Pontianak - Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kalimantan Barat siap menuju instansi/ lembaga ZI-WBK (Zona Integitras – Wilayah Bebas Korupsi). Tak mudah menjadi lembaga yang demikian. Banyak aspek menjadi penilaian. Nilai-nilai integritas, kepemimpinan, manajemen, tata nilai, karakter menjadi pertaruhan. Tak hanya bagi pimpinan namun juga untuk seluruh karyawan.

Soliditas perlu dijaga. Komitmen perlu dibangun. Kekompakan perlu pembuktian. “Bersama Kita Bisa” akhirnya dipilih sebagai slogan lembaga. Slogan yang tak cukup hanya diingat dan diucapkan. Slogan ini adalah semangat lembaga menuju ZI-WBK.

Tidak seperti kegiatan yang telah dilaksanakan di tahun sebelumnya yang lebih banyak game dan permainan kelompok, kegiatan capacity building tahun ini berbeda. Di kegiatan ini seluruh sumberdaya bekerja keras dan bekerja cerdas dalam membuat sebuah  produk kreatif yang nyata. Bukti nyata berupa karya. Karya kolaborasi semua sumberdaya yang dipunya. Pimpinan dan karyawan berbaur menjadi satu. Menyayikan lagu sebagai Theme song LPMP Kalimantan Barat menuju WBK dengan seru.

Lirik dalam Theme song dibuat sebagai penyemangat. Dalam liriknya mengemukakan nilai pendidikan tentang 8 standar. Tak hanya dihafal, seluruh sumberdaya harus siap mental dan bersemangat menyukseskan.

Seluruh sumberdaya dikerahkan. Theme song,  operator video, editor video, perekam video, koreografer dan sutradaranya adalah karyawan LPMP Kalimantan Barat. Kegiatan ini adalah kebanggaan. Kebanggan atas partisipasi, inisiasi dan aksi yang menginspirasi. Setidaknya kami bisa mempunyai karya asli sebagai penyemangat untuk meraih mimpi yaitu lembaga yang mampu menjadi Zona Integritas - Wilayah Bebas Korupsi.

Kegiatan  Kegiatan dilaksanakan selama 3 hari, 5 – 7 April 2019 di Kahyangan Resort, kabupaten Bengkayang. Konsep luar ruang dan pantai menjadi latar belakang pengambilan gambar. Perpaduan gerak, tari, seni dan olahraga ditonjolkan sebagai koreografi.

Output kegiatan ini adalah video klip Theme song  LPMP Kalimantan Barat menuju WBK. Mohon bersabar karena sampai berita ini diturunkan hasil akhir video sedang dalam tahap pengeditan. Pada saatnya nanti kami berjanji akan menanyangkan secara resmi.

Tetap semangat, tetaplah menginspirasi (Kim) video

Published in LPMP Inside

Pontianak - Kegiatan penjaminan mutu pendidikan merupakan salah satu agenda utama yang akan dilakukan oleh LPMP Kalimantan Barat pada tahun 2109.  Atas dasar tersebut, LPMP Kalimantan Barat melaksanakan kegiatan Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat yang dilaksanakan di Hotel Ibis Pontianak tanggal 28-30 Maret 2019.

Kepala LPMP Kalbar Drs. Aristo Rahadi, M.Pd dalam kata sambutannya menyatakan bahwa kegiatan ini sangat penting dilaksanakan karena pada tahun 2018 progress pengiriman Pemetaan Mutu Pendidikan (PMP) Kalimantan Barat berada pada posisi ke tujuh terendah se-Indonesia.  Untuk itu koordinasi dan sosialisasi kepada pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten/Kota dilaksanakan dalam upaya meningkatkan progress pengiriman PMP agar lebih baik lagi.  “Target kita progress PMP tahun 2019 harus mencapai setidaknya di angka 95%, bila perlu urutan 10 besar se-Indonesia” ujar Kepala LPMP Kalbar.

Kegiatan yang melibatkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan beserta pejabat yang terlibat dalam PMP ini juga membahas tentang kesiapan dalam menghadapi beberapa agenda diantaranya PPDB dengan sistem zonasi, Gala Siswa Indonesia, dan gebyar Hari Pendidikan Nasional 2019.  Hasil akhir dari kegiatan ini adalah terwujudnya komitmen bersama dalam menyukseskan kegiatan Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat tahun 2019. (Irfan)

 

Published in Penjaminan Mutu

Di penghujung tahun 2018 ini LPMP Kalimantan Barat kembali menggelar kegiatan Bimbingan Teknis Kurikulum 2013 bagi guru PJOK jenjang Sekolah Dasar. Bimbingan teknis diselenggarakan dalam rangka mengakomodir permintaan dari Kabupaten/Kota terkait dengan implementasi kurikulum 2013 khususnya bagi guru PJOK jenjang Sekolah Dasar (SD).  Hal ini dikarenakan bahwasannya guru PJOK belum pernah berkesempatan untuk diberikannya bimbingan Teknis terkait dengan implementasi Kurikulum 2013 tersebut dan mereka sangat menanti-nantikan bimbingan teknis ini sehingga kesulitan dan kendala yang mereka hadapi terkait dengan implementasi Kurikulum 2013 di daerah masing-masing dapat minimalisir.

Dalam kegiatan tersebut terungkap bahwasannya implementasi kurikulum 2013 ternyata tidaklah sesulit yang mereka bayangkan, hal ini diungkapkan oleh para narasumber dimasing-masing kelas, “sebelumnya mereka sama sekali belum familiar dengan konsep pembelajaran di kurikulum 2013, akan tetapi setelah mereka di bimbing dan dipandu secara seksama dari mulai tahap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran, baru lah mereka menyadari bahwasannya implementasi Kurikulum 2013 itu tidaklah sulit.”

Selama 4 (empat) hari dari tanggal 4 s/d 7 Desember 2018  sejumlah 84 (delapan puluh empat) peserta menerima materi yang disampaikan oleh narasumber dengan penuh semangat dan antusiasme yang tinggi, bagaimana tidak  semangat mensana in conpore sano masih melekat di jiwa masing-masing peserta karena mereka beranggapan bahwa segala tujuan itu hanya bisa dicapai dengan tubuh dan pikiran yang sehat.

Kepala LPMP Kalimantan Barat  Drs. Aristo Rahadi berkesempatan menyampaikan arahannya di acara pembukaan “Guru olah raga jangan hanya memfokuskan kegiatan belajar mengajar dilapangan saja akan tetapi juga harus menanamkan  pendidikan karakter kepada anak didik, kegiatan ini tentunya dalam rangka meningkatkan kompetensi bagi guru khususnya guru PJOK,” ujarnya. 

Kasi Fasilitasi Peningkatan Mutu Pendidikan LPMP Kalimantan Barat, Bapak Iwan Kurniawan, S.Si, M.Si menambahkan bahwasannya sebanyak 175 (seratus tujuh puluh lima) guru PJOK disiapkan untuk mengikuti kegiatan ini, masih tersisa 80 (delapan puluh) orang peserta lagi yang akan mengikuti kegiatan Bimtek Tahap II  yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 s/d 20 Desember 2018 mendatang. Salam Olah Raga………………

Published in Penjaminan Mutu
Kamis, 15 November 2018 07:33

Info Verval PTK ( NUPTK )

Dikarenakan akan dilakukan penataan sistem beserta database pengelolaan NUPTK di vervalptk, maka mulai tanggal 1 Desember 2018 sampai dengan waktu ditentukan berikutnya (setelah data master referensi PTK dan sistem kondisi stabil), pengajuan penerbitan bagi calon penerima NUPTK akan di tutup sementara. Proses penerbitan NUPTK bagi guru yang telah melakukan pengajuan NUPTK sebelum tanggal 1 Desember 2018 tetap berjalan seperti biasa. Operator sekolah diharapkan segera melakukan pengajuan penerbitan NUPTK bagi calon penerima NUPTK.

 

Proses Aproval Perbaikan Data Master dilakukan oleh Dinas setempat bukan oleh Pusat, jika belum dilakukan aproval silahkan kordinasi dengan operator Dinas. Perbaikan data master hanya dapat diajukan sebanyak 2 (dua) kali, setelah itu tidak dapat mengajukan perbaikan data master.

Published in Pengumuman

Yogyakarta, Kemendikbud —- Memasuki era milenium, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, mengimbau para guru untuk terus mengembangkan belajar mengajar di sekolah dengan model cara berpikir tinggi/higher order thinking skills (HOTS).

Dengan pengembangan model tersebut dapat menghasilkan anak-anak berkemampuan berpikir kritis, keterampilan berkomunikasi yang baik, berkolaborasi, berpikir kreatif, dan percaya diri. Hal tersebut disampaikan Mendikbud saat membuka kegiatan Pembekalan Guru Inti Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Berorientasi pada HOTS, di Yogyakarta, Jumat (09/11/2018).

“Dalam menyiapkan peserta didik yang siap bersaing menghadapi era milenium dan revolusi industri 4.0, guru harus mampu mengarahkan peserta didik untuk mampu berpikir kritis, analistis, dan mampu memberikan kesimpulan atau penyelesaian masalah,“ jelas Mendikbud.

Mendikbud mengatakan, belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku. Perubahan tersebut mencakup cara berpikir, bersikap, dan bertindak. “Dalam berbuat sesuatu, pertama yang dilakukan adalah berpikir dahulu. Bersikap dipengaruhi cara berpikir. perilaku atau tindakan, suatu langkah konkrit berdasarkan sikap. Itulah belajar,” terang Mendikbud.

Mendikbud mengajak para guru untuk memperkuat perilaku siswa dengan komponen berpikir, bersikap, dan bertindak. “Ajak siswa kita untuk berpikir kreatif dan kritis, membangun kerja sama atau berkolaborasi. Mohon guru inti jangan berikan pendidikan yang tidak kreatif. Kita harus memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita,“ pesan Mendikbud.

Mendikbud juga berharap para guru inti dapat menularkan ilmu yang didapat selama kegiatan pembekalan kepala guru lain. Tugas guru inti tidak boleh pilih kasih dalam memberikan pencerahan kepada sesama guru. Bagi pengalaman yang didapat.

Kegiatan Pembekalan Guru Inti Nasional Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) berorientasi pada Keterampilan Berpikir Tinggi yang diselenggarakan pada tanggal 8 hingga 13 November 2018, diikuti oleh 240 peserta dari Provinsi Aceh, Bengkulu, Lampung, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Barat.

Tujuan diselenggarakannya kegiatan pembekalan guru ini adalah untuk menyiapkan guru inti dalam zonasi Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran berorientasi pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi sesuai dengan mata pelajaran yang diampu guru. Selain itu, untuk meningkatkan pemahaman dan kompetensi guru inti dalam program peningkatan kompetensi, meliputi konsep, strategi penggunaan perangkat, dan strategi pelaksanaan PKP dalam pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tinggi.

“Sehingga dapat meningkatkan kualitas peserta didik yang pintar dan sukses,” pungkas Mendikbud. *

Published in Penjaminan Mutu

Penetapan peserta PPG Dalam Jabatan 2019 diawali dengan seleksi administrasi.  Seleksi dilakukan melalui verifikasi dan validasi berkas persyaratan administrasi oleh Dinas pendidikan Kabupaten/provinsi dan LPMP . Persyaratan peserta dan jadwal pelaksanaan  sebagaimana Lampiran Surat Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan No. 23677/B.B4/GT/2018 dapat disampaikan sebagai berikut

Published in Pengumuman

Jakarta, Kemendikbud -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) menyampaikan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terus berupaya mengangkat kembali posisi guru sebagai profesi terhormat. Selain terus berupaya memenuhi hak dan memperbaiki kesejahteraan para guru, pemerintah juga mendorong agar guru semakin berdaya sesuai dengan profesinya.

"Saat ini kita sedang berusaha keras menjadikan guru sebagai pekerjaan profesional. Sehingga tidak sembarang orang menangani pekerjaan guru," disampaikan Mendikbud Muhadjir Effendy dalam sambutannya pada Lokakarya Hari Guru Sedunia Tahun 2018, di kantor Kemendikbud, Jakarta, Selasa (2/10).

Guru, menurut Mendikbud, adalah 'akar rumput' pendidikan nasional. Perannya sangat penting, meski seringkali dianggap remeh karena posisinya. "Tidak akan ada pendidikan yang 'menghijau' jika tidak ada guru. Dan juga pendidikan tidak akan subur kalau gurunya, tidak 'subur'. Karenanya, sebelum bicara tentang pendidikan yang berkualitas, sejahterakan guru. Dan beri dia status yang membikin dia bangga, sehingga dia memiliki self-dignity," tuturnya.

Ditambahkannya, saat ini Kemendikbud terus berupaya memberikan hak-hak guru agar memiliki martabat dan kepercayaan diri. Diyakini Mendikbud, hal tersebut dapat mendorong kualitas proses pembelajaran yang lebih baik.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah mendorong jelasnya status guru. Namun, dengan keterbatasan kemampuan pemerintah, pengangkatan guru tidak bisa dilakukan serta merta, tetapi bertahap. "Setelah tes CPNS ini, masih ada peluang untuk guru yang usianya sudah 35 tahun untuk mengikuti tes calon pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja," ujar Muhadjir.

Menjadi guru profesional

Sekarang ini, menurut Mendikbud, tugas Kemendikbud adalah mendorong para guru dapat menjadikan peserta didiknya cerdas dan berkarakter. Untuk itu, pola pelatihan guru akan diubah agar semakin memberdayakan dan memperkuat posisi guru sebagai tenaga profesional.

Setidaknya terdapat tiga hal yang menjadikan guru sebagai profesi yang terpandang. Yang pertama adalah kompetensi inti (keahlian). Hal ini mencakup kecakapan pedagodis dan juga kepribadian (karakter) pendidik. Kedua, adalah kesadaran dan tanggung jawab sosial.

"Dia abdikan dirinya untuk kepentingan keahliannya, dan manfaat keahliannya dia persembahkan untuk kepentingan masyarakat. Kalau tidak, maka pekerjaan profesional itu justru bisa membahayakan banyak orang," kata Mendikbud.

Dan yang ketiga adalah adanya semangat kesejawatan dan kebanggaan terhadap korpsnya. Salah satu ciri profesi, menurut Mendikbud, adalah adanya asosiasi profesi.

"Asosiasi profesi itu untuk saling mengasah kemahiran, kecakapan, bersama-sama. Saling tukar menukar pengalaman tentang ilmu dan keahliannya. Seharusnya asosiasi guru juga demikian," ujar Muhadjir.

Peningkatan Kualitas Proses Pembelajaran

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Supriano, mengajak guru meningkatkan kualitas pembelajaran untuk menghadapi tantangan abad 21. Guru diharapkan menghadirkan pembelajaran yang mendorong aktivitas (belajar untuk mempraktikkan) dan kompetensi. Serta pembelajaran yang mengasah keterampilan berfikir tingkat tinggi/high order thinking skills.

Menurut Dirjen Supriano, fokus pelaksanaan program Ditjen GTK di tahun 2019 adalah mendorong peningkatan kualitas pembelajaran di kelas. Pengembangan kompetensi guru akan merujuk pada potret mutu yang sudah cukup spesifik, seperti analisis hasil ujian nasional. Dicontohkannya, jika nilai matematika pada ujian nasional di suatu zona masih rendah, maka para guru di dalam zona tersebut akan berdiskusi tentang strategi peningkatan mutu mata pelajaran matematika di zona tersebut.

"Ada masalah apa? Geometri atau Aljabarnya atau Kalkulusnya? 'Kan ada guru di zona itu yang pintar materi itu, nanti didiskusikan di MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) di zona itu. Jadi namanya peningkatan kompetensi proses pembelajaran," jelas Dirjen GTK.

Melalui pendekatan sistem zonasi, pemerintah akan mendorong pelatihan guru profesional oleh MGMP dan Kelompok Kerja Guru (KKG). "Yang menyiapkan guru inti dan instruktur kabupaten/kota itu Ditjen Dikdasmen (Pendidikan Dasar dan Menengah). Kami di Ditjen GTK yang menyiapkan model pembelajarannya, kemudian unit-unit pembelajaran, bukan modul. Guru inti menjadi fasilitator bersama guru-guru di zona itu," tuturnya.

Paradigma guru masa kini hendaknya menjawab empat tantangan besar, di antaranya revolusi industri 4.0, globalisasi, kebutuhan domestik terkait daya saing dan penyediaan tenaga kerja, serta mendidik generasi Z. Perubahan dunia yang begitu cepat dan tidak linear ini mengubah cara bekerja dan belajar. Untuk itu, pendidikan masa depan, menurut Dirjen GTK, harus berpusat pada siswa, baik secara aspek akademis, juga kepribadian/karakter.

Menyoal posisi guru di era revolusi industri 4.0, Dirjen Supriano mengingatkan agar para guru tidak melupakan perannya sebagai pendidik. Guru harus mampu menjadi teladan agar bisa menjalankan pendidikan karakter yang sangat penting di masa depan. "Dengan perkembangan teknologi, mengajar bisa dilakukan tanpa guru. Kalau cuma mengajar saja, guru bisa digantikan. Sebagai pendidik, guru masih akan dibutuhkan sampai kapanpun," katanya.

Lokakarya Nasional Hari Guru Sedunia

Hari Guru Sedunia dirayakan tanggal 5 Oktober setiap tahun di seluruh dunia dengan mengikutsertakan pemerintah dan lembaga pemerintah, organisasi multi-dan bilateral, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), sektor swasta, akademisi dan perguruan tinggi, guru dan ahli di bidang pendidikan. Dengan diadopsinya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG- 4 tentang Pendidikan Berkualitas, dan target khusus (SDG 4.c) yang mengakui bahwa Guru sebagai kunci pencapaian Agenda Pendidikan pada tahun 2030. Hari Guru Sedunia menjadi kesempatan meraih pencapaian SDG-4 dan juga memberikan langkah-langkah nyata untuk mengatasi tantangan dalam bidang pendidikan, terutama terkait dengan profesi dan profesionalisme guru.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud menjadi salah satu penerima Penghargaan UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization)-Hamdan bin Rashid Al-Maktoum untuk Praktik Luar Biasa dan Kinerja dalam Meningkatkan Efektivitas Guru tahun 2018. Penghargaan UNESCO-Hamdan bin Rashid Al-Maktoum akan diserahkan oleh Direktur General UNESCO kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tanggal 5 Oktober 2018, di Kantor Pusat UNESCO, Paris, Perancis.

Lokakarya Nasional Hari Guru Sedunia Tahun 2018 diselenggarakan atas kerja sama Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kantor UNESCO Jakarta, dan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU). Mengangkat tema “Hak Atas Pendidikan berarti Hak Untuk Guru dan Tenaga Kependidikan Berkualitas”, lokakarya nasional dihadiri 350 peserta yang mewakili unsur guru dan tenaga kependidikan, kementerian dan lembaga (KL), universitas, sekolah internasional, lembaga internasional dan UN agencies, dan pemerhati, dan pakar pendidikan

Published in Warta Pendidikan
Senin, 01 Oktober 2018 20:49

Romansa Purnatugas Ratna Farida

Pontianak - Tiga puluh delapan tahun sudah ibu Ratna Farida mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). September 2018 adalah bulan terakhir beliau mengabdi. Sebuah perjalanan panjang pengabdian tanpa henti. Dengan semangat dan tanggung jawab beliau jalani sepenuh hati.

Beliau adalah salah satu staf senior semenjak LPMP bernama BPG (Balai Penataran Guru). Generasi pertama yang turut serta menjalankan dan membesarkan LPMP. Beliau diterima sebagai CPNS pada tahun 1980 di Kanwil Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat. Pada tahun 1993 beliau pindah ke BPG Pontianak. Hampir selama dua puluh dua tahun beliau mengabdi di subbagian umum di bagian kepegawaian. Pada tahun 2015 beliau pindah ke seksi Fasilitasi dan Peningkatan Mutu Pendidikan. Emak adalah panggilan akrab rekan dan sejawat. Karena memang beliau adalah salah satu staf yang mudah akrab.

Beberapa staf merasa kehilangan. Namun aturan harus berkata demikian. Tak ada ASN yang abadi. Pada suatu saat setiap ASN juga akan mengikuti. Ketegasan beliau akan selalu dikenang. Disiplin beliau menjadi tauladan. Kepedulian sesama rekan kerja menjadi panutan.

Tiba saatnya LPMP Kalimantan Barat melepas secara resmi. Melalui acara yang dikemas rapi nan happy. Acara pelepasan dan perpisahan membuat kolega, rekan dan pimpinan tergugah hati. Merelakan salah satu staf yang baik senantiasa bekerja dengan nurani. Acara pelepasan dikemas semi-formal. Kesan dan pesan disampaikan dengan canda dan kenangan. Selain juga menghadirkan hiburan yang menghangatkan dan penuh kekeluargaan.

Para pimpinan dan sejawat menyampaikan sambutan dan menghadirkan lantunan. Sebagai hiburan agar beliau meninggalkan LPMP Kalimantan Barat dengan kebanggaan. Di acara ini kepala LPMP Kalimantan Barat turut menghadirkan lagu spesial. LPMP Akustik, yang merupakan grup musik LPMP Kalimantan Barat, pun menyuguhkan lagu-lagu kesayangan ibu Ratna.

Ibu Ratna Farida mengakhiri karir dengan bahagia. Buktinya di usia 58 tahun beliau masih sehat, bugar dan segar. Tanpa sakit dan maladministratif. Bukankah itu yang diidamkan para ASN? Sukses ibu. Dunia baru menanti pengabdianmu.

Published in LPMP Inside

Pontianak - Pelaksanaan kurikulum 2013 telah memasuki proses implementasi di satuan pendidikan sasaran tahun 2018. Berbagai permasalahan tak lepas dalam Implementasi kurikulum 2013 ini. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan implementasi kurikulum 2013 di sekolah sasaran.
Sebagai langkah awal persiapan sebelum dilakukannya Monitoring dan Evaluasi (Monev) Implementasi Kurikulum 2013 di Induk Klaster dilakukanlah kegiatan Review Instrumen Monev Implementasi Kurikulum 2013. Kegiatan ini melibatkan Widyaiswara LPMP Kalimantan Barat dan beberapa Instruktur Kurikulum 2013 Tingkat Provinsi dari Jenjang SD, SMP, SMA dan SMK. Waktu Pelaksanaan selama 1 Hari  yaitu pada 26 September 2018.
Produk yang akan dihasilkan dari kegiatan ada dua. Pertama adalah instrumen dan aplikasi monev, digunakan untuk pengumpulan Data Monitoring Implementasi K-13 di Induk Klaster yang dilengkapi dengan aplikasi pengolahan data. Produk yang kedua adalah bahan penguatan yang akan digunakan petugas monev pada saat memberi penguatan kepada Guru yang mengimplementasi K-13 terkait dengan permasalahan yang dialami.
Monev akan dilaksanakan selama dua hari dengan rincian hari pertama akan dilakukan Review Dokumen Program dan RPP Guru oleh petugas monev. Setelah itu dari hasil review dokumen dilakukanlah diskusi dan penguatan kepada Guru. Hari kedua petugas monev akan melakukan observasi di Kelas Melihat Guru Mengajar di Kelas Berdasarkan Instrumen Supervisi dan dilanjutkan dengan Penguatan Kembali/ Feed Back Pembelajaran.

Published in Penjaminan Mutu
Senin, 03 September 2018 22:31

LPMP Kalimantan Barat Semakin Instagramable

Pontianak - Istilah Instagramable muncul seiring pesatnya perkembangan media sosial berbasis gambar, Instagram. Instagramable identik dengan tempat atau lokasi unik, eksentrik dan cantik untuk dijadikan background swafoto.
Aktualisasi diri di lokasi yang Instagramable diyakini menaikkan gengsi, kebanggaan dan nilai tawar seseorang. Sehingga layak dibagikan bahkan "dipamerkan" untuk mendapatkan pujian.
Kini LPMP KalBar terus berbenah untuk menambah lokasi yang Instagramable tersebut. Spot-spot baru di sekitar kompleks terus ditambah dan dipercantik seperti ruang kelas A, wisma Handayani dan area auditorium Ki Hajar Dewantara.
Menjadi lembaga yang Instagramable juga merupakan pencitraan positif untuk dikenang dan dikenal oleh para stakeholder. Banyak dari mereka hanya bisa bermimpi namun kita sudah memiliki. Tak sedikit dari mereka baru bisa merasakan namun kita sudah bisa mewujudkan. Sebagian besar dari mereka merasa bangga bisa menggunakan/ menyinggahinya namun kita telah bisa mendayagunakannya.
Ada nilai lebih setelah berkegiatan. Selain pengalaman dan pengetahuan, para stakeholder mempunyai kenang-kenangan gambar di lokasi yang membetahkan, menyenangkan dan penuh kehangatan.
Dimanakah itu? Di LPMP Kalbar. (Kim)

Published in LPMP Inside
Halaman 1 dari 2