Warta Pendidikan

Warta Pendidikan (396)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Dunia Pendidikan

Jakarta, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim perdana menjadi pembina upacara di Kantor Kemendikbud dalam Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91, Senin (28/10/2019). Selain membacakan pidato resmi Hari Sumpah Pemuda dari Plt Menteri Pemuda dan Olahraga, Hanif Dhakiri, Mendikbud juga menyampaikan pidatonya secara khusus yang ditujukan untuk generasi muda Indonesia.

“Izinkan saya berbicara langsung kepada generasi muda negara ini,” kata Mendikbud mengawali pidatonya.

Ia mengatakan, sebagai menteri termuda di Kabinet Indonesia Maju, ia hadir dalam upacara untuk mewakili generasi milenial ke bawah. Menurut Mendikbud, kehadirannya membuka berbagai macam kesempatan untuk generasi berikutnya.

“Kawan-kawan pemuda, gerbang kita telah terbuka,” ujarnya dengan optimis.

Ia mengakui, ada pihak-pihak yang mempertanyakan kemampuannya dengan tanggung jawab besar memimpin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, termasuk dalam memenuhi ekspektasi masyarakat yang begitu tinggi.

“Waktulah yang akan menjawab. Tapi pada saat saya diberikan kesempatan dari Pak Presiden untuk membantu generasi berikutnya, saya tidak berpikir dua kali. Saya melangkah ke depan, apapun risikonya,” tegas Mendikbud dalam pidatonya di hadapan pejabat dan pegawai Kemendikbud.

Menurutnya, saat ini generasi muda Indonesia hidup dalam dunia yang bising karena banyak bisikan, godaan, dan pendapat. Di dalam kegaduhan tersebut sering sekali suara hati generasi muda terabaikan. Ia yakin pemuda Indonesia sadar di hatinya masing-masing, ke mana tujuan mereka ingin melangkah. Namun, kebisingan-kebisingan tersebut membuat generasi muda meragukan dirinya masing-masing, takut dipermalukan, takut dimusuhi, atau takut gagal. Ia pun memberikan motivasi kepada para pemuda.

“Kawan-kawan pemuda, satu-satunya kegagalan adalah kalau kita hanya diam di tempat. Dan satu-satunya kesuksesan adalah kalau kita terus melangkah ke depan. Kita mungkin tersandung-sandung, kita mungkin jatuh, tapi kita tidak akan tiba di tujuan hati kita kalau kita tidak melangkah bersama,” seru Mendikbud dalam pidatonya.

Ia juga mengimbau generasi muda agar tidak hanya menunggu dunia berubah, karena dunia ada di tangan pemuda. “Asal kita berani melangkah, kita tak akan pernah kalah,” tuturnya.

Upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Kantor Kemendikbud tahun ini berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Setelah semua rangkaian upacara dilakukan, ada penampilan beberapa pertunjukan seni, yaitu Tari Kolosal tentang Persatuan Indonesia, Musikalisasi Puisi dari SMK Musik Perguruan Cikini, dan penampilan Band Prodijis dari anak-anak berkebutuhan khusus.

Di akhir upacara, Mendikbud bahkan sempat melakukan swafoto bersama (wefie) dengan pegawai Kemendikbud yang menjadi peserta upacara. Suasana di lapangan upacara pun semakin meriah karena pegawai sangat antusias berfoto dengan Mendikbud Nadiem Makarim. Mereka mengenakan pakaian adat atau pakaian daerah selama mengikuti upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91.

Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengadakan Forum Badan Koordinasi dan Kehumasan (Bakohumas) Kementerian/Lembaga sebagai bentuk komunikasi program kebijakan kepada humas pemerintah dan masyarakat. Hal ini sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo mengenai kehumasan pemerintah yang meminta semua program pemerintah harus disosialisasikan ke masyarakat.

Forum Bakohumas dengan tema “Pengembangan Teknologi Pendidikan Melalui Digitalisasi Sekolah” dibuka oleh Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (BKLM) Kemendikbud, Ade Erlangga Masdiana, di Gedung A Kemendikbud, Jakarta, Selasa (15/10/2019).  Dalam sambutannya, Ade Erlangga mengatakan, ada konsekuensi yang dihadapi dunia pendidikan dalam memasuki industri 4.0 sehingga harus berbasis teknologi informasi. “Kemendikbud merespons itu dengan digitalisasi sekolah," ujarnya.

Menurutnya, digitalisasi sekolah sudah sewajarnya mulai digalakkan. Hal ini didukung dengan statistik dari  Asosisasi Penyelenggaraan Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2019, yang merilis data bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 150 juta orang dengan jumlah penduduk sebanyak 260 juta jiwa. Dilihat dari latar belakang pendidikan, sebesar 88-persen berasal dari lulusan S2 dan S3, dan 79,23-persen merupakan lulusan sarjana atau diploma. Melalui program Digitalisasi Sekolah, diharapkan guru terbiasa menggunakan internet dan kegiatan belajar mengajar. Guru juga dapat lebih mudah mengimplementasikan digitalisasi dalam pembelajaran.

Forum Bakohumas ini menghadirkan Direktur Infokom Polhukam Kementerian Komunikasi dan Informasi, Bambang Gunawan. Bambang mengatakan, teknologi muncul untuk memecahkan masalah di Indonesia. “Platform juga hadir untuk memecahkan masalah pendidikan di Indonesia," ujarnya. Platform yang digunakan Kemendikbud dalam melancarkan digitalisasi sekolah yaitu Rumah Belajar. Rumah Belajar bisa diakses secara gratis oleh masyarakat melalui laman belajar.kemdikbud.go.id atau aplikasi Rumah Belajar di ponsel berjenis android. Dalam pengembangannya, Rumah Belajar membutuhkan kontribusi dari berbagai pihak, antara lain untuk mengisi konten Rumah Belajar.

Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerja sama dengan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) kembali menggelar kompetisi sepak bola jenjang pendidikan SMP, Gala Siswa Indonesia (GSI) tingkat nasional tahun 2019. Kompetisi ini diikuti siswa dari 34 provinsi se-Indonesia, berlangsung pada tanggal 8 s.d. 19 Oktober 2019.

“Tahun 2019 ini kita kembali menyelenggarakan Gala Siswa Indonesia, kejuaraan sepak bola tingkat SMP, yang kedua kalinya, setelah tahun lalu kita berhasil melaksanakan. Penyelenggaraan GSI memiliki landasan hukum yang sangat kuat yaitu berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 3 tahun 2019,” terang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy saat membuka Gala Siswa Indonesia jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) Tingkat Nasional Tahun 2019, di Gelanggang Olahraga (GOR) Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (8/10/2019).

Mendikbud berharap agar para siswa yang berlaga dalam pertandingan ini bisa menunjukkan bakat dan permainan terbaik mereka. Pemenang kejuaraan ini akan mendapatkan kesempatan berlatih sepak bola dari klub terkenal di luar negeri. “Satu lagi pesan saya, jaga sportivitas, junjung tinggi kejujuran, bermainlah dengan cerdas, tunjukkan bahwa anak-anak SMP Indonesia bisa diandalkan bermain sepak bola,” kata Mendikbud.

“Seperti tahun lalu, akan saya minta yang nanti menjadi juara untuk mendapatkan kesempatan berlatih ke luar negeri, mengikuti pelatihan di beberapa klub sepak bola yang terkenal baik di Asia maupun di Eropa. Mudah-mudahan nanti bisa berjalan dengan baik. Karena itu, kalau ingin Anda semua berangkat keluar negeri untuk mengikuti pelatihan khususnya di klub-klub terkenal, jadilah juara pada kesempatan kali ini”, imbuh Mendikbud.

Penyelenggaraan GSI, kata Mendikbud, harus menjadi titik balik dunia persepakbolaan Indonesia. Namun harus disadari bahwa kerja sama antar instansi sangat penting untuk pembinaan bibit-bibit unggul di bidang persepakbolaan. “Harapan besar saya untuk event GSI ini akan bisa terdeteksi talenta-talenta hebat yang memiliki bakat istimewa di bidang persepakbolaan. Tapi memang Kemendikbud tidak mungkin berjalan sendirian. Oleh karena itu, harapan kami agar pihak Kemenpora akan memberikan dukungan. Begitu pula dengan KONI dan PSSI,” tutur Mendikbud.

“Saya berterima kasih kepada PSSI dan KONI yang selama ini telah bekerja sama dengan baik. Berdasarkan pengamatan saya, tahun ini pelaksanaannya jauh lebih rapi, dan saya berharap akan muncul talenta-talenta yang terdeteksi dan bisa dibina selanjutnya,” ucap Mendikbud.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kemendikbud, Didik Suhardi, mengungkapkan, penyelenggaraan GSI dilaksanakan secara bertahap, mulai dari tingkat sekolah, kemudian tingkat kecamatan, tingkat kabupaten/kota, dan tingkat provinsi. “Pada tingkat kecamatan di ikuti oleh 2.524 kecamatan, dengan jumlah pertandingan sebanyak 3.517 kali. Kemudian, yang lolos bertanding di tingkat kabupaten yaitu sebanyak 268
tim dengan jumlah pertandingan sebanyak 1.351 kali, yang lolos di tingkat kabupaten kemudian maju ke pertandingan tingkat provinsi dengan jumlah pertandingan sebanyak 335 kali. Jumlah sekolah yang terlibat dalam GSI sebanyak 11.723 sekolah, dengan melibatkan 122.979 siswa. Jadi yang sudah datang ke Jakarta ini adalah mereka yang terbaik di antara yang terbaik”, tutur Didik.

Pertandingan GSI tingkat nasional dilaksanakan di dua lapangan, yakni di stadion Gelanggang Olahraga (GOR) Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan, dan stadion Cendrawasih Cengkareng, Jakarta Barat. “Saya berharap pelaksanaan GSI ini dapat menumbuhkan talenta-talenta yang luar biasa dan maju bersama memajukan persepakbolaan Indonesia,” pungkas Didik.

 

foto

Thursday, 10 October 2019 10:06

Bulan Oktober, Bulan Bahasa dan Sastra

Written by

Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan kembali menggelar kegiatan kebahasaan dan kesastraan yang bertepatan pada setiap bulan Oktober, yaitu Bulan Bahasa dan Sastra. Kegiatan ini bukan hanya untuk memperingati 91 tahun Sumpah Pemuda, melainkan untuk membina dan mengembangkan bahasa dan sastra Indonesia, serta bertekad memelihara semangat dan meningkatkan peran masyarakat luas dalam menangani masalah bahasa dan sastra.

Bulan Bahasa dan Sastra secara rutin diselenggarakan Kemendikbud pada bulan Oktober sejak tahun 1980 sebagai salah satu bentuk memperingati hari lahirnya Sumpah Pemuda, yang menyepakati Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Tema yang diusung pada kegiatan ini adalah “Maju Bahasa dan Sastra, Maju Indonesia”.

Kegiatan diselenggarakan selama bulan Oktober yang puncak pelaksanaannya pada 28 Oktober 2019 di Provinsi DKI Jakarta. Kegiatan ini terdiri dari beberapa rangkaian kegiatan, mulai dari debat bahasa, lomba mendongeng, festival teater, bedah buku, kuis, hingga festival film pendek, diselenggarakan secara beruntun selama bulan Oktober 2019. Pada minggu pertama Oktober 2019 digelar kegiatan Debat Bahasa Antarmahasiswa, Pemartabatan Bahasa Negara di Lingkungan Dharma Wanita Persatuan Pusat, dan Simulasi Layanan Kebahasaan yang berlangsung pada 1 s.d. 4 Oktober 2019.

Selanjutnya, pada minggu kedua, digelar Lomba Mendongeng bagi Difabel dan Festival Teater Rakyat yang berlangsung pada 6 s.d. 13 Oktober 2019. Pada minggu ketiga, digelar Bedah Buku Penerimaan Penghargaan Sastra Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kuis Pelita dan Bahasa, dan Zona Literasi yang berlangsung pada 15 – 18 Oktober 2019.

Kemudian pada minggu terakhir digelar Bincang-Bincang Satu Dasarwasa Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2019 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, hingga ditutup dengan Festival Film Pendek Bahasa Derah yang berlangsung pada 21 Oktober 2019 hingga puncak pelaksanaan pada 28 Oktober 2019.

Tempat pelaksanaan rangkaian kegiatan ini di Gedung Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, di Rawamangun, Jakarta Timur. Terdapat beberapa narahubung di setiap kegiatan untuk memudahkan peserta untuk melakukan pendaftaran ataupun menanyakan informasi lebih lanjut mengenai kegiatan.

Bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa, Bahasa Indonesia juga mewadahi berbagai macam pengetahuan baik berasal dari kearifan nusantara maupun konsep peradaban barat. Beberapa upaya yang dilakukan untuk memajukan bahasa Indonesia antara lain melaksanakan peraturan perundangan yang menjaga dan memastikan keberadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa sejarah, mengembangkan lema atau kosakata, melakukan pembinaan dan penyuluhan bahasa, serta menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional.

FLS2N  merupakan kegiatan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional yang bertujuan untuk memberikan wadah berkreasi dengan menampilkan karya kreatif dan inovatif peserta didik Sekolah Dasar dengan mengedepankan sportivitas dalam pengembangan diri secara optimal sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan. Pada tahun 2019, Provinsi Kalimantan Barat mengirimkan 7 siswa SD untuk mengikuti lomba setelah melalui beberapa tahap seleksi, yaitu :

NO

NAMA

CABANG LOMBA

ASAL SEKOLAH

KABUPATEN/KOTA

1

Nimas Mucika Novesa

Menyanyi solo

SD Islam Terpadu Nurul Islam

Singkawang

2

Fahril Ismaji

Pantomin

SDN 32 Pontianak Tenggara

Pontianak

3

Angeline Keisya Andani

Gambar bercerita

SD Bruder Melati

Pontianak

4

Abdel Azis

Seni tari

SDN 40 Pontianak Utara

Pontianak

5

Toher

Seni tari

SDN 40 Pontianak Utara

Pontianak

6

Ahmad Khoiruddin

Seni tari

SDN 40 Pontianak Utara

Pontianak

7

Suchi Nurhaliza

Kriya Anyam

SDN 06 Peniti

Sekadau

 

Peserta FLS2N-SD dari Provinsi Kalimantan Barat berangkat mengikuti lomba tingkat nasional di Hotel Allium Tangerang, Banten beserta 5 orang pelatih (Sumiati, S.Pd, SD pelatih penyanyi solo, Fahrizal, SH  pelatih pantomin, Yeny Widjaja pelatih gambar bercerita, Asmanto, S.Pd pelatih seni tari, Janjemah, S.Pd, SD pelatih kriya anyam)  dan 1 orang ketua tim dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat (Ryan Wahyudi, A.Md) untuk mengikuti perlombaan yang terdiri dari 5 jenis bidang lomba, yaitu lomba menyanyi solo, lomba seni tari, lomba pantomime, lomba gambar bercerita dan kriya anyam.

 

Setelah mengikuti FLS2N-SD yang dilaksanakan tanggal 15 - 21 September 2019, beberapa prestasi berhasil diraih oleh peserta dari Provinsi Kalimantan Barat, yaitu :

  1. Juara 1 tari, diraih oleh Abdel Aziz, Toher dan Ahmad Khoiruddin dari SDN 40 Pontianak Utara
  2. Juara 3 pantomin, diraih oleh Fahril Ismaji dari SDN 32 Pontianak Tenggara
  3. Juara harapan 2 gambar cerita, diraih oleh Angeline Keisya Andani dari SD Bruder Melati Pontianak

 

Kegiatan FLS2N-SD ini diharapkan dapat meningkatkan kreativitas dan memotivasi peserta didik untuk mengekspresikan diri melalui kegiatan sesuai dengan minat, bakat dan kemampuannya. Melalui kegiatan FLS2N-SD ini pula diharapkan dapat tetap terpeliharanya semangat dan komitmen para praktisi pendidikan di daerah, sehingga memungkinkan mereka selalu berupaya mengembangkan proses pendidikan khususnya bidang seni dan budaya.