Warta Pendidikan

Warta Pendidikan (418)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Dunia Pendidikan

Jakarta, Kemendikbud – Di tengah pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Data dan Teknologi Informasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pusdatin) meluncurkan program KIHAJAR 2020 dengan format berbeda dari tahun sebelumnya. KIHAJAR 2020 bertransformasi untuk memacu kompetensi, kreativitasi dan semangat generasi KIHAJAR.

“Tahun ini, KIHAJAR hadir dengan format yang berbeda. Hadir dengan tampilan yang berbeda, hadir dengan kreativitas juga yang berbeda. Kalau di tahun-tahun sebelumnya kami secara luar jaringan menyelenggarakan KIHAJAR ini di 34 provinsi seluruh Indonesia, tetapi tahun ini secara daring,” ujar Kepala Pusdatin Kemendikbud Muhammad Hasan Chabibie, dalam peluncuran KIHAJAR 2020 secara daring di Jakarta, Kamis (23/07/2020).

Chabibie menjelaskan aktivitas “Kita Harus Belajar” atau KIHAJAR dilakukan secara daring dengan tetap melibatkan dinas pendidikan di daerah, para guru, dan seluruh siswa di Tanah Air.

Generasi KIHAJAR (GEN KIHAJAR) merupakan siswa yang turut serta dalam kegiatan KIHAJAR, yang tujuan utamanya adalah mengembangkan keterampilan, pengetahuan dan memiliki kompetensi abad 21. “Satu hal yang menurut saya menarik pada kesempatan kali ini, adalah lahirnya generasi-generasi KIHAJAR. Lahirnya anak-anak muda yang memang secara lahir penduduk asli digital. Adik-adik kita ini tadi yang kita lihat semua yang memperagakan pantomim, baca puisi, atau MC-nya tadi itu mereka adalah anak-anak pada zamannya,” ujar Hasan.

Chabibie menyampaikan pemanfaaan teknologi dalam proses pembelajaran maupun aktivitas sehari–hari menjadi suatu yang sangat dekat bagi GEN KIHAJAR. “Mereka merupakan generasi yang dimana mereka sejak lahir sudah dikelilingi beragam teknologi dan biasa berinteraksi dengan komputer, gawai dan internet,” katanya.

Selain dengan logo baru, tahun ini KIHAJAR hadir dengan tiga varian baru, yaitu KIHAJAR Stem, KIHAJAR Explorer dan KIHAJAR TIK Talks.

KIHAJAR Stem merupakan wadah eksplorasi siswa seluruh jenjang melalui pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi berbasis sains, teknologi, teknik dan matematik. “KIHAJAR Stem hadir untuk meningkatkan kemampuan literasi, motivasi dan pendidikan karakter dalam wujud kemandirian dan kejujuran,” kata Hasan.

Pendaftaran peserta KIHAJAR STEM sudah dibuka bersamaan dengan waktu Launching KIHAJAR yakni pada Kamis, 23 Juli 2020 dengan mengakses https://tve.kemdikbud.go.id pendaftaran peserta akan ditutup pada tanggal 6 Agustus 2020.
 
Sementara itu, KIHAJAR Explorer merupakan wadah eksplorasi siswa dari berbagai jenjang memanfaatkan konten Rumah Belajar, TV Edukasi dan Suara Edukasi. KIHAJAR Explorer hadir melalui akun Instagram tvedukasi_kemdikbud dengan memberikan pertanyaan setiap harinya.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peserta akan diberikan tautan konten yang terdapat di portal Rumah Belajar, TV Edukasi maupun Suara Edukasi. Jawaban peserta dikirimkan melalui kolom komentar sesuai dengan postingan pertanyaannya di akun Instagram tvedukasi_kemdikbud setiap harinya.

Peserta yang boleh mengikuti KIHAJAR Explorer terbuka untuk semua jenjang pendidikan, baik di dalam negeri maupun siswa Indonesia di luar negeri. KIHAJAR Explorer diselenggarakan pada Jumat, 24 Juli 2020 dan akan hadir setiap hari hingga rangkaian pelaksanaan KIHAJAR 2020 berakhir pada bulan Oktober 2020.
 
Varian ketiga adalah KIHAJAR TIK Talks yang hadir sebagai wujud apresiasi terhadap daerah terbanyak berpartisipasi dalam KIHAJAR STEM, sekaligus optimalisasi penggunaan Rumah Belajar, TV Edukasi dan Suara Edukasi. Kegiatan ini juga mengangkat isu permasalahan Pendidikan daerah, yang akan dibahas dalam bentuk seminar secara daring, dengan menghadirkan narasumber yang berasal dari praktisi Pendidikan, ahli pembelajaran dan juga pengembang teknologi pembelajaran.
 
Hasan menjelaskan tujuan diselenggarakanya KIHAJAR TIK Talks adalah meningkatkan kemampuan literasi pemanfaatan TIK, Kemandirian dalam pengembangan TIK untuk Pendidikan dan sebagai sarana sosialisasi dari pemanfaatan konten Rumah Belajar, TV Edukasi dan Suara Edukasi.
 
Peserta dari kegiatan KIHAJAR TIK Talks ini adalah tenaga pengajar, tenaga kependidikan, komunitas pendidik maupun orangtua murid. Pelaksanaan KIHAJAR TIK Talks akan dimulai pada minggu kedua bulan Agustus 2020. Dengan berkolaborasi dari Balai Teknologi Komunikasi (Balai TEKKOM), Dinas Pendidikan Propinsi, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan yang berada di 34 propinsi seluruh Indonesia.







Jakarta, 24 Juli 2020
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Laman : www.kemdikbud.go.id
 
Laman: kemdikbud.go.id
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI

Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) bekrja sama dengan PT. Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) menyediakan akses internet terjangkau bagi civitas akademika dalam rangka mendukung pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Penandatanganan nota kesepahaman tersebut dilakukan secara virtual oleh Sekretaris Ditjen Dikti, Paristiyanti Nurwardani dengan Senior Vice President Enterprise Telkomsel, Dharma Simorangkir pada Jumat (17/07). Turut hadir dalam acara ini, Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Nizam, dan Direktur Sales PT. Telkomsel, Ririn Widaryani.

Pelaksana Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Plt. Dirjen Dikti), Nizam menyatakan bahwa kerja sama strategis ini diinisiasi menindaklanjuti terbitnya Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tanggal 17 Maret 2020 tentang Pembelajaran Secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam rangka Pencegahan Penyebaran Coronavirus Disease (COVID-19).

“Menindaklanjuti surat edaran tersebut, saya menghubungi Dirut Telkomsel, Bapak Setyanto Hantoro, untuk minta dukungan dalam menyediakan layanan bagi mahasiswa dengan biaya yang terjangkau. Alhamdulillah Pak Dirut merespon dengan sangat baik,” jelas Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Plt. Dirjen Dikti) Kemendikbud, Nizam dalam sambutannya.

Ditjen Dikti, lanjut Nizam, melakukan pendataan beberapa portal pembelajaran jarak jauh yang dikelola perguruan tinggi maupun portal Ditjen Dikti yaitu Sistem Pembelajaran Dalam Jaringan (Spada) Kemendikbud. Untuk kemudian disampaikan kepada operator telekomunikasi sehingga akses ke portal-portal tersebut tidak berbayar atau gratis sebagai bentuk dukungan kepada sektor pendidikan pada masa pandemi.

Nizam mengapresiasi dukungan Telkomsel selama ini yang memberikan paket data terjangkau kepada mahasiswa dan dosen. Kerja sama antara Kemendikbud dengan PT. Telkomsel diperkuat melalui nota kesepahaman yang ditandatangani hari ini. Khususnya, mengenai kejelasan paket-paket untuk para mahasiswa agar bisa melakukan pembelajaran dari rumah dan harga paket tersebut semakin terjangkau.

“Ini waktunya untuk berbagi di antara perusahaan dengan perguruan tinggi untuk kepentingan pendidikan dan memastikan anak-anak kita semua bisa belajar dengan baik dengan biaya yang terjangkau,” ungkap Nizam.

Direktur Sales PT. Telkomsel, Ririn Widaryani, mengungkapkan bahwa Telkomsel akan terus berdiri paling depan, menjadi pelopor untuk penyedia solusi pembelajaran jarak jauh.
“Tentunya terus berkolaborasi dengan semua pemangku kepentingan juga menjadi komitmen kami yang terus kami jaga dan terus konsisten. Sebelum ada MoU ini kami termasuk operator pertama yang menyediakan solusi pendidikan jarak jauh di awal masa  pandemi melalui kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi,” terang Ririn.

Dilanjutkan Ririn, Telkomsel merasa bangga bisa berkolaborasi dengan Ditjen Dikti agar jangkauan manfaat dukungan penyediaan akses internet terjangkau untuk sektor pendidikan dapat merata dan dirasakan oleh para warga perguruan tinggi, baik mahasiswa, dosen, serta karyawan.

Kerja sama dengan Ditjen Dikti dilakukan seiring dengan penerbitan Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri dalam Negeri mengenai Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru  di Masa COVID-19.

“Jadi dalam kesempatan hari ini seperti yang mungkin sudah disiapkan oleh tim, kita akan menandatangani MoU di mana di dalamnya ada penyediaan paket untuk perguruan tinggi yang terdiri dari kuota reguler dan kuota khusus cloudx untuk konferensi video seperti yang kita lakukan hari ini. Sudah ada akses ke website materi belajar mengajarnya di situs kampus perguruan tinggi dan kami berikan free untuk aksesnya dalam paket khusus ini,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Ditjen Dikti, Paristiyanti Nurwardani, menyampaikan kerja sama antara Telkomsel dan Kemendikbud ini merupakan salah satu upaya dari Ditjen Dikti agar setiap anak bangsa tetap bisa belajar dengan baik. “Ini adalah upaya Ditjen Dikti untuk mempermudah anak bangsa di setiap perguruan tinggi untuk tetap dapat mengakses dan menjalankan aktivitas pembelajaran dengan baik,” jelasnya.







Jakarta, 17 Juli 2020
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Laman: kemdikbud.go.id
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI

Jakarta, Kemendikbud --- Melalui Webinar Asesmen dan Pembelajaran Literasi dan Numerasi di Masa Pandemi, Kemendikbud mengajak guru maupun orang tua untuk berperan aktif dalam mendampingi anak menjalankan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Webinar tersebut diselenggarakan Pusat Asesmen dan Pembelajaran, Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbud dan bertujuan untuk membangkitkan minat dan semangat guru agar tetap konsisten membantu perkembangan anak Indonesia di masa pandemi Covid-19. Hambatan dalam pembelajaran yang dihadapi selama masa pandemi menyebabkan adanya defisit kompetensi pada proses belajar-mengajar, sehingga guru perlu melakukan asesmen untuk mengetahui capaian belajar siswa.

Kepala Pusat Asesmen dan Pembelajaran, Asrijanty, menyadari adanya penurunan kompetensi pada sistem pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Menurutnya, sebagian anak mungkin belajar, namun tidak optimal. Sementara sebagian bahkan mungkin tidak berkesempatan belajar sama sekali.

“Bila kejadian ini terus berlanjut, maka akan menyebabkan kerugian dan berpengaruh pada masa depan mereka. Hasil studi Pusat Penelitian Kebijakan Kemendikbud menunjukkan, (jumlah) siswa yang setiap hari belajar dalam seminggu tidak sampai 50 persen, dan waktu belajar pun kurang dari tiga jam dalam sehari. Oleh karena itu, asesmen oleh guru untuk mengetahui capaian siswa perlu dilakukan,” ujar Asrijanty saat membuka Webinar Asesmen dan Pembelajaran Literasi dan Numerasi di Masa Pandemi, Jumat (10/7/2020).

Webinar dibagi menjadi dua sesi dengan menghadirkan enam narasumber, yaitu Dinn Wahyudin, Guru Besar Bidang Ilmu Pengembangan Kurikulum Universitas Pendidikan Indonesia; Rahmawati dan Susanti Sufyadi, dari Pusat Asesmen dan Pembelajaran; Sofie Dewayani, Satuan Tugas (Satgas) Gerakan Literasi Sekolah; Dicky Susanto, perwakilan dari Calvin Institute of Technology; dan Fourgelina, dari Yayasan Literasi Anak Indonesia.

Pada sesi pertama, Dinn Wahyudin mengenai bagaimana dan cara apa yang tepat untuk dilakukan dalam mendiagnosis kondisi siswa dalam aspek kognitif dan nonkognitif di masa pandemi Covid-19. Ia mendukung pernyataan Asrijanty mengenai adanya penurunan capaian siswa di masa pandemi. Kesimpulan ini didukung oleh kajian nasional dan internasional, salah satunya ialah kajian dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Karena itulah ia meyakinkan tenaga pendidik untuk benar-benar melakukan remedial teaching, yaitu peninjauan kemampuan serta kesulitan yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran, dan diagnostic treatment, yaitu mengidentifikasi dan merancang perlakuan yang perlu diberikan untuk menindaklanjuti proses pembelajaran berikutnya.

Selaras dengan hal itu, Koordinator Analisis dan Penelitian Pusat Asesmen dan Pembelajaran, Rahmawaty, juga menjabarkan kelima prinsip yang harus ada pada proses asesmen, yaitu valid, reliabel atau konsisten, adil, fleksibel, dan memberikan umpan balik untuk pembelajaran. “Yang paling esensial dari asesmen adalah kita punya informasi, kita tahu siswa bisanya apa, tidak bisanya apa. Dan itulah yang akan kita refleksikan kepada pembelajaran ke depannya,” ungkapnya.

Rahmawati juga memaparkan materi yang dilengkapi dengan contoh dan produk yang lebih signifikan, salah satunya ialah cuplikan video dari aplikasi permainan yang dapat digunakan oleh tenaga pendidik, yaitu ‘Desatika’. Permainan Desatika yang seolah mengajak siswa untuk membangun desa selagi mengerjakan soal matematika, dianggap telah teruji. “Program ini sudah diujicobakan di lebih dari 400 SD di daerah tertinggal. Jadi kalau daerah tertinggal berhasil menggunakan ini, kami yakin Bapak Ibu sekalian yang ada di Nusantara juga dapat memanfaatkan aplikasi ini,” ujarnya.

Selain itu, Balitbang Kemendikbud juga sudah menyediakan konten video berjudul ‘Asesmen Diagnosis Berkala’ sebagai panduan yang dapat menjelaskan proses asesmen secara rinci bagi tenaga pendidik. Video tersebut dapat diakses di kanal Youtube Balitbang atau melalui tautan berikut: https://youtu.be/AzzTT-wcKHU.

Webinar Asesmen dan Pembelajaran Literasi Numerasi di Masa Pandemi disiarkan langsung melalui aplikasi konferensi video yang dapat diakses oleh peserta yang sudah mendaftarkan diri melalui tautan http://ringkas.kemdikbud.go.id/SeminarDaringLitbang . Selain itu, webinar juga dapat disaksikan melalui kanal Youtube Balitbang Kemendikbud.

Sukabumi - Metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang telah ditetapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim saat situasi pandemi virus Covid-19 dinilai sebagai solusi paling tepat.

Demikian diungkapkan Kepala Sekolah SMA Negeri 4 Sukabumi, Jawa Barat, Rahmat Mulyana, Rabu (8/7/2020).

Menurut Rahmat, apa pun bentuk sistem pembelajarannya saat kondisi pandemi, yang terpenting adalah esensinya menciptakan ikatan batin antara guru dan siswa.

Sehingga dengan begitu, ucap Rahmat, seluruh kegiatan belajar mengajar tetap dapat terlaksana meski di tengah situasi yang sulit serta berbeda dari biasanya.

"Meski melalui belajar dalam jaringan (daring), siswa tetap dapat menyerap ilmu. Ini juga merupakan penerapan dari konsep Merdeka Belajar," kata Rahmat.

Rahmat menuturkan, ketika PJJ diimplementasikan, juga terbukti mampu membuat para guru berinovasi agar siswa dapat menyerap mata pelajaran meski tidak tatap muka.

"Kita sesuaikan dengan kondisi dan kenyataan di lapangan, mulai dari memanfaatkan media televisi hingga berbagai inovasi yang diberikan guru agar memudahkan murid mencerna pelajaran daring," ujar Rahmat.

Guna informasi, sejak merebaknya pandemi, Nadiem Makarim telah memutuskan meniadakan belajar mengajar tatap muka dan menggantinya dengan PJJ.

Berbagai kebijakan ditetapkan Nadiem Makarim untuk mendukung PJJ, antara lainnya, menggandeng TVRI menyiarkan tayangan Belajar dari Rumah maupun membolehkan penggunaan dana BOS dipakai berlangganan platform belajar online serta membeli pulsa internet.

Dukung sistem belajar kombinasi

Hal lainnya yang disampaikan Rahmat adalah dukungannya untuk pelaksanaan sistem pembelajaran hybrid atau kombinasi antara PJJ dan tatap muka bila jadi ditetapkan Nadiem Makarim.

Rahmat berkomitmen, para Guru bakal siap mengerahkan tenaga tambahan guna mendukung kelancaran program belajar kombinasi tersebut jika direalisasikan.

"Ini luar biasa, akan membutuhkan daya kerja lebih karena Guru harus memikirkan pendidikan daring juga bertatap muka. Oleh sebab itu, kami akan membagi tugas kepada mereka untuk menangani kedua metode pembelajaran," papar Rahmat

Selanjutnya, agar seluruh metode pembelajaran dapat berlangsung efektif, tagihan-tagihan kurikulum tidak akan menjadi penekanan utama.

"Pastinya pemberian materi esensial harus siswa dapatkan. Kembali lagi inovasi dari para Guru yang diprioritaskan agar anak didiknya tetap belajar meski dalam kondisi pandemi," pungkas Rahmat.

Baru-baru ini, Nadiem Makarim juga menyampaikan wacananya untuk membuat permanen PJJ yang dipadukan dengan aktivitas belajar mengajar tatap muka seperti biasanya.

Rencana tersebut dikemukakan sebab menganggap adanya keunggulan positif dari PJJ, salah satunya yaitu soal kecepatan terhadap adaptasi teknologi.

Tuesday, 07 July 2020 08:04

Kisah Guru Penggerak: Membangun Keteladanan di Sekolah

Written by

Jakarta, Kemendikbud—Kepemimpinan adalah nilai yang mutlak harus dimiliki dalam mengelola institusi pendidikan. Di dalamnya terkandung semangat memajukan lingkungan di internal intitusi, juga ada tekad untuk membantu lingkungan eksternal untuk maju bersama. Konsep ini idealnya dapat dimiliki kepala sekolah, pengawas dan para mentor di dunia pendidikan.

“Kepemimpinan adalah segala-galanya dalam proses pendidikan kita. Kepemimpinan yang baik tidak hanya mampu mengelola administrasi sekolah namun juga berfokus pada peningkatan kemampuan masing-masing guru di sekolah. Barulah transformasi pendidikan akan terjadi,” ucap Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makariem, antusias saat berbincang dengan dua kepala sekolah penggerak dalam Acara Peluncuran Merdeka Belajar Episode Lima: Guru Penggerak melalui telekonferensi di Jakarta (3/7/2020). 

Mendikbud begitu bersemangat mengelaborasi aktivitas pembelajaran yang sudah dijalankan oleh dua kepala yang berhasil mewujudkan konsep Merdeka Belajar di sekolahnya. Mereka adalah Mariance Wilda Dida, kepala Sekolah SDN 9 Masohi, Maluku Tengah.

Ketika Mariance menceritakan usahanya membangun sekolah ramah anak, tahap awal ia berusaha mengenalkan konsep ini kepada guru-gurunya. Ia yakin, menciptakan budaya institusi yang baik harus dimulai dengan keteladanan yang dicontohkan guru kepada siswa.

Dengan begitu, nilai-nilai kasih sayang antarsesama lebih mudah dipahami dan ditiru oleh seluruh warga sekolah, termasuk orang tua. Pendekatan persuasif dalam mendidik anak usia dini akan membawa dampak positif bagi psikologis mereka yang akan dibawanya hingga dewasa. “Orang tua sekarang mengerti, anak punya keunikan tersendiri yang tidak bisa disamakan begitu saja. Ketika kita mengenal potensi anak dan ketika anak sudah merasa senang, pelajaran apapun akan mudah masuk” katanya. 

Mariance mengatakan, saat ini guru-guru di sekolahnya merasakan banyak manfaat yang bisa diambil ketika mendidik anak dengan lembut. Para guru cukup memberi kode-kode tertentu yang telah disepakati dengan murid, untuk menertibkan mereka di kelas. "Guru  menjadi lebih mudah mengarahkan mereka. Tidak perlu gebrak meja,” lanjut Mariance.

Namun, apa yang ia raih sekarang, bukan tanpa perjuangan. Awalnya hanya tiga guru yang mendukung konsep pendidikan yang ia gagas. Sebagai terobosan, ia memberi kesempatan kepada guru-guru untuk berkonsultasi dengan para pakar pendidikan anak usia dini. Akhirnya perjuangan dan kesabaran kepala sekolah ini membuahkan hasil. Perlahan, para guru memiliki wawasan yang terbuka dan termotivasi untuk mewujudkan konsep pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik. “Adanya perubahan di sekolah itu bisa terjadi dengan niat yang tulus,” ucap Mariance.  

Mendengar cerita itu Mendikbud merasa senang karena kepala sekolah tersebut mempunyai visi yang sama untuk memfokuskan orientasi pembelajarannya kepada siswa. “Anak adalah benang merah dari semua proses pembelajaran di sekolah. Orientasi kepada anak luar biasa. Saat kita memiliki paradigma maka arah pembelajaran kita menjadi lebih jelas,” tekan Nadiem. 

Mendikbud mengatakan, banyak orang tidak menyadari koneksi antara sekolah yang menyenangkan bagi murid dengan proses pembelajaran. Seolah-olah itu dua hal yang berbeda. Padahal psikologi yang aman (saat siswa belajar), kata dia, akan meningkatkan kemampuan dia mempelajari sesuatu dibandingkan anak yang merasa tertekan dalam proses pembelajarannya. 

Ditambahkan Menteri Nadiem, bahwa sangat mungkin ada resistensi saat kita mengenalkan konsep baru kepada orang lain. Pasti ada tantangan namun ketabahan, pantang menyerah dan komunikasi yang konsisten adalah kuncinya.