Warta Pendidikan

Warta Pendidikan (375)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Dunia Pendidikan

Kuala Lumpur - Indonesia terpilih menjadi Sekretariat Asia-Eropa Education Ministry (ASSEM) periode 2013-2017. Indonesia terpilih dan dipercaya atas kesepakatan bersama seluruh negara anggota ASSEM dalam pertemuan di Copenhagen tahun lalu.

Penyerahan simbolis Sekretariat ASSEM diterima Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Djoko Santoso dari tangan Sekretaris Kementerian Pendidikan Jerman, Cornelia Quennet. Penyerahan simbolis tersebut berupa dokumen yang disaksikan oleh 32 negara anggota ASSEM yang hadir di Ballroom Hotel Royal Chulan, Kuala Lumpur.

Sebagai Sekretariat ASSEM, Indonesia akan memilliki tugas berat. Karena Indonesia akan menjadi otaknya pendidikan Asia-Eropa yang menjadi anggota ASSEM.

"Kita akan melanjutkan kerja baik yang sudah dilakukan Jerman dan akan banyak belajar lagi," ujar Djoko Santoso dalam sambutannya di acara terakhir ASSEM 4 di Kuala Lumpur, Selasa (14/5).

Djoko mengatakan, Indonesia akan berusaha lebih baik dan meminta agar seluruh negara anggota turut membantu.
"Kita akan menerima semua saran dari semua member ASSEM untuk bisa menjalankan tugas ini," imbuhnya.

 

Sumber : http://www.detik.com

Jakarta - Indonesia dapat kembali berbangga hati. Di tengah carut-marut persoalan dalam negeri, generasi mudanya masih mampu berprestasi. Pasalnya, siswa-siswi Indonesia berhasil menyabet banyak penghargaan di ajang internasional minggu ini.
  
Indonesia yang diwakili oleh 8 siswa-siswi dari berbagai provinsi berhasil menyabet  2 medali emas, 2 medali perak, 2 medali perunggu dan 2 penghargaan khusus pada ajang Olimpiade Fisika Asia (APhO) ke-14. Dua medali emas diraih oleh Himawan Wicaksono Winarto (SMA Katolik Santo Albertus Malang) dan Josephine Monica (SMAK Penabur Gading Serpong).

Sedangkan dua medali perak diraih oleh Kristo Nugraha Lian (SMAK Penabur Gading Serpong) dan Aryani Paramita (SMAK 3 Penabur Jakarta). Dua medali perunggu diraih oleh Andramica Priastyo (SMA Taruna Nusantara Magelang) dan Justian Harkho (SMA Katolik Santu Petrus Pontianak). Dua penghargaan khusus diraih oleh Ryan Vitalis Kartiko (SMA Katolik Rajawali Makassar) dan Fidiya Maulida  (SMAN 1 Pamekasan).
  
Dalam ajang yang berlangsung mulai tanggal 5-13 Mei 2013 di Bogor, Jawa Barat ini Indonesia berhasil meraih penghargaan tertinggi, yaitu The Absolute Winner Asian Physics Olympiade yang diraih oleh Himawan Wicaksono. Dia berhasil mengalahkan 146 peserta dari 20 negara di Asia dan Australia.
  
"Ini impian Tim Olimpiade Fisika Indoensia (TOFI) selama 14 tahun untuk merebut gelar The Absolute Winner Apho, akhirnya kita bisa menumbangkan China!" ujar Ketua Panitia Asian Physics Olympiad (APhO) 2013, Dr Hendra Kwee saat di hubungi Jawa Pos, Minggu (12/5).
     
Selain itu, Himawan juga mendapatkan penghargaan khusus untuk nilai eksperimen terbaik (The Best Experiment). Adapun untuk nilai teori terbaik diperoleh oleh Bo Chen dari China.

Salah seorang siswi lainnya dari Indonesia, Josephine Monica memperoleh penghargaan khusus untuk The Best Female Participant. "Tidak setiap tahun ada penghargaan best female, dan kita patut sangat bangga tahun ini kita bisa dapatkan itu," ujar Hendra.
     
Hendra juga menambahkan bahwa tingkat kesuliatn APhO sangat tinggi dibandingkan dengan International Physics Olympiad (IPhO). Indonesia sendiri sudah pernah meraih the absolute winner di IPhO singapore pada tahun 2006.
  
"Kemarin tim dari India juga bilang susah, soalnya setingkat dengan S2/S3. Mereka nyerah kalau di APhO," tuturnya.

Hal senada juga diutarakan oleh Josephine Monica, menurutnya soal APhO memang lebih susah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. "Jauh lebih menantang sih jadinya," ujarnya.
  
APhO merupakan olimpiade fisika tingkat asia pasifik untuk tingkat SMA yang diadakan setiap tahunnya. APhO pertama kali diselenggarakan di Indonesia pada tahun 2000 bertempat di Lippo Karawaci Tangerang.

Di tempat berbeda, siswa-siswi Indonesia yang lain berhasil membawa pulang 3 emas dan 2 perak dalam ajang International Exhibition of Young Inventors (IEYI). Berdasarkan siaran pers dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kemarin (12/5), kompetisi sains ini berlangsung pada tanggal 9-11 Mei 2013 di Kuala Lumpur, Malaysia. Acara ini diikuti 13 negara yang melombakan kategori Disaster Management, Education and Recreation, Food and Agriculture, Green Technology, Safety and Health, dan Technology for Special Needs.
  
Yang paling menarik adalah karya Hibar Syahrul Gafur (Siswa SMPN 1 Bogor ) untuk kategori Safety and Health. Delegasi termuda ini berhasil membawa pulang medali emas untuk sepatu anti kekerasan seksual temuannya.
  
Penghargaan lainnya diberikan pada Wisnu (SMA Taruna Nusantara, Magelang) untuk temuannya berupa detektor telur busuk, dalam kategori Food and Agriculture. Atas temuannya ini Wisnu mendapat medali emas. Kemudian Tri Ayu Lestari, Nurina Zahra Rahmati, dan Elizabeth Widya Nidianita (SMAN 6 Yogyakarta) berhasil meraih medali emas dalam kategori Green Technology atas temuannya berupa penyaring sampah.
     
Sementara 2 perak disumbangkan oleh Devika Asmi Pandanwangi (SMAN 6 Yogyakarta) dalam kategori Technology for Special Needs atas temuannya berupa bra penampung ASI. Peraih perak lainnya yaitu Safira Dwi Tyas Putri (Sampoerna Academy Kampus, Bogor) atas karyanya canting batik otomatis, dalam kategori Green Technology.

 

Sumber ://www.jpnn.com

Jakarta - Untuk meminimalisir terjadinya pro-kontra terkait kebijakan pendidikan nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akan menggelar Konvensi Nasional Pendidikan. Demikian diungkapkan Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ibnu Hamad, dalam talkshow radio bertajuk Hardiknas 2013: Meningkatkan Kualitas dan Akses Pendidikan Berkeadilan,  di Radio KBR 68 H, pada Selasa (7/5)). “Konvensi Nasional Pendidikan akan diselenggarakan sekitar bulan September mendatang", ujar Ibnu Hamad.

Pada konvensi nasional tersebut akan dibahas berbagai isu pendidikan, termasuk penyelenggaraan ujian nasional (UN), yang selalu menjadi pro-kontra setiap tahunnya mengenai perlu tidaknya UN. Dalam penyelenggaraan nantinya, Kemdikbud akan mengundang berbagai tokoh yang peduli terhadap pendidikan, termasuk para pengamat dan pemerhati pendidikan yang sering mengkritisi kebijakan pendidikan. Melalui konvensi ini diharapkan akan muncul titik temu atau kesepakatan. Dengan demikian, diharapkan  ke depannya tidak ada lagi perdebatan yang melelahkan terkait kebijakan pendidikan. “Agar energi kita tidak habis untuk berdebat maka Kemdikbud akan mengundang berbagai pihak, termasuk  mereka yang selalu  mengkritisi kebijakan kemdikbud, untuk duduk bersama membicarakan yang terbaik untuk pendidikan kita ke depan", ungkapnya.

Ditambahkannya, pro dan kontra yang muncul terkait kebijakan pendidikan nasional, terutama UN, hanya menghabiskan energi. Sementara solusi yang terbaik untuk persoalan tersebut tidak pernah tercetus sehingga nyaris setiap tahun isu yang sama terus bergulir.  "Selalu saja kalau masuk bulan Maret atau April, ramai masalah UN. Walaupun penyelenggaraan UN sudah diatur dalam UU nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, tetap masih saja banyak yang punya pendapat sendiri", ujar Ibnu Hamad yang juga juru bicara Kemdikbud. "Konvensi ini dilakukan agar ada kesepakatan nasional. Sehingga kita tidak terjebak pada pro-kontra yang yang menghabiskan energi tidak sedikit", tegasnya.

Dengan adanya konvensi ini, Ibnu Hamad mengharapkan dapat ditemukan jalan tengah terbaik untuk mengatasi persoalan-persoalan pendidikan yang kerap menjadi sorotan masyarakat. Saat ini, Kemdikbud sedang melakukan analisis terhadap persoalan pendidikan yang akan diangkat dalam konvensi nasional tersebut, untuk selanjutnya menentukan narasumber yang tepat.

Konvensi Nasional Pendidikan berbeda dengan Rembuk Nasional Pendidikan (RNP). RNP diselenggarakan setiap tahun dan merupakan upaya konkret pemerintah pusat, pemerintah daerah, universitas, dan pemangku kepentingan pendidikan dan kebudayaan lainnya untuk melakukan koordinasi dan membangun komitmen bersama guna menuntaskan program prioritas pendidikan dan kebudayaan. Selain itu, RNP juga bertujuan untuk  merumuskan kebijakan pembangunan pendidikan dan kebudayaan di tahun mendatang. (TD)

Senin, 22 April 2013 00:00

Mendikbud Resmikan Politeknik Negeri Sambas

Written by

Sambas - Sabtu 9 Maret 2013 Mendikbud Mohammad Nuh meresmikan penegerian Politeknik Sambas, Kalimantan Barat. Ikut menyaksikan peresmian ini antara lain anggota DPR RI Komisi X Zulfadhli dan Albert Yaputra, Dirjen Dikmen, Rektor Untan, Direktur Kelembagaan dan Kerjasama Ditjen Dikti, serta Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan.

Mendikbud menyatakan politeknik Sambas memiliki peran strategis karena berada di daerah perbatasan dengan negara lain. Karena itu, menurut Nuh, penegerian politeknik Sambas ini memiliki misi bukan sekadar untuk meningkatkan kualitas SDM di Sambas tetapi juga meraih kembali marwah (kehormatan) bangsa. Politeknik Sambas harus bisa membangun daya bangsa.

Untuk itu Mendikbud mendorong agar Politeknik Sambas terus meningkatkan kualitasnya. Kalau kualitasnya baik, lanjutnya, bukan hanya warga Sambas yang akan kuliah, tetapi penduduk dari negara tetangga.

Dalam skala nasional, kata mantan Rektor ITS ini, Kemdikbud memiliki kebijakan dasar sekurang-kurangnya setiap daerah perbatasan memiliki satu perguruan tinggi negeri. "Hal ini akan menjadi sabuk pengaman nasional dari aspek sosial budaya," ujarnya.

Gubernur Kalimantan Barat dalam sambutan tertulisnya menyatakan dengan telah diresmikannya politeknik ini diharapkan masyarakat Sambas memasukkan putera-puterinya ke Politeknik Sambas.

Bupati Sambas,  Juliarti D. Alwi, mengatakan dengan pengembangan politeknik Sambas, diharapkan menjadi mitra dalam pengembangan SDM di Sambas. "Dengan dinegerikannya politeknik ini warga Sambas tak perlu jauh-jauh lagi kuliah ke Pontianak," ujarnya.(IH)

Senin, 22 April 2013 00:00

Dirjen PAUDNI Kunjungi Entikong

Written by

Entikong - Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (Dirjen PAUDNI) Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psi kembali melakukan kunjungan kerja ke wilayah perbatasan. Akhir pekan lalu, Reni Hawadi, sapaan Dirjen PAUDNI menyambangi Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau. Wilayah tersebut berbatasan darat dengan negara Malaysia.

Reni menegaskan wilayah perbatasan memerlukan perhatian yang lebih erat dari pemerintah pusat. Pasalnya, kondisi infrastruktur, pendidikan dan kesehatan di wilayah tersebut masih minim. Secara geopolitik, perhatian tersebut sangat dibutuhkan agar penduduk kita tidak terpikat untuk berpindah kewarganegaraan.

“Pembangunan ekononomi kita dibanding Malaysia relatif lebih rendah. Infrastruktur dan pendidikan disini masih kurang dibanding negeri yang ada seberang kita,” ucap Reni saat bertatap muka dengan para guru PAUD dan muspida kecamatan Entikong, akhir pekan lalu.

Camat Entikong Markus menyebutkan di wilayahnya terdapat 8 lembaga PAUD, namun fasilitasnya masih minim. Selain itu, mereka juga masih kekurangan tutor. “rata-rata satu PAUD hanya memiliki satu guru,” ucapnya prihatin.

Markus mengungkapkan, dari 5 desa yang ada di Kecamatan Entikong, masih ada 2 desa yang sulit dijangkau. Untuk menuju desa tersebut dibutuhkan perjalanan darat sekitar 5 jam. “Kami kesulitan untuk mengembangkan PAUD di dua desa itu,” ucapnya.

 

Beri Bantuan APE

Dalam kunjungan kerjanya ke Entikong, Dirjen PAUDNI memberikan beragam bantuan untuk masyarakat. Antara lain paket Alat Permainan Edukatif (APE) untuk lima lembaga PAUD, masing-masing sebesar Rp 8 juta. Selain itu, Dirjen juga memberi rintisan Taman Bacaan Masyarakat (TBM).

“Saya minta agar direktorat terkait di Ditjen PAUDNI memberikan pelatihan kecakapan hidup untuk masyarakat disini,” ucapnya.  Reni, yang merupakan psikolog pencetus program pendidikan akselerasi berharap, agar bantuan yang diberikan dapat memacu peningkatan program PAUDNI di perbatasan.

Sumber : http://www.paudni.kemdikbud.go.id