Warta Pendidikan

Warta Pendidikan (465)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Dunia Pendidikan

Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) bekrja sama dengan PT. Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) menyediakan akses internet terjangkau bagi civitas akademika dalam rangka mendukung pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Penandatanganan nota kesepahaman tersebut dilakukan secara virtual oleh Sekretaris Ditjen Dikti, Paristiyanti Nurwardani dengan Senior Vice President Enterprise Telkomsel, Dharma Simorangkir pada Jumat (17/07). Turut hadir dalam acara ini, Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Nizam, dan Direktur Sales PT. Telkomsel, Ririn Widaryani.

Pelaksana Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Plt. Dirjen Dikti), Nizam menyatakan bahwa kerja sama strategis ini diinisiasi menindaklanjuti terbitnya Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tanggal 17 Maret 2020 tentang Pembelajaran Secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam rangka Pencegahan Penyebaran Coronavirus Disease (COVID-19).

“Menindaklanjuti surat edaran tersebut, saya menghubungi Dirut Telkomsel, Bapak Setyanto Hantoro, untuk minta dukungan dalam menyediakan layanan bagi mahasiswa dengan biaya yang terjangkau. Alhamdulillah Pak Dirut merespon dengan sangat baik,” jelas Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Plt. Dirjen Dikti) Kemendikbud, Nizam dalam sambutannya.

Ditjen Dikti, lanjut Nizam, melakukan pendataan beberapa portal pembelajaran jarak jauh yang dikelola perguruan tinggi maupun portal Ditjen Dikti yaitu Sistem Pembelajaran Dalam Jaringan (Spada) Kemendikbud. Untuk kemudian disampaikan kepada operator telekomunikasi sehingga akses ke portal-portal tersebut tidak berbayar atau gratis sebagai bentuk dukungan kepada sektor pendidikan pada masa pandemi.

Nizam mengapresiasi dukungan Telkomsel selama ini yang memberikan paket data terjangkau kepada mahasiswa dan dosen. Kerja sama antara Kemendikbud dengan PT. Telkomsel diperkuat melalui nota kesepahaman yang ditandatangani hari ini. Khususnya, mengenai kejelasan paket-paket untuk para mahasiswa agar bisa melakukan pembelajaran dari rumah dan harga paket tersebut semakin terjangkau.

“Ini waktunya untuk berbagi di antara perusahaan dengan perguruan tinggi untuk kepentingan pendidikan dan memastikan anak-anak kita semua bisa belajar dengan baik dengan biaya yang terjangkau,” ungkap Nizam.

Direktur Sales PT. Telkomsel, Ririn Widaryani, mengungkapkan bahwa Telkomsel akan terus berdiri paling depan, menjadi pelopor untuk penyedia solusi pembelajaran jarak jauh.
“Tentunya terus berkolaborasi dengan semua pemangku kepentingan juga menjadi komitmen kami yang terus kami jaga dan terus konsisten. Sebelum ada MoU ini kami termasuk operator pertama yang menyediakan solusi pendidikan jarak jauh di awal masa  pandemi melalui kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi,” terang Ririn.

Dilanjutkan Ririn, Telkomsel merasa bangga bisa berkolaborasi dengan Ditjen Dikti agar jangkauan manfaat dukungan penyediaan akses internet terjangkau untuk sektor pendidikan dapat merata dan dirasakan oleh para warga perguruan tinggi, baik mahasiswa, dosen, serta karyawan.

Kerja sama dengan Ditjen Dikti dilakukan seiring dengan penerbitan Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri dalam Negeri mengenai Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru  di Masa COVID-19.

“Jadi dalam kesempatan hari ini seperti yang mungkin sudah disiapkan oleh tim, kita akan menandatangani MoU di mana di dalamnya ada penyediaan paket untuk perguruan tinggi yang terdiri dari kuota reguler dan kuota khusus cloudx untuk konferensi video seperti yang kita lakukan hari ini. Sudah ada akses ke website materi belajar mengajarnya di situs kampus perguruan tinggi dan kami berikan free untuk aksesnya dalam paket khusus ini,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Ditjen Dikti, Paristiyanti Nurwardani, menyampaikan kerja sama antara Telkomsel dan Kemendikbud ini merupakan salah satu upaya dari Ditjen Dikti agar setiap anak bangsa tetap bisa belajar dengan baik. “Ini adalah upaya Ditjen Dikti untuk mempermudah anak bangsa di setiap perguruan tinggi untuk tetap dapat mengakses dan menjalankan aktivitas pembelajaran dengan baik,” jelasnya.







Jakarta, 17 Juli 2020
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Laman: kemdikbud.go.id
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI

Jakarta, Kemendikbud --- Melalui Webinar Asesmen dan Pembelajaran Literasi dan Numerasi di Masa Pandemi, Kemendikbud mengajak guru maupun orang tua untuk berperan aktif dalam mendampingi anak menjalankan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Webinar tersebut diselenggarakan Pusat Asesmen dan Pembelajaran, Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbud dan bertujuan untuk membangkitkan minat dan semangat guru agar tetap konsisten membantu perkembangan anak Indonesia di masa pandemi Covid-19. Hambatan dalam pembelajaran yang dihadapi selama masa pandemi menyebabkan adanya defisit kompetensi pada proses belajar-mengajar, sehingga guru perlu melakukan asesmen untuk mengetahui capaian belajar siswa.

Kepala Pusat Asesmen dan Pembelajaran, Asrijanty, menyadari adanya penurunan kompetensi pada sistem pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Menurutnya, sebagian anak mungkin belajar, namun tidak optimal. Sementara sebagian bahkan mungkin tidak berkesempatan belajar sama sekali.

“Bila kejadian ini terus berlanjut, maka akan menyebabkan kerugian dan berpengaruh pada masa depan mereka. Hasil studi Pusat Penelitian Kebijakan Kemendikbud menunjukkan, (jumlah) siswa yang setiap hari belajar dalam seminggu tidak sampai 50 persen, dan waktu belajar pun kurang dari tiga jam dalam sehari. Oleh karena itu, asesmen oleh guru untuk mengetahui capaian siswa perlu dilakukan,” ujar Asrijanty saat membuka Webinar Asesmen dan Pembelajaran Literasi dan Numerasi di Masa Pandemi, Jumat (10/7/2020).

Webinar dibagi menjadi dua sesi dengan menghadirkan enam narasumber, yaitu Dinn Wahyudin, Guru Besar Bidang Ilmu Pengembangan Kurikulum Universitas Pendidikan Indonesia; Rahmawati dan Susanti Sufyadi, dari Pusat Asesmen dan Pembelajaran; Sofie Dewayani, Satuan Tugas (Satgas) Gerakan Literasi Sekolah; Dicky Susanto, perwakilan dari Calvin Institute of Technology; dan Fourgelina, dari Yayasan Literasi Anak Indonesia.

Pada sesi pertama, Dinn Wahyudin mengenai bagaimana dan cara apa yang tepat untuk dilakukan dalam mendiagnosis kondisi siswa dalam aspek kognitif dan nonkognitif di masa pandemi Covid-19. Ia mendukung pernyataan Asrijanty mengenai adanya penurunan capaian siswa di masa pandemi. Kesimpulan ini didukung oleh kajian nasional dan internasional, salah satunya ialah kajian dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Karena itulah ia meyakinkan tenaga pendidik untuk benar-benar melakukan remedial teaching, yaitu peninjauan kemampuan serta kesulitan yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran, dan diagnostic treatment, yaitu mengidentifikasi dan merancang perlakuan yang perlu diberikan untuk menindaklanjuti proses pembelajaran berikutnya.

Selaras dengan hal itu, Koordinator Analisis dan Penelitian Pusat Asesmen dan Pembelajaran, Rahmawaty, juga menjabarkan kelima prinsip yang harus ada pada proses asesmen, yaitu valid, reliabel atau konsisten, adil, fleksibel, dan memberikan umpan balik untuk pembelajaran. “Yang paling esensial dari asesmen adalah kita punya informasi, kita tahu siswa bisanya apa, tidak bisanya apa. Dan itulah yang akan kita refleksikan kepada pembelajaran ke depannya,” ungkapnya.

Rahmawati juga memaparkan materi yang dilengkapi dengan contoh dan produk yang lebih signifikan, salah satunya ialah cuplikan video dari aplikasi permainan yang dapat digunakan oleh tenaga pendidik, yaitu ‘Desatika’. Permainan Desatika yang seolah mengajak siswa untuk membangun desa selagi mengerjakan soal matematika, dianggap telah teruji. “Program ini sudah diujicobakan di lebih dari 400 SD di daerah tertinggal. Jadi kalau daerah tertinggal berhasil menggunakan ini, kami yakin Bapak Ibu sekalian yang ada di Nusantara juga dapat memanfaatkan aplikasi ini,” ujarnya.

Selain itu, Balitbang Kemendikbud juga sudah menyediakan konten video berjudul ‘Asesmen Diagnosis Berkala’ sebagai panduan yang dapat menjelaskan proses asesmen secara rinci bagi tenaga pendidik. Video tersebut dapat diakses di kanal Youtube Balitbang atau melalui tautan berikut: https://youtu.be/AzzTT-wcKHU.

Webinar Asesmen dan Pembelajaran Literasi Numerasi di Masa Pandemi disiarkan langsung melalui aplikasi konferensi video yang dapat diakses oleh peserta yang sudah mendaftarkan diri melalui tautan http://ringkas.kemdikbud.go.id/SeminarDaringLitbang . Selain itu, webinar juga dapat disaksikan melalui kanal Youtube Balitbang Kemendikbud.

Sukabumi - Metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang telah ditetapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim saat situasi pandemi virus Covid-19 dinilai sebagai solusi paling tepat.

Demikian diungkapkan Kepala Sekolah SMA Negeri 4 Sukabumi, Jawa Barat, Rahmat Mulyana, Rabu (8/7/2020).

Menurut Rahmat, apa pun bentuk sistem pembelajarannya saat kondisi pandemi, yang terpenting adalah esensinya menciptakan ikatan batin antara guru dan siswa.

Sehingga dengan begitu, ucap Rahmat, seluruh kegiatan belajar mengajar tetap dapat terlaksana meski di tengah situasi yang sulit serta berbeda dari biasanya.

"Meski melalui belajar dalam jaringan (daring), siswa tetap dapat menyerap ilmu. Ini juga merupakan penerapan dari konsep Merdeka Belajar," kata Rahmat.

Rahmat menuturkan, ketika PJJ diimplementasikan, juga terbukti mampu membuat para guru berinovasi agar siswa dapat menyerap mata pelajaran meski tidak tatap muka.

"Kita sesuaikan dengan kondisi dan kenyataan di lapangan, mulai dari memanfaatkan media televisi hingga berbagai inovasi yang diberikan guru agar memudahkan murid mencerna pelajaran daring," ujar Rahmat.

Guna informasi, sejak merebaknya pandemi, Nadiem Makarim telah memutuskan meniadakan belajar mengajar tatap muka dan menggantinya dengan PJJ.

Berbagai kebijakan ditetapkan Nadiem Makarim untuk mendukung PJJ, antara lainnya, menggandeng TVRI menyiarkan tayangan Belajar dari Rumah maupun membolehkan penggunaan dana BOS dipakai berlangganan platform belajar online serta membeli pulsa internet.

Dukung sistem belajar kombinasi

Hal lainnya yang disampaikan Rahmat adalah dukungannya untuk pelaksanaan sistem pembelajaran hybrid atau kombinasi antara PJJ dan tatap muka bila jadi ditetapkan Nadiem Makarim.

Rahmat berkomitmen, para Guru bakal siap mengerahkan tenaga tambahan guna mendukung kelancaran program belajar kombinasi tersebut jika direalisasikan.

"Ini luar biasa, akan membutuhkan daya kerja lebih karena Guru harus memikirkan pendidikan daring juga bertatap muka. Oleh sebab itu, kami akan membagi tugas kepada mereka untuk menangani kedua metode pembelajaran," papar Rahmat

Selanjutnya, agar seluruh metode pembelajaran dapat berlangsung efektif, tagihan-tagihan kurikulum tidak akan menjadi penekanan utama.

"Pastinya pemberian materi esensial harus siswa dapatkan. Kembali lagi inovasi dari para Guru yang diprioritaskan agar anak didiknya tetap belajar meski dalam kondisi pandemi," pungkas Rahmat.

Baru-baru ini, Nadiem Makarim juga menyampaikan wacananya untuk membuat permanen PJJ yang dipadukan dengan aktivitas belajar mengajar tatap muka seperti biasanya.

Rencana tersebut dikemukakan sebab menganggap adanya keunggulan positif dari PJJ, salah satunya yaitu soal kecepatan terhadap adaptasi teknologi.

Tuesday, 07 July 2020 08:04

Kisah Guru Penggerak: Membangun Keteladanan di Sekolah

Written by

Jakarta, Kemendikbud—Kepemimpinan adalah nilai yang mutlak harus dimiliki dalam mengelola institusi pendidikan. Di dalamnya terkandung semangat memajukan lingkungan di internal intitusi, juga ada tekad untuk membantu lingkungan eksternal untuk maju bersama. Konsep ini idealnya dapat dimiliki kepala sekolah, pengawas dan para mentor di dunia pendidikan.

“Kepemimpinan adalah segala-galanya dalam proses pendidikan kita. Kepemimpinan yang baik tidak hanya mampu mengelola administrasi sekolah namun juga berfokus pada peningkatan kemampuan masing-masing guru di sekolah. Barulah transformasi pendidikan akan terjadi,” ucap Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makariem, antusias saat berbincang dengan dua kepala sekolah penggerak dalam Acara Peluncuran Merdeka Belajar Episode Lima: Guru Penggerak melalui telekonferensi di Jakarta (3/7/2020). 

Mendikbud begitu bersemangat mengelaborasi aktivitas pembelajaran yang sudah dijalankan oleh dua kepala yang berhasil mewujudkan konsep Merdeka Belajar di sekolahnya. Mereka adalah Mariance Wilda Dida, kepala Sekolah SDN 9 Masohi, Maluku Tengah.

Ketika Mariance menceritakan usahanya membangun sekolah ramah anak, tahap awal ia berusaha mengenalkan konsep ini kepada guru-gurunya. Ia yakin, menciptakan budaya institusi yang baik harus dimulai dengan keteladanan yang dicontohkan guru kepada siswa.

Dengan begitu, nilai-nilai kasih sayang antarsesama lebih mudah dipahami dan ditiru oleh seluruh warga sekolah, termasuk orang tua. Pendekatan persuasif dalam mendidik anak usia dini akan membawa dampak positif bagi psikologis mereka yang akan dibawanya hingga dewasa. “Orang tua sekarang mengerti, anak punya keunikan tersendiri yang tidak bisa disamakan begitu saja. Ketika kita mengenal potensi anak dan ketika anak sudah merasa senang, pelajaran apapun akan mudah masuk” katanya. 

Mariance mengatakan, saat ini guru-guru di sekolahnya merasakan banyak manfaat yang bisa diambil ketika mendidik anak dengan lembut. Para guru cukup memberi kode-kode tertentu yang telah disepakati dengan murid, untuk menertibkan mereka di kelas. "Guru  menjadi lebih mudah mengarahkan mereka. Tidak perlu gebrak meja,” lanjut Mariance.

Namun, apa yang ia raih sekarang, bukan tanpa perjuangan. Awalnya hanya tiga guru yang mendukung konsep pendidikan yang ia gagas. Sebagai terobosan, ia memberi kesempatan kepada guru-guru untuk berkonsultasi dengan para pakar pendidikan anak usia dini. Akhirnya perjuangan dan kesabaran kepala sekolah ini membuahkan hasil. Perlahan, para guru memiliki wawasan yang terbuka dan termotivasi untuk mewujudkan konsep pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik. “Adanya perubahan di sekolah itu bisa terjadi dengan niat yang tulus,” ucap Mariance.  

Mendengar cerita itu Mendikbud merasa senang karena kepala sekolah tersebut mempunyai visi yang sama untuk memfokuskan orientasi pembelajarannya kepada siswa. “Anak adalah benang merah dari semua proses pembelajaran di sekolah. Orientasi kepada anak luar biasa. Saat kita memiliki paradigma maka arah pembelajaran kita menjadi lebih jelas,” tekan Nadiem. 

Mendikbud mengatakan, banyak orang tidak menyadari koneksi antara sekolah yang menyenangkan bagi murid dengan proses pembelajaran. Seolah-olah itu dua hal yang berbeda. Padahal psikologi yang aman (saat siswa belajar), kata dia, akan meningkatkan kemampuan dia mempelajari sesuatu dibandingkan anak yang merasa tertekan dalam proses pembelajarannya. 

Ditambahkan Menteri Nadiem, bahwa sangat mungkin ada resistensi saat kita mengenalkan konsep baru kepada orang lain. Pasti ada tantangan namun ketabahan, pantang menyerah dan komunikasi yang konsisten adalah kuncinya.

Jakarta, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makariem, antusias saat berbincang dengan dua kepala sekolah penggerak dalam Acara Peluncuran Merdeka Belajar Episode Lima: Guru Penggerak melalui telekonferensi di Jakarta (3/7/2020). Pada kesempatan ini, Mendikbud memberi kesempatan kepada Nyoman Darta, Kepala Sekolah SMAN 1 Mandara, Bali, untuk menguraikan praktik baik sekolah penggerak yang ia pimpin. Pada sesi tersebut, Nyoman bercerita bahwa tantangan terbesar yang ia hadapi adalah latar belakang sosial ekonomi calon peserta didiknya.

Banyak dari mereka memiliki masalah keluarga yang kompleks sehingga mereka tumbuh dengan rasa percaya diri yang rendah. Kemiskinan, gizi buruk, dan sarana belajar yang minim adalah masalah-masalah yang dihadapi siswanya. Namun Nyoman optimistis, dengan ketulusan, keikhlasan dan kasih sayang siswa didikannya bisa meraih kesuksesan. “Di sinilah saya membutuhkan guru-guru yang mau mengajar dengan ketulusan yang bisa menyentuh hati anak-anaknya. Jika hatinya (siswa) sudah disentuh maka mereka akan dengan senang hati mengikuti pembelajaran di kelas, di luar kelas maupun di manapun mereka belajar,” ucapnya.

Nyoman menjelaskan bahwa melalui Program The Calling, ia mengajak seluruh siswa untuk menulis mimpi mereka pada secarik kertas yang selanjutnya dimasukkan ke dalam botol. Time capsule namanya. Botol itu kemudian ditaruh di dalam kotak yang disebut The Calling Cest. “Mimpi itulah yang mereka selalu ingat untuk dikejar selama dua, tiga bahkan empat tahun karena kami menggunakan sistem kredit semester. Kami ingin membantu menyukseskan mimpi mereka dan saya harus bisa meyakinkan mereka bahwa seluruh hambatan bisa dipecahkan,” terangnya.

Dalam menghadapi tantangan, masing-masing siswa diberi triplek untuk menulis seluruh kelemahan mereka. Selanjutnya semua siswa membakar triplek itu dalam api unggun. “Filosofinya adalah semua hambatan mereka sudah dimusnahkan dan mereka membacakan Ikrar Api. Ikrarnya adalah api di dalam dada mereka harus tetap hidup meskipun mereka berasal dari keluarga miskin. Mereka harus yakin bahwa kelemahan mereka bukan penghalang kesuksesan. Jika ada api yang redup di antara mereka maka teman yang lain harus memiliki kepedulian untuk berempati dan membantu menguatkan satu sama lain,” kata Nyoman. 

Mendapati kondisi peserta didiknya, Nyoman beserta jajarannya merancang metode kurikulum yang sesuai dan berkesinambungan. “Kami buat program kurikulum yang melatih mereka perkalian sederhana, hitung bagi, jepit, pecahan, bahasa Inggris dasar, dan komputer kami latih. Sebelumnya kami hilangkan stres mereka dengan Program Consciousness Base Education yaitu pendidikan yang berbasis kesadaran,” kata dia.

“Kami ajak anak-anak duduk hening di pagi dan sore hari selama 15 menit. Terbukti kegiatan ini dapat menurunkan stres, meingkatkan daya ingat dan toleransi. Tiga bulan ke depan kami berjuang bagaimana mereka punya mimpi dan membangun kesadaran mereka sebelum masuk ke pembelajaran. Kami yakin, anak-anak bisa hidup dengan potensi mereka masing-masing asalkan kami berhasil mengidentifikasi dan mengembangkan keunikan-keunikan mereka,” ucapnya yakin.

Upaya yang dilakukan Nyoman tidak tanggung-tanggung, pihaknya turut memfasilitasi peserta didik agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Nyoman dan guru-gurunya melayani para siswa dari pukul 04.45-22.00 dengan baik di sekolah. Tim sekolah juga memfasilitasi untuk mencarikan akses ke perguruan tinggi yang baik di tingkat nasional maupun luar negeri. "Mereka harus dapatkan biaya pendidikan dan biaya hidup. Anak-anak banyak yang meneruskan sekolah ke ITB, UI, dan universitas lainnya bahkan hingga ke Amerika, Australia, India, Taiwan, dan Jepang. Harapan kami dari hal kecil ini kami bisa memperbaiki nasib mereka, memutar perekonomian keluarganya sehinga mereka bisa memberi manfaat bagi sekitar,” harap Nyoman.

“Luar biasa. Saya merinding mendengarnya.” Itulah kalimat yang terlontar dari Mendikbud usai Nyoman menjabarkan konsep pembelajaran di sekolahnya. Lebih lanjut Menteri Nadiem menyampaikan, perubahan tidak mungkin terjadi jika guru maupun pimpinan unit pendidikan tidak percaya terhadap potensi setiap anak. Jika guru sudah menyerah, maka siswa tidak akan bisa melakukan lompatan besar dalam pembelajarannya.

Mendikbud mengatakan, sekolah harus menciptakan lingkungan yang bisa melepaskan potensi peserta didik. Sekolah juga harus memiliki keyakinan bahwa seorang anak punya potensi dan tinggal dikeluarkan saja. "Ikuti kemampuan masing-masing anak, itu terbukti bisa mengembangkan potensi mereka,” imbuhnya.

Mendikbud optimistis, jika guru berhasil menyalakan ‘obor’ keyakinan dalam diri peserta didik maka secara otomatis dia akan mampu mengakselerasi kemajuannya sendiri. “Dia akan menyerap ilmu, akan mencari ilmu karena dia yakin dia bisa. Bukan hanya Pak Darta dan Bu An saja, tapi di Indonesia jika banyak yang bisa menyalakan obor pendidikan kita maka kita akan temukan pendidikan kita yang memerdekakan,” tutupnya.