Warta Pendidikan

Warta Pendidikan (396)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Dunia Pendidikan

Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus memberikan perhatian terhadap pencapaian guru dan tenaga kependidikan (GTK), sebagai wujud meningkatkan kualitas pembangunan manusia Indonesia yang unggul dan berdaya saing. Untuk mewujudkan pemberian apresiasi terhadap capaian tersebut, tahun ini Kemendikbud kembali menggelar Pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional. 

Pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi akan dilaksanakan pada tanggal 13 s.d. 16 Agustus 2019, di Jakarta. “Ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap tahun menjelang HUT Kemerdekaan Republik Indonesia oleh Ditjen GTK untuk memberikan kesempatan kepada guru dan tenaga kependidikan untuk berinovasi, baik dari tingkat PAUD sampai dengan SMA/SMK, dan memberikan penghargaan kepada guru kita di daerah 3T sebagai guru yang berdedikasi,” ujar Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbud, Supriano, saat jumpa pers, di kantor Ditjen GTK Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Senin (12/08).

Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional Tahun 2019 diikuti 694 orang Guru dan Tenaga Kependidikan dari 34 provinsi. Peserta terdiri dari unsur guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, dan tenaga kependidikan yang telah mengikuti seleksi berjenjang dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional. 

“Acara Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi ini diselenggarakan Kemendikbud sebagai langkah konkret menyukseskan visi Pemerintah yang fokus pada pembangunan manusia dan semangat HUT ke-74 RI “SDM Unggul Indonesia Maju”,” terang Supriano.

Dalam lomba ini akan ada 28 kategori yang memisahkan tiap jabatan fungsional dan jenjang pendidikan, seperti kategori guru, kepala sekolah, dan pengawas pada jenjang pendidikan TK, SD, SMP, SMA, dan SMK, serta Sekolah Luar Biasa dan sekolah inklusif. “Masing-masing juara 1, 2, dan 3, akan memperoleh hadiah 20 juta rupiah, 15 juta rupiah, dan 10 juta rupiah. Bagi seluruh peserta yang tidak memperoleh juara, juga akan diberikan apresiasi berupa imbalan prestasi senilai 3 juta rupiah karena berstatus sebagai finalis yang dikirimkan dari daerah,” jelas Supriano.

Penilaian pada lomba guru berprestasi, tidak hanya fokus pada kompetensi teknis dan akademis, tetapi juga tiga kompetensi lain yaitu sosial, profesionalitas, dan wawasan kependidikan turut dinilai. Selain itu, uji kemampuan tersebut tak hanya dilakukan melalui tes tertulis, tetapi juga melalui beberapa rangkaian kegiatan para guru dan tenaga kependidikan dengan membuat video aktivitasnya selama mengajar di sekolah yang diunggah secara daring, dan penilaian melalui aktivitas permainan dan tugas kelompok.

“Dari aktivitas yang beragam, akan terlihat kemampuan para guru dalam bekerja sama, berkomunikasi, pemecahan masalah, dan literasi digital. Termasuk kedalaman pemahamannya terkait kebijakan pendidikan, perundang-undangan pendidikan, sampai rasa nasionalisme, dan cinta tanah air,” ujar Supriano.

Selain memberikan apresiasi kepada guru-guru yang berprestasi dari berbagai daerah, kata Supriano, Kemendikbud juga memberikan apresiasi terhadap guru dan tenaga kependidikan yang menjalankan peran dan fungsinya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). “Kami menyebut kategori ini sebagai daerah khusus. Dalam kategori ini yang dinilai bukan sekedar prestasi, kemudian juga ketegori berdedikasi, dimana para guru yang mengabdi di daerah 3T mendapat apresiasi dari negara,” ungkap Supriano.

Karena sifatnya sebagai kategori khusus dan menekankan apresiasi Pemerintah pada pengabdian para guru, maka aspek penilaian kategori ini dibuat berbeda. Para guru hanya perlu mengumpulkan dokumen dedikasi dan profil pengabdian. Penilaian akan dilakukan lewat presentasi para guru menjabarkan pengalaman kerjanya di lapangan.

“Para guru dan tenaga kependidikan yang terpilih nantinya juga akan diajak mengikuti Rapat Sidang Paripurna tanggal 16 Agustus di DPR RI, dan Upacara 17 Agustus di kantor Kemendikbud,” kata Supriano.

Jakarta, Kemendikbud --- Untuk mengurangi penyebaran konten asusila di dunia maya atau Internet, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menginisiasi penyelenggaraan kegiatan Sarasehan Nasional Penanganan Konten Asusila di Dunia Maya, Senin (12/8/2019), di Museum Nasional, Jakarta. Sejumlah kementerian digandeng untuk kegiatan ini, yaitu Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), dan Kementerian Agama (Kemenag).

Diskusi ini bertujuan mencari kesepakatan bersama tentang penanganan konten-konten asusila di dunia masya. Kegiatan ini dibuka oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara. Menkominfo menyampaikan bahwa anak-anak sebagai generasi penerus harus menjadi perhatian utama. “Apalagi tema 17 Agustus 2019 adalah sumber daya manusia (SDM) unggul, Indonesia maju, bagaimana menyiapkan SDM unggul Indonesia di masa yang akan datang kaitannya dengan bahaya konten asusila,” ujar Rudiantara.

Hadir sebagai narasumber dalam diskusi tersebut, Deputi Bidang Koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak Kemenko PMK, Ghafur Akbar Dharma Putra. Ghafur menyoroti aspek negatif konten asusila terhadap generasi muda. “Pornografi sangat menurunkan daya saing kita kalau semua kecanduan pornografi,” katanya. Menerutnya, mengakses pornografi itu menyebabkan tiga hal negatif, yaitu otak akan mengecil, daya indera menurun, dan kecanduan.

Dalam kesempatan yang sama, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bidang Pornografi dan Cyber Crime Margaret Aliyatul Maimunah menekankan peran orang tua dalam mengawasi anak-anaknya. Internet penting bagi keperluan sekolah misalnya untuk mengerjakan pekerjaan rumah dengan mengakses dokumen dan bahan dari Internet, namun orang tua tetap perlu mengawasi. “Orang tua harus mengetahui penguatan literasi digital dan mendampingi penggunaan media sosial atau permainan online untuk anak usia dua sampai dengan lima tahun. Penggunaan gadget di sekolah juga sebaiknya diatur,” kata Margaret.

Di satu sisi yang lain, kata Margaret, anak perlu diberikan penguatan agama. “Platform online harus mengikuti regulasi terkait dengan proteksi anak di dunia online. Penguatan kompetensi penegak hukum juga perlu ditingkatkan. Mengenai konten pendidikan dan cakupan pendidikan seksual, KPAI biasanya bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” kata Komisioner KPAI menambahkan.

Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan konsisten terus berupaya melakukan pemerataan kualitas pendidikan di seluruh wilayah Indonesia, terutama di daerah Tertinggal, Terluar, dan Terdepan (3T). Upaya tersebut antara lain diwujudkan melalui program Kemitraan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), yang mempertemukan guru inti dan guru mitra untuk saling berbagi pengalaman, menginspirasi, dan mengembangkan kerja sama dalam upaya peningkatan dan pemerataan kualitas pendidikan.

“Melalui program Kemitraan, guru inti dapat saling berbagi pengalaman, menginspirasi, dan mengembangkan kerja sama dalam upaya peningkatan dan pemerataan kemampuan guru mitra yang berasal dari daerah 3T untuk menghidupkan komunitas belajar profesional dengan fokus pada penguatan kualitas layanan pembelajaran,” terang Mendikbud saat melepas peserta program Kemitraan Guru tahun 2019 jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), di Jakarta, Jumat (02/08/2019).

Pemilihan guru inti dan guru mitra yang diundang sebagai peserta dalam kegiatan ini berdasarkan berbagai indikator, salah satunya adalah rata-rata nilai Ujian Nasional (UN) dari sekolah yang terpilih. Untuk guru inti berasal dari sekolah yang memiliki rata-rata capaian UN yang tinggi, sedangkan guru mitra berasal dari daerah yang secara nasional memiliki capaian UN rendah (tahun ini berdasarkan hasil UN tahun pelajaran 2017/2018).

Program Kemitraan tahun ini, kata Mendikbud, memiliki keunikan, yakni mengintegrasikan antara guru dan kepala sekolah dalam program yang sama, sehingga ada kesinambungan substansi yang dikerjakan oleh guru dan kepala sekolah. “Keterpaduan program ini meliputi desain dan langkah program, lokasi dan sasaran program, serta substansi program. Selain itu, antara guru inti dan guru mitra dapat saling bertukar pengalaman. Para guru mitra dapat melihat, mengamati, dan mempelajari proses belajar mengajar di sekolah guru inti,” terang Mendikbud.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbud, Supriano, menambahkan, pertemuan guru inti dan guru mitra dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada para peserta tentang kemitraan guru dan tenaga kependidikan. Di samping itu, menggiring para guru dan kepala sekolah untuk berkolaborasi dan saling berbagi pengalaman terbaik dalam peningkatan mutu pembelajaran di kelas. “Kegiatan ini akan dilaksanakan selama tujuh hari di sekolah inti,” ucap Supriano.

Usai penyelenggaraan program, kata Supriano, para guru inti nantinya akan melanjutkan kunjungan ke sekolah guru mitra untuk memonitoring dan mengevaluasi program yang telah dipelajari. “Para guru inti nantinya akan mengunjungi sekolah-sekolah guru mitra untuk melihat langsung dan memastikan program yang telah dipelajari dapat diterapkan. Mudah-mudah selesai dari program ini dapat terwujud adanya sister school di dalam negeri. Guru inti dapat terus mendampingi guru mitra,” jelas Supriano.

Para guru mitra jenjang SMP yang dilepas oleh Mendikbud berasal dari Aceh Utara, Bireun, Mempawah, Sambas, Malinau, Majene, Mamuju, Seram Bagian Barat, Halmahera Utara, Manggarai, Ende, Jayapura, Jayawijaya, Merauke, Nabire, Fak-Fak, Manokwari, Raja Ampat, Sorong. Sedangkan guru inti yang ikut dalam program ini berasal dari Kota Denpasar, Kabupaten Sidoarjo, Kota Malang, Kab. Bantul, Kota Semarang, Kab. Semarang, Kota Serang, Kab. Bandung, Kota Bekasi, dan Kota Bogor.

Supriano berharap para guru mitra dapat memanfaatkan program ini dengan sebaik-baiknya. Kesempatan yang sangat berharga ini, kata Supriano, agar dimanfaatkan untuk belajar lebih dalam tentang praktik baik dari guru inti, sehingga dapat mempercepat perubahan di sekolah asal. “Dengan itu, seluruh anak bangsa dapat merasakan pelayanan pendidikan yang lebih bermutu dan berkualitas,” pungkas Supriano.

Direktorat Jenderal GTK, Kemendikbud, menargetkan pada tahun ini, jumlah guru dan kepala sekolah yang terlibat dalam program kemitraan secara bertahap sebanyak 5.284 orang. Dengan rincian guru SMP sebanyak 76 guru inti, 228 guru mitra, dan 2.280 guru imbas; guru SMA sebanyak 30 guru inti, 120 guru mitra, dan 1.200 guru imbas. Sedangkan kepala sekolah untuk jenjang SMP terdiri dari 20 inti, 80 mitra, dan 800 imbas; serta kepala sekolah SMA terdiri dari 10 inti, 40 mitra, dan 400 imbas.

Pontianak - Bertempat di SUPM Pontianak, Kepala LPMP Kalbar sedang membuka kegiatan IHT implementasi kurikulum 2013. SUPM pontianak memiliki program jurusan Nautika kapal penangkapan ikan,  Teknika kapal penangkapan ikan,  Agribisnis perikanan air tawar,  Agribisnis pengolahan hasil perikanan. Ini merupakan salah satu program Fasilitasi Pelayanan mutu dari LPMP utk bekerjasama dengan SUPM dalam mengimplementasikan kurikulum 2013. Dalam arahannya Kepala  LPMP Kalbar, Dr Aristo Rahadi, M.Pd menyampaikan bahwa tugas guru adalah  mengajar bukan menstranfer ilmu, tetapi  bagaimana guru dalam mengelola siswa agar mereka belajar. Kegiatan ini dilaksanakan hingga 8 Agustus 2019 mendatang.

 

Friday, 02 August 2019 08:33

Panduan Bagi Gerakan Literasi di Sekolah

Written by

Jakarta, Kemendikbud – Sebagai panduan umum bagi pelaksanaan gerakan literasi di sekolah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) telah menerbitkan Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah pada bulan Oktober 2018. Namun dengan berlangsungnya Festival Literasi Sekolah 2019 pada  26 s.d 29 Juli 2019 lalu, para pemangku kepentingan kembali diingatkan pentingnya peran aktif semua pihak dalam upaya menggerakkan literasi di sekolah. Untuk itu, perlu ada suatu panduan yang menyertainya.
 
Desain Induk disusun agar pemangku kepentingan dapat memberikan arahan strategis bagi kegiatan literasi di lingkungan satuan pendidikan dasar dan menengah. Dengan tersedianya Desain Induk, diharapkan pemangku kepentingan dapat memahami fondasi dan arahan konseptual mengenai bagaimana sebaiknya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dilaksanakan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan.

Ke depan, Desain Induk diharapkan berkembang secara kreatif dan inovatif dari tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota hingga masyarakat pegiat literasi. Salah satu kegiatan di dalam GLS yang masih dijalankan di banyak satuan pendidikn hingga saat ini adalah kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal,
nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik.

Literasi dasar yang terdiri atas baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, budaya dan kewargaan merupakan bagian dari kecakapan abad XXI. Bersama dengan kompetensi dan karakter, ketiga hal tersebut akan bermuara pada pembelajaran sepanjang hayat. Program GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Silakan unduh Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah pada tautan di sini.