Pontianak,19/9/2019 - LPMP Kalbar - Sekolah Binaan adalah sekolah yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi/Kabupaten/Kota) dan pembinaannya dilaksanakan secara bersama dengan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kalimantan Barat. Sekolah Binaan merupakan acuan bagi sekolah lain di sekitarnya dalam upaya pemenuhan mutu 8 (delapan) SNP melalui penerapan penjaminan mutu pendidikan. Pelaksanaan program sekolah binaan dilakukan dengan memberikan bantuan pemerintah dalam pelaksanaan kegiatan dan melibatkan pemerintah daerah melalui Tim Penjaminan Mutu Pendidikan Daerah (TPMPD).

Jumlah Sekolah binaan di Provinsi Kalimantan Barat 224 sekolah yang berada di 14 Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat. Setiap Kabupaten/Kota memiliki 16 sekolah binaan yang terdiri dari 8 SD, 5 SMP, 2 SMA dan 1 SMK. Sekolah Binaan memiliki tanggungjawab untuk mengimbaskan praktik penerapan penjaminan mutu pendidikan kepada 5 (lima) sekolah di sekitarnya. Sekolah yang diimbaskan ini selanjutnya disebut dengan sekolah imbas. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi/Kabupaten/Kota diberi keleluasaan untuk menambah sasaran Sekolah Binaan melalui pola yang sama dengan biaya dari pemerintah daerah (APBD).

Fasilitator Daerah (Fasda) melakukan pendampingan ke sekolah binaan sebanyak 3 kali. Pada bulan Juli – Agustus telah dilakukan pendampingan pertama di tiap Kabupaten/Kota dalam rangka meningkatkan pemahaman dan keterampilan sekolah dalam pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu internal (SPMI). Pada bulan September dilaksanakan pendampingan kedua di sekolah binaan, yang memberikan penguatan kepada sekolah dalam melaksanakan maupun memenuhi 8 Standar Nasional Pendidikan. Kegiatan pendampingan diikuti oleh  pengawas, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan lain, serta orang tua/komite sekolah binaan dan perwakilan sekolah imbas. Pendampingan ketiga akan dilaksanakan pada bulan November difokuskan pada pemberian penguatan kepada Sekolah Binaan dalam hal pengembangan program kekhasan atau kekhususan yang dilaksanakan oleh sekolah.

 

Published in Penjaminan Mutu

Dalam rangka persiapan rilis Aplikasi Dapodikdasmen versi 2020, akan dilakukan pemeliharaan/maintenance pada server Dapodik. Untuk itu sinkronisasi menggunakan Aplikasi Dapodikdasmen versi 2019.e akan ditutup pada Rabu, 31 Juli 2019 pukul 23.59 WIB.

Sinkronisasi akan dibuka kembali setelah Aplikasi Dapodikdasmen versi 2020 dirilis dan akan diumumkan melalui laman ini (http://dapo.dikdasmen.kemdikbud.go.id).

Published in Pengumuman

Pontianak - Data Penjaminan Mutu Pendidikan (PMP) adalah aset pendidikan. Aset yang perlu dikumpulkan, dikelola dan diberdayakan. Sebagai aset, data PMP perlu pemeliharaan, perawatan dan pemutakhiran. Semua kegiatan tersebut tidak mudah. Dibutuhkan konsistensi dan integritas tinggi. Tugas berat inilah yang saat ini dijalankan oleh para pengawas sekolah. Selain membina satuan pendidikan, mereka juga harus mampu menjaga aset ini dengan teliti dan sinergi.

Banyak kisah perjuangan menjaga aset data PMP. Salah satunya adalah Drs. Gusparudin atau yang biasa dipanggil Pak Gus, salah seorang pengawas SMA di Kabupaten Sintang. Beliau melaksanakan tugas pengumpulan data mutu PMP tahun 2018 di 9 sekolah binaan yang tersebar di 5 kecamatan di kabupaten Sintang.

Pak Gus lahir di Nanga Sayan, 10 September 1961. Beliau mulai bertugas pada 1 April 1989 sebagai guru di SMAN 2 Sintang. Selanjutnya beliau menjadi pengawas sejak 31 Desember 2001 sampai sekarang. Beliau menceritakan bahwa dalam melaksanakan pendampingan pelaksanaan pengumpulan data PMP tahun 2018 penuh tantangan dan pengalaman. Apalagi dilaksanakan bertepatan musim penghujan. Sehingga sosialiasasi ke sekolah binaan dengan jarak tempuh mencapai 7 jam perjalanan darat menggunakan sepeda motor dari ibukota kabupaten terasa sulit.

Beliau bertutur beberapa kali pernah terjatuh dari motor. Karena sebagian jalan belum beraspal. Sehingga menyebabkan roda sepeda motor mudah tergelincir. Resikonya sepeda motor menjadi cepat rusak. Bermalam di jalan pun menjadi pengalaman kehidupan dalam perjalanan kedinasan. Dalam setiap kunjungan ke sekolah yang medannya sulit beliau pasti membawa bekal senter dan pisau.

Beliau berkisah bahwa semua kecamatan di Sintang pernah dikunjungi. Beliau juga mengisahkan bahwa wilayah binaannya sangat luas. Dari jalan yang mulus sampai yang licin dan berlumpur. Sedangkan jumlah pengawas SMA/ SMK kabupaten Sintang jumlahnya masih terbatas. Namun dari secuil kisah duka tersebut terselip perasaan suka dan gembira.

Perasaan suka adalah ketika tiba di sekolah binaan. Sambutan hangat dari warga sekolah membuat rasa capek dan lelah seolah terbayarkan. Pak Gus dapat melihat langsung proses pembelajaran dan kondisi nyata pendidikan di daerah terpencil, tertinggal dan terluar. Pak Gus juga dapat memberikan bimbingan serta masukan kepada sekolah untuk berubah menjadi lebih baik, menjadi penyemangat serta inovasi manajemen sekolah yang baik dan benar. Semua situasi tersebut merupakan kepuasan batin yang tidak dapat diukur dengan materi dan bahkan menjadi pengalaman abadi turut memajukan pendidikan negeri.

Perjuangan pengumpulan data ini beliau lakukan karena waktu antara pelaksanaan bimbingan teknis (bimtek) pengawas petugas pengumpulan data mutu pendidikan dengan rencana cut off pengiriman data PMP hanya 2 bulan. Sehingga pengawas harus segera menyosialisasikan hasil bimtek tersebut kepada sekolah binaan. Tujuannya agar sekolah dapat segera mengisi data PMP sesuai dengan kondisi nyata yang terjadi di sekolah. Sehingga setiap sekolah dapat menyelesaikan proses pengisian dan pengiriman tepat pada waktunya.

Pak Gus adalah salah satu dari ribuan pengawas sekolah di Indonesia yang berjuang demi kualitas data mutu pendidikan. Kebenaran dan validitas data adalah pertaruhan. Berkunjung mendatangi sekolah binaan adalah tantangan. Keikhlasan dan tanggung jawab adalah keseriusan. Keseriusan yang menjadi bagian dari proses penjaminan mutu pendidikan.

Published in Potret Pendidikan