Warta Pendidikan

Warta Pendidikan (418)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Dunia Pendidikan

Pontianak,03/09/2020 - LPMP Kalimantan Barat - Dalam rangka koordinasi dengan berbagai instansi terkait, LPMP Provinsi Kalimantan Barat melakukan kunjungan ke Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat dan di terima langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Drs Sugeng Hariadi, MM.
Kunjungan ini bertujuan untuk menigkatkan tali silahturahmi dan koordinasi antara LPMP Provinsi Kalimantan Barat dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dalam melakukan sinergitas pembahasan mengenai sistem atau kebijakan pendidikan dan program-program kegiatan, dalam pertemuan yang penuh dengan suasana keakraban ini LPMP Provinsi Kalimantan Barat mengucapkan selamat bertugas kepada Drs. Sugeng Hariadi, M.M sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat yang telah resmi dilantik Gubernur Kalbar, H. Sutarmidji.

Jakarta, Kemendikbud — Kegiatan Pramuka adalah ekstrakurikuler utama di sekolah. Banyak manfaat yang bisa diambil bagi siswa yang mengikuti kegiatan ini. Alasan tersebut yang mendorong Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk menyelenggarakan Pramuka Penggalang di tingkat nasional.
 
“Dengan mengikuti kegiatan pramuka, siswa akan diajarkan untuk berpikir maju, kedisplinan serta mengenal jati diri bangsa,” tutur Direktur SMP, Mulyatsyah ketika membuka kegiatan Pramuka Penggalang jenjang SMP di Jakarta, Senin (31/8/2020).
 
Mulyatsyah berharap, dengan mengikuti kegiatan ini, para siswa akan semakin memahami nilai nasionalisme dan cinta tanah air. “Gerakan kepanduan semenjak Pramuka Indonesia berdiri tanggal 14 Agustus 1961, sangat menekankan pada pembentukan karakter. Esensi kegiatan ini bukan sekadar seremonial atau aktivitas rutin tapi harus dijadikan gerakan bagi SMP untuk meningkatkan rasa nasionalisme dan patriotisme,” pesannya.
 
Di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, kegiatan Pramuka Penggalang yang bertemakan ‘Tetap Unggul dan Berkarya Saat Belajar dari Rumah’ tahun ini, diselenggarakan secara virtual. Mulyatsyah sangat mengapresiasi antusiasme siswa dan tenaga pendidik yang ingin menyaksikan acara ini.
 
“Karena animo yang lebih besar dari bayangan maka angkatan ketiga dan berikutnya akan di-streaming melalui Instagram (IG) live dan YouTube. Bagi yang tidak terundang untuk ikut acara ini secara langsung, tetap bisa menyimak acara ini melalui kanal Youtube Peserta Didik Direktorat SMP dan IG @pesertadidik.dit.smp,” ucap Koordinator Peserta Didik SMP, Maulani Mega Hapsari dalam laporannya.
 
Kegiatan Pramuka Penggalang jenjang SMP diikuti oleh siswa SMP, guru pendamping, dan unsur dinas pendidikan di 63 kabupaten/kota dari 27 provinsi dengan total peserta sebanyak 567 orang. Satu sekolah yang berpartisipasi terdiri dari lima orang siswa dan satu guru pendamping.
 
 
Perlu diketahui, kegiatan ini dilaksanakan dalam empat angkatan yang masing-masing dilaksanakan selama dua hari. Angkatan I dan II telah berlangsung beberapa waktu lalu. Untuk Angkatan I dilaksanakan tanggal 24–25 Agustus 2020 dan Angkatan II dilaksanakan pada tanggal 27–28 Agustus 2020. Angkatan III berlangsung pada tanggal 31 Agustus–1 September 2020, sedangkan untuk Angkatan IV akan dilaksanakan tanggal 3–4 September 2020 mendatang.
 
Ditambahkan Mega, para peserta yang terundang adalah siswa-siswi pilihan yang unggul dalam bidang akademik dan nonakademik di sekolahnya. Oleh karena itu, kesempatan untuk bergabung dalam acara ini akan memberikan pengalaman yang luar biasa bagi peserta di tengah belajar dari rumah (BDR).
 
“Kita laksanakan acara ini dalam bentuk edutainment, materi yang diberikan akan disampaikan oleh narasumber yang mumpuni. Peserta akan mendapat input tentang penguatan karakter dan komunikasi efektif dan di hari kedua ada narasumber full dari Kwartir Nasional,” imbuh Mega.   
 
Kegiatan Pramuka Penggalang adalah pertemuan bersama antara siswa penggiat Pramuka Penggalang secara daring untuk meningkatkan kecerdasan dan menumbuhkan nilai-nilai budi pekerti dalam menyongsong Era Industri 4.0. Nilai-nilai budi pekerti yang akan ditumbuhkembangkan di antaranya religiusitas, kepemimpinan, kepedulian, inovatif, kreatif, disiplin, mandiri, kerja sama, jujur, solutif, nasionalisme, demokratis, dan bertanggung jawab. 
 
Materi yang diberikan mencakup: Bahaya Narkoba, Suprarasional Karakter, Komunikasi, Materi Ekstrakurikuler Wajib Pendidikan Kepramukaan, serta Materi Ekstrakurikuler Wajib Pendidikan Kepramukaan.
 
Mengingat angka penyebaran Covid-19 yang masih tinggi, Direktur SMP juga mengingatkan agar peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan tetap beraktivitas dengan aman dengan menjaga jarak, menjaga kesehatan dan jika harus beraktivitas di luar rumah wajib menggunakan masker.
 
“Kalian pelajar terpilih, selamat berkarya dan selamat beraktivitas. Salam Pramuka,” tutup Mulyatsyah.

Jakarta, Kemendikbud—Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sejak tahun 2018 telah memulai program penguatan pendidikan karakter (PPK). Program tersebut bertujuan untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir dan olah raga. Kegiatan Pendidikan Pancasila dan Bela Negara jenjang SMP menjadi salah satu upaya dalam mewujudkan karakter Indonesia yang kuat.
 
“Banyak hal postif yang terkandung dalam kegiatan ini, kita harus bangga terhadap ideologi bangsa yaitu Pancasila yang ditetapkan 1 Juni 1945,” ucap Direktur SMP Kemendikbud Mulyatsah ketika memberikan arahan dalam kegiatan yang berlangsung secara dalam jaringan (daring) di Jakarta (1/9/2020).
 
Mulyatsah menyampaikan, dalam upaya agar generasi muda memiliki pengetahuan yang memadai tentang Pancasila dan patriotisme selain menghadirkan motivator dan praktisi pendidikan, Kemendikbud mengundang pemateri dari TNI dan kepolisian. “Harapannya agar peserta yang menyimak kegiatan ini dapat berbagi semangat religius, kepedulian, disiplin, mandiri, kerja sama, jujur, nasionalisme, demokratis, dan bertanggung jawab bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.
 
Koordinator Peserta Didik, Direktorat SMP, Kemendikbud, Maulani Mega Hapsari mengatakan, pendidikan karakter penting untuk dikuatkan sejak dini dan terus menerus sehingga menjadi pembiasaan dan karakter individu. Menurutnya, kegiatan Pendidikan Pancasila dan Bela Negara jenjang SMP adalah salah satu cara untuk membentuk pembiasaan (nilai-nilai positif) supaya karakter kalian lebih terbentuk.
 
“Nanti setelah kegiatan ini hal-hal positif yang kalian peroleh lakukan berulang-ulang agar menjadi pembiasan,” pesannya.
 
Selain siswa, guru pendamping dan dinas pendidikan akan mendapat piagam sebagai tanda keikutsertaan. Model kegiatan Pendidikan Pancasila dan Bela Negara jenjang SMP berbentuk edutainment.
 
Mengingat situasi pandemi Covid-19 masih berlangsung, Direktorat SMP menyelenggarakan kegiatan ini secara daring dengan tetap menjalankan protokol kesehatan. Sebelum adanya Covid-19, kegiatan Pendidikan Pancasila dan Bela Negara jenjang SMP dilakukan dengan menghadirkan 1.000 anak-anak dan melibatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) serta praktisi pendidikan.
 
“Meski kita tidak bisa menyelenggarakan kegiatan seperti tahun-tahun sebelumnya, kalian sebagai anak-anak pilihan harus tetap semangat. Karena kegiatan ini adalah bentuk apresiasi kementerian untuk kalian semua supaya kalian memahami pendidikan Pancasila dan bela negara dengan cara yang menyenangkan dari tempat tinggal kalian masing-masing,” demikian terangnya. 
 
Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus merupakan momentum bersejarah yang selalu mampu menjadi bahan refleksi atas nilai-nilai patriotisme bangsa. Kemendikbud berharap, asistensi Pendidikan Pancasila dan Bela Negara jenjang SMP ini dapat  menumbuhkembangkan jiwa patriot generasi muda.
 
“Esensi kegiatan ini adalah bagaimana agar kalian bisa memaknai nilai keagungan patriotisme. Mari, kita berkontribusi membangun bangsa Indonesia. Tetap berkarya dari rumah,” imbau Direktur Mulyatsyah mengakhiri sambutannya. 

Jakarta, Kemendikbud—Sejak Maret 2020, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah melakukan penyesuaian kebijakan pendidikan, serta menyediakan inisiatif dan solusi di masa pandemi Covid-19. Salah satunya adalah relaksasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), di mana satuan pendidikan diberi kewenangan untuk mengalokasikan dana BOS untuk penyediaan pulsa kuota internet bagi guru dan siswa.

Penyesuaian tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 19 Tahun 2020 tentang Perubahan Permendikbud Nomor 8 Tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis Reguler, yang diterbitkan pada 9 April 2020 lalu.  Melanjutkan kebijakan tersebut, kali ini Kemendikbud berhasil mendapatkan dana tambahan untuk memfasilitasi kebutuhan kuota siswa, guru, mahasiswa dan dosen. Hal ini sebagai jawaban atas kecemasan masyarakat di tengah kesulitan ekonomi akibat terdampak pandemi.

“Ini yang sedang kami akselarasi secepat mungkin agar bisa cair,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim pada Rapat Kerja bersama Komisi X DPR RI, yang berlangsung semi daring di Jakarta, Kamis (27/8/2020).

Upaya yang dilakukan Kemendikbud untuk memberikan bantuan pengadaan pulsa ini menurut Nadiem berdasarkan masukan masyarakat yang mayoritas terkendala pulsa kuota internet dalam mengakses pembelajaran jarak jauh (PJJ). “Pulsa, pulsa, pulsa, ini adalah (masalah) nomor satu,” imbuhnya.

Rencananya, dari total Rp7,2 triliun akan diberikan subsidi kuota internet selama empat bulan, terhitung dari bulan September-Desember 2020. Siswa akan mendapat 35 GB/bulan, guru akan mendapat 42 GB/bulan, mahasiswa dan dosen 50GB/bulan.

Selain itu, Kemendikbud mengalokasikan dana sebesar Rp1,7 triliun untuk para penerima tunjangan profesi guru dan tenaga kependidikan, dosen, serta guru besar. Harapannya, kebijakan ini dapat membantu perekenomian para penerima tunjangan di masa krisis seperti saat ini. “Terima kasih kepada Ibu Kemenkeu yang telah mengamankan dana tersebut dari dana cadangan,” tutur Nadiem.

Ditambahkan Mendikbud, sumber anggaran berasal dari optimalisasi anggaran Kemendikbud serta dukungan anggaran Bagian Anggaran dan Bendahara Umum Negara (BA BUN) 2020 dengan total anggaran sebesar Rp8,9 triliun. Untuk subsidi kuota guru akan dibiayai melalui realokasi anggaran Program Organisasi Penggerak yang diundur pelaksanaannya ke tahun 2021.

Bantuan lainnya yaitu BOS Afirmasi dan BOS Kinerja untuk 56.115 sekolah swasta dan negeri yang paling membutuhkan diperkirakan sampai di rekening sekolah di akhir Agustus 2020. “Rp3,2 triliun dialokasikan untuk dana BOS Afirmasi dan Kinerja yang akan disalurkan ke 31.416 desa/kelurahan yang berada di daerah khusus,” kata Mendikbud.

Perwakilan dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Sofyan Tan menyampaikan apresiasinya atas kebijakan Kemendikbud yang telah diambil secara responsif menyikapi perkembangan situasi pandemi Covid-19. Terkait kebijakan penambahan anggaran sebesar Rp7,2 triliun untuk pengadaan kuota internet, ia menilai tepat karena dampaknya akan langsung terasa bagi masyarakat. “Artinya Menteri mendengar keluhan orang tua, guru, dan siswa,” ucapnya.

Di bagian lain, anggota fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Illiza Sa`aduddin Djamal menyampaikan rasa syukurnya karena dana Program Indonesia Pintar (PIP) tahun ini cair lebih cepat. “Dari hasil reses kemarin, cairnya PIP lebih cepat. Hal ini dapat membantu siswa-siswa di Indonesia menghadapi masa krisis, proses pencairannya juga lancar dan hampir tidak ada kendala,” ungkapnya.

Merujuk pada Permendikbud Nomor 23 tahun 2020 serta Kepmendikbud Nomor 580 dan 581 Tahun 2020, kriteria daerah yang mendapatkan BOS Afirmasi dan Kinerja adalah: (1). Terpencil atau terbelakang , (2). Kondisi masyarakat adat yang terpencil, (3). Perbatasan dengan negara lain, (4). Terkena bencana Covid-19, bencana alam, bencana sosial, atau daerah yang berada dalam keadaan darurat lain.

Selanjutnya, kriteria sekolah yang mendapatkan dana BOS Afirmasi dan Kinerja berdasarkan Permendikbud Nomor 24 tahun 2020 dan Kepmendikbud Nomor 746/P/2020 adalah: (1). Sekolah dengan proporsi siswa dari keluarga miskin yang lebih besar, (2). Sekolah yang menerima dana BOS Reguler lebih rendah, (3). Sekolah yang memiliki proporsi guru tidak tetap yang lebih besar.

Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Penguatan Karakter kembali menggelar webinar yang ke delapan kalinya. Masih dalam rangka penyesuaian kebijakan pembelajaran di masa pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), Pusat Penguatan Karakter menggelar webinar untuk mempersiapkan seluruh pemangku kepentingan menerapkan kebijakan kurikulum dalam kondisi khusus serta memaksimalkan pengelolaan pembelajaran yang adaftif, fleksibel, dan akomodatif.

Pusat Penguatan Karakter merupakan pusat baru di Kemendikbud yang mempunyai mandat menyampaikan dan mengedukasi kebijakan Kemendikbud serta nilai-nilai Pancasila dalam wadah penguatan karakter.

Kepala Pusat Penguatan Karakter, Hendarman menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada semua narasumber, moderator dan penerjemah bahasa. Hendarman juga berharap seluruh peserta yang telah daftar webinar ini yaitu sekitar 4000 orang mengikuti acara sampai selesai karena akan ada kuis berhadiah serta sertifikat yang dibuktikan oleh pengisian presensi di akhir acara. “Semoga para peserta webinar ini bisa mengikutinya sampai acara selesai,”tutur Hendarman saat membuka acara pada Jumat (21/08/2020).

Hadir beberapa narasumber diantaranya Analis Kebijakan Ahli Madya, Pusat Asesmen dan Pembelajaran, Susanti  Sufyadi yang dalam hal ini mewakili Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan; Psikolog Klinis Anak, Remaja dan Keluarga, Roslina Verauli; Ketua Satuan Tugas Gerakan Literasi Sekolah Kemendikbud dan Pendiri Yayasan Litara, Sofie Dewayani dan guru berkebutuhan khusus berprestasi dari Papua, Fandy Dawenan, serta Hilbram Dunar sebagai moderator dan Erna Husaena sebagai penerjemah bahasa isyarat dari SLB Negeri 7 Jakarta.

Sebagai narasumber pertama, Sofie menyampaikan beberapa praktik baik dalam mengelola pembelajaran yang adaptif, fleksibel dan akomodatif melalui kegiatan literasi bagi siswa. “Sesuai dengan pengalaman saya sebagai pegiat literasi, Pembelajaran literasi merupakan salah satu cara untuk mempertahankan kompetensi siswa secara esensial”, tutur Sofie yang memiliki prestasi internasional sejak 2010.

Sofie juga menjelaskan apa itu kecapakan literasi dan tantangannya selama pandemic. “Kecakapan literasi pada masa pandemi menjadi penting sekali karena kecapakan literasi ini merupakan kecakapan untuk memilih, menganalisis informasi secara kritis serta menggunakannya untuk mengambil keputusan”  ujar Sofie yang juga aktif dalam mengkampanyekan ilterasi membaca dan literasi virtual.

Pada kesempatan ini, Sofie memaparkan juga bahwa media bergambar mempunyai banyak manfaat, salah satunya dapat menumbuhkan minat siswa untuk memahami bacaan melalui media. “Melalui buku bergambar kemampuan literasi anak terbangun dengan mencoba membantu merefleksi cerita pada gambar tersebut,” jelas Sofie yang juga membantu menulis untuk perpustakaan digital yang didirikan bersama lembaga-lembaga yang bergerak di bidang sosial.

Sebagai informasi tambahan, Sofie bersama tim telah mendirikan 18 Taman Baca Masyarakat (TBM) di daerah perbatasan Kalimantan utara.

Narasumber selanjutnya, Susanti Sufyadi, Analis Kebijakan Ahli Madya,  memaparkan strategi adaptasi pembelajaran di masa pandemi COVID-19. Susan menjelaskan bahwa perangkat ajar dalam pembelajaran jarak jauh sangatlah penting.

Pada kesempatan ini, Susan mengatakan Kemendikbud mengeluarkan modul literasi dan numerasi di tingkat SD yang bekerja sama dengan berbagai lembaga, salah satunya dengan Yayasan yang digawangi Bu Sofie tadi. “Kemendikbud mengemas bahan bacaan yang relevan dengan kompetensi dasar,untuk dapat digunakan guru di daerah terpencil dalam pembelajaran yang menyenangkan, jadi modul ini dijadikan contoh pembelajaran yang adaptif, ” ujar Susan.

Roslina Verauli, sebagai narasumber ketiga memaparkan tentang bagaimana orang tua dan perannya dalam mendampingi anak belajar pada kondisi khusus. “Inti dari semua kegiatan belajar Bersama adalah Anak butuh motivasi untuk belajar” jelas Verauli.

Vera menjelaskan bagaimana peran orang tua sebagai guru, manfaat orang tua terlibat, memahami perilaku belajar anak. Vera pun memberi tips membangun lingkungan yang kondusif untuk belajar pada kondisi khusus.

Hadir juga bintang tamu dari timur Indonesia, Fandy Dawenan. Fandy merupakan guru berkebutuhan khusus (tuna netra low vision), menceritakan pengalamannya dalam mengajar di masa pandemi atau kondisi khusus. “Kebanyakan guru susah untuk mengontrol emosi, sampai  kehabisan akal untuk menghadapi anak, maka lagi-lagi komunikasi dan metode yang tepat dalam menghadapi anak-anak di kondisi khusus ini,” tutur Fandy.

Pengalaman berkesan Fandy yaitu saat mengajar anak tuna netra yang tidak bisa mengoprasikan gawainya, Fandy berusaha mengajarkan sampai anak didiknya itu bisa mengoperasikannya bahkan sampai cerdas bergawai. “Siswa disabilitas memerlukan kebutuhan yang sama dengan siswa lainnya,maka  ada baiknya dalam penyusunan kurikulum maupun dalam penyusunan materi KBM disesuaikan juga dengan kebutuhan mereka, libatkanlah penyandang disabilitas untuk penyusunannya agar dirasakan pemanfaatannya secara optimal,” papar Fandy

Seperti webinar sebelumnya, webinar kali ini pun banyak kuis yang bisa diikuti dengan hadiah yang menarik. Ada juga tantangan kuis bersambung dengan clue-clue yang diutarakan oleh moderator di selingan selama webinar.

Webinar ini diselenggarakan melalui aplikasi Zoom yang dapat diakses oleh peserta yang sudah mendaftarkan diri melalui tautan https://bit.ly/puspeka-spkk. Dan disiarkan secara langsung di kanal youtube Cerdas Berkarakter Kemdikbud RI, radio suara edukasi (suaraedukasi.kemdikbud.go.id), radio edukasi (radioedukasi.kemdikbud.go.id) dan radio itjen (radio.itjen.kemdikbud.go.id).