Warta Pendidikan

Warta Pendidikan (396)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Dunia Pendidikan

Monday, 26 August 2019 13:25

Mendikbud: Literasi Lebih Dari Sekadar Membaca Buku

Written by

Jakarta, Kemendikbud --- Dalam diskusi kelompok terpumpun (DKT) Gerakan Literasi Nasional (GLN) Tahun 2019, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyampaikan bahwa ruh dari semua gerakan pendidikan adalah literasi. Guru Besar Universitas Negeri Malang itu mengingatkan agar makna literasi jangan direduksi sekadar membaca buku saja.

"Padahal literasi itu tidak hanya membaca buku saja. Melalui membaca itu kemudian seseorang memiliki perspektif baru. Kemudian dia juga membuat karya. Proses itu terjadi terus menerus sepanjang hayat," diungkapkan Menteri Muhadjir Effendy di depan para peserta Diskusi Kelompok Terpumpun GLN Tahun 2019 di Hotel Atlet Century, Jakarta, Rabu (21/8/2019).

Mendikbud berharap agar program literasi yang dijalankan dapat tertanam dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. "Bagaimana menanamkan sikap positif gemar membaca, gemar menulis, gemar berimajinasi, itu yang harus kita dorong. Terutama termasuk para guru, tutor, bahkan kepada para tokoh masyarakat. Menyadarkan mereka tentang betapa pentingnya literasi itu", ungkap Muhadjir.

Guru hendaknya dapat membimbing dan merangsang siswa untuk berkreasi dari referensi yang dibacanya. Tidak sekadar mewajibkan untuk membaca buku saja, tetapi memantik diskusi sehat yang melatih daya kritis dan kemampuan berkomunikasi.

"Gerakan literasi itu harus bisa merangsang anak untuk berimajinasi terhadap apa yang dia baca. Kemudian dia mengekspresikan mengenai apa yang dia baca. Kemudian dia bisa membuat karya yang lain dari apa yang sudah dibacanya tadi," jelas Muhadjir.

"Sekarang anak-anak bisa mendapatkan informasi, pengetahuan dari mana saja. Dari internet, makanya guru jangan terpaku literasi itu membaca buku saja," tambah Mendikbud.

Pada peta jalan GLN 2016—2019, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menetapkan enam literasi dasar yang wajib dikembangkan melalui tripusat pendidikan (sekolah, keluarga, dan masyarakat). Di antaranya literasi bahasa, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial serta literasi budaya dan kewarganegaraan.

Diskusi yang diselenggarakan Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan ini bertujuan untuk membangun sinergi dalam mengembangkan dan memperkuat Gerakan Literasi Nasional di Indonesia yang dilakukan oleh berbagai kementerian dan lembaga serta masyarakat.

Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Dadang Sunendar berharap diskusi dapat merumuskan rekomendasi agenda bersama lintas kementerian dan lembaga serta masyarakat dalam rangka penguatan kerja sama, pemberdayaan pegiat literasi dan fasilitasi kegiatan GLN.

Terdapat lima tema dalam DKT GLN Tahun 2019, yaitu: Peta Jalan GLN Tahun 2019—2024, Rancangan pembuatan Peraturan Presiden (Perpres)/Instruksi Presiden (Inpres) tentang GLN, Praktik/Aksi Baik GLN, Literasi Digital, dan Literasi Numerasi.

"Mendatang, kita akan coba fokus pada dua literasi, yaitu literasi digital dan literasi numerasi," kata Dadang Sunendar.

Saturday, 24 August 2019 19:54

Gala Siswa Indonesia (GSI) Jenjang SMP Tahun 2019

Written by

Pontianak - Gala Siswa Indonesia (GSI) SMP Prov. Kalbar Tahun 2019 berlangsung pada tanggal 19-24 Agustus 2019 di Lapangan Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak.
GSI SMP Prov. Kalbar diikuti oleh 7 kabupaten di Provinsi  Kalimantan Barat meliputi Kab. Kubu Raya, Kab. Landak, Kab. Bengkayang, Kab. Sintang, Kab. Kapuas Hulu, Kab. Ketapang dan Kab. Sambas. Dalam pertandingan finalnya turut disaksikan oleh Bupati Sambas,  Bupati KKR dan Kepala LPMP Kalimantan Barat,  Pemenang dalam GSI SMP Provinsi  Kalimantan Barat adalah Juara Pertama Kab. Kubu Raya, Juara kedua Kab. Sambas, Juara ketiga Kab. Ketapang dan Juara keempat Kab. Kapuas Hulu. Penyerahan hadiah secara simbolis   Juara 1 oleh Bupati Sambas, juara 2 oleh Bupati KKR, juara 3 Kep. LPMP dan juara 4 oleh Ketua Asosiasi Propinsi PSSI Kalimantan Barat .

 

 

Jakarta, Kemendikbud -- Guru yang hebat  adalah guru yang memiliki karakter yang unggul dan menjadi teladan bagi peserta didik. Pembentukan karakter pada peserta didik dilakukan melalui keteladanan yang dapat ditiru oleh siswa. Pembentukan karakter pada siswa peserta didik hanya dapat dilakukan oleh guru-guru yang berkarakter pula.

Pendidikan karakter menanamkan kebiasaan tentang hal yang baik sehingga siswa menjadi paham tentang mana yang baik dan salah, mampu merasakan nilai yang baik, dan biasa melakukannya. Dengan demikian pendidikan karakter erat kaitannya dengan kebiasaan yang dilakukan terus menerus.

"Pendidikan Karakter yang paling mendasar adalah siswa melihat sendiri karakter pada gurunya,” ujar mantan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Indra Djati Sidi, pada saat pembekalan guru dalam Pleno Pemilihan Guru Berprestasi Berdedikasi dan Kreativitas Jenjang Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus di Jakarta, (15/8/2019). Kegiatan tersebut merupakan rangkaian kegiatan Pemilihan Guru dan Tenaga Pendidikan Berprestasi dan Berdedikasi 2019.

Menurut Indra, guru yang berkualitas akan memiliki karakter yang baik, yang mana perilakunya dapat ditiru oleh peserta didik. Pendidikan karakter lebih penting dari matematika dan fisika, bukan sekadar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah.

“Karakter itu adalah Anda, karena Anda adalah guru-guru berprestasi. Jika kita tidak berkarakter, tidak mungkin dapat berprestasi. Orang yang berprestasi adalah orang yang berkarakter, kerja keras, disiplin, mau belajar dan bangkit dari kekalahan,” katanya.

Indra mengatakan, guru hebat bukanlah guru yang sudah memiliki sertifikat profesional, tetapi guru yang hebat adalah guru yang memiliki kemampuan karakter lebih dibandingkan dengan guru-guru yang lainnya.

“Jadi, guru-guru berprestasi yang berada disini tolong didiklah siswa dengan karakter dan berikan contoh suri teladan. Karakter ini akan berlaku di zaman apapun. Jika kita tidak didik anak dengan karakter maka akan tumbang,” tuturnya.

Ia menegaskan, pendidikan karakter sangat penting, karena jika kita ingin menjadi bangsa yang besar, karakter itu harus terus dibangun, dan diajarkan dari pendidikan dasar sebagai modal generasi bangsa hingga dewasa. “Di sinilah peran guru sangat penting dan tidak hanya mentransformasi ilmu,” ujarnya.

Thursday, 15 August 2019 07:17

Puluhan Penutur Asing Ikuti Lomba Bahasa Indonesia

Written by

Jakarta, Kemendikbud --- Sebanyak 31 penutur asing yang berasal dari 18 negara mengikuti Lomba Bahasa Indonesia yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta (15/8/2019). Seluruh peserta terbagi ke dalam tiga bidang lomba, yaitu pidato, cerita rakyat, dan debat.

Kepala Bagian Fasilitasi Internasional dari Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negeri (PKLN), Yaya Zakaria menyampaikan bahwa lomba ini adalah salah satu cara untuk memperkenalkan Indonesia melalui bahasa. Yaya berharap peserta yang mengikuti lomba dapat turut membantu menyebarkan bahasa Indonesia secara meluas.

"Harapannya ke depan, mudah-mudahan bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional. Mereka bisa menyebarluaskan, mereka berminat, (jadi) seperti bola salju," tuturnya.

Salah satu juri lomba, Emi Emilia menuturkan bahwa peserta yang mengikuti lomba sudah bagus. Hal itu terlihat dari kemampuan mereka berpidato. 

"Bagus, mereka sudah bisa berpidato. Jadi ada persyaratan maksimal enam bulan (kumulatif) belum pernah tinggal di Indonesia. Artinya bahwa kemampuan mereka berbahasa Indonesia mereka merupakan produk pembelajaran bahasa Indonesia di tempat mereka," kata Emi.

Seorang peserta dari Mesir, Asma Tahsin Mohamed mengaku termotivasi untuk belajar bahasa Indonesia karena ingin membantu teman-temannya dari Indonesia yang berkuliah di Al Azhar untuk mempelajari bahasa Arab. Peserta bidang lomba pidato ini pun memiliki teman-teman di Kairo yang sudah lebih dahulu belajar bahasa Indonesia.

"Saya sangat suka budaya dan bahasa orang Asia. Setelah belajar bahasa Indonesia, saya suka orang Indonesia, makanan Indonesia juga dan hal itu membuat saya mau lanjut belajar bahasa Indonesia sampai sekarang," tuturnya. (Aji Shahwin)

Seleksi lomba di masing-masing negara sudah dilaksanakn pada April - Juni 2019. Seleksi diadakan di negara yang memiliki perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia dan Rumah Budaya. Negaranegara tersebut adalah Thailand, Jerman, Mesir, Australia, Belanda, Timor Leste, Malaysia, Inggris, Filipina, India, Prancis, Saudi Arabia, Singapura, Jepang, Amerika Serikat, dan Papua New Guinea.

Jakarta, Kemendikbud – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) kembali menyelenggarakan Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional. Tahun ini, sebanyak 694 guru yang merupakan perwakilan dari 34 provinsi akan berkompetisi dan berbagi inovasi serta kreativitas mereka dalam pembelajaran.

 

Pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional berlangsung mulai 13 sampai dengan 18 Agustus 2019, di beberapa lokasi di Jakarta. Ada 28 kategori penilaian yang diikuti oleh para peserta. Kesiapan Kemendikbud dalam penyelenggaraan Pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal GTK, Supriano, dalam Taklimat Media di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Senin siang (12/8/2019).

 

Supriano menyampaikan, kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap para guru yang telah melahirkan inovasi dan menunjukkan kreativitas dalam pembelajaran. Selain itu, pemberian apresiasi terhadap guru sejalan dengan program pembangunan lima tahun ke depan yang berfokus pada pembangunan sumber daya manusia.

 

“Output peserta didik yang unggul ada peran serta guru di situ, karena mereka mendapat pelayanan pendidikan dan kompetensi sesuai kebutuhan,” ujar Supriano. Melalui pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi, guru didorong untuk menghasilkan berbagai praktik baik dalam pembelajaran yang mampu menghasilkan peserta didik yang unggul.

 

Sekretaris Direktorat Jenderal GTK, Muhammad Qudrat Wisnu Aji, menambahkan, selain mengikuti serangkaian penilaian, para guru juga akan mengikuti Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) pada 16 Agustus 2019. “Sebagian peserta juga nanti akan mengikuti upacara 17 Agustus di Istana Negara,” tutur Wisnu Aji.

 

Ke-694 orang peserta Pemilihan GTK ini tahun ini terdiri dari 111 guru PAUD, 113 guru pendidikan dasar, 163 guru pendidikan menengah, dan 307 tenaga kependidikan. Para peserta telah berhasil melalui seleksi bertahap mulai dari tingkat kabupaten/kota sampai dengan provinsi sehingga mampu menjadi wakil daerahnya pada ajang Pemilihan GTK Tahun 2019.