Warta Pendidikan

Warta Pendidikan (398)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Dunia Pendidikan

Jakarta - Untuk meminimalisir terjadinya pro-kontra terkait kebijakan pendidikan nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akan menggelar Konvensi Nasional Pendidikan. Demikian diungkapkan Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ibnu Hamad, dalam talkshow radio bertajuk Hardiknas 2013: Meningkatkan Kualitas dan Akses Pendidikan Berkeadilan,  di Radio KBR 68 H, pada Selasa (7/5)). “Konvensi Nasional Pendidikan akan diselenggarakan sekitar bulan September mendatang", ujar Ibnu Hamad.

Pada konvensi nasional tersebut akan dibahas berbagai isu pendidikan, termasuk penyelenggaraan ujian nasional (UN), yang selalu menjadi pro-kontra setiap tahunnya mengenai perlu tidaknya UN. Dalam penyelenggaraan nantinya, Kemdikbud akan mengundang berbagai tokoh yang peduli terhadap pendidikan, termasuk para pengamat dan pemerhati pendidikan yang sering mengkritisi kebijakan pendidikan. Melalui konvensi ini diharapkan akan muncul titik temu atau kesepakatan. Dengan demikian, diharapkan  ke depannya tidak ada lagi perdebatan yang melelahkan terkait kebijakan pendidikan. “Agar energi kita tidak habis untuk berdebat maka Kemdikbud akan mengundang berbagai pihak, termasuk  mereka yang selalu  mengkritisi kebijakan kemdikbud, untuk duduk bersama membicarakan yang terbaik untuk pendidikan kita ke depan", ungkapnya.

Ditambahkannya, pro dan kontra yang muncul terkait kebijakan pendidikan nasional, terutama UN, hanya menghabiskan energi. Sementara solusi yang terbaik untuk persoalan tersebut tidak pernah tercetus sehingga nyaris setiap tahun isu yang sama terus bergulir.  "Selalu saja kalau masuk bulan Maret atau April, ramai masalah UN. Walaupun penyelenggaraan UN sudah diatur dalam UU nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, tetap masih saja banyak yang punya pendapat sendiri", ujar Ibnu Hamad yang juga juru bicara Kemdikbud. "Konvensi ini dilakukan agar ada kesepakatan nasional. Sehingga kita tidak terjebak pada pro-kontra yang yang menghabiskan energi tidak sedikit", tegasnya.

Dengan adanya konvensi ini, Ibnu Hamad mengharapkan dapat ditemukan jalan tengah terbaik untuk mengatasi persoalan-persoalan pendidikan yang kerap menjadi sorotan masyarakat. Saat ini, Kemdikbud sedang melakukan analisis terhadap persoalan pendidikan yang akan diangkat dalam konvensi nasional tersebut, untuk selanjutnya menentukan narasumber yang tepat.

Konvensi Nasional Pendidikan berbeda dengan Rembuk Nasional Pendidikan (RNP). RNP diselenggarakan setiap tahun dan merupakan upaya konkret pemerintah pusat, pemerintah daerah, universitas, dan pemangku kepentingan pendidikan dan kebudayaan lainnya untuk melakukan koordinasi dan membangun komitmen bersama guna menuntaskan program prioritas pendidikan dan kebudayaan. Selain itu, RNP juga bertujuan untuk  merumuskan kebijakan pembangunan pendidikan dan kebudayaan di tahun mendatang. (TD)

Monday, 22 April 2013 00:00

Mendikbud Resmikan Politeknik Negeri Sambas

Written by

Sambas - Sabtu 9 Maret 2013 Mendikbud Mohammad Nuh meresmikan penegerian Politeknik Sambas, Kalimantan Barat. Ikut menyaksikan peresmian ini antara lain anggota DPR RI Komisi X Zulfadhli dan Albert Yaputra, Dirjen Dikmen, Rektor Untan, Direktur Kelembagaan dan Kerjasama Ditjen Dikti, serta Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan.

Mendikbud menyatakan politeknik Sambas memiliki peran strategis karena berada di daerah perbatasan dengan negara lain. Karena itu, menurut Nuh, penegerian politeknik Sambas ini memiliki misi bukan sekadar untuk meningkatkan kualitas SDM di Sambas tetapi juga meraih kembali marwah (kehormatan) bangsa. Politeknik Sambas harus bisa membangun daya bangsa.

Untuk itu Mendikbud mendorong agar Politeknik Sambas terus meningkatkan kualitasnya. Kalau kualitasnya baik, lanjutnya, bukan hanya warga Sambas yang akan kuliah, tetapi penduduk dari negara tetangga.

Dalam skala nasional, kata mantan Rektor ITS ini, Kemdikbud memiliki kebijakan dasar sekurang-kurangnya setiap daerah perbatasan memiliki satu perguruan tinggi negeri. "Hal ini akan menjadi sabuk pengaman nasional dari aspek sosial budaya," ujarnya.

Gubernur Kalimantan Barat dalam sambutan tertulisnya menyatakan dengan telah diresmikannya politeknik ini diharapkan masyarakat Sambas memasukkan putera-puterinya ke Politeknik Sambas.

Bupati Sambas,  Juliarti D. Alwi, mengatakan dengan pengembangan politeknik Sambas, diharapkan menjadi mitra dalam pengembangan SDM di Sambas. "Dengan dinegerikannya politeknik ini warga Sambas tak perlu jauh-jauh lagi kuliah ke Pontianak," ujarnya.(IH)

Monday, 22 April 2013 00:00

Dirjen PAUDNI Kunjungi Entikong

Written by

Entikong - Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (Dirjen PAUDNI) Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psi kembali melakukan kunjungan kerja ke wilayah perbatasan. Akhir pekan lalu, Reni Hawadi, sapaan Dirjen PAUDNI menyambangi Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau. Wilayah tersebut berbatasan darat dengan negara Malaysia.

Reni menegaskan wilayah perbatasan memerlukan perhatian yang lebih erat dari pemerintah pusat. Pasalnya, kondisi infrastruktur, pendidikan dan kesehatan di wilayah tersebut masih minim. Secara geopolitik, perhatian tersebut sangat dibutuhkan agar penduduk kita tidak terpikat untuk berpindah kewarganegaraan.

“Pembangunan ekononomi kita dibanding Malaysia relatif lebih rendah. Infrastruktur dan pendidikan disini masih kurang dibanding negeri yang ada seberang kita,” ucap Reni saat bertatap muka dengan para guru PAUD dan muspida kecamatan Entikong, akhir pekan lalu.

Camat Entikong Markus menyebutkan di wilayahnya terdapat 8 lembaga PAUD, namun fasilitasnya masih minim. Selain itu, mereka juga masih kekurangan tutor. “rata-rata satu PAUD hanya memiliki satu guru,” ucapnya prihatin.

Markus mengungkapkan, dari 5 desa yang ada di Kecamatan Entikong, masih ada 2 desa yang sulit dijangkau. Untuk menuju desa tersebut dibutuhkan perjalanan darat sekitar 5 jam. “Kami kesulitan untuk mengembangkan PAUD di dua desa itu,” ucapnya.

 

Beri Bantuan APE

Dalam kunjungan kerjanya ke Entikong, Dirjen PAUDNI memberikan beragam bantuan untuk masyarakat. Antara lain paket Alat Permainan Edukatif (APE) untuk lima lembaga PAUD, masing-masing sebesar Rp 8 juta. Selain itu, Dirjen juga memberi rintisan Taman Bacaan Masyarakat (TBM).

“Saya minta agar direktorat terkait di Ditjen PAUDNI memberikan pelatihan kecakapan hidup untuk masyarakat disini,” ucapnya.  Reni, yang merupakan psikolog pencetus program pendidikan akselerasi berharap, agar bantuan yang diberikan dapat memacu peningkatan program PAUDNI di perbatasan.

Sumber : http://www.paudni.kemdikbud.go.id

Sunday, 21 April 2013 00:00

Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Written by

Pontianak - NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan) adalah nomor identitas yang bersifat nasional untuk seluruh PTK (Pendidik dan Tenaga Kependidikan). NUPTK terdiri dari 16 angka yang bersifat tetap karena NUPTK yang dimiliki seorang PTK tidak akan berubah meskipun yang bersangkutan telah berpindah tempat mengajar atau terjadi perubahan data periwayatan.

NUPTK diberikan kepada seluruh PTK baik PNS maupun Non-PNS sebagai Nomor Identitas yang resmi untuk keperluan identifikasi dalam berbagai pelaksanaan program dan kegiatan yang berkaitan dengna pendidikan dalam rangka peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan.

Manfaat untuk tenaga pendidik yang memiki NUPTK adalah:

  • Berpartisipasi dalam sebuah proses/mekanisme pendataan secara nasional sehingga dapat membantu pemerintah dalam merencanakan berbagai program peningkatan kesejahteraan bagi tenaga pendidik.

  • Mendapatkan nomor identifikasi resmi dan bersifat resmi dan bersifat nasional dalam mengikuti berbagai program/kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat/daerah.

Sunday, 21 April 2013 01:51

Festival Mendongeng 2013

Written by

Jakarta - Dongeng selalu mengandung nilai keteladanan, kebaikan dan kejujuran. Mendongeng merupakan kebiasaan turun temurun oleh leluhur sebagai pengantar tidur anak. Untuk menumbuhkan kembali kebiasaan mendongeng, Klub Perpustakaan Indonesia (KPI) mengadakan Festival Mendongeng Nasional 2013.

Festival ini ditujukan bagi para guru/pustakawan TK/RA, PAUD, SD, dan yang setara komunitas pecinta buku dan penulis cerita/dongeng anak, yang berusia 20 sampai dengan 35 tahun. Setiap peserta menyerahkan naskah dongeng hasil karyanya kepada panitia beserta biodata pribadi. Formulir biodata peserta dan leaflet festival ini dapat diunduh www.kemdikbud.go.id .

Peserta yang dapat mengikuti festival ini adalah peserta yang belum pernah berprofesi sebagai pendongeng dan atau menjadi pemenang lomba mendongeng. Naskah dan biodata peserta diterima panitia paling lambat 26 April 2013. Naskah dilampiri perangko yang masih berlaku senilai @ Rp3.000,- sebanyak 20 lembar per peserta, atau uang pengganti perangko senilai Rp60.000 jika naskah dan biodata dikirim melalui e-mail.

Naskah dongeng yang diikutsertakan merupakan hasil karya tulis peserta. Naskah dapat berbentuk saduran dari buku cerita tentang Indonesia, karya penulis Indonesia, atau berlatar belakang budaya Indonesia. Naskah wajib mengandung nilai-nilai yang bersifat nasionalis, heroik, religius, atau humanis. Naskah diketik pada kertas ukuran folio maksimal dua halaman dengan ukuran huruf 12 pt, spasi 1,5. Dan jika naskah yang dibuat merupakan saduran, maka wajib dicantumkan sumber dan penulisnya.

Setelah penilaian naskah, juri akan menentukan 15 finalis. Para finalis tersebut akan dipanggil ke Jakarta pada 27-30 Mei 2013 untuk mengikuti acara final. 100 orang pertama yang mengirim naskah dongeng, akan diundang menghadiri seminar dan workshop tentang penulisan cerita anak dan mendongeng pada 28 Mei 2013 secara cuma-cuma. Pengumuman pemenang akan dilakukan pada 30 Mei 2013. Penghargaan kepada pemenang berupa piagam, uang, dan hadiah lain dari sponsor. (AR)

 

Alamat Panitia:

d.a Klub Perpustakaan Indonesia
Jl. Bendi Utama No. 3 Tanah Kusir
Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12240
Telp.  (021) 72794739 , 98173480
e-mail: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.