Warta Pendidikan

Warta Pendidikan (388)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Dunia Pendidikan

Padang, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus berupaya mengatasi kekurangan guru di daerah terluar, tertinggal, dan terdepan (3T). Salah satu upaya yang ditempuh adalah membekali personel Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD)  yang akan ditempatkan di daerah 3T dengan kompetensi mengajar.

Kemendikbud melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK)  menggelar Bimbingan Teknis (bimtek) Penguatan Kompetensi dalam Proses Pembelajaran di Kelas, di dua batalyon yaitu Batalyon 133/Yudha Sakti Kota Padang Sumatra Barat dan Batalyon 641/Beruang Kota Singkawang Kalimantan Barat. Personel kedua batalyon tersebut akan bertugas di perbatasan Indonesia - Malaysia di Provinsi Kalimantan Barat, dalam waktu dekat ini.

Jumlah prajurit yang dilatih dalam bimbingan teknis kali ini berjumlah 900 orang. Kegiatan bimtek berlangsung dari tanggal 5 hingga 8 November 2019. Bimbingan teknis ini merupakan gelombang kedua tahun 2019, setelah pada Bulan Maret lalu dilaksanakan bimtek gelombang pertama.

Direktur Jenderal (Dirjen) GTK Kemendikbud, Supriano, mengatakan tugas para prajurit ini bukanlah untuk menggantikan guru, namun mengisi kekosongan guru sampai ada guru yang ditugaskan oleh dinas pendidikan. "Misalnya di SD tidak ada guru olahraga, para prajurit ini bisa mengajar olahraga, sampai nantinya ada guru olahraga yang ditugaskan oleh dinas pendidikan setempat," kata Supriano, ketika membuka bimtek di Markas Batalyon 113 Kota Padang, Selasa (5/11/2019).

Menurut Supriano, tugas mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tanggung jawab bersama, dan ia mengapresiasi TNI yang siap turut serta mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia tersebut. Nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama terkait hal ini, telah ditandatangani oleh pejabat Kemendikbud dan Kepala Staf TNI AD.

Dalam kesempatan tersebut, Asisten Teritorial Kepala Staf Angkatan Darat Mayor Jenderal Bakti Agus Fadjari mengatakan para prajurit TNI AD harus menjalankan tugas sebaik-baiknya. "Tugas operasi adalah tugas tertinggi dalam militer. Ini adalah kebanggaan setiap prajurit. Laksanakan tugas menjaga perbatasan, dan juga bantu pendidikan di daerah perbatasan. Jangan sampai mereka diajar justru oleh negara tetangga!" pesan Bakti Agus yang disambut tepuk tangan para prajurit.

Pontianak, 06/11/2019 - LPMP Kalbar - Memasuki akhir tahun anggaran 2019, berbagai program peningkatan mutu pendidikan sudah menuju tahapan akhir rangkaian kegiatannya. Demikian juga pada program Supervisi Mutu Pendidikan. Supervisi mutu merupakan suatu proses untuk mengawal upaya peningkatan mutu pada satuan pendidikan oleh LPMP bersama dengan Pengawas Sekolah. LPMP Kalimantan Barat melaksanakan kegiatan Analisis Supervisi Mutu Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat pada tanggal 5 sampai dengan 7 Nopember 2019, bertempat di ruang teleconference LPMP Kalimantan Barat.

Kegiatan Analisis Supervisi Mutu Pendidikan ini merupakan tindak lanjut dari hasil kegiatan Supervisi Satuan Pendidikan yang telah dilaksanakan oleh Pengawas Sekolah di sekolah-sekolah binaannya. Tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk menganalisis hasil supervisi di satuan pendidikan, sehingga diperoleh gambaran mutu pendidikan di kabupaten/kota, untuk kemudian dapat disusun rekomendasi yang diperlukan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di Provinsi Kalimantan Barat pada umumya.

Sasaran peserta dari kegiatan ini adalah sebanyak 40 orang, yang terdiri dari Pengawas Sekolah jenjang SD, SMP, dan SMA/SMKdari 14 kabupaten/kota serta unsur staf LPMP Kalimantan Barat.

Pelaksanaan kegiatan difasilitasi oleh narasumber-narasumber internal yaitu pejabat struktural maupun staf LPMP Kalimantan Barat, serta narasumber eksternal yang merupakan praktisi analis dan penyajian infografis hasil penelitian, yaitu Dr. Ali Hasmy, M.Si (Dosen IAIN Pontianak) dan Cahya Aulia Prastya, S.ST (Kepala Seksi Jaringan dan Rujukan Statistik BPS Provinsi Kalimantan Barat).

Materi kegiatan yang disajikan selama 3 (tiga) hari pelaksanaan kegiatan ini meliputi : Kebijakan Mutu Pendidikan Kemdikbud, Metode Analisis Hasil Supervisi Mutu, Metode Desain Grafis Supervisi Mutu, Penyusunan Sistematika Hasil Supervisi Mutu, Pengolahan Data Hasil Supervisi Mutu, Analisis Hasil Supervisi Mutu, Penyusunan Rekomendasi, dan Rencana Tindak Lanjut.

 

Jakarta, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim perdana menjadi pembina upacara di Kantor Kemendikbud dalam Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91, Senin (28/10/2019). Selain membacakan pidato resmi Hari Sumpah Pemuda dari Plt Menteri Pemuda dan Olahraga, Hanif Dhakiri, Mendikbud juga menyampaikan pidatonya secara khusus yang ditujukan untuk generasi muda Indonesia.

“Izinkan saya berbicara langsung kepada generasi muda negara ini,” kata Mendikbud mengawali pidatonya.

Ia mengatakan, sebagai menteri termuda di Kabinet Indonesia Maju, ia hadir dalam upacara untuk mewakili generasi milenial ke bawah. Menurut Mendikbud, kehadirannya membuka berbagai macam kesempatan untuk generasi berikutnya.

“Kawan-kawan pemuda, gerbang kita telah terbuka,” ujarnya dengan optimis.

Ia mengakui, ada pihak-pihak yang mempertanyakan kemampuannya dengan tanggung jawab besar memimpin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, termasuk dalam memenuhi ekspektasi masyarakat yang begitu tinggi.

“Waktulah yang akan menjawab. Tapi pada saat saya diberikan kesempatan dari Pak Presiden untuk membantu generasi berikutnya, saya tidak berpikir dua kali. Saya melangkah ke depan, apapun risikonya,” tegas Mendikbud dalam pidatonya di hadapan pejabat dan pegawai Kemendikbud.

Menurutnya, saat ini generasi muda Indonesia hidup dalam dunia yang bising karena banyak bisikan, godaan, dan pendapat. Di dalam kegaduhan tersebut sering sekali suara hati generasi muda terabaikan. Ia yakin pemuda Indonesia sadar di hatinya masing-masing, ke mana tujuan mereka ingin melangkah. Namun, kebisingan-kebisingan tersebut membuat generasi muda meragukan dirinya masing-masing, takut dipermalukan, takut dimusuhi, atau takut gagal. Ia pun memberikan motivasi kepada para pemuda.

“Kawan-kawan pemuda, satu-satunya kegagalan adalah kalau kita hanya diam di tempat. Dan satu-satunya kesuksesan adalah kalau kita terus melangkah ke depan. Kita mungkin tersandung-sandung, kita mungkin jatuh, tapi kita tidak akan tiba di tujuan hati kita kalau kita tidak melangkah bersama,” seru Mendikbud dalam pidatonya.

Ia juga mengimbau generasi muda agar tidak hanya menunggu dunia berubah, karena dunia ada di tangan pemuda. “Asal kita berani melangkah, kita tak akan pernah kalah,” tuturnya.

Upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Kantor Kemendikbud tahun ini berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Setelah semua rangkaian upacara dilakukan, ada penampilan beberapa pertunjukan seni, yaitu Tari Kolosal tentang Persatuan Indonesia, Musikalisasi Puisi dari SMK Musik Perguruan Cikini, dan penampilan Band Prodijis dari anak-anak berkebutuhan khusus.

Di akhir upacara, Mendikbud bahkan sempat melakukan swafoto bersama (wefie) dengan pegawai Kemendikbud yang menjadi peserta upacara. Suasana di lapangan upacara pun semakin meriah karena pegawai sangat antusias berfoto dengan Mendikbud Nadiem Makarim. Mereka mengenakan pakaian adat atau pakaian daerah selama mengikuti upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91.

Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengadakan Forum Badan Koordinasi dan Kehumasan (Bakohumas) Kementerian/Lembaga sebagai bentuk komunikasi program kebijakan kepada humas pemerintah dan masyarakat. Hal ini sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo mengenai kehumasan pemerintah yang meminta semua program pemerintah harus disosialisasikan ke masyarakat.

Forum Bakohumas dengan tema “Pengembangan Teknologi Pendidikan Melalui Digitalisasi Sekolah” dibuka oleh Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (BKLM) Kemendikbud, Ade Erlangga Masdiana, di Gedung A Kemendikbud, Jakarta, Selasa (15/10/2019).  Dalam sambutannya, Ade Erlangga mengatakan, ada konsekuensi yang dihadapi dunia pendidikan dalam memasuki industri 4.0 sehingga harus berbasis teknologi informasi. “Kemendikbud merespons itu dengan digitalisasi sekolah," ujarnya.

Menurutnya, digitalisasi sekolah sudah sewajarnya mulai digalakkan. Hal ini didukung dengan statistik dari  Asosisasi Penyelenggaraan Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2019, yang merilis data bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 150 juta orang dengan jumlah penduduk sebanyak 260 juta jiwa. Dilihat dari latar belakang pendidikan, sebesar 88-persen berasal dari lulusan S2 dan S3, dan 79,23-persen merupakan lulusan sarjana atau diploma. Melalui program Digitalisasi Sekolah, diharapkan guru terbiasa menggunakan internet dan kegiatan belajar mengajar. Guru juga dapat lebih mudah mengimplementasikan digitalisasi dalam pembelajaran.

Forum Bakohumas ini menghadirkan Direktur Infokom Polhukam Kementerian Komunikasi dan Informasi, Bambang Gunawan. Bambang mengatakan, teknologi muncul untuk memecahkan masalah di Indonesia. “Platform juga hadir untuk memecahkan masalah pendidikan di Indonesia," ujarnya. Platform yang digunakan Kemendikbud dalam melancarkan digitalisasi sekolah yaitu Rumah Belajar. Rumah Belajar bisa diakses secara gratis oleh masyarakat melalui laman belajar.kemdikbud.go.id atau aplikasi Rumah Belajar di ponsel berjenis android. Dalam pengembangannya, Rumah Belajar membutuhkan kontribusi dari berbagai pihak, antara lain untuk mengisi konten Rumah Belajar.

Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerja sama dengan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) kembali menggelar kompetisi sepak bola jenjang pendidikan SMP, Gala Siswa Indonesia (GSI) tingkat nasional tahun 2019. Kompetisi ini diikuti siswa dari 34 provinsi se-Indonesia, berlangsung pada tanggal 8 s.d. 19 Oktober 2019.

“Tahun 2019 ini kita kembali menyelenggarakan Gala Siswa Indonesia, kejuaraan sepak bola tingkat SMP, yang kedua kalinya, setelah tahun lalu kita berhasil melaksanakan. Penyelenggaraan GSI memiliki landasan hukum yang sangat kuat yaitu berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 3 tahun 2019,” terang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy saat membuka Gala Siswa Indonesia jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) Tingkat Nasional Tahun 2019, di Gelanggang Olahraga (GOR) Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (8/10/2019).

Mendikbud berharap agar para siswa yang berlaga dalam pertandingan ini bisa menunjukkan bakat dan permainan terbaik mereka. Pemenang kejuaraan ini akan mendapatkan kesempatan berlatih sepak bola dari klub terkenal di luar negeri. “Satu lagi pesan saya, jaga sportivitas, junjung tinggi kejujuran, bermainlah dengan cerdas, tunjukkan bahwa anak-anak SMP Indonesia bisa diandalkan bermain sepak bola,” kata Mendikbud.

“Seperti tahun lalu, akan saya minta yang nanti menjadi juara untuk mendapatkan kesempatan berlatih ke luar negeri, mengikuti pelatihan di beberapa klub sepak bola yang terkenal baik di Asia maupun di Eropa. Mudah-mudahan nanti bisa berjalan dengan baik. Karena itu, kalau ingin Anda semua berangkat keluar negeri untuk mengikuti pelatihan khususnya di klub-klub terkenal, jadilah juara pada kesempatan kali ini”, imbuh Mendikbud.

Penyelenggaraan GSI, kata Mendikbud, harus menjadi titik balik dunia persepakbolaan Indonesia. Namun harus disadari bahwa kerja sama antar instansi sangat penting untuk pembinaan bibit-bibit unggul di bidang persepakbolaan. “Harapan besar saya untuk event GSI ini akan bisa terdeteksi talenta-talenta hebat yang memiliki bakat istimewa di bidang persepakbolaan. Tapi memang Kemendikbud tidak mungkin berjalan sendirian. Oleh karena itu, harapan kami agar pihak Kemenpora akan memberikan dukungan. Begitu pula dengan KONI dan PSSI,” tutur Mendikbud.

“Saya berterima kasih kepada PSSI dan KONI yang selama ini telah bekerja sama dengan baik. Berdasarkan pengamatan saya, tahun ini pelaksanaannya jauh lebih rapi, dan saya berharap akan muncul talenta-talenta yang terdeteksi dan bisa dibina selanjutnya,” ucap Mendikbud.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kemendikbud, Didik Suhardi, mengungkapkan, penyelenggaraan GSI dilaksanakan secara bertahap, mulai dari tingkat sekolah, kemudian tingkat kecamatan, tingkat kabupaten/kota, dan tingkat provinsi. “Pada tingkat kecamatan di ikuti oleh 2.524 kecamatan, dengan jumlah pertandingan sebanyak 3.517 kali. Kemudian, yang lolos bertanding di tingkat kabupaten yaitu sebanyak 268
tim dengan jumlah pertandingan sebanyak 1.351 kali, yang lolos di tingkat kabupaten kemudian maju ke pertandingan tingkat provinsi dengan jumlah pertandingan sebanyak 335 kali. Jumlah sekolah yang terlibat dalam GSI sebanyak 11.723 sekolah, dengan melibatkan 122.979 siswa. Jadi yang sudah datang ke Jakarta ini adalah mereka yang terbaik di antara yang terbaik”, tutur Didik.

Pertandingan GSI tingkat nasional dilaksanakan di dua lapangan, yakni di stadion Gelanggang Olahraga (GOR) Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan, dan stadion Cendrawasih Cengkareng, Jakarta Barat. “Saya berharap pelaksanaan GSI ini dapat menumbuhkan talenta-talenta yang luar biasa dan maju bersama memajukan persepakbolaan Indonesia,” pungkas Didik.

 

foto

Halaman 1 dari 78