Warta Pendidikan

Warta Pendidikan (388)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Dunia Pendidikan

Pontianak - Bertempat di SUPM Pontianak, Kepala LPMP Kalbar sedang membuka kegiatan IHT implementasi kurikulum 2013. SUPM pontianak memiliki program jurusan Nautika kapal penangkapan ikan,  Teknika kapal penangkapan ikan,  Agribisnis perikanan air tawar,  Agribisnis pengolahan hasil perikanan. Ini merupakan salah satu program Fasilitasi Pelayanan mutu dari LPMP utk bekerjasama dengan SUPM dalam mengimplementasikan kurikulum 2013. Dalam arahannya Kepala  LPMP Kalbar, Dr Aristo Rahadi, M.Pd menyampaikan bahwa tugas guru adalah  mengajar bukan menstranfer ilmu, tetapi  bagaimana guru dalam mengelola siswa agar mereka belajar. Kegiatan ini dilaksanakan hingga 8 Agustus 2019 mendatang.

 

Jumat, 02 Agustus 2019 08:33

Panduan Bagi Gerakan Literasi di Sekolah

Written by

Jakarta, Kemendikbud – Sebagai panduan umum bagi pelaksanaan gerakan literasi di sekolah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) telah menerbitkan Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah pada bulan Oktober 2018. Namun dengan berlangsungnya Festival Literasi Sekolah 2019 pada  26 s.d 29 Juli 2019 lalu, para pemangku kepentingan kembali diingatkan pentingnya peran aktif semua pihak dalam upaya menggerakkan literasi di sekolah. Untuk itu, perlu ada suatu panduan yang menyertainya.
 
Desain Induk disusun agar pemangku kepentingan dapat memberikan arahan strategis bagi kegiatan literasi di lingkungan satuan pendidikan dasar dan menengah. Dengan tersedianya Desain Induk, diharapkan pemangku kepentingan dapat memahami fondasi dan arahan konseptual mengenai bagaimana sebaiknya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dilaksanakan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan.

Ke depan, Desain Induk diharapkan berkembang secara kreatif dan inovatif dari tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota hingga masyarakat pegiat literasi. Salah satu kegiatan di dalam GLS yang masih dijalankan di banyak satuan pendidikn hingga saat ini adalah kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal,
nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik.

Literasi dasar yang terdiri atas baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, budaya dan kewargaan merupakan bagian dari kecakapan abad XXI. Bersama dengan kompetensi dan karakter, ketiga hal tersebut akan bermuara pada pembelajaran sepanjang hayat. Program GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Silakan unduh Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah pada tautan di sini.

Jakarta, Kemendikbud --- Membaca dapat diibaratkan membuka jendela dunia karena dengan membaca akan memperluas wawasan seseorang. Karena itu, kebiasaan membaca buku harus dimulai sejak usia dini. Pengenalan membaca buku diharapkan dimulai dari lingkup keluarga. Di sinilah pentingnya kontribusi orang tua yaitu membacakan buku sebagai bentuk pengasuhan untuk mengoptimalkan kemampuan berkoordinasi dan berbahasa sejak dini.

Menyadari pentingnya hal tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Direktorat Bindikel, Ditjen PAUD Dikmas) kembali melaksanakan Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (Gernas Baku).

“Alhamdulillah kita dapat berkumpul pagi ini untuk merayakan bersama Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku. Ini mempunyai tujuan yang mulia yaitu melekatkan emosi bunda, ayah dan anak. Kelekatan emosi orang tua dan anak akan memungkinkan jiwa anak tumbuh dengan sempurna serta mengenalkan kecintaan terhadap buku,” demikian disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dirjen PAUD Dikmas), Harris Iskandar, saat membuka acara Gernas Baku di PAUD KM 0, kantor Kemendikbud, Jakarta, pada Sabtu pagi (27/7/2019).

“Kalau ini dibiasakan akan menjadi budaya dan menjadikan Indonesia lebih baik. Orang membaca buku adalah orang yang bahagia. Kalau ingin membahagiakan anak, bacakan saja buku. Saya optimis sudah mulai banyak yang mengenal Gernas Baku. Artinya mereka sudah mengerti pentingnya itu, dan kita mendukung itu semua,” ujar Dirjen Harris.

Ditemui awak media usai acara, Harris menjelaskan bahwa pengasuhan anak harus berada di bawah orangtua, bukannya orang lain. “Oleh karena itu, tidak boleh salah satu lepas apalagi diserahkan pada pengasuh, kepada orang lain. Ini harus orang tuanya langsung, baik ibunya maupun bapaknya. Kesempatan ini jangan disia-siakan karena anak umur 4 s.d.5 tahun, bahkan usia SD merupakan umur yang sangat baik sekali untuk menumbuh kembangkan karakter-karakter baik yang kita inginkan,” terang Harris.

Diungkapkan Harris, ketersediaan buku berkualitas juga tidak kalah penting. Kondisi geografis Indonesia kadang menyulitkan distribusi buku ke daerah terpencil. “Tadi saya juga sudah tanya orang tua, alhamdulillah untuk di daerah Jakarta mungkin tidak ada masalah, maka itu kami ingin berdialog dengan orang tua di NTB dan Papua untuk mengecek apakah mereka memiliki kendala dalam membeli buku? Kalau di Jakarta tidak masalah. Saya juga mengalami setiap minggu itu membawa anak dan cucu itu banyak sekali buku. Cuma kan belum tentu untuk di daerah luar Jawa ketersediaan buku-buku yang bagus itu banyak. Hal ini penting karena tidak semua buku bagus,” ungkap Harris.

Hal yang tidak kalah memprihatinkan, lanjut Harris, adalah kondisi di mana anak-anak sejak usia dini sudah kecanduan gawai. Oleh karena itu, dengan adanya gerakan ini, diharapkan dapat mengembalikan kesadaran orang tua mengenai bahaya gawai pada tumbuh kembang anak. “Jadi kita mulai membiasakan buku, nanti kita tidak 100% dimakan oleh gadget. Ini salah satu kampanye kami ke arah situ. Gadget itu efeknya jelek sekali terutama karena budayanya, ya ada efek dopamin, kecanduan ya, jadi anak akan lekat sekali dengan itu dan waktunya jadi terbuang percuma di layar. Padahal masa anak-anak itu untuk gerak motorik sangat penting. Pertumbuhan otot itu tidak akan berkembang sempurna kalau dia dari awal sudah dikenalkan gadget. Kedua, untuk kesehatan mata itu juga tidak bagus bagi anak. Banyak sekali dampak-dampak kesehatan selain yang saya sebutkan tadi dan juga secara psikologi tidak bagus, misalnya internet putih, ya internet khusus untuk anak tetap tidak semua orang tua mengikuti petunjuk dari kita. Kebanyakan mereka membebaskannya begitu saja, parental guide di dalam menu tidak pernah digunakan, tidak mau ribet orang tua itu, karena orang tuanya juga sudah kecanduan dengan gadgetnya,”kata Harris

Harris berharap agar orang tua mengendalikan dirinya ketika berada di dekat anak-anak, artinya tidak terus menerus menggunakan gawai agar tidak ditiru oleh anak. “Orang tua sudah kecanduan dan dia tidak mau diganggu, dan dikasih juga gadget ke anaknya, kan ini musibah bener. Ini yang saya kira kita semua harus sadar, ini bahaya. Kita seluruh masyarakat sadarkanlah semua orangtua ini marilah kita kembali membaca buku, coba kurangi kalau tidak bisa untuk tidak sama sekali, kita kurangi dalam waktu tertentu dan jangan menunjukan di depan anaknya. Dalam setiap kesempatan orangtua coba kendalikan diri, jadilah orangtua yang riil, bukan di depan anak kita pakai gadget. Anak itu akan mengikuti, anak itu adalah fotokopi yang paling baik mereka akan mereplikasi apa saja yang kita lakukan kalau kita stick dengan gadget mereka akan begitu juga,” ungkap Harris.

Dengan adanya Germas Baku, Kemendikbud mengajak warga masyarakat, para mitra yang memiliki jaringan sampai ke tingkat desa, bersama-sama menggerakkan semua anggotanya untuk mulai membiasakan ini sehingga bukan sekedar menjadi imbauan tetapi disertai dengan strategi penyebarannya. “Saya kira kami hanya semacam orkestra saja, saling menyemangati. Kenapa kita lakukan di hari yang sama serentak? Supaya semangat saja bahwa kita itu bukan sendiri tapi 230 ribu lembaga PAUD seluruh Indonesia. Syukur kalau seluruh keluarga Indonesia yang jumlahnya mencapai 42 juta itu sudah mendengar tentang Gernas Baku dan terinspirasi untuk ikuti kebiasaan baru di rumahnya, terutama keluarga muda,” pungkas Harris.

Rangkaian pelaksanaan Gernas Baku digelar sejak April 2019, dimulai dari pelaksanaan sosialisasi dan seminar. Selanjutnya, pada Mei 2019, para orang tua diajak untuk memberikan donasi buku dan menghadirkan pojok baca di rumah dan sekolah. Selain itu, juga diselenggarakan kelas parenting untuk orang tua di berbagai daerah.

Puncak acara Gernas Baku dihadiri oleh sejumlah pejabat di lingkungan Kemendikbud dan para mitra serta undangan. Anak-anak PAUD KM 0 beserta orang tua mereka juga turut memeriahkan acara ini. Dalam acara ini juga dilakukan konferensi jarak jauh (tele conference) serentak di 3 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Nusa Tenggara Barat, dan Papua. Kegiatan ini diselenggarakan seiring dengan Festival Literasi Sekolah.

Jakarta, Kemendikbud --- Menumbuhkan minat baca pada anak harus dibiasakan sejak usia dini. Pembiasaan membaca buku bisa dimulai dari pola pengasuhan (parenting) di lingkungan keluarga dengan membacakan buku untuk anak oleh orang tua sebagai pendidik pertama dan utama. Untuk mendorong orang tua terbiasa membacakan buku pada anak usia dini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (Gernas Baku). Pada tahun 2019, Gernas Baku sudah memasuki tahun kedua pelaksanaan.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dirjen PAUD dan Dikmas), Harris Iskandar mengatakan, Gernas Baku bertujuan untuk menyadarkan betapa pentingnya membiasakan anak-anak membaca buku. Membacakan buku untuk anak usia dini diharapkan menjadi praktik baik kebiasaan dalam pola pengasuhan di rumah.

“Kita ingin seluruh keluarga Indonesia bisa menjalankan Gernas Baku sehingga dapat menumbuhkan kecintaan buku pada anak. Dengan membacakan buku juga memudahkan kita menumbuhkan karakter baik dari tokoh-tokoh dalam cerita. Selain itu juga dapat meningkatkan hubungan emosi antara anak dengan orang tua,” kata Harris saat kegiatan Gernas Baku di PAUD KM 0 Kemendikbud, Jakarta, Sabtu (27/7/2019).

Harris berharap Gernas Baku 2019 dapat menggerakkan seluruh anggota masyarakat untuk membiasakan orang tua membacakan buku untuk anak. Gernas Baku 2019 serentak dilakukan di 33 provinsi pada Sabtu pagi, 27 Juli 2019, di berbagai lembaga PAUD di Indonesia. Hanya provinsi Bali yang menunda pelaksanaan Gernas Baku menjadi minggu depan karena sedang merayakan Hari Galungan.

“Ada 230-ribu lembaga PAUD di seluruh Indonesia. Syukur kalau seluruh keluarga indonesia sudah mendengar tentang Gernas Baku dan mengikuti kebiasaan di keluarganya. Membacakan buku untuk anak bukan hanya kewajiban ibu, tapi juga para ayah. Mudah-mudahan jadi kebiasaan yang baik,” tutur Harris.

Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga Sukiman menuturkan, Kemendikbud merangkul berbagai lembaga dalam melaksanakan Gernas Baku, antara lain Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (HIMPAUDI) dan Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI). Bahkan, Sukiman menambahkan, saat kegiatan Gernas Baku di PAUD KM 0 Kemendikbud, hadir juga perwakilan dari Kedutaan Besar Malaysia di Indonesia.

“Sepertinya dari Malaysia juga ingin gerakan seperti ini ada di negaranya. Ada dua pejabat Kedubes Malaysia yang datang tadi,” ujarnya usai kegiatan Gernas Baku di PAUD KM 0 Kemendikbud, Jakarta, Sabtu (27/7/2019).

Sukiman berharap Gernas Baku bisa dilakukan di lembaga-lembaga PAUD dengan mengundang orang tua untuk membacakan buku bagi anak-anaknya. “Bagi anak yang belum masuk PAUD bisa di tempat lain, seperti tempat ibadah, atau di Jakarta misalnya di RPTRA, bisa digerakkan juga oleh PKK. Nanti bisa menjadi program rutin lembaga PAUD, lalu harapan akhirnya jadi kebiasaan orang tua di rumah,” katanya.

Rangkaian pelaksanaan Gernas Baku 2019 digelar sejak April 2019 dimulai dari pelaksanaan sosialisasi dan seminar. Selanjutnya, pada Mei 2019, para orang tua diajak untuk memberikan donasi buku untuk menghadirkan pojok baca di rumah dan sekolah. Selain itu juga diselenggarakan kelas pengasuhan (parenting) untuk orang tua di berbagai daerah.

Puncak acara Gernas Baku dihadiri oleh orang tua dan peserta didik PAUD KM 0 Kemendikbud, sejumlah pejabat di lingkungan Kemendikbud dan para mitra serta undangan. Dalam acara ini dilakukan video konferensi jarak jauh serentak di tiga provinsi, yaitu DKI Jakarta, Nusa Tenggara Barat, dan Papua. Gernas Baku 2019 diselenggarakan bersamaan dengan rangkaian Festival Literasi Sekolah (FLS) 2019 yang berlangsung pada 25 s.d. 29 Juli 2019.

Jakarta, Kemendikbud – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah kembali menyelenggarakan Festival Literasi Sekolah (FLS) yang akan dilaksanakan mulai tanggal 26 sampai dengan 29 Juli 2019, di Plaza Insan Berprestasi, Kompleks Kemendikbud, Jakarta.
 
FLS menjadi ajang apresiasi tahunan atas capaian Gerakan Literasi Sekolah yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan. Lebih dari tiga puluh komunitas, lembaga pemerintah, mitra, penerbit, aplikasi, dan sekolah (Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan, dan Sekolah Luar Biasa)  ikut terlibat dalam pelaksanaan FLS ke-3 ini.
 
Festival akan diisi dengan berbagai kegiatan seperti diskusi, perlombaan, pelatihan literasi, peluncuran dan bedah buku, bazar, serta pemutaran film bertema literasi. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, dijadwalkan akan hadir membuka FLS secara resmi pada hari Jumat, 26 Juli 2019.

Dengan mengangkat tema “Multiliterasi: Mengembangkan Kemandirian dan Menumbuhkan Inovasi”, kegiatan literasi yang diselenggarakan dalam FLS tidak terbatas pada literasi baca-tulis saja, tetapi juga mencakup literasi digital, finansial, sains, numerasi, serta literasi budaya dan kewargaan. Semangat menggerakkan literasi, menguatkan pendidikan, dan pemajuan kebudayaan menjadi pendorong utama kegiatan ini.
 
Untuk menyemarakkan FLS, berbagai aktivitas dan kegiatan FLS akan dibagi ke dalam empat area di Plaza Insan Berprestasi Kemendikbud. Keempat area itu adalah Panggung Utama, Pojok Literasi, Ruang Serbaguna Perpustakaan, dan Ruang Teater Perpustakaan Kemendikbud. Sebagian besar acara dilaksanakan secara paralel sehingga pengunjung dapat memilih acara sesuai minatnya masing-masing.

Beberapa agenda acara menarik yang dapat diikuti oleh pengunjung, antara lain, Pelatihan Menulis Kreatif untuk Anak Usia Sekolah Dasar, Lomba Debat Bahasa Inggris dan Lomba Debat Bahasa Jepang (final) jenjang SMK, Diskusi Mengenali Konten Negatif, Hoaks, dan Keterbukaan Informasi Publik, serta Pelatihan Numerasi: “Berpikir Cepat” dalam Numerasi: Matematika Detik”. Pengunjung pun dapat menikmati potongan harga untuk pembelian buku, kuliner, dan stan penjualan lainnya.