Deprecated: Methods with the same name as their class will not be constructors in a future version of PHP; plgContentembed_google_map has a deprecated constructor in /home/t20618/public_html/lpmpkalbar.id/plugins/content/embed_google_map/embed_google_map.php on line 21

Umumnya pembelajaran Fisika masih dilakukan dalam bentuk satu arah, guru lebih banyak ceramah dihadapan siswa sementara siswa mendengarkan. Guru beranggapan tugasnya hanya mentransfer pengetahuan yang dimiliki guru kepada siswa dengan target tersampaikannya topik-topik yang tertulis dalam dokumen kurikulum kepada siswa. Pada umumnya guru tidak memberi inspirasi kepada siswa untuk berkreasi dan tidak melatih siswa untuk hidup mandiri. Pelajaran yang disajikan guru kurang menantang siswa untuk berpikir. Akibatnya siswa tidak menyenangi pelajaran.

Dalam hal ini terlihat bahwa pendidik kurang melakukan inovasi pembelajaran yang dapat membangkitkan kualitas pembelajaran seperti yang dimaui para siswa pada dewasa ini.  Padahal penggunaan suatu model pembelajaran mempunyai pengaruh yang sangat berarti bagi siswa dalam proses pembelajaran. Kualitas pembelajaran fisika selain dipengaruhi model pembelajaran yang digunakan juga setting lingkungan belajar.

Metode Ekspositori merupakan salah satu metode yang sering digunakan dalam proses pembelajaran fisika, namun apakah metode ekspositori yang diterapkan saat ini sudah sesuai untuk pembelajaran fisika. Inovasi yang bagaimana seharusnya dalam menerapkan metode ekspositori dalam pembelajaran fisika. Untuk itu penulis mencoba mengulas dalam makalah ini tentang inovasi penggunaan metode ekspositori dalam pembelajaran fisika.

Hasilnya jika Inovasi metode ekspositori  mengikuti langkah-langkah berikut :

(a)    Pendahuluan (introduction), (b) Menyebutkan konsep (name of the concept), (c).Pemberian contoh-contoh (give examplary), (d). Pendefinisian konsep (define the concept), (e). Pengujian terhadap siswa (student testing), (f). Penguatan (extension), maka guru akan memperoleh hasil pembelajaran yang memuaskan.

 

Tulisan Lengkap :

Inovasi Penggunaan Metode Ekspositori Dalam Pembelajaran Fisika

 

Penulis :

Jeperis Nahampun, S. Si. M. Pd

Widyaiswara LPMP Provinsi Kalimantan Barat

 

 

 

Published in Publikasi Ilmiah

Jakarta - Indonesia dapat kembali berbangga hati. Di tengah carut-marut persoalan dalam negeri, generasi mudanya masih mampu berprestasi. Pasalnya, siswa-siswi Indonesia berhasil menyabet banyak penghargaan di ajang internasional minggu ini.
  
Indonesia yang diwakili oleh 8 siswa-siswi dari berbagai provinsi berhasil menyabet  2 medali emas, 2 medali perak, 2 medali perunggu dan 2 penghargaan khusus pada ajang Olimpiade Fisika Asia (APhO) ke-14. Dua medali emas diraih oleh Himawan Wicaksono Winarto (SMA Katolik Santo Albertus Malang) dan Josephine Monica (SMAK Penabur Gading Serpong).

Sedangkan dua medali perak diraih oleh Kristo Nugraha Lian (SMAK Penabur Gading Serpong) dan Aryani Paramita (SMAK 3 Penabur Jakarta). Dua medali perunggu diraih oleh Andramica Priastyo (SMA Taruna Nusantara Magelang) dan Justian Harkho (SMA Katolik Santu Petrus Pontianak). Dua penghargaan khusus diraih oleh Ryan Vitalis Kartiko (SMA Katolik Rajawali Makassar) dan Fidiya Maulida  (SMAN 1 Pamekasan).
  
Dalam ajang yang berlangsung mulai tanggal 5-13 Mei 2013 di Bogor, Jawa Barat ini Indonesia berhasil meraih penghargaan tertinggi, yaitu The Absolute Winner Asian Physics Olympiade yang diraih oleh Himawan Wicaksono. Dia berhasil mengalahkan 146 peserta dari 20 negara di Asia dan Australia.
  
"Ini impian Tim Olimpiade Fisika Indoensia (TOFI) selama 14 tahun untuk merebut gelar The Absolute Winner Apho, akhirnya kita bisa menumbangkan China!" ujar Ketua Panitia Asian Physics Olympiad (APhO) 2013, Dr Hendra Kwee saat di hubungi Jawa Pos, Minggu (12/5).
     
Selain itu, Himawan juga mendapatkan penghargaan khusus untuk nilai eksperimen terbaik (The Best Experiment). Adapun untuk nilai teori terbaik diperoleh oleh Bo Chen dari China.

Salah seorang siswi lainnya dari Indonesia, Josephine Monica memperoleh penghargaan khusus untuk The Best Female Participant. "Tidak setiap tahun ada penghargaan best female, dan kita patut sangat bangga tahun ini kita bisa dapatkan itu," ujar Hendra.
     
Hendra juga menambahkan bahwa tingkat kesuliatn APhO sangat tinggi dibandingkan dengan International Physics Olympiad (IPhO). Indonesia sendiri sudah pernah meraih the absolute winner di IPhO singapore pada tahun 2006.
  
"Kemarin tim dari India juga bilang susah, soalnya setingkat dengan S2/S3. Mereka nyerah kalau di APhO," tuturnya.

Hal senada juga diutarakan oleh Josephine Monica, menurutnya soal APhO memang lebih susah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. "Jauh lebih menantang sih jadinya," ujarnya.
  
APhO merupakan olimpiade fisika tingkat asia pasifik untuk tingkat SMA yang diadakan setiap tahunnya. APhO pertama kali diselenggarakan di Indonesia pada tahun 2000 bertempat di Lippo Karawaci Tangerang.

Di tempat berbeda, siswa-siswi Indonesia yang lain berhasil membawa pulang 3 emas dan 2 perak dalam ajang International Exhibition of Young Inventors (IEYI). Berdasarkan siaran pers dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kemarin (12/5), kompetisi sains ini berlangsung pada tanggal 9-11 Mei 2013 di Kuala Lumpur, Malaysia. Acara ini diikuti 13 negara yang melombakan kategori Disaster Management, Education and Recreation, Food and Agriculture, Green Technology, Safety and Health, dan Technology for Special Needs.
  
Yang paling menarik adalah karya Hibar Syahrul Gafur (Siswa SMPN 1 Bogor ) untuk kategori Safety and Health. Delegasi termuda ini berhasil membawa pulang medali emas untuk sepatu anti kekerasan seksual temuannya.
  
Penghargaan lainnya diberikan pada Wisnu (SMA Taruna Nusantara, Magelang) untuk temuannya berupa detektor telur busuk, dalam kategori Food and Agriculture. Atas temuannya ini Wisnu mendapat medali emas. Kemudian Tri Ayu Lestari, Nurina Zahra Rahmati, dan Elizabeth Widya Nidianita (SMAN 6 Yogyakarta) berhasil meraih medali emas dalam kategori Green Technology atas temuannya berupa penyaring sampah.
     
Sementara 2 perak disumbangkan oleh Devika Asmi Pandanwangi (SMAN 6 Yogyakarta) dalam kategori Technology for Special Needs atas temuannya berupa bra penampung ASI. Peraih perak lainnya yaitu Safira Dwi Tyas Putri (Sampoerna Academy Kampus, Bogor) atas karyanya canting batik otomatis, dalam kategori Green Technology.

 

Sumber ://www.jpnn.com

Published in Warta Pendidikan