Warta Pendidikan

Warta Pendidikan (375)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Dunia Pendidikan

Jakarta, Kemendikbud --- Menumbuhkan minat baca pada anak harus dibiasakan sejak usia dini. Pembiasaan membaca buku bisa dimulai dari pola pengasuhan (parenting) di lingkungan keluarga dengan membacakan buku untuk anak oleh orang tua sebagai pendidik pertama dan utama. Untuk mendorong orang tua terbiasa membacakan buku pada anak usia dini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (Gernas Baku). Pada tahun 2019, Gernas Baku sudah memasuki tahun kedua pelaksanaan.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dirjen PAUD dan Dikmas), Harris Iskandar mengatakan, Gernas Baku bertujuan untuk menyadarkan betapa pentingnya membiasakan anak-anak membaca buku. Membacakan buku untuk anak usia dini diharapkan menjadi praktik baik kebiasaan dalam pola pengasuhan di rumah.

“Kita ingin seluruh keluarga Indonesia bisa menjalankan Gernas Baku sehingga dapat menumbuhkan kecintaan buku pada anak. Dengan membacakan buku juga memudahkan kita menumbuhkan karakter baik dari tokoh-tokoh dalam cerita. Selain itu juga dapat meningkatkan hubungan emosi antara anak dengan orang tua,” kata Harris saat kegiatan Gernas Baku di PAUD KM 0 Kemendikbud, Jakarta, Sabtu (27/7/2019).

Harris berharap Gernas Baku 2019 dapat menggerakkan seluruh anggota masyarakat untuk membiasakan orang tua membacakan buku untuk anak. Gernas Baku 2019 serentak dilakukan di 33 provinsi pada Sabtu pagi, 27 Juli 2019, di berbagai lembaga PAUD di Indonesia. Hanya provinsi Bali yang menunda pelaksanaan Gernas Baku menjadi minggu depan karena sedang merayakan Hari Galungan.

“Ada 230-ribu lembaga PAUD di seluruh Indonesia. Syukur kalau seluruh keluarga indonesia sudah mendengar tentang Gernas Baku dan mengikuti kebiasaan di keluarganya. Membacakan buku untuk anak bukan hanya kewajiban ibu, tapi juga para ayah. Mudah-mudahan jadi kebiasaan yang baik,” tutur Harris.

Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga Sukiman menuturkan, Kemendikbud merangkul berbagai lembaga dalam melaksanakan Gernas Baku, antara lain Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (HIMPAUDI) dan Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI). Bahkan, Sukiman menambahkan, saat kegiatan Gernas Baku di PAUD KM 0 Kemendikbud, hadir juga perwakilan dari Kedutaan Besar Malaysia di Indonesia.

“Sepertinya dari Malaysia juga ingin gerakan seperti ini ada di negaranya. Ada dua pejabat Kedubes Malaysia yang datang tadi,” ujarnya usai kegiatan Gernas Baku di PAUD KM 0 Kemendikbud, Jakarta, Sabtu (27/7/2019).

Sukiman berharap Gernas Baku bisa dilakukan di lembaga-lembaga PAUD dengan mengundang orang tua untuk membacakan buku bagi anak-anaknya. “Bagi anak yang belum masuk PAUD bisa di tempat lain, seperti tempat ibadah, atau di Jakarta misalnya di RPTRA, bisa digerakkan juga oleh PKK. Nanti bisa menjadi program rutin lembaga PAUD, lalu harapan akhirnya jadi kebiasaan orang tua di rumah,” katanya.

Rangkaian pelaksanaan Gernas Baku 2019 digelar sejak April 2019 dimulai dari pelaksanaan sosialisasi dan seminar. Selanjutnya, pada Mei 2019, para orang tua diajak untuk memberikan donasi buku untuk menghadirkan pojok baca di rumah dan sekolah. Selain itu juga diselenggarakan kelas pengasuhan (parenting) untuk orang tua di berbagai daerah.

Puncak acara Gernas Baku dihadiri oleh orang tua dan peserta didik PAUD KM 0 Kemendikbud, sejumlah pejabat di lingkungan Kemendikbud dan para mitra serta undangan. Dalam acara ini dilakukan video konferensi jarak jauh serentak di tiga provinsi, yaitu DKI Jakarta, Nusa Tenggara Barat, dan Papua. Gernas Baku 2019 diselenggarakan bersamaan dengan rangkaian Festival Literasi Sekolah (FLS) 2019 yang berlangsung pada 25 s.d. 29 Juli 2019.

Jakarta, Kemendikbud – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah kembali menyelenggarakan Festival Literasi Sekolah (FLS) yang akan dilaksanakan mulai tanggal 26 sampai dengan 29 Juli 2019, di Plaza Insan Berprestasi, Kompleks Kemendikbud, Jakarta.
 
FLS menjadi ajang apresiasi tahunan atas capaian Gerakan Literasi Sekolah yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan. Lebih dari tiga puluh komunitas, lembaga pemerintah, mitra, penerbit, aplikasi, dan sekolah (Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan, dan Sekolah Luar Biasa)  ikut terlibat dalam pelaksanaan FLS ke-3 ini.
 
Festival akan diisi dengan berbagai kegiatan seperti diskusi, perlombaan, pelatihan literasi, peluncuran dan bedah buku, bazar, serta pemutaran film bertema literasi. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, dijadwalkan akan hadir membuka FLS secara resmi pada hari Jumat, 26 Juli 2019.

Dengan mengangkat tema “Multiliterasi: Mengembangkan Kemandirian dan Menumbuhkan Inovasi”, kegiatan literasi yang diselenggarakan dalam FLS tidak terbatas pada literasi baca-tulis saja, tetapi juga mencakup literasi digital, finansial, sains, numerasi, serta literasi budaya dan kewargaan. Semangat menggerakkan literasi, menguatkan pendidikan, dan pemajuan kebudayaan menjadi pendorong utama kegiatan ini.
 
Untuk menyemarakkan FLS, berbagai aktivitas dan kegiatan FLS akan dibagi ke dalam empat area di Plaza Insan Berprestasi Kemendikbud. Keempat area itu adalah Panggung Utama, Pojok Literasi, Ruang Serbaguna Perpustakaan, dan Ruang Teater Perpustakaan Kemendikbud. Sebagian besar acara dilaksanakan secara paralel sehingga pengunjung dapat memilih acara sesuai minatnya masing-masing.

Beberapa agenda acara menarik yang dapat diikuti oleh pengunjung, antara lain, Pelatihan Menulis Kreatif untuk Anak Usia Sekolah Dasar, Lomba Debat Bahasa Inggris dan Lomba Debat Bahasa Jepang (final) jenjang SMK, Diskusi Mengenali Konten Negatif, Hoaks, dan Keterbukaan Informasi Publik, serta Pelatihan Numerasi: “Berpikir Cepat” dalam Numerasi: Matematika Detik”. Pengunjung pun dapat menikmati potongan harga untuk pembelian buku, kuliner, dan stan penjualan lainnya.

Jakarta, Kemendikbud --- Di hari pertama masuk sekolah Tahun Pelajaran 2019-2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, mengunjungi empat sekolah di Jakarta dan Kabupaten Tangerang, yakni SD Muhammadiyah 5 Jakarta Selatan, SD Negeri 3 Kabupaten Tangerang, SMA Negeri 13 Kabupaten Tangerang, dan lembaga pendidikan Permata Insani Islamic School Kabupaten Tangerang.

Dalam kunjungan tersebut, Mendikbud mengimbau kepada seluruh pelaku pendidikan (sekolah, keluarga, dan masyarakat) untuk menjadikan sekolah sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi siswa, khususnya bagi siswa baru yang memasuki masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS).

“Dalam kunjungan saya ke sekolah di hari pertama masuk sekolah ini, ingin memastikan bahwa pada masa pengenalan lingkungan sekolah telah dipersiapkan dengan baik oleh pihak sekolah. Saya berharap kepala sekolah, guru, kakak kelas, orang tua, dan masyarakat di sekitar lingkungan sekolah dapat menjadikan sekolah sebagai tempat yang aman, nyaman, dan menggembirakan bagi para siswa, khususnya para siswa baru yang memasuki masa pengenalan lingkungan sekolah,” ujar Mendikbud, saat mengunjungi beberapa sekolah tersebut, Senin (15/07/2019).

“Guru harus betul-betul mencermati setiap peserta didiknya, jangan sampai memiliki pandangan negatif terhadap anak didiknya, karena setiap anak memiliki keunikan dan keistimewaan masing-masing,” tambah Mendikbud.

Pada masa PLS bagi siswa baru, Mendikbud juga mengimbau kepada sekolah untuk menerapkan sistem Kakak Asuh dan Adik Asuh yang telah diterapkan di SD Muhammadiyah 5 Jakarta Selatan. “Saya berharap kakak-kakak kelasnya dapat menjaga dengan baik dan memberikan perlindungan kepada adik-adik kelasnya. Tugas kakak asuh melindungi, mengarahkan, dan mengawasi. Jauhkan segala tindak kekerasan di sekolah,” pesan Mendikbud.

Pada kesempatan kunjungan Mendikbud tersebut, turut hadir para orang tua yang mengantarkan anak-anaknya ke sekolah. Mendikbud berharap para orang tua dapat menjadi pendidik yang utama bagi anak-anaknya. “Pendidikan anak tidak hanya tanggungjawab sekolah, tetapi orang tua tetap menjadi pendidik yang utama. Saya berharap kerja sama antara orang tua, sekolah, dan masyarakat dapat terus ditingkatkan. Gunakan dengan baik wadah Komite Sekolah,” ucap Mendikbud.

Mendikbud juga mengimbau kepada seluruh pelaku pendidikan tersebut untuk memperhatikan kebersihan (higienis) makanan dan minuman di kantin sekolah. “Tolong jaga kebersihan sekolah, termasuk kantin sekolah. Sekolah bisa bekerja sama dengan Puskesmas untuk penyajian makanan dan minuman yang sehat bagi siswa. Orang tua juga saya imbau untuk turut mengawasi makanan dan minuman yang di konsumsi oleh anaknya masing-masing,” pesan Mendikbud. *

Yogyakarta/6/7/2019 -  Juara sejati tak tercipta dalam sehari. Butuh fokus yang tinggi dan konsistensi mewujudkan ini. Juara dihasilkan oleh perjuangan, pengorbanan dan ketekunanan.
.
Sang juara seperti hal nya atlet. Kalah bangkit lagi. Menang tak berpuas diri. Justru terus berusaha mencapai prestasi tertinggi.
.
Selamat kepada delegasi Kalimantan Barat dalam Olimpiade Sains Nasional Jenjang SMP 2019 atas prestasi yang diraih dengan perolehan 1 medali perak bidang studi IPS  dan 2 medali perunggu bidang studi  Matematika dan IPA.
.
Terimakasih kepada Felicia Ovelia Kurniawan siswi SMPK Immanuel Pontianak untuk perolehan medali Perak bidang studi IPS, Giodanno Limin siswa SMP Bina Mulya Pontianak untuk perolehan medali Perunggu bidang studi  IPA dan Daffa Rayhan Ananda siswa SMP Muhamadiyah 1 Pontianak untuk perolehan medali Perunggu bidang studi Matematika.
.
Sungguh prestasi ini juga merupakan kebanggaan bagi kami karena siswa-siswi ini adalah murid sekolah binaan @lpmpkalbar.
.
Kami menghargai setiap proses pembelajaran yang telah dilakukan. Namun kami juga perlu selalu meningkatkan, pendampingan dan menjaga mutu untuk bisa lebih baik di tahun depan.
.
Terus berprestasi. Tetaplah menginspirasi.

 

Rabu, 03 Juli 2019 08:00

Zonasi Bukan Hanya Penerimaan Peserta Didik Baru

Written by

Jakarta, Kemendikbud — Kebijakan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tentang penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ini belum dapat diterima sebagian kecil masyarakat. Hal ini karena masyarakat masih mengharap anak-anaknya masuk ke sekolah yang dinilai sebagai sekolah favorit di luar zona dari tempat tinggalnya. Padahal sebenarnya tujuan zonasi itu sendiri adalah untuk mengatasi ketimpangan di dunia pendidikan Indonesia saat ini.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, menilai kebijakan zonasi dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 51 Tahun 2018 beserta perubahannya ini merupakan bentuk implementasi Pancasila sila ke-5 yakni Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Keadilan ini, kata dia, bukan dikhususkan untuk siswa saja, namun juga bagi guru-guru karena ke depan akan ada rotasi guru. Tentu ini merupakan tantangan bagi guru-guru.

“Guru-guru yang selama ini mengajar anak-anak pintar bahkan di tinggal tidur pun sudah pintar, sekarang dia mendapat anak-anak yang tidak pintar sampai yang pintar dan harus di akomodasi, itulah baru guru profesional,” jelas Mendikbud Muhadjir saat menjadi pembicara pada acara Diskusi Kelompok Terpumpun Partai Nasional Demokrat yang bertajuk Menakar Sisi Positif Dan Negatif Zonasi Sekolah di Gedung Nusantara I Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Jakarta, Selasa (2/7/2019).

Mendikbud Muhadjir menyebutkan, negara maju yang telah lebih dulu menerapkan sistem zonasi yakni Jepang. Menurutnya, Jepang merupakan negara dengan sistem pendidikan zonasi terbaik, meski dalam proses pemerataan zonasi Jepang membutuhkan waktu sekitar 30 tahun. Hal itu menjadikan kualitas pendidikan Jepang saat ini bagus dan merata.

Senada hal itu, pakar pendidikan Fasli Jalal mengungkapkan apresiasinya terhadap Mendikbud Muhadjir yang berani mengeluarkan peraturan baru terkait PPDB dengan zonasi tersebut. Dia mengatakan, jika suatu negara ingin mempunyai kualitas pendidikan yang baik, tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja, melainkan harus bergotong royong membenahi hal tersebut.

Kendati demikian, Fasli Jalal menyebutkan, pemerataan infrastruktur pendidikan adalah sebagian kecil dari bagian pemerataan mutu pendidikan itu sendiri. Bagian penting dalam pemerataan mutu pendidikan yang paling besar itu adalah guru dan siswanya. Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan kementerian terkait lainnya harus berusaha maksimal dalam pengelolaan dan pengawasan dana pendidikan di daerah-daerah.

“Kemendagri perlu memastikan dalam beberapa tahun ke depan terkait sirkulasi guru yang berkualitas baik ini dipindahkan, tapi diberikan motivasi, diberi promosi, sehingga guru-guru yang baik nantinya tidak malu-malu atau merasa heroik ketika dipindahkan ke sekolah yang bukan unggulan, itu mesti kita carikan solusinya,” ujar mantan wakil menteri pendidikan nasional itu.