa sesuai mandat UU No. 23 Tahun 2014, pemerintah daerah wajib menyelenggarakan pendidikan. Di tingkat kabupaten/kota untuk pendidikan dasar (SD-SMP), dan di tingkat provinsi untuk pendidikan menengah (SMA-SMK), sementara pendidikan tinggi ada di Kemendikbud. “Artinya, perlu bersama-sama,” tegasnya.
 
Staf Ahli Bidang Organisasi, Birokrasi, dan Teknologi Informasi Kementerian Keuangan, Sudarto menyampaikan hal senada. Ia mengatakan, butuh kerja bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan. “Pemerintah menjamin inklusivitas pendidikan, terutama bagi yang tidak mampu, misalnya lewat KIP, Beasiswa Bidikmisi, dan LPDP,” tuturnya.
 
 
Salah satu kebijakan inklusif Kemendikbud pada masa pandemi adalah relaksasi penggunaan Dana BOS, yang dalam masa pandemi ini dapat digunakan oleh kepala sekolah untuk mendanai kebutuhan sesuai dengan kekhasan sekolah masing-masing.
 
“Ada sekolah yang lebih butuh laptop untuk dipinjamkan kepada siswa, ada yang butuh kuota data, ada yang butuh untuk menggaji guru honorer, dan lain-lain. Ada keragaman kebutuhan yang dihadapi sekolah, sehingga kami memberikan keleluasaan penggunaan Dana BOS, tentunya dengan pertanggungjawaban dan akuntabilitas yang baik,” ujar Mendikbud.
 
Ditambahkan Mendikbud, Kemendikbud telah mengeluarkan kebijakan kurikulum di masa kondisi khusus sehingga sekolah diberikan hak untuk memakai kurikulum sesuai dengan kebutuhan sekolah. Apakah memilih kurikulum yang disederhanakan secara mandiri, kurikulum darurat yang disusun Kemendikbud, atau Kurikulum 2013.
 
“Secara dramatis, Kemendikbud telah menyederhanakan kurikulum agar peserta didik hanya mempelajari apa yang esensial saja untuk naik ke jenjang selanjutnya. Tidak mungkin guru mengajar seluruhnya, dengan keterbatasan yang ada,” tegas Mendikbud.
 
Mendikbud juga menegaskan bahwa orang tua memainkan peran penting, terutama pada pendidikan dasar dan anak usia dini (PAUD). Kemendikbud membuat modul-modul spesifik yang menyasar orangtua di rumah, lengkap dengan lembar kerja untuk orang tua. Kemendikbud juga memastikan bahwa penggunaan modul-modul ini di satuan pendidikan adalah legal sesuai dengan aturan yang ditetapkan. 
 
“Pada pandemi ini kita punya kesempatan membuat perubahan-perubahan fundamental pada penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Selain budgetary reform, banyak perubahan yang telah kita lakukan dalam dua-tiga bulan, yang biasanya butuh dua-tiga tahun,” kata Mendikbud.
 
Acara ini dihadiri perwakilan Kementerian Pendidikan negara-negara anggota ASEAN, perwakilan UNESCO, UNICEF, Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) serta pejabat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Dalam Negeri, dan Dinas Pendidikan seluruh Indonesia.
 
Ketua KNIU, Arief Rachman, berharap kegiatan ini menjadi tempat berbagi pengalaman, belajar bersama dan membangun kolaborasi untuk mengatasi tantangan pada pendidikan inklusif. “Praktik baik yang dilakukan Indonesia dapat menginspirasi negara lain untuk mengembangkan inovasi layanan pendidikan sesuai dengan karakteristik wilayahnya," demikian tutupnya di akhir acara.

Jakarta, Kemendikbud—Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Penguatan Pendidikan Karakter (Puspeka) menyelenggarakan Lomba Blog dan Vlog bertemakan Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19. Lomba ini merupakan rangkaian seri webinar yang diadakan Puspeka Kemendikbud pada bulan Agustus 2020.

Kepala Puspeka Kemendikbud, Hendarman, mengatakan, kompetisi ini menjadi wadah penyaluran kreativitas dan berekspresi bagi generasi milenial dan generasi Z dalam menulis serta membuat video. Hal tersebut diterangkan Hendarman melalui sambungan telepon di Jakarta, Sabtu (12/9/2020).

Diadakannya lomba ini bertujuan untuk memperluas publikasi dari substansi rangkaian webinar kurikulum kondisi khusus dan relaksasi pembelajaran tatap muka di zona kuning. Selain itu, lomba ini juga memberikan wadah berekspresi dan berkompetisi bagi para penulis blog dan pembuat vlog, serta memberikan variasi dan pemicu daya tarik agar peserta tetap setia mengikuti webinar selanjutnya. Dan yang tidak kalah penting lomba ini untuk menyampaikan pesan praktik baik terkait kebijakan pembelajaran di masa pandemi Covid-19.

Lomba akan digelar dalam enam kategori peserta, yaitu siswa SMP sederajat, siswa SMA/SMK sederajat, mahasiswa, pendidik, tenaga kependidikan, serta peserta umum. Hendarman mengajak para peserta didik, pendidik, dan masyarakat berbagi informasi dan cerita inspiratif mengenai pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Dengan demikian, semua tripusat pendidikan yang mengikuti kegiatan ini dapat menyalurkan bakatnya dan menjawab kebutuhan zaman untuk meningkatkan peran seluruh elemen masyarakat dalam membangun karakter profil Pelajar Pancasila.

Berikut syarat dan ketentuan umum dari Lomba Blog dan Vlog ini. (1) Hasil karya bersifat orisinal, tidak melanggar hak kekayaan intelektual pihak manapun, dan belum pernah dipublikasi sebelumnya; (2) Apabila karya menggunakan musik yang memiliki hak cipta, peserta harus melampirkan izin dari pemilik hak cipta tersebut; (3) Karya yang diikutsertakan dalam lomba tidak sedang diikutsertakan dalam lomba sejenis; (4) Seluruh karya tidak mengandung unsur ujaran kebencian, SARA, pornografi, kekerasan, dan politik; (5) Seluruh peserta hanya boleh mengikuti salah satu lomba: blog atau vlog; (7) Peserta lomba blog bersifat individu; (8) Peserta lomba vlog dapat bersifat individu maupun tim; (9) Seluruh peserta tidak dipungut biaya dalam mengikuti lomba; (10) Kemendikbud berhak menggunakan seluruh karya yang diikutkan pada lomba; (11) Keputusan akhir juri tidak dapat diganggu gugat; dan (12) Peserta yang mengirimkan karya lebih dari satu kali, maka panitia akan menilai karya akhir yang dikirimkan.

Para peserta dapat mengirimkan karyanya untuk mengikuti lomba vlog dengan mengunggah ke media sosial Instagram dan memberikan tagar #CerdasBerkarakter, #VlogBerkarakter, #SeruBelajarKebiasaanBaru, dan #BahagiaBelajardiRumah.

Sedangkan untuk mengikuti lomba blog peserta dapat mengunggah karya ke laman Blogger, Wordpress, atau akun Facebook dengan mencantumkan tagar #CerdasBerkarakter, #BlogBerkarakter, #SeruBelajarKebiasaanBaru, dan #BahagiaBelajardiRumah.

Seluruh hasil karya peserta wajib diunggah melalui laman Puspeka Kemendikbud: cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id. Pengiriman karya dapat dilakukan mulai tanggal 30 Agustus 2020 sampai dengan 17 September 2020. Seluruh karya yang masuk akan dikurasi dan diseleksi untuk menentukan pemenang masing-masing kategori yang akan diumumkan pada 26 September 2020. Enam pemenang akan mendapatkan hadiah gawai dan 20 karya terbaik pada masing-masing kategori akan mendapatkan hadiah menarik.

Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Data dan Teknologi Informasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pusdatin) terus berupaya meningkatkan kompetensi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pembelajaran. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengapresiasi program Pembelajaran berbasis TIK (PembaTIK) ini yang dinilai tidak hanya mensinergikan teknologi informasi dalam pembelajaran namun juga terus bersemangat mengembangkan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Program Pembelajaran berbasis TIK (PembaTIK) khususnya Rumah Belajar merupakan inisiatif Pusdatin Kemendikbud yang telah menjadi wadah kita bersama untuk terus berinovasi dalam mengajar, tutur Nadiem ketika membuka Kuliah Umum Pembekalan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (PembaTIK) Level 4: Berbagi yang berlangsung dalam jaringan (daring) di Jakarta, Senin (14/9/2020).

Dengan tajuk Berbagi Inovasi Pembelajatan Berbasis TIK Mewujudkan Merdeka Belajar acara ini diikuti oleh guru-guru calon Duta Rumah Belajar. Selama lima hari ke depan, para peserta akan dibekali wawasan yang berkaitan dengan kemampuan yang mereka miliki melalui tulisan, video, sosial media, video konferensi, serta membentuk guru-guru untuk memiliki kompetensi public speaking.

Pada kesempatan ini saya juga ingin mengapresiasi bapak dan ibu guru Duta Rumah Belajar yang tanpa pamrih menjadi contoh di daerah masing-masing dalam melakukan inovasi pembelajaran. Kami segenap jajaran di Kemendikbud terus mendukung inisiatif berinovasi bapak ibu guru semua, tutur Mendikbud.

Mendikbud mengapresiasi seluruh pihak yang telah memberikan dedikasinya terhadap pemanfaatan teknologi informasi di dunia pendidikan, tak terkecuali untuk Hendriawan S, yang menggawangi pengembangan Rumah Belajar. Sebagai bentuk penghormatan, Nadiem menyampaikan bela sungkawa atas wafatnya Alm. Hendriawan S. Kami bangga terhadap dedikasi beliau, mari kita bersama-sama mendoakan almarhum, semoga karya dan dedikasinya menjadi amal ibadah yang diterima di sisi-Nya, tutur Mendikbud.  

Saya ingin menyampaikan betapa bangganya saya ketika mengetahui program pelatihan guru PembaTIK tahun ini diikuti lebih dari 60000 guru, atau seribu persen peningkatannya dari pertama kegiatan ini diselenggarakan dua tahun lalu, lanjutnya.

Angka tersebut menurut Nadiem merupakan pencapaian yang luar biasa, dan juga penanda bahwa banyak guru yang ingin meningkatkan kemampuan mengimplementasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran, terutama di masa pandemi COVID-19. Situasi saat ini memaksa kita supaya lebih lebih keras dan lebih cerdas sehingga pembelajaran dapat berlangsung. Oleh karena itu, kompetensi guru dalam penguasaan teknologi menjadi krusial, terang Nadiem.

Dijelaskan Mendikbud, guru adalah bibit penggerak pendidikan. Ia berharap, guru-guru dapat berinisiatif dan memiliki semangat tinggi untuk meningkatkan kompetensinya menghadapi tuntutan zaman. Tantangan di masa depan bukan berarti akan lebih mudah. Saya berharap semangat gotong royong yang semakin mantap di masa pandemi ini, bisa kita teruskan agar kita lebih siap beradaptasi, siap melakukan tindakan.  Tidak lagi menunggu perubahan itu terjadi, imbuhnya.

Kegiatan PembaTIK telah dilaksanakan sejak bulan Maret 2020 dan dilakukan secara berjenjang (levelling) dengan sistem seleksi dari Level 1: Literasi, Level 2: Implementasi, Level 3: Kreasi, hingga Level 4: Berbagi. Jumlah peserta yang mengikuti program PembaTIK pada tahun ini sendiri mencapai 70.312 guru hingga akhirnya terseleksi 1.020 guru per provinsi untuk mengikuti Level Berbagi yang akan dilaksanakan mulai tanggal 14 September 2020 hingga akhir Oktober 2020. Guru-guru peserta Level Berbagi nantinya merupakan calon Duta Rumah Belajar Nasional, guru-guru terlatih yang menjadi penggerak pemanfaatan TIK untuk pembelajaran, terutama dengan Platform Rumah Belajar.

Pelaksana tugas (Plt.) Pusdatin Kemendikbud, Hasan Chabibie mengungkapkan harapannya agar para peserta akan lebih komunikatif dalam berbagi kemampuan yang dimiliki, baik dalam bentuk menulis artikel, membuat video-video pembelajaran atau memfasilitasi komunikasi efektif. Duta inilah yang akan menjadi agen dalam pemanfaatan TIK yang ada di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Mereka akan secara kolaboratif dan sinergis berbagi ilmu, pengalaman dan bertukar wawasan dengan semua guru dari seluruh Indonesia, jelasnya.

Menurut Hasan, sejak tahun 2017-2019 para Duta Rumah Belajar yang terpilih mampu secara efektif melaksanakan tugas-tugas induknya dan penggerak inisiator implementator gagasan di tingkat lokal yang secara tidak langsung meningkatkan pemanfaatan TIK sebagai sarana pembelajaran secara nasional.  

Kegiatan Kuliah Umum PembaTIK Level 4: Berbagi ini, dimulai pada Senin, 14 September 2020 kemudian dilanjutkan dengan berbagai workshop seputar TIK dengan menghadirkan narasumber yang berkompeten seperti Charles Bonar Sirait yang akan membawakan materi terkait Kiat Sukses Bagi Para Pendidik untuk Berkomunikasi dengan Publik, Aktivis Pendidikan dan Pendiri Sokola Rimba, Butet Manurung untuk Motivasi Guru dalam Mengajar, penulis novel best seller Asma Nadia tentang Kiat Penulisan yang Menarik, influencer yang merupakan ex-jurnalis, Wicaksono atau biasa dikenal dengan @Ndorokakung yang akan membawakan Tips Sukses Menggunakan Sosial Media, serta Prof. Eko Indrajit yang akan menyampaikan Pemanfaatan Media Video Conference untuk Berbagi.

PembaTIK ini sendiri, tahun ini telah diikuti lebih dari 70 ribu guru dari pertama kali kegiatan ini diselenggarakan dua tahun lalu. Angka ini merupakan pencapaian yang luar biasa, terlebih hal ini juga menjadi indikator bahwa semakin banyak guru yang ingin meningkatkan kemampuannya untuk mengimplementasikan teknologi dalam mengajar di kesehariannya.

Para guru peserta kegiatan PembaTIK telah melewati level demi level yang tahun ini sepenuhnya dilaksanakan secara daring. Dari level Literasi TIK, para guru dibuka wawasannya terkait dasar-dasar teknologi pembelajaran, kemudian Level Impelementasi TIK, yang membekali para guru untuk terdorong dalam membangun strategi pengaplikasian teknologi dalam pembelajaran.

Setelah itu Level Kreasi TIK, guru diberikan kepercayaan diri untuk dapat menciptakan sendiri konten-konten pembelajaran. Di level terakhir adalah berbagi TIK, para guru peserta PembaTIK dibekali motivasi agar ilmu yang telah didapat selama ini tidak hanya berhenti di peserta, tapi dapat disebarluaskan ke rekan sejawat guru lainnya. Para guru inilah yang akan menjadi cikal dari guru-guru penggerak, guru-guru dengan inisiatif dan semangat tinggi untuk terus bekejar-kejaran dengan tuntutan zaman. Dari hasil kegiatan ini akan diambil lima wakil terbaik dari tiap provinsi yang layak menjadi wajah kementerian dalam hal pemanfaatan teknologi informasi aktivitas pembelajaran, tutur Hasan.

Akhir kata saya ucapkan selamat mengikuti pelaksanaan PembaTIK level 4 dengan tema berbagi inovasi pembelajaran mewujudkan Merdeka Belajar. Semoga tujuan kita untuk menciptakan kemerdekaan dalam belajar dan mengajar melalui inisiatif inovasi Bapak dan Ibu sekalian dapat segera tercapai, pungkas Mendikbud.

Jakarta, Kemendikbud --- Di tengah pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus berupaya dalam penuntasan buta aksara. Untuk itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim menyampaikan agar peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-55 tahun 2020 menjadi momentum perubahan paradigma pendidikan melalui pembelajaran literasi di masa pandemi COVID-19.

“Saya mengapresiasi luar biasa, meski tengah mengalami berbagai keterbatasan akibat pandemi COVID-19, kita tetap bersemangat untuk mengingat pentingnya melek huruf bagi setiap manusia, komunitas, dan masyarakat, untuk melakukan komunikasi sehingga kita dapat mengembangkan ilmu pengetahun dan teknologi,” disampaikan Mendikbud saat memberikan sambutan pada Peringatan HAI Tahun 2020 secara daring, di Jakarta, Selasa (08/09).

Tema Hari Aksara Internasional ke-55 yang diusung UNESCO pada tahun ini adalah “Literacy Teaching and Learning in the COVID-19 Crisis and Beyond’ with a Particular Focus on The Role of Educators and Changing Pedagogies”. Berkaitan dengan tema tersebut, Kemendikbud bersama Kementerian Dalam Negeri memastikan kebijakan pembelajaran literasi di tengah pandemi terlaksana dengan baik di daerah.

Mendikbud mengatakan, dalam penuntasan buta aksara berbagai strategi dilakukan Kemendikbud, seperti pemutakhiran data buta aksara, memperluas layanan program pendidikan keaksaraan, mengembangkan sinergi dalam upaya penuntasan buta aksara dan pemeliharaan kemampuan keberaksaraan warga masyarakat, serta mengakselerasi inovasi layanan program pada daerah terpadat buta aksara.

“Kita harus mengambil hikmah dari pandemi ini. Saat pandemi selesai, kita harus yakin akan keluar menjadi pemenang yang terus memiliki harapan dan cita-cita untuk mengentaskan buta aksara dari negara kita tercinta dan bersama-sama menghadirkan pendidikan yang berkualitas bagi Indonesia maju,” ujar Mendikbud.

Senada dengan itu, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah, Kemendikbud, Jumeri mengatakan strategi penuntasan buta aksara beberapa tahun terakhir difokuskan pada daerah tertinggal, terdepan, terluar (3T) karena daerah tersebut sulit dijangkau terutama di masa pandemi.


Jumeri berharap, masa krisis ini menjadi momentum bagi seluruh pihak untuk menunjukkan keberpihakannya terhadap peningkatan literasi. “Daerah 3T adalah bagian dari NKRI yang harus diperjuangkan, kolaborasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat diperlukan untuk menyukseskan pemberantasan buta aksara di Indonesia,” imbuhnya.

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Biro Pusat Statistik tahun 2019, jumlah penduduk buta aksara telah mengalami penurunan yang cukup signifikan. Persentase buta aksara tahun 2011 sebanyak 4,63 persen, dan pada tahun 2019 turun menjadi 1,78 persen.

“Artinya, angka buta aksara di Indonesia terus mengalami penurunan setiap tahunnya seiring dengan terlaksananya berbagai strategi yang inovatif dan menjawab kebutuhan belajar masyarakat,” kata Jumeri.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Kantor UNESCO di Jakarta, Shahbaz Khan mengatakan, Indonesia telah menjadi salah satu contoh negara yang mampu memastikan perkembangan literasi di seluruh penjuru negeri. Namun demikian, di dunia masih memiliki tantangan global yang nyata yaitu 773 juta penduduk usia remaja dan dewasa tidak memiliki kemampuan literasi dasar.

“Hal yang sama juga dihadapi oleh 617 juta anak dan remaja yang belum mampu mencapai kemampuan minimal bidang membaca dan Matematika. Terdapat banyak tantangan baru yang telah memengaruhi sekolah dan pembelajaran sepanjang hayat kita, terutama remaja atau orang dewasa yang tidak atau kurang memiliki kemampuan literasi dasar,” tutur Shahbaz Khan.

Di akhir sambutannya, Shahbaz mengapresiasi upaya Kemendikbud yang tetap memastikan terciptanya pembelajaran dan budaya literasi di masa pandemi COVID-19. “Terima kasih untuk kepemimpinan Indonesia dalam upaya meningkatkan literasi di seluruh dunia. Indonesia memiliki pemimpin yang baik untuk meningkatkan literasi,” tutup Shahbaz.

Daftar Penerima Penghargaan Pada HAI ke-55 Tahun 2020

Pada kesempatan ini, melalui Keputusan Mendikbud Nomor 786/P/2020, Kemendikbud memberikan penghargaan kepada 48 orang/lembaga yang telah berkonstribusi dalam bidang keaksaraan dan telah memberdayakan masyarakat melalui pendidikan keaksaraan dan layanan program pendidikan nonformal lainnya. Berikut adalah daftar penerima penghargaan pada HAI ke-55 Tahun 2020.

1.    Anugerah Aksara bagi pemerintah kabupaten/kota

a.    Kabupaten Situbondo Jawa Timur sebagai penerima Anugerah Aksara Madya
b.    Kota Serang Banten sebagai penerima Anugerah Aksara Pratama
c.    Kabupaten Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan sebagai penerima Anugerah Aksara Pratama


2.    Pegiat Pendidikan Keaksaraan bagi tokoh masyarakat/pengelola/tutor

a.    Yanti Lidiati dari Kabupaten Bandung, Jawa Barat
b.    Lilik Indahyani dari Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur
c.    Setiawan Adi Subagiyo dari Kabupaten Blitar, Jawa Timur
d.    I Gusti Ayu Pt. Darmayanti dari Kota Denpasar, Bali
e.    M. Arfah dari Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat
f.    M. Yusuf dari Kota Serang, Banten
g.    Beti Selvia dari Kabupaten Lebak, Banten
h.    Yati Riyati dari Kota Serang, Banten
i.    Taslifan Miftah Safitrah dari Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah


3.    Tokoh Adat Pendukung Pendidikan Keaksaraan pada Komunitas Adat Terpencil/Khusus

a.    Muhlis Paraja dari Komunitas Adat Pattallassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan
b.    Parlihan dari Komunitas Adat Dayak Pitap, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan
c.    Ateng Wahyudin dari Adat Kasepuhan Cirompang, Kabupaten Lebak, Banten
d.    Nuhung dari Suku Culambacu, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara
e.    Juhana dari Masyarakat Adat Cikondang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat
f.    Budianto dari Komunitas Adat Terpencil Jamu Samawa, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat


4.    Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kreatif/Rekreatif

a.    TBM Sukamulya Cerdas dari Kota Bandung, Jawa Barat
b.    TBM PPLG (Paguy'uban Pemuda Literasi Global) dari Kota Serang, Banten
c.    TBM Lingkaran dari Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara
d.    TBM Panti Baca Ceria dari Kabupaten Sumedang, Jawa Barat
e.    TBM Rumah Belajar Ilalang dari Kabupaten Jepara, Jawa Tengah
f.    TBM Perpustakaan Umum Dusun Jlegongan dari Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
g.    TBM Sarangge Baca Bima dari Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat
h.    TBM Hamfara Library dari Kabupaten Indragiri Hilir, Riau


5.    Publikasi Video Keaksaraan

a.    Fitri Fathia Paramitha Kinanti dari Kabupaten Gorontalo, Gorontalo
b.    PKBM Rumpin Inddas dari Kabupaten Situbondo, Jawa Timur
c.    Irham Yudha Permana dari Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat
d.    Juarita Manurung dari Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara
e.    Nur Jaya dari Kota Jayapura, Papua
f.    PKBM Amertha Yulia Ganesha dari Kabupaten Karangasem, Bali


6.    Publikasi Keaksaraan di Media Cetak

a.    Ichvan Sofyan dari Kota Bandar Lampung, Lampung
b.    Susanto dari Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
c.    Gusnaldi Saman dari Kota Padang, Sumatera Barat
d.    Saiful Rohman dari Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah


7.    Foto Literasi Keaksaraan

a.    Riyanto dari Kabupaten Rembang, Jawa Tengah
b.    Muhammad Iqbal Muttaqin dari Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
c.    Desrian Eristha dari Kota Padang, Sumatera Barat


8.    Video Keaksaraan

a.    Ekho Ardiyanto dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan
b.    Budi Purwanto dari Kota Semarang, Jawa Tengah
c.    Rossy Nurhayati dari Kabupaten Ciamis, Jawa Barat


9.    Apresiasi Menulis Praktik Baik Literasi

a.    Apip Kurniadin dari Kabupaten Garut, Jawa Barat
b.    Zainal Abidin dari Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan
c.    Aris Munandar dari Kabupaten Sukabumi, Jawil Barat
d.    Nayla Lutfia Syach dari Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara
e.    Kurnia Khoirun Nisa dari Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur
f.    Fauzul Hanif Noor Athief dari Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah


Pontianak,03/09/2020 - LPMP Kalimantan Barat - Dalam rangka koordinasi dengan berbagai instansi terkait, LPMP Provinsi Kalimantan Barat melakukan kunjungan ke Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat dan di terima langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Drs Sugeng Hariadi, MM.
Kunjungan ini bertujuan untuk menigkatkan tali silahturahmi dan koordinasi antara LPMP Provinsi Kalimantan Barat dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dalam melakukan sinergitas pembahasan mengenai sistem atau kebijakan pendidikan dan program-program kegiatan, dalam pertemuan yang penuh dengan suasana keakraban ini LPMP Provinsi Kalimantan Barat mengucapkan selamat bertugas kepada Drs. Sugeng Hariadi, M.M sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat yang telah resmi dilantik Gubernur Kalbar, H. Sutarmidji.

Page 1 of 83