Warta Pendidikan

Warta Pendidikan (388)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Dunia Pendidikan

Minggu, 08 September 2019 11:11

Mendikbud: Indonesia Capai Angka Literasi di atas 98 Persen

Written by

Makassar, Kemendikbud —- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) memberikan apresiasi atas capaian literasi yang luar biasa di atas 98 persen. Hal tersebut diutarakan Mendikbud pada Puncak Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-54, di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (07/09/2019).

“Sekarang Indonesia telah mencapai angka literasi yang sangat tinggi karena sudah di atas 98%. Padahal waktu awal kemerdekaan, saat dicanangkannya gerakan pemberantasan buta huruf, kondisi penduduk Indonesia 97 persen buta aksara,” tutur Mendikbud.

Semangat memberantasan buta aksara, kata Mendikbud, telah dinyalakan oleh oleh Bung Karno sejak awal kemerdekaan melalui gerakan “Bantulah Usaha Pemberantasan Buta Huruf”. “Gerakan ini membuahkan hasil, Indonesia yang pada awal kemerdekaan banyak yang masih buta aksara, setelah 74 tahun kemerdekaan berubah drastis menjadi bangsa dengan mayoritas melek aksara, dan semakin maju,” jelas Mendikbud.

Peringatan HAI tahun ini mengangkat tema “Ragam Budaya Lokal dan Literasi Masyarakat”. “Tema ini sangat tepat yang didasarkan pada kesadaran atas keberagaman budaya yang harus dipelihara dan kita kembangkan sebagai wahana bersama dalam meningkatkan literasi masyarakat, dan mendorong pemberantasan buta aksara,” ujar Mendikbud.

Mendikbud menambahkan, gerakan literasi bukan hanya gerakan di zaman modern, melainkan sejarahnya dimulai sejak zaman rasul. “Kalau kita berangkat dari pendekatan profetik (keagamaan), sebetulnya pemberantasan buta huruf justru bagi yang beragama Islam hukumnya wajib karena bagian dari sunnah rasul. Kenapa? Karena Nabi Muhammad pertama mendapatkan wahyu adalah untuk melakukan gerakan literasi, yaitu ketika di gua Hira diperintahkan oleh Allah melalui malaikat Jibril untuk membaca atau iqra (bahasa Arab). Iqra pada dasarnya adalah gerakan literasi karena itu saya kira di semua agama, tidak hanya Islam saja, wajib bagi kita untuk menuntaskan literasi ini,” jelas Mendikbud.

Literasi saat ini, ungkap Mendikbud, mengalami pengembangan, ada literasi digital, literasi finansial, literasi kebudayaan, kewargaan, dan lain-lain, sehingga tidak cukup membina masyarakat hanya sekadar membaca, menulis, dan berhitung, melainkan harus betul-betul bisa memanfaatkan kemampuan literasinya untuk menyelesaikan persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari, maupun berbangsa dan bernegara.

“Maka tugas kita sekarang adalah meningkatkan peranan pendidikan untuk menyongsong abad ke-21, menyiapkan generasi emas 2045 dalam rangka memasuki era revolusi industri 4.0,” pesan Mendikbud.

Pada kesempatan yang sama Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah, mengatakan bahwa nilai-nilai yang sudah dimiliki secara turun-temurun tetap relevan dan harus dipegang teguh di zaman modern ini. “Sesuai dengan tema perayaan, maka izinkan saya mengenalkan salah satu nilai luhur yang lahir dari Sulawesi Selatan yaitu “sipakatau, sipakainge’ dan sipakalebbi”. Dalam bahasa Indonesia artinya saling memanusiakan, saling mengingatkan, dan saling menghargai,” ujar Gubernur Nurdin.

Nilai-nilai yang diajarkan secara turun temurun oleh orang tua, tutur Nurdin, adalah untuk membentuk karakter para generasinya. Ia optimis bahwa penerapan nilai-nilai luhur para orang tua dalam kehidupan sehari-hari dapat menciptakan keharmonisan dan suasana yang kondusif di tengah-tengah masyarakat.

“Alangkah baiknya jika kita gunakan teknologi sosial media untuk menyebarkan berita yang baik dan alangkah baiknya jika kita mengingatkan saudara-saudara kita yang menyebarkan berita yang isinya hoax. Inilah tantangan literasi pada abad ke-21 yang lebih dari kemampuan baca, tulis, dan hitung. Literasi yang berdasarkan budaya luhur saling menghargai, menyebarkan kebaikan dan kritis dalam menerima setiap informasi yang kita terima,” ujarnya.

Terkait dengan persoalan buta aksara, jelas Gubernur Nurdin, merupakan masalah besar yang mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia (IPM), khususnya di provinsinya. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Sulawesi Selatan pada 2018 mencapai 70,90. Berdasarkan peta per daerah, IPM di provinsi tersebut termasuk positif karena sebagian sudah berstatus tinggi. Dari 24 kabupaten/kota, tinggal 11 kabupaten dengan status sedang, 7 daerah berstatus tinggi yaitu Parepare, Palopo, Luwu Timur, Enrekang, Pinrang, Sidrap, Barru, dan Kota Makassar yang merupakan satu-satunya yang berada di level sangat tinggi.

“Gerakan literasi sekarang ini menjadi gerakan yang terus disosialisasikan pada setiap lapisan masyarakat. Kegiatan literasi merupakan suatu bentuk hak dari setiap orang untuk belajar di sepanjang hidupnya, di mana harapannya adalah dengan kemampuan literasi yang meningkat maka kualitas hidup masyarakat juga bisa ikut meningkat. Efek ganda yang dimilikinya juga bisa membantu pembangunan berkelanjutan seperti pemberantasan kemiskinan, pertumbuhan penduduk, peningkatan angka harapan hidup. Akhirnya, dengan semangat peringatan Hari Aksara Internasional tahun 2019 ini, marilah kita berupaya bersama-sama untuk membebaskan bangsa kita dari buta aksara,” tutur Nurdin.

Ditemui awak media usai kegiatan, Direktur Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud, Harris Iskandar, mengatakan bahwa literasi tidak hanya cukup membaca, menulis dan berhitung (calistung). “Enam literasi dasar harus dikuasai oleh semua orang dewasa di dunia. Kalau sekarang masih diukur dengan melihat angka buta aksara. nanti akan geser instrumennya mungkin menyangkut enam literasi dasar,” jelasnya.

“Untuk Literasi digital leading sector-nya Kementerian Komunikasi dan Informatika. Kalau untuk literasi keuangan leading sector-nya Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan,” tambah Harris.

Selanjutnya, kata Harris, pendidikan nonformal juga memiliki peran untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh pengalaman kerja praktik, seperti pada program Pendidikan Kesetaraan Paket C. “Jadi semua ikut paket C sekarang ini akan mendapatkan layanan keterampilan khusus sehingga lulusnya akan mendapatkan ijazah negeri paket C yang setara SMA, dilindungi oleh negara lalu berlaku di perguruan tinggi, di dunia usaha dan laku juga secara kompetensi,” jelas Harris

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mengemukakan bahwa Komisi X DPR RI siap memberikan dukungan kepada dunia pendidikan nonformal dan informal dalam bentuk anggaran atau kebijakan khusus yang nantinya akan berdampak kepada para alumni kursus.

“Anggaran sudah jauh meningkat. Namun kalau dibandingkan pendidikan formal tentu saja jauh. Tapi jika kita bandingkan dengan 5 tahun terakhir itu sudah sangat meningkat. Tahun ini ada Rp8,3 triliun untuk pusat dan daerah. Apalagi kita yang perempuan ya sebab bagi perempuan, kesempatan untuk pemerataan akses pendidikan dan pengetahuan itu bisa terjadi. Apalagi tadi yang ibu-ibu yang mungkin tadinya buta aksara sekarang jadi bisa baca tulis. Itu luar biasa dan sudah ikuti tren dan pasar yang berkembang” jelas Hetifah.

Pendidikan keluarga, lanjut Hetifah, tidak kalah penting. Menurutnya, pendidikan justru harus dimulai dari keluarga untuk membentuk karakter anak. “Orang tua murid juga jadi sumber ilmu dan bagaimana sekarang mengatasi soal radikalisme serta mendorong toleransi pada anak,” pungkas Hetifah.

Untuk memeriahkan peringatan HAI ini, Ditjen PAUD dan Pendidikan Masyarakat bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kota Makassar, mulai dari tanggal 5 s.d. 8 September 2019 menyelenggarakan berbagai kegiatan, seperti Pameran Produk Unggulan PAUD dan Pendidikan Masyarakat, Festival Literasi Indonesia, Temu Evaluasi Pelaksanaan Program Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan, Workshop Pendidikan Keaksaraan Komunitas Adat Terpencil/Khusus, Bimbingan Teknis Pendidikan Berkelanjutan, Workshop Percepatan Satuan Pendidikan Nonformal Terakreditasi, dan Berbagai kegiatan yang dilakukan oleh daerah.

Dalam rangka pemberian apresiasi kepada berbagai komponen yang telah berpartisipasi dalam pelaksanaan program PAUD dan Pendidikan Masyarakat, Kemendikbud memberikan penghargaan, kepada pemerintah kabupaten/kota, pegiat keaksaraan, tokoh komunitas adat terpencil/khusus, TBM kreatif-rekreatif, peserta didik keaksaraan dasar, peserta didik keaksaraan usaha mandiri, peserta didik kursus dan pelatihan, kelembagaan satuan pendidikan nonformal berprestasi, pegiat perempuan, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, kelembagaan sanggar kegiatan belajar, kursus dan pelatihan, pemenang publikasi video keaksaran, pemenang publikasi keaksaraan di media cetak dan/atau daring, pemenang lomba video dan foto literasi masyarakat, pemenang lomba menulis praktik baik literasi masyarakat, mitra peduli PAUD dan dikmas kategori DUDI/BUMN, dan mitra peduli PAUD dan Dikmas kategori ormas/yayasan. *

Olimpiade Olahraga Siswa Nasional Jenjang SD, SMP dan PKLK Tingkat Nasional, Semarang 25 - 31 Agustus 2019. "Generasi Sehat Generasi Tangguh".

Senin, 26 Agustus 2019 13:25

Mendikbud: Literasi Lebih Dari Sekadar Membaca Buku

Written by

Jakarta, Kemendikbud --- Dalam diskusi kelompok terpumpun (DKT) Gerakan Literasi Nasional (GLN) Tahun 2019, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyampaikan bahwa ruh dari semua gerakan pendidikan adalah literasi. Guru Besar Universitas Negeri Malang itu mengingatkan agar makna literasi jangan direduksi sekadar membaca buku saja.

"Padahal literasi itu tidak hanya membaca buku saja. Melalui membaca itu kemudian seseorang memiliki perspektif baru. Kemudian dia juga membuat karya. Proses itu terjadi terus menerus sepanjang hayat," diungkapkan Menteri Muhadjir Effendy di depan para peserta Diskusi Kelompok Terpumpun GLN Tahun 2019 di Hotel Atlet Century, Jakarta, Rabu (21/8/2019).

Mendikbud berharap agar program literasi yang dijalankan dapat tertanam dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. "Bagaimana menanamkan sikap positif gemar membaca, gemar menulis, gemar berimajinasi, itu yang harus kita dorong. Terutama termasuk para guru, tutor, bahkan kepada para tokoh masyarakat. Menyadarkan mereka tentang betapa pentingnya literasi itu", ungkap Muhadjir.

Guru hendaknya dapat membimbing dan merangsang siswa untuk berkreasi dari referensi yang dibacanya. Tidak sekadar mewajibkan untuk membaca buku saja, tetapi memantik diskusi sehat yang melatih daya kritis dan kemampuan berkomunikasi.

"Gerakan literasi itu harus bisa merangsang anak untuk berimajinasi terhadap apa yang dia baca. Kemudian dia mengekspresikan mengenai apa yang dia baca. Kemudian dia bisa membuat karya yang lain dari apa yang sudah dibacanya tadi," jelas Muhadjir.

"Sekarang anak-anak bisa mendapatkan informasi, pengetahuan dari mana saja. Dari internet, makanya guru jangan terpaku literasi itu membaca buku saja," tambah Mendikbud.

Pada peta jalan GLN 2016—2019, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menetapkan enam literasi dasar yang wajib dikembangkan melalui tripusat pendidikan (sekolah, keluarga, dan masyarakat). Di antaranya literasi bahasa, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial serta literasi budaya dan kewarganegaraan.

Diskusi yang diselenggarakan Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan ini bertujuan untuk membangun sinergi dalam mengembangkan dan memperkuat Gerakan Literasi Nasional di Indonesia yang dilakukan oleh berbagai kementerian dan lembaga serta masyarakat.

Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Dadang Sunendar berharap diskusi dapat merumuskan rekomendasi agenda bersama lintas kementerian dan lembaga serta masyarakat dalam rangka penguatan kerja sama, pemberdayaan pegiat literasi dan fasilitasi kegiatan GLN.

Terdapat lima tema dalam DKT GLN Tahun 2019, yaitu: Peta Jalan GLN Tahun 2019—2024, Rancangan pembuatan Peraturan Presiden (Perpres)/Instruksi Presiden (Inpres) tentang GLN, Praktik/Aksi Baik GLN, Literasi Digital, dan Literasi Numerasi.

"Mendatang, kita akan coba fokus pada dua literasi, yaitu literasi digital dan literasi numerasi," kata Dadang Sunendar.

Sabtu, 24 Agustus 2019 19:54

Gala Siswa Indonesia (GSI) Jenjang SMP Tahun 2019

Written by

Pontianak - Gala Siswa Indonesia (GSI) SMP Prov. Kalbar Tahun 2019 berlangsung pada tanggal 19-24 Agustus 2019 di Lapangan Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak.
GSI SMP Prov. Kalbar diikuti oleh 7 kabupaten di Provinsi  Kalimantan Barat meliputi Kab. Kubu Raya, Kab. Landak, Kab. Bengkayang, Kab. Sintang, Kab. Kapuas Hulu, Kab. Ketapang dan Kab. Sambas. Dalam pertandingan finalnya turut disaksikan oleh Bupati Sambas,  Bupati KKR dan Kepala LPMP Kalimantan Barat,  Pemenang dalam GSI SMP Provinsi  Kalimantan Barat adalah Juara Pertama Kab. Kubu Raya, Juara kedua Kab. Sambas, Juara ketiga Kab. Ketapang dan Juara keempat Kab. Kapuas Hulu. Penyerahan hadiah secara simbolis   Juara 1 oleh Bupati Sambas, juara 2 oleh Bupati KKR, juara 3 Kep. LPMP dan juara 4 oleh Ketua Asosiasi Propinsi PSSI Kalimantan Barat .

 

 

Jakarta, Kemendikbud -- Guru yang hebat  adalah guru yang memiliki karakter yang unggul dan menjadi teladan bagi peserta didik. Pembentukan karakter pada peserta didik dilakukan melalui keteladanan yang dapat ditiru oleh siswa. Pembentukan karakter pada siswa peserta didik hanya dapat dilakukan oleh guru-guru yang berkarakter pula.

Pendidikan karakter menanamkan kebiasaan tentang hal yang baik sehingga siswa menjadi paham tentang mana yang baik dan salah, mampu merasakan nilai yang baik, dan biasa melakukannya. Dengan demikian pendidikan karakter erat kaitannya dengan kebiasaan yang dilakukan terus menerus.

"Pendidikan Karakter yang paling mendasar adalah siswa melihat sendiri karakter pada gurunya,” ujar mantan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Indra Djati Sidi, pada saat pembekalan guru dalam Pleno Pemilihan Guru Berprestasi Berdedikasi dan Kreativitas Jenjang Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus di Jakarta, (15/8/2019). Kegiatan tersebut merupakan rangkaian kegiatan Pemilihan Guru dan Tenaga Pendidikan Berprestasi dan Berdedikasi 2019.

Menurut Indra, guru yang berkualitas akan memiliki karakter yang baik, yang mana perilakunya dapat ditiru oleh peserta didik. Pendidikan karakter lebih penting dari matematika dan fisika, bukan sekadar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah.

“Karakter itu adalah Anda, karena Anda adalah guru-guru berprestasi. Jika kita tidak berkarakter, tidak mungkin dapat berprestasi. Orang yang berprestasi adalah orang yang berkarakter, kerja keras, disiplin, mau belajar dan bangkit dari kekalahan,” katanya.

Indra mengatakan, guru hebat bukanlah guru yang sudah memiliki sertifikat profesional, tetapi guru yang hebat adalah guru yang memiliki kemampuan karakter lebih dibandingkan dengan guru-guru yang lainnya.

“Jadi, guru-guru berprestasi yang berada disini tolong didiklah siswa dengan karakter dan berikan contoh suri teladan. Karakter ini akan berlaku di zaman apapun. Jika kita tidak didik anak dengan karakter maka akan tumbang,” tuturnya.

Ia menegaskan, pendidikan karakter sangat penting, karena jika kita ingin menjadi bangsa yang besar, karakter itu harus terus dibangun, dan diajarkan dari pendidikan dasar sebagai modal generasi bangsa hingga dewasa. “Di sinilah peran guru sangat penting dan tidak hanya mentransformasi ilmu,” ujarnya.