Jakarta, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy meresmikan penggunaan Aplikasi Elektronic Learning Management System (eLMS) yang dikembangkan oleh Asosiasi Auditor Intern Pemerintah Indonesia (AAIPI), Komite Telaah Sejawat, hari ini, di kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta. eLMS merupakan sarana yang dibentuk untuk membangun knowledge management system dengan metode pembelajaran yang baik dengan memanfaatkan teknologi digital.

“Saya menyambut baik dengan adanya eLMS yang dikembangkan oleh AAIPI. Semoga aplikasi tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik untuk membangun semangat belajar para auditor intern pemerintah,” demikian disampaikan Mendikbud pada peresmian penggunaan eLMS, sekaligus membuka Diskusi Umum Dewan Pengurus Nasional AAIPI, di kantor Kemendikbud, Jakarta, Rabu (21/03/2018).

Mendikbud berharap, para auditor pada pengembangan profesinya dapat merujuk pada tiga hal, yakni berkeahlian (expert), memiliki tanggungjawab sosial, dan korporatif atau berkesejawatan. “Tiga hal tersebut yang harus bisa ditanamkan. Auditor harus expert atau ahli, dan bisa didapat dengan pendidikan yang membutuhkan waktu yang cukup lama dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi, kemudian juga memiliki tanggunjawab sosial dengan mengabdikan karyanya, dan korporatif. Auditor penting untuk saling mengasah pengalaman. Disitulah tempat belajar orang profesional ketika bersama-sama saling bersinergi di dalam korps itu,” jelas Mendikbud.

Pada kesempatan ini Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan, Sumiyati, selaku Ketua AAIPI, mengatakan, dengan memanfaatkan era digital dalam mendorong semangat belajar para auditor dan menjangkau seluruh wilayah di Indonesia, maka dibangunlah eLMS. “Dengan aplikasi ini diharapkan dapat membangun para auditor untuk terus bersemangat belajar, karena aplikasi tersebut akan menjadi sarana pembelajaran yang efisien, dan mudah diakses oleh seluruh anggota di seluruh Indonesia dimanapun dia berada,” tutur Sumiyati.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Inspektorat Jenderal Kemendikbud yang telah menjadi tuan rumah penyelenggaraan Diskusi Umum Dewan Pengurus Nasional AAIPI dan peluncuran eLMS. “Saya apresiasi dan berterima kasih kepada Itjen Kemendikbud. Pak Daryanto menjadi host yang baik menyediakan tempat untuk kita dapat bertemu. AAIPI ke depan bisa berfungsi sebagaimana harusnya suatu asosiasi profesi yang memberikan manfaat tidak hanya kepada anggotanya, namun juga memberikan manfaat untuk bangsa dan negara kita,” tutur Sumiyati.

KILAS TENTANG AAIPI

Dalam laporannya, Inspektur Jenderal Kemendikbud, Daryanto, mengatakan AAIPI adalah organisasi profesi yang beranggotakan perorangan dan unit kerja Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP) yang telah memenuhi persyaratan keanggotaan. “AAIPI didirikan di Jakarta pada tanggal 30 November 2012 melalui rapat pleno pembentukan AAIPI dan sebagai Ketua Umum adalah Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan,” jelas Daryanto.

“AAIPI diperlukan dalam rangka meningkatkan profesionalisme auditor pemerintah, turut memberikan kontribusi dalam pembinaan jabatan fungsional dan untuk menyamakan persepsi terkait profesi auditor di bidang pengawasan intern pemerintah,” terang Daryanto. *


AAIPI terdiri dari empat komite, yaitu Komite Kode Etik, Komite Standar Audit, Komite Telaah Sejawat, dan Komite Pengembangan Profesi. “Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bertugas di Komite Telaah Sejawat,” jelas Daryanto.

Published in Teknologi Pendidikan

Jakarta - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menandatangani Perjanjian Kerja Sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika tentang Penyediaan Akses Internet dalam Rangka Peningkatan Kualitas Pembelajaran di Sekolah (06/08).

Penandatanganan dilakukan oleh Sekretaris Jenderal Kemdikbud, Didik Suhardi dan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika, Kemkominfo, Kalamullah Ramli. Penandatanganan disaksikan oleh Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan Kemdikbud, Ari Santoso dan Direktur Telekomunikasi Khusus, Penyiaran Publik dan Kewajiban Universal Kemkominfo, Ismail.

Kerja sama antara kedua kementerian bertujuan mewujudkan percepatan untuk penyediaan internet secara berkelanjutan dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah, khususnya daerah terpencil, terluar, dan tertinggal (3T).

Kerja sama tersebut mencakup penyediaan data dan informasi, pendampingan dan pengembangan sumber daya manusia, penyediaan akses internet dan akses komputer, serta penyediaan sarana dan prasarana pendukung TIK. Dengan kerja sama ini diharapkan para peserta didik yang sebelumnya terbatas sumber belajar dan informasinya menjadi lebih aktif dan semangat dalam belajar meskipun tinggal di daerah 3T.

Sehari sebelumnya, kedua kementerian telah menandatangani terlebih dahulu Nota Kesepahaman tentang Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan dan Kebudayaan. Nota Kesepahaman ditandatangani oleh Mendikbud Anies Baswedan dan Menkominfo Rudiantara.

 

Sumber : http://kemdikbud.go.id

Published in Teknologi Pendidikan
Thursday, 24 October 2013 07:53

Indonesia Digital School

Pontianak - IndiSchool adalah kependekan dari Indonesia Digital School, program TELKOM Indonesia untuk Indonesia cerdas, yang dilakukan dengan pemberian internet wifi gratis.

Untuk mengakses konten edukasi bagi komunitas pendidikan di zona edukasi, Layanan IndiSchool merupakan layanan akses internet wifi di lokasi zona edukasi sebagai bagian dari layanan Indonesia wifi atau dikenal @wifi.id

Program myindischool.com ini disesuaikan untuk mendapatkan akses Internet cepat dan murah. Khusus anak sekolah dan guru, Telkom menyediakan voucher harian dan bulan dengan harga mulai dari 1.000 rupiah.

Lewat akses internet cepat, pengajaran jarak jauh bisa berjalan efektif dan interaktif. Telkom berupaya memperluas pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk menghasilkan kegiatan pendidikan berkualitas.

Pada tahap awal, Telkom memberi akses internet dengan kecepatan 1 Mbps untuk digunakan guru dan murid mengakses konten edukasi seperti Portal Rumah Belajar atau TV Edukasi dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Layanan ini dapat juga dilengkapi dengan adanya Welcome Page Sekolah yang content di dalamnya dapat disesuaikan di setiap sekolah.

Published in Warta Video

Merauke - Yohannes atau biasa disapa Annes merupakan salah seorang murid di SMP 11 Merauke, Sota. Tempatnya bersekolah, Sota adalah sebuah distrik di kabupaten Merauke yang terletak persis di perbatasan negara. Masyarakat Merauke biasa menyebutnya daerah perbatasan Papua – PNG. Mungkin untuk memudahkan komunikasi karena di wilayah tersebut dua negara berbeda sama-sama menggunakan kata Papua.

Seperti kebanyakan pelajar di negeri ini, setiap hari Annes disibukkan dengan kegiatan belajarnya di kelas dan ekstrakurikuler. Demikian pula teman-temannya yaitu Moses, Petrus, Realino, Margareth, Elisabeth dan Indah. Setiap kali tiba waktunya ekstrakurikuler komputer, kegembiraan mereka tak dapat ditutup-tutupi.

Meski kondisi ruang komputer sekolah sangat sederhana, hanya terdiri dari 20 meja kursi kayu dan 5 laptop, namun tidak mengurangi antusias Annes dan kawan-kawan. Sebab, laptop sekolah kini sudah dilengkapi dengan akses internet. Annes dan kawan-kawan jadi memiliki akses terhadap informasi dan ilmu pengetahuan yang lebih luas.

“Betapa anak-anak SMP ini sangat senang setiap kali pintu ruang komputer dibuka. Anak-anak seringkali berlarian berebut untuk dapat posisi tepat di depan komputer. Memang 1 komputer harus digunakan untuk bertiga atau berempat dengan teman-temannya. Inilah antusiasme anak-anak di sini,” kata Pak Munandar, guru TIK di SMP 11 Merauke.

Pak Munandar sendiri merupakan pria asli Jawa lulusan Universitas Cendrawasih – Jayapura yang ditempatkan sebagai guru di daerah perbatasan Sota. “Dengan segala keterbatasan yang ada, anak-anak SMPN 11 Merauke di Sota ini sangat antusias memanfaatkan akses internet di sekolah,” imbuh Pak T.H. Sopacua, Kepala Sekolah SMP 11 Merauke.

Meskipun sangat sederhana, akses internet yang disediakan Telkom Indonesia di SMP 11 Merauke ini memberi harapan baru bagi Annes dan kawan-kawan untuk menggapai cita-cita lebih tinggi. Ya, itulah gambaran yang kini terjadi. Setelah puluhan tahun merdeka, kini dunia pendidikan Indonesia melaju tanpa ragu.

Dengan semangat membangun asa di seluruh negeri, satu demi satu cahaya, detak usaha dan karya kini perlahan hadir menerangi setiap mimpi. Membuka jendela pengetahuan bagi anak bangsa melalui jaringan internet terbaik, terluas dan terjangkau.

Tak kenal lelah dan tanpa keraguan, terus berupaya mempelopori gerakan digitalisasi pendidikan. Demi tercapainya impian dimana seluruh anak Indonesia dapat menikmati kualitas pendidikan yang sama dan 100.000 sekolah se-Indonesia memiliki koneksi wi-fi. Semoga berhasil.

 

Sumber : http://detik.com

Published in Teknologi Pendidikan

Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, mencanangkan "Indonesia Digital School" (Indischool) ke 10 ribu, di Balai Kartini, (22/5). Indischool merupakan program PT. Telkom Indonesia memberi fasilitas koneksi internet nirkabel di sekolah-sekolah. Dengan pencanangan ini, berarti sebanyak 10 ribu sekolah telah menikmati fasilitas tersebut.

 

Disampaikan oleh Direktur Utama PT. Telkom, Arif Yahya,  pihaknya berkomitmen untuk menghubungkan 100 ribu sekolah pada akhir 2013 ini. Sedangkan target besar yang akan dicapai adalah terhubungnya 300 ribu sekolah pada 2015 mendatang. Untuk DKI Jakarta, koneksi nirkabel telah terpasang di 6.210 sekolah. "Untuk 2013 akhir, ada 100 ribu indischool. Baik melalui telkom maupun Kemdikbud," jelas Arif Yahya saat memberi sambutan.

 

Atas program tersebut, Mendikbud menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada PT. Telkom Indonesia. Menurutnya, perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi ini merupakan perusahaan yang memiliki komitmen besar terhadap dunia pendidikan. "Pendidikan bisa mengantarkan bapak/ibu di PT. Telkom bisa seperti sekarang. Jadi ini bentuk darma bakti mereka kepada dunia pendidikan," jelas Menteri Nuh, saat menyampaikan alasan mengapa PT. Telkom peduli terhadap dunia pendidikan.

 

Mantan Rektor ITS ini juga mengatakan, pendidikan yang didukung dengan konektivitas seperti ini akan meningkatkan mutu pendidikan. Pendidikan bermutu akan menciptakan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing. "Kualitas SDM yang memadai akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi," tuturnya. 

Disamping itu, mantan Menkominfo ini menegaskan bahwa pendidikan adalah vaksin sosial. Ibarat tubuh, supaya kuat dan tahan berbagai penyakit, harus divaksin. Ada 3 penyakit sosial yang mematikan yang harus divaksin, yaitu kemiskinan, ketidaktahuan atau kebodohan dan keterbelakangan peradaban. "Lantas apa vaksinnya? Pendidikan adalah vaksin sosialnya. Itulah mengapa adik-adik kita harus mendapat layanan pendidikan, agar mendapat vaksin sosial," pungkasnya.

 

Sumber : http://kemdikbud.go.id

Published in Teknologi Pendidikan

Jakarta - Didorong kesadaran akan pentingnya penyebaran akses internet demi pemerataan pendidikan di Indonesia, PT. Telekomunikasi Indonesia, TBK (Telkom) yang selalu berkomitmen memajukan pendidikan Indonesia meluncurkan IndiSchool sejak awal tahun ini.

IndiSchool atau Indonesia Digital School adalah sebuah program berupa akses internet murah yang diberikan kepada para siswa Indonesia di manapun berada. Melalui IndiSchool, Telkom akan membangun jaringan internet pita lebar (broadband) untuk 100 ribu sekolah di Indonesia. Dengan program ini, sekolah akan mendapatkan akses wifi sehingga para murid dan guru dapat berselancar di dunia maya secara nirkabel.

Setiap sekolah peserta program IndiSchool akan memperoleh akses internet sampai dengan 10 Mbps. Layanan internet tersebut dapat digunakan untuk mengakses berbagai konten edukasi, seperti Portal Rumah Belajar yang dikelola oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, maupun aplikasi manajemen sekolah (SIAP Online) yang disediakan oleh Telkom. Layanan TV Edukasi milik Kemendikbud pun dapat terhubung ke sekolah yang mengikuti program IndiSchool.

"Dengan pemerataan layanan infrastruktur melalui IndiSchool, diharapkan mutu pendidikan di Indonesia tidak tertinggal jauh dibandingkan sekolah di negara-negara lain." Ujar Direktur Enterprise & Wholesale Telkom, Muhammad Awaluddin.

Biaya yang harus dikeluarkan untuk mengikuti program ini pun terjangkau. Cukup dengan Rp 1.000, para siswa atau guru dapat memperoleh seribu ilmu dari Internet selama 24 jam. Jika ingin mengakses internet selama sebulan penuh, cukup dengan Rp 20.000 saja.

 

Sumber : http://kompas.com

Published in Teknologi Pendidikan