Warta Pendidikan

Warta Pendidikan (465)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Dunia Pendidikan

Jakarta, Kemendikbud — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makariem mengatakan, penting untuk mengenalkan paradigma baru pendidikan yang lebih kolaboratif. Kreativitas dan inovasi yang muncul dari seluruh lapisan masyarakat sangat dibutuhkan untuk memajukan pendidikan di Indonesia.  

"Saya ingin tersebar sebuah paradigma baru di mana siswa, guru, dan orang tua merdeka untuk mencoba hal-hal baru. Banyak bertanya, mencoba, dan berkarya," tuturnya saat menjadi pembicara dalam Konferensi Pendidikan dan Peluncuran Program Akademi Edukreator yang bertemakan “Membangun Dunia Pendidikan Baru” secara telekonferensi di Jakarta, Rabu (6/5/2020).

Sebelumnya Mendikbud menjelaskan bahwa prinsip Merdeka Belajar adalah memberikan otonomi, transparansi, efisiensi, dan fleksibilitas. Sehingga upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia di dunia pendidikan dapat lebih optimal dan berdampak.

"Esensi Merdeka Belajar bahwa pendidikan itu bukan hanya milik pemerintah. Pendidikan itu adalah miliknya masyarakat, dari masyarakat, untuk masyarakat. Tentunya dengan kurasi kualitas yang baik. Tetapi pendidikan itu bisa dalam format yang sangat variatif dan bisa didapatkan dari berbagai macam pihak," jelasnya.

"Dengan teknologi yang kita miliki sekarang, kita bisa akses itu dari mana pun. Jadinya inilah yang namanya Merdeka Belajar," tambahnya.

Untuk itulah, Kemendikbud mendorong terciptanya perubahan mendasar di dunia pendidikan. Salah satunya adalah mendorong partisipasi publik yang lebih besar dalam gotong royong membangun pendidikan nasional.

Dicontohkan Nadiem, semakin menguatnya peranan komunitas dan organisasi pendidikan dalam kemitraan bersama pemerintah pusat ataupun daerah. "Itu yang akan menciptakan transformasi oganik budaya pendidikan kita," ujarnya.

Mendekatkan Pendidikan dengan Dunia Nyata

Mendikbud Nadiem Anwar Makarim mengakui bahwa salah satu semangat Merdeka Belajar adalah untuk mengaitkan sistem pendidikan dengan kebutuhan di dunia nyata atau dunia profesional tempat berkarya. Dicontohkannya, ketika terjadi wabah maka penelitian di bidang kesehatan sangat dibutuhkan. Melalui penelitian, kita bisa mengidentifikasi wabah dan mencari solusinya.

Lebih lanjut, Nadiem mengatakan yang dimaksud dunia nyata bukan hanya industri, tetapi juga sektor pemerintahan maupun sektor sosial atau nonprofit.

"Bagaimana kita meningkatkan relevansi pembelajaran kepada dunia nyata. Jadi, kita membuat pendidikan kita serelevan mungkin terhadap apa yang terjadi di dunia nyata bukan hanya dunia akademik saja," ungkap Nadiem.   

Oleh karena itu, tugas Kemendikbud adalah menciptakan sistem pendidikan yang memerdekakan potensi guru, kepala sekolah, dan siswa. "Kemendikbud selalui konsisten dalam menjalankan konsep (Merdeka Belajar) ini,” ujarnya.  

Saat ini, Indonesia membutuhkan guru-guru penggerak yang fokus kepada peserta didiknya. Guru yang memiliki motivasi atau panggilan jiwa menjadi pendidik dan fokus pada kepemimpinan. "Jika ingin menciptakan sekolah berkelas dunia misalnya, maka ekosistem pendidikan kita harus mengikuti standar dunia. Perubahan itu harus terjadi. Mendekatkan pendidikan kita dengan dunia nyata,” terang Mendikbud.

Kemudian, kualitas kepala sekolah yang menentukan perubahan ekosistem pendidikan. "Kepala sekolah harus memiliki kapabilitas untuk menjadi mentor guru-guru di lingkungannya dengan kualitas pembelajaran yang memadai. Ia juga harus bisa menghadirkan guru-guru penggerak yang akan membantu memajukan pendidikan,” ucapnya.

Lompatan Kemajuan

Perubahan zaman yang kian pesat memaksa setiap individu untuk jeli melihat peluang dan beradaptasi. Menurut Mendikbud, dunia kerja atau profesional akan berubah seiring dengan perkembangan teknologi. Sektor teknologi perangkat lunak diyakininya akan semakin berkembang, seperti aplikasi web, desain, riset, data analisis, dan hal yang terkait ekosistem digital.

"Di masa depan, kita akan membangun peradaban secara virtual," ujar Mendikbud.

Saat ini, terbuka peluang emas bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju lain melalui sektor teknologi. Bertumbuhnya berbagai perusahaan teknologi di Indonesia semestinya dapat mendorong terciptanya suatu generasi produser teknologi, bukan sekadar konsumer teknologi. Generasi yang terampil dalam memproduksi software dan berbagai hal yang menciptakan efisiensi di sektor manufaktur.  

"Mandat Presiden Joko Widodo adalah kita harus lompat melalui digitalisasi. Dan itu membutuhkan paradigma baru di dunia pendidikan, baik pendidikan menengah ke bawah dan pendidikan tinggi. Di mana fokusnya adalah kepada kreativitas, computational logics, dan juga fokus kepada berkarya," jelas Mendikbud Nadiem.

Namun, hal tersebut tidak dimaksudkan untuk mewajibkan setiap anak Indonesia belajar coding atau pemrograman. "Bisa dengan melatih pondasinya saja. Kalau misalnya dia senang dengan dunia teknologi baru nanti bisa mengambilnya di pendidikan lainnya," ujar Nadiem.

Kemudian, dalam rangka mengatasi ketimpangan yang terjadi akibat belum meratanya akses. Maka, saat ini prioritas pemerintah, khususnya setelah belajar dari pandemi adalah percepatan pemerataan akses di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal). "Tanpa konektivitas (internet) dan listrik, maka pemerataan kualitas pendidikan kita tidak mungkin tercapai. Maka itu mutlak," kata Mendikbud.

Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberikan apresiasi atas peran serta berbagai pihak yang telah mendukung pembelajaran jarak jauh (PJJ) di masa pandemi Covid-19. Salah satu pihak yang berkontribusi di bidang pendidikan dalam masa pandemi ini adalah pihak swasta atau dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

"Pelibatan publik sangat dibutuhkan untuk bersama-sama membantu memberikan solusi atas keberlangsungan proses pembelajaran jarak jauh,” kata Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kemendikbud, Evy Mulyani, saat memberikan sambutan dalam acara serah terima bantuan secara daring di Jakarta, Selasa (5/5/2020).

Kali ini pihak swasta yang memberikan bantuan untuk disalurkan oleh Kemendikbud berasal dari bidang perbankan, yaitu Standard Chartered. Melalui Yayasan Mitra Mandiri Indonesia, Standard Chartered memberikan bantuan senilai Rp1,56 milyar dalam bentuk Home Learning Kit, yang terdiri dari laptop, wireless modem, dan kuota internet untuk siswa-siswi di Jakarta. Bantuan ini bertujuan untuk membantu siswa agar dapat tetap belajar walaupun berada di rumah.

Evy berharap program kerja sama seperti ini dapat ditularkan ke perusahaan lain, khususnya di masa pandemi saat ini. “Semoga semangat ini dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi perusahaan lainnya dalam membantu para peserta didik memenuhi kebutuhan sarana belajar dari rumah, khususnya yang berasal dari keluarga tidak mampu,” tuturnya.

Chief Executive Officer (CEO) Standard Chartered Bank Indonesia, Andrew Chia, mengatakan, Standard Chartered sebagai brand here for good hadir untuk membawa kebaikan terutama dalam masa sulit seperti saat ini. “Standard Chartered telah mengalokasikan total dana sebesar 500 ribu dolar AS (atau sekitar Rp 7 Milyar) untuk penanganan darurat di Indonesia dengan fokus di bidang kesehatan dan pendidikan," ujarnya.

Selain itu, Standard Chartered memiliki program pendidikan untuk kaum muda melalui program-program pelatihan, antara lain program literasi keuangan Financial Education for Youth (FE4Y) dan program pengembangan keterampilan Bahasa Inggris, komputer, serta pemahaman dan keterampilan mengenai pemasaran digital, yaitu Youth to Work. Program Youth to Work merupakan program untuk membangun kemampuan kerja dan meningkatkan peluang untuk mendapatkan pekerjaan, khususnya bagi pelajar sekolah kejuruan atau SMK.

Jakarta, Kemendikbud Pelaksana tugas Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hamid Muhammad mengatakan, Corona Virus Desease (Covid-19) telah mengajarkan masyarakat banyak hal, mulai dari hidup bersih dan sehat, sampai membuat warga belajar beradaptasi menggunakan metode pembelajaran jarak jauh.
 
Hamid menuturkan, ada tiga kelompok besar dalam pembelajaran di sekolah. Kelompok pertama adalah anak-anak yang sudah terbiasa dengan pembelajaran online, karena sekolah sudah menerapkannya secara penuh. Anak-anak ini tidak akan merasa kesulitan menghadapi pembelajaran jarak jauh karena sering mengakses aplikasi pembelajaran. “Seperti misalnya, Rumah Belajar, Ruang Guru, Sekolahmu, dan lain-lain,” tuturnya saat hadir dalam Konferensi Pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang berlangsung secara daring di Media Center Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada hari Sabtu (2/5/2020) di Jakarta.
 
Kelompok kedua, kata Hamid, adalah anak-anak dari sekolah yang melakukan pembelajaran semi daring. Di keompok ini, pemberian tugas dari guru kepada siswa dikirim melalui Whatsapp, tidak berinteraksi secara langsung.  Sedangkan kelompok ketiga adalah anak-anak yang tidak bisa melakukan banyak hal karena keterbatasan infrastruktur dan daya dukung teknologi.
 
Menurut Hamid, persoalan yang paling menyita pikiran adalah terkait dengan anak-anak di kelompok ketiga, yaitu mereka yang tidak punya akses internet, listrik, TV. Anak-anak ini pembelajarannya sangat manual yaitu menggunakan radio komunitas, hingga kunjungan guru ke rumah-rumah siswa secara berkala. “Inilah saatnya guru melakukan inovasi pembelajaran sesuai dengan kondisi daerahnya,” ucap Hamid.
 
Hamid menyampaikan, guru dan sekolah dapat memilih materi esensial yang perlu dilakukan anak-anak di rumah. Misalnya, dengan memberikan anak-anak pendidikan kecakapan hidup sesuai kondisi rumah masing-masing. “Terutama tentang pengertian Covid-19, bagaimana karakteristiknya, serta bagaimana cara menghindarinya agar tidak terjangkit,” ujar Hamid Muhammad saat menguraikan muatan pembelajaran yang harus diberikan di tengah situasi pandemi.
 
Mengetahui masih terdapat daerah yang minim infrastruktur teknologi, jaringan internet dan listrik, Ia berpesan bahwa proses pembelajaran sebaiknya disesuaikan dengan minat dan kondisi masing-masing anak di tiap daerah. Oleh karena itu, guru dan orangtua perlu rajin berkoordinasi dan jeli dalam mengadaptasi metode pembelajaranya. “Jangan disamaratakan untuk semua anak,” kata Hamid.

Jakarta, Kemendikbud --- Bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada hari Sabtu (2/5/2020) lalu,  acara “Inspirasi Tokoh Pendidikan pada Masa Pandemi” digelar. Dalam acara tersebut, diundang guru dan mahasiswa untuk berbagi cerita menarik seputar pembelajaran yang telah mereka lakukan.
 
Salah satunya adalah Titis Kartikawati, guru SD di Sanggau, Kalimantan Barat.  Titis bercerita tentang letak geografis yang beragam membuat wilayah tempatnya mengajar tidak mendapat akses internet secara merata. Hal ini tentu menjadi kendala dalam proses pembelajaran jarak jauh. Guna memecahkan masalah tersebut, Titis bersama dengan komunitas Guru Belajar berkolaborasi dengan RRI Sanggau mengadakan Program Belajar selama satu jam. “Setiap hari Senin-Jumat secara bergantian, para guru memberikan materi yang dikuasainya,” katanya.
 
Langkah ini dinilai lebih efektif dan efisien karena siswa tetap bisa belajar melalui siaran RRI yang menjangkau  empat kabupaten hingga ke pelosok perbatasan. Selain itu, para orang tua senang karena bisa menghemat biaya pembelian kuota internet bagi anak-anaknya.
 
Menyikapi tantangan pendidikan di masa darurat kesehatan, Titik Nur Istiqomah, Guru SD Muhammadiyah, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah menekankan pentingnya membangun harmonisasi antara siswa, guru, dan orangtua agar proses pembelajaran dapat bertahan di tengah kondisi seperti ini.
 
“Ketika pembelajaran jarak jauh banyak diartikan sebagai liburan maka saatnya kita kenalkan orang tua dengan metode belajar di rumah secara menyenangkan. Kami menggunakan media Tik Tok untuk belajar karena anak-anak banyak yang senang menggunakannya,” jelas Titik yang memodifikasi pembelajarannya dengan teknologi yang sedang digemari masyarakat untuk memotivasi siswa.  
 
Sementara itu, Nauval Fariz Damas seorang Mahasiswa Fakultas Kedokteran di Surabaya yang juga hadir dan tergabung sebagai salah satu relawan Covid-19 mengutarakan bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami Covid-19. Hal ini disebabkan karena masyarakat sulit mendapat informasi dan mendapat kesempatan untuk berkonsultasi tentang Covid-19 dari orang yang kompeten. “Masyarakat masih bingung gejala Covid-19. Oleh karena itu relawan harus bisa mendampingi untuk memberi penjelasan teknis seputar Covid-19, terutama untuk orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP),” katanya melalui telekonfrensi.
 
“Saya mengajak kaum muda, para mahasiswa, intelektual muda, agent of change, social control yang mengetahui literasi  tentang Covid-19 dan menguasai teknologi, untuk bersemangat mengambil peran di situasi pandemi Covid-19. Bukan lagi berpikir apa yang diberikan Negara untuk kita melainkan apa yang bisa kita perbuat untuk Negara kita,” pungkas Nauval.
 
Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2020 mengusung tema Belajar dari Covid-19. Salah satu poin yang berkaitan dengan tema tersebut adalah bagaimana masyarakat belajar dari apa yang dialami sekarang, termasuk belajar bersama-sama dalam era pandemi Covid-19. Bahkan, upacara Hardiknas pun dilakukan berbeda yaitu secara daring, hanya  ada perwakilan beberapa orang yang tetap menjaga jarak, menjaga kebersihan, tidak berkerumun dan semua orang menggunakan masker.
 
Pelaksana tugas Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah, Hamid Muhammad mengatakan, poin penting bagaimana membangun proses belajar adalah tanpa tekanan, mudah, dan menyenangkan bagi semua yang terlibat baik siswa, guru maupun orangtua. “Pembelajaran harus terjadi di rumah tanpa guru-guru menarget pencapaian kurikulum. Perhatikan kondisi anak-anak termasuk akses terhadap internet. Penilaian tugas bersifat kualitatif. Proses belajar harus dapat  memberikan motivasi kepada anak,” pesannya.

Sunday, 26 April 2020 06:05

4 Kelompok Pendidik Cara Daring

Written by

Covid-19 telah berhasil memaksa lembaga pendidikan di Indonesia untuk masuk dengan segera ke pembelajaran daring (online). Secara serentak di hampir seluruh kota Indonesia, sekolah dan perguruan tinggi harus memberlakukan pembelajaran daring. Namun pasti kualitasnya tidak akan sama. Secara garis besar setidaknya terdapat 4 kelompok pendidik yang saat ini sedang memanfaatkan teknologi dan pedagogi sebagai sarana untuk pembelajaran daring, yang masing- masing akan menyajikan kualitas pengalaman belajar yang berbeda-beda.

 Kelompok 1

Pendidik di kelompok ini melakukan pembelajaran daring sebatas mengirim bahan ajar melalui media sosial yang populer seperti Whatsapp (WA) atau melalui email. Ini biasanya dilakukan oleh pendidik yang masih gagap terhadap teknologi dan terbatas dalam pemahaman pedagoginya. Batas kemampuan mengajar dengan menggunakan teknologi hanya sebatas berkomunikasi di media sossial sekelas WA. Sebagai akibatnya pengalaman sekolah yang sangat beragam hanya tergantikan oleh komunikasi melalui WA atau email. Ini tentunya dapat membuat peserta belajar merasa bosan dan sangat merasakan kehilangan suasana sekolah seperti yang mereka nikmati sebelumnya.

Kelompok 2

Pendidik di kelompok yang kedua ini melakukan pembelajaran melalui platform seperti Moodle, Edmodo, Google Classroom, Schoology atau platform lain yang sejenis. Pendidik di level 2 paham tentang LMS (Learning Management System) dan dapat memanfaatkan fitur-fitur yang ada misalnya untuk melakukan kuis. Namun demikian komunikasinya yang terjadi masih sebatas bertukar catatan saja dan tidak ada interaksi yang langsung secara verbal, atau secara verbal dan visual sekaligus misalnya melalui video call. Peserta didik mungkin akan merasakan sebuah pengalaman baru dan berbeda untuk beberapa saat namun dalam jangka panjang bila hanya seperti ini saja maka peserta belajar akan kehilangan suasana sosial dalam belajar.

 Kelompok 3

 Pendidik di kelompok ini sanggup mengelola pembelajaran melalui platform LMS (Learning Management System) seperti di atas dan juga mengkurasi bahan ajar yang terdapat di internet seperti di Ruangguru, Zenius dll. serta secara sengaja menciptakan interaksi langsung yang terjadwal dengan peserta didik secara sinkron. Di kelompok ini pendidik dengan peserta didik berkomunikasi dan berinteraksi langsung dengan mendengar suara, atau suara dan gambar walaupun itu dilakukan melalui teknologi. Untuk para pendidik yang masuk di kelompok 3 ini interaksi sosial menjadi agenda dari rencana pembelajaran.

"Berbagai penelitian memang telah memperlihatkan bahwa interaksi sosial adalah titik lemah pembelajaran daring (Protopsaltis & Baum, 2019)

Oleh karena seyogianya menjadi pendidik yang masuk di dalam kelompok 3 ini menjadi syarat minimum untuk menjadi pendidik di dalam pembelajaran daring.

Kelompok 4

Pendidik di kelompok 4 ini melakukan pembelajaran daring seperti kelompok 3 namun mereka menambahkannya dengan instruksi belajar yang lebih bervariasi termasuk menjadikan dirinya sendiri sebagai sumber belajar dengan cara membagikan rekaman suara atau video yang diproduksi sendiri untuk keperluan pembelajaran daring. Pendidik dapat menghasilkan instruksi-instruksi yang memandu peserta didik untuk bisa melakukan collaborative learning dan experiential learning secara mandiri di tempat masing-masing.

Mereka terkoneksi dengan peserta didik dan bisa menghidupkan suasana belajar walau itu terjadi dalam jarak jauh dan bukan di dalam suasana sekolah. Mereka bisa memandu peserta didik untuk melihat rumahnya dan keluarganya sendiri sebagai sebuah laboratorium ilmu pengetahuan alam dan juga laboratorium untuk ilmu sosial. Peserta didik akan merasa bahwa belajar jarak jauh itu tidak terbatas hanya ketika mereka membaca, menonton, mencatat dan mengerjakan tugas di depan ponsel atau laptopnya. Peserta didik yang memiliki pendidik dari kelompok 4 ini adalah peserta didik yang beruntung karena ditengah pandemik yang memaksa mereka di rumah saja, mereka tetap dapat menikmati pengalaman belajar yang bermutu dan juga asyik.

"Pendidik di kelompok 4 ini berhasil mewujudkan pesan Ki Hajar Dewantara yaitu menjadikan setiap rumah jadi sekolah dan setiap orang jadi guru.

Sebagai kesimpulannya, momen “paksaan” masuk ke pembelajaran daring ini janganlah dipandang hanya sekedar solusi sementara untuk pandemik Covid-19 tetapi seyogyanya kita bisa manfaatkan jadi sebuah batu pijakan untuk melakukan lompatan katak menuju transformasi digital dunia pendidikan Indonesia.

 Bagaimana caranya? Mari bergerak dan memastikan diri untuk menjadi pendidik yang berada di kelompok 4. Semakin banyak pendidik Indonesia yang berada di kelompok 4 ini maka kita akan makin siap melakukan “lompatan katak” dalam meningkatkan kualitas dan pemerataan pendidikan.

 Kita bersama akan membebaskan diri dari kesulitan mendiseminasi pendidikan berkualitas dari keterbatasan lokasi dan waktu. Bangunan sekolah dan jam sekolah bukan lagi satu-satunya cara untuk menikmati pembelajaran yang berkualitas. Inilah salah satu contoh dampak dari integrasi teknologi ke dalam model bisnis pendidikan yang dapat mengakselerasi gerak kita mencapai tujuan pendidikan.

"Mari bersama kita ubah tantangan ini jadi peluang dengan memanfaatkan “momen” pembelajaran daring untuk melakukan quantum leap untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

Sumber