Jakarta - Quipper, platform untuk edukasi teknologi yang telah beroperasi di Indonesia berhasil menjangkau 5.000 sekolah di Indonesia untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar melalui pemanfaatan teknologi dan literasi digital.

Platform bebas biaya Quipper School dirancang khusus bagi guru dan siswa untuk membantu dan meningkatkan kualitas belajar mengajar. Hingga Maret 2017, Quipper School telah digunakan oleh 2,5 juta pelajar, 200.000 guru. Di tahun 2015, Quipper meluncurkan platform premiumnya yakni Quipper Video sebagai solusi belajar online bagi siswa kelas 9-12 yang telah digunakan 50.000 pelajar di Indonesia.

PR & Marketing Manager Quipper Tri Nuraini Quipper telah menjangkau 5.000 sekolah dan mengantarkan 58% penggunanya lulus Ujian Nasional (UN) 2016 dan 50% diantaranya lulus SBMPTN dan diterima di perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia. Di mana, Quipper juga mendapat dukungan dari 45 dinas pendidikan tingkat kota/kabupaten dan provinsi.

"Kami sangat menjaga kualitas baik itu konten, tutor maupun teknologi yang digunakan karena ketiga hal tersebut sangat dibutuhkan oleh guru dan pelajar," ujar Tri Nuraini.

Dia menambahka Quipper bergerak dalam bidang edukasi teknologi di mana tantangannya meyakinkan masyarakat, guru, siswa untuk dapat memanfaatkan teknologi yanga da dalam memudahkan kegiatan belajar mengajar.

"Quipper mendorong pemanfaatan teknologi untuk mencapai tujuan akademik mereka. Sudah ada 11 cabang yang terus melakukan sosialisasi. Edukasi menjadi tantangan, bagaimana pemanfaatan teknologi ini digunakan untuk membuat proses belajar lebih menyenangkan," ujarnya.

Dia menambahkan Quipper juga memilik tim konten lokal, untuk mengembangkan konten untuk menyesuaikan standar yang ada di Indonesia.

"Ada proses produksi yang terus berjalan, kami fokus pada konten berkualitas," ujarnya.

Selain itu, dia mengatakan Quipper juga fokus pada teknologi karena Quipper merupakan perusahaan teknologi pendidikan dengan terus meningkatkan teknologi.

"Quipper bisa diakses lewat berbagai gadget melalui bermacam-macam gadget, sehingga perlu terus meningkatkan teknologi yang ramah untuk digunakan," katanya.

Dia menambahkan strategi Quipper ke depan secara produk akan terus dikembangkan diantaranya try out online, di mana sudah ada 70.000 siswa dari 800 sekolah yang mengikuti.

"Tentunya Quipper juga ingin membantu meningkatkan literasi digital dan membantu melancarkan untuk UNBK," pungkasnya.

Sementara itu, Pakar Pendidikan Itje Chodijah mengatakan pengaruh teknologi dalam pembelajaran yakni anak-anak pelajar bisa menjangkau dari daerah yang jauh sekalipun.

"Teknologi jika dimanfaatkan dengan benar dan berbasis pada pembelajaran, saya yakin akan cepat memberikan pengaruh pada kualitas. Teknologi dipakai untuk kepentingan apapun, untuk pendidikan berbicara dari pembelajaran itu sendiri, untuk manusianya, konten yang tepat dan baik menjadi yang utama, bukan hanya akses teknologinya," katanya.

Sumber : http://www.bisnis.com

 

Published in Teknologi Pendidikan

Jakarta - Indosat menghadirkan Arena Edukasi, sebuah mobile platform dan portal pendidikan bagi para siswa dan pelajar di Indonesia. Arena Edukasi hadir seiring dengan berkembangnya teknologi informasi dan internet yang memberikan akses mudah dan terjangkau ke materi pendidikan yang berkualitas guna mendukung kemajuan bangsa.

Division Head Content & Value Added Service (VAS) Indosat Hesti Diyahanita Priamsari mengatakan, Sebagai mobile platform dan portal pendidikan, Arena Edukasi menyediakan berbagai macam aplikasi dan konten pendidikan berkualitas untuk berbagai usia. Aplikasi dan konten pendidikan yang disediakan antara lain YC Marbel PreSchool yang menyediakan sarana belajar sambil bermain untuk anak-anak usia pra sekolah dan YC Belajar yang menyediakan aplikasi dan konten berkualitas untuk siswa SMP dan SMA.

"Arena Edukasi dihadirkan Indosat bersama dengan mitra-mitra terpercaya seperti YelloChat, Educa Studio dan Bimbel Alumni," ungkapnya.

Melalui YC Marbel PreSchool, anak-anak usia pra sekolah dapat melatih dan mengasah 6 (enam) materi dasar kecerdasan anak, yaitu mengenal angka, huruf, buah, sayur, warna dan bentuk. Sementara itu, aplikasi dan konten YC Belajar membantu dan meningkatkan motivasi belajar siswa SMP dan SMA melalui modul-modul Tips & Trik Belajar, Latihan, Soal & Pembahasan, Tryout UN, Tryout SBMPTN serta Simulasi SBMPTN.

Dengan begitu, tambah Hesti, pelajar dapat melakukan simulasi skor aman untuk memasuki perguruan tinggi dan universitas negeri terkemuka di Indonesia. Konten-konten tersebut menurutnya sangat terjangkau. Yakni hanya dengan harga Rp 3 ribu (tidak termasuk PPN) siswa dapat mengakses modul latihan dan berlatih soal sepuasnya selama 30 hari (tarif data berlaku) sementara untuk tryout berlaku tarif “inapps purchase” dengan menggunakan pulsa Indosat.

 

Sumber : http://www.republika.co.id

Published in Teknologi Pendidikan
Friday, 21 February 2014 11:30

Aplikasi Samsung School Peduli Pendidikan

Denpasar - Kegiatan belajar mengajar yang memanfaatkan teknologi digital bakal jadi kenyataan di sekolah-sekolah di Indonesia melalui aplikasi Samsung School. Aplikasi ekslusif di tablet Samsung terbaru ini sedang digalakkan untuk sekolah-sekolah di Jakarta.

Di acara Samsung Forum 2014, didemonstrasikan aplikasi Samsung School yang didukung tablet Galaxy Note Pro. Dalam satu ruangan, perlu untuk menyediakan router wireless untuk saling terkoneksi antar perangkat. 

Router wireless ini menurut Pambudi Baskara Sudirman, Enterprise Mobility Solution Samsung Electronics Indonesia, bisa mendukung sampai 30 perangkat yang terhubung. Salah satu sekolah swasta, Nasional High Junior School (NHJS) masih dalam tahap sosialisasi untuk menerapkan sistem pembelajaran sekolah menggunakan aplikasi Samsung School.

"Kendalanya, saya harus meyakinkan guru," kata Pambudi di acara Samsung Forum 2014 di Bali Nusa Dua Convention Center, Kamis (20/2/2014). Sekolah-sekolah di Filipina serta Singapura kabarnya sudah menerapkan aktivitas belajar mengajar dengan memakai aplikasi Samsung School ini.

Aplikasi ini bisa difungsikan untuk guru maupun murid. Guru pada aplikasi Samsung School ini berkuasa untuk menyebar konten materi pelajaran ke layar murid menggunakan tipe device yang sama.

Pambudi mengungkapkan, aplikasi ini kompatibel dengan Galaxy Note 10.1 yang lama maupun baru, serta Note Pro. Tidak tersedia untuk smartphone.
 
Guru dapat mengunggah konten pelajaran ke server dalam format power point (.ppt) yang kemudian dapat di-download oleh murid. Murid juga bisa mengetik pesan atau informasi langsung ke guru melalui personal message.

Fitur-fitur yang tersedia di dalamnya seperti Quiz and Poll, Reward Stamp, dan lain-lain. Fitur Quiz digunakan untuk memberikan pertanyaan kepada murid dan guru dapat mengetahui murid yang selesai lebih dahulu dalam mengerjakan soal.

Sumber : http://www.okezone.com

Published in Teknologi Pendidikan

Jakarta - Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kembali menggelar acara Anugerah Kita Harus Belajar (KiHajar) tahun 2013. Acara puncak dilaksanakan, Kamis (13/11), di Plaza Insan Berprestasi Kemendikbud, Senayan, Jakarta.

 

Kepala Pustekkom Ari Santoso, mengatakan pada saat Jumpa Pers di Kemendikbud, Kamis (13/11) KiHajar merupakan acara tahunan yang dimulai pada tahun 2006 melalui kuis televisi yang diselenggarakan oleh TV Edukasi Pustekkom Kemendikbud. Anugerah KiHajar tahun 2013 merupakan penyelenggaraan ke-8 kali. Anugerah KiHajar diharapkan dapat menjadi tolok ukur perkembangan TIK untuk pendidikan di Indonesia, serta wadah tahunan bagi para pemangku kepentingan untuk dapat mempublikasikan karya, berbagi ide, saling menginspirasi, dan memperoleh informassi terkini.

 

Ari menambahkan pemberian Anugerah KiHajar untuk gubernur, bupati/walikota sebagai penghargaan, apresiasi yang tinggi kepada pemerintah daerah yang berprestasi dalam pendayagunaan TIK untuk pendidikan. “Tahun ini adalah tahun ke-2 Kemendikbud memberikan apresiasi yang tinggi kepada pemerintah kabupaten/kota dan propinsi, apresiasi atas segala upaya dalam membuat kebijakan, menyediakan anggaran, mengembangkan serta mengimplementasikan  TIK” di semua jenjang pendidikan.

 

Proses penilaian penganugerah di lakukan sejak Oktober hingga Nopember 2013 oleh tim juri yang terdiri dari kalangan universitas, pakar TIK dan kalangan internal Pustekkom, Kemendikbud, sehingga hasilnya dapat lebih sempurna. Terbukti jelas Ari Santoso bahwa penggunaan TIK sudah merata secara nasional karena untuk pertama kali tahun ini semua pemenangnya mulai juara satu tingkat SD sampai dengan tingkat SMA sederajat  adalah dari luar pulau jawa imbuhnya.

Hadir pada saat jumpa pers perwakilan pemerintah daerah, seperti Walikota, Bupati, Wakil Bupati dan beberapa Kepala Dinas Pendidikan mewakili pemerintah daerah  yang tediri dari 6 perwakilan gubernur dan 8 walikota/bupati dari seluruh Indonesia serta pejabat di lingkungan Kemdikbud.

 

Sumber : http://kemdikbud.go.id

Published in Teknologi Pendidikan

Jakarta - Pendidikan adalah salah satu kebutuhan dasar setiap manusia. Jenjang pendidikan bisa di lalui seseorang melalui pendidikan formal dan non-formal dengan maksud agar dia cerdas, terampil, berpengetahuan dan berkarakter. Agar proses belajar mengajar di ruang kelas bisa efektif dan efesien tentu sangat di butuhkan SDM  setiap guru, instruktur atau pelatih yang berkualitas di samping sarana dan prasarana yang baik sebagai penunjang.

 

Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom), Ari Santoso pada saat jumpa pers di Kemdikbud hari ini, Rabu (13/11) dalam rangka Anugerah KiHajar 2013 di Kemdikbud, mengatakan  agar dapat melaksanakan semua kebijakan tersebut salah satu upaya yang ditempuh adalah dengan pemanfaatan teknologi informasi komunikasi (TIK) secara optimal. Seperti kita sadari bahwa kemampuan TIK sangat luar biasa dan kian hari berkembang pesat, dapat merubah pola pikir dan perilaku manusia di muka bumi ini katanya.

 

Ari Santoso menyatakan kurun waktu lebih kurang 10 tahun, Pusat Teknologi Komunikasi Pendidikan (Pustekkom) sudah merancang pemanfaatan TIK. Pustekkom sudah mencoba membuat terobosan-terobosan baru membangun TIK dan hasilnya sangat memuaskan semua pihak terutama bagi  guru dan peserta didik walaupun  masih ada kendala terkait masalah anggaran yang belum mencukupi, jaringan internet belum sempurna karena fasilitas listrik belum ada khususnya di daerah-daerah tertentu, namun dari tahun ke tahun Pustekkom selalu berusaha mengembangkan TIK ini agar bisa menjangkau seluruh wilayah Indonesia dengan mengajak semua pihak termasuk PLN dan TELKOM imbuhnya.

 

Hingga saat ini Pustekkom sudah menerapkan TIK sebagai bagian dari Proses Belajar Mengajar (PBM) termasuk di ruang kelas. Seperti Portal Rumah Belajar sebagai media belajar internet (online) untuk para guru dan siswa agar dapat mengakses bahan belajar serta berkomunikasi dan interaksi antar komunitas pendidikan. Jardiknas, yang berfungsi untuk melayani kantor Dinas Pendidikan Provinsi/Kab/Kota/PT/UPT dalam hal transaksi data online, e-administrasi juga TV  EDUKASI untuk siswa memberikan layanan siaran pendidikan berkualitas untuk menunjang tujuan pendidikan nasional.

 

Program KI HAJAR saat ini telah memuat Kuis Unggulan Tahunan dari TV EDUKASI yang bertujuan menjaring siswa yang mempunyai pengetahuan di bidang TIK terutama dari daerah terpencil, sekaligus juga mensosialisasikan  program-programnya TVE kepada  masyarakat dan bagi pemenang akan diberikan hadiah sahutnya.

Hadir pada saat konperensi pers adalah perwakilan pemerintah daerah yang akan menerima Anugerah KiHajar, seperti Walikota, Bupati, Wakil Bupati dan beberapa Kepala Dinas Pendidikan mewakili pemerintah daerah serta pejabat di lingkungan Kemdikbud.

 

Sumber : http://kemdikbud.go.id

Published in Warta Pendidikan

Jakarta - Wajah serius tampak dari sekumpulan siswa Sekolah Dasar, hingga Sekolah Menengah Atas yang duduk berbaris di Plaza Mandiri, Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Jakarta. Sesekali, mereka sumringah menyaksikan setiap adegan, maupun dialog dari peluncuran Film Televisi (FTV), hari ini, senin (11/11).

 

Cerita 1000 Potret adalah judul FTV yang diluncurkan  tersebut. Mengusung tema pendidikan karakter, Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Pustekkom) Kemdikbud mencoba untuk maksimalkan penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam transfer pendidikan karakter, yakni melalui FTV Cerita 1000 Potret.

 

Kepala Pustekkom Ari Santoso mengungkapkan, masyarakat sangat meminati sinetron, dan film. Namun, kebanyakan sinetron dan film yang ada tidak memberikan pesan yang sarat akan pendidikan karakter. “Sehingga Pustekkom mulai 2012 memproduksi, harapannya dapat memberikan tontonan film yang mempunyai idealisme serta misi untuk mengembangkan karakter bangsa Indonesia,” jelas Kepala Pustekkom Ari Santoso saat peluncuran.

 

Adapun Ibas, 24 tahun, mahasiswa sarjana komunikasi sebuah perguruan tinggi di Jakarta, yang bekerja paruh waktu sebagai fotografer di sebuah majalah remaja yang terbit di Jakarta. Nilai-nilai pendidikan karakter ditunjukkan dari konfik antara Ibas dengan keluarga. Diantaranya, konflik akan tuntutan tanggung jawab dari ibu Ibas untuk menggantikan peran Ayah dalam mengelola peternakan. Demikian sekilas jalan cerita dari naskah karya Jujur Prananto ini. Film “Cerita 1000 Potret” dapat disaksikan melalui Televisi Edukasi dan streaming via website di alamat www.tve.kemdikbud.go.id mulai bulan Desember 2013.

 

Di kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Kemdikbud, Ainun Na’im mengungkapkan atensi positif terhadap pemanfaatan TIK. Menurut dia,  investasi untuk TIK sudah banyak dilakukaan Kemdikbud dan diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal dan baik dalam rangka proses belajar mengajar serta untuk pembelajaran lebih efisien.

Selain peluncuran film, penayangan Video Pendukung Sosialisasi dan Implementasi Kurikulum 2013, dan pembukaan pameran pendidikan pun turut dilaksanakan. Acara ini merupakan rangkaian dari kegiatan  peringatan Anugerah KiHajar (Kita Harus belaJar), yang dilaksanakan tanggal 11-13 November 2013.

 

Sumber : http://kemdikbud.go.id

Published in Teknologi Pendidikan
Wednesday, 30 October 2013 09:08

ALCom (APEC Learning Community)

Pontianak - ALCom (APEC Learning Community) Merupakan komunitas pemerhati pendidikan (educational stakeholders) di wilayah APEC yang memperhatikan pengembangan SDM dan peningkatan kemampuan untuk menghasikan keterampilan, yang dilakukan melalui saling berbagi pengetahuan dan pengalaman, baik secara online maupun offline.

 

Sejarah ALCoB berawal dari inisiatif Korea Selatan pada tahun 2000 yang peduli karena adanya kesenjangan digital (digital divide) di bidang pendidikan antara negara maju dan sedang berkembang di wilayah Asia Pasifik. Selain itu, adanya tuntutan masyarakat bahwa pengetahuan merupakan dasar bagi kemakmuran dan kesejahteraan serta perlunya berbagi kemakmuran di wilayah APEC dengan dasar saling pengertian dan kerja sama.

Dasar dibentuknya ALCom sebagai Learning Community di Lingkup APEC adalah :

 

  1. Adanya gap pengetahuan di antara negara anggota APEC, sehingga menjadi hambatan untuk berbagi kemakmuran bagi negara-negara di wilayah APEC.
  2. Tuntutan masyarakat yang berbasis pengetahuan. Pengetahuan merupakan dasar kemakmuran dan kesejahteraan.
  3. Perlunya berbagi kemakmuran di wilayah APEC, dengan dasar saling pengertian dan kerjasama.

Atas dasar cita-cita tersebut, beberapa pemerhati pendidikan di wilayah APEC melahirkan APEC Learning Community (ALCom) dengan tujuan :

  • Mewujudkan visi, cita-cita dan harapan APEC
  • Membangun saling pengertian terhadap perbedaan & budaya
  • Mengakumulasikan kapasitas pengetahuan dan belajar melalui kerjasama
  • Memperhatikan dan membantu memecahkan permasalahan-permasalahan global
  • Memberikan kontribusi kepada perdamaian & kemakmuran bagi APEC sebagai anggota warga dunia melalui berbagai aktivitas di bidang pendidikan & dilakukan secara sukarela.


ALCom merupakan penggabunggan dua proyek Korea Selatan yaitu; APEC Cyber Education Network (ACEN) yang menjadi payung ALCoB dan ACEN Webzine and International Internet Volunteer (IIV). Proyek ini berlangsung pada tahun 2001 hingga 2002 dengan proyek perintis di Cina, Indonesia, Thailand, dan Filipina.

Dalam perkembangannnya ACEN dirasa kurang efektif, maka muncullah APEC Learning Community Builders (ALCoB) yang mulai disosialisasikan oleh Korea Selatan pada tahun 2003 di empat negara tersebut di atas. Hingga saat ini ALCoB telah berkembang di sepuluh negara di wilayah APEC yaitu Brunei Darussalam, Cina, Malaysia, Mexico, Peru, Filipina, Republik Sakha, Chile, dan Thailand. Di antara beberapa negara tersebut, Indonesia  menjadi contoh bagi negara lainnya, karena dari awal disosialisasikannya ALCoB di Indonesia, melalui Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  terus dikembangkan setiap tahun ke beberapa propinsi di Indonesia. Hingga tahun 2001 ALCoB telah berkembang di 26 Propinsi, dan pada tahun 2012 akan dikembangkan di empat propinsi yaitu Gorontalo, Kalimantan Tengah, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Pada tahun 2013 diharapkan ALCoB dapat dikembangkan di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Papua Barat, sehingga ALCoB sudah tersosialisasikan di seluruh propinsi di Indonesia.

Published in Teknologi Pendidikan
Wednesday, 30 October 2013 08:49

Pelatihan Pembuatan Website Sekolah

Kendari - Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyelenggarakan pelatihan pembuatan website sekolah menggunakan content management system (CMS) Balitbang Kemdikbud. Pelatihan tersebut berlangsung pada 28 Oktober hingga 1 November 2013, di Kendari, Sulawesi Tenggara.

 

Disampaikan ketua panitia, Oky Adrian, kegiatan ini bertujuan untuk sosialisasi dan kolaborasi antara model website sekolah menggunakan CMS Balitbang, Rumah Belajar, dan sekaligus APEC Learning Community Builders (ALCoB). “Ketiga aplikasi tersebut, bermuara pada percepatan dan peningkatan layanan terhadap peserta didik, tenaga kependidikan, satuan pendidikan melalui pemanfaatan TIK,” katanya saat pembukaan pelatihan tersebut di Kendari, Senin (28/10).

 

Peserta kegiatan pelatihan ini berjumlah 25 orang. Mereka merupakan guru dan/atau administrator pendidikan dari berbagai bidang studi dan atau pengelola website sekolah, dari TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, dan Administrator Pendidikan yang telah diseleksi secara online melalui website www.kajianwebsite.org mulai dari Agustus sampai dengan September 2013.

 

25 guru ini selama empat hari ke depan akan dilatih oleh empat instruktur yang telah berpengalaman dalam penggunaaan CMS Balitbang. Seluruh peserta berasal dari sekolah se Provinsi Sulawesi Tenggara. Tergabungnya  sejumlah 25 orang guru dan/atau administrator pendidikan menjadi anggota ALCoB, selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan jaringannya kepada sekolah atau guru lainnya, baik di lingkup sekolah masing-masing maupun dalam forum yang lebih luas, baik secara online maupun offline.

 

Model CMS Balitbang Kemdikbud dikembangkan sejak tahun 2008. Model ini telah di-launching oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, pada puncak acara peringatan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 2010. Model tersebut dirancang untuk mengembangkan  dan mempublikasikan manajemen sekolah dan pembelajaran berbasis web dengan metode yang sangat mudah dan memiliki keunggulan dari CMS sejenis.

 

Kemudahan dalam pembuatan website sekolah dengan model ini adalah tanpa perlu penguasaan bahasa pemrograman web beserta databasenya seperti HTML, PHP, MySQL ataupun aplikasi publikasi web lainnya yang rumit.

Karena kemudahan dan keunggulan model CMS Balitbang, hingga November 2012 telah dipergunakan oleh 2.744 lembaga. Agar Model Website Sekolah yang telah dihasilkan dapat diketahui dan dimanfaatkan seluas-luasnya oleh sekolah, oleh karenanya kegiatan pelatihan ini perlu dilakukan, salah satu caranya, yaitu melalui APEC Learning Community Builders (ALCoB) yang telah dikembangkan di Indonesia sejak 2003, di mana  hingga 2012 telah tersebar di 30 provinsi.

 

Sumber : http://kemdikbud.go.id

Published in Penjaminan Mutu
Thursday, 24 October 2013 07:53

Indonesia Digital School

Pontianak - IndiSchool adalah kependekan dari Indonesia Digital School, program TELKOM Indonesia untuk Indonesia cerdas, yang dilakukan dengan pemberian internet wifi gratis.

Untuk mengakses konten edukasi bagi komunitas pendidikan di zona edukasi, Layanan IndiSchool merupakan layanan akses internet wifi di lokasi zona edukasi sebagai bagian dari layanan Indonesia wifi atau dikenal @wifi.id

Program myindischool.com ini disesuaikan untuk mendapatkan akses Internet cepat dan murah. Khusus anak sekolah dan guru, Telkom menyediakan voucher harian dan bulan dengan harga mulai dari 1.000 rupiah.

Lewat akses internet cepat, pengajaran jarak jauh bisa berjalan efektif dan interaktif. Telkom berupaya memperluas pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk menghasilkan kegiatan pendidikan berkualitas.

Pada tahap awal, Telkom memberi akses internet dengan kecepatan 1 Mbps untuk digunakan guru dan murid mengakses konten edukasi seperti Portal Rumah Belajar atau TV Edukasi dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Layanan ini dapat juga dilengkapi dengan adanya Welcome Page Sekolah yang content di dalamnya dapat disesuaikan di setiap sekolah.

Published in Warta Video

Merauke - Yohannes atau biasa disapa Annes merupakan salah seorang murid di SMP 11 Merauke, Sota. Tempatnya bersekolah, Sota adalah sebuah distrik di kabupaten Merauke yang terletak persis di perbatasan negara. Masyarakat Merauke biasa menyebutnya daerah perbatasan Papua – PNG. Mungkin untuk memudahkan komunikasi karena di wilayah tersebut dua negara berbeda sama-sama menggunakan kata Papua.

Seperti kebanyakan pelajar di negeri ini, setiap hari Annes disibukkan dengan kegiatan belajarnya di kelas dan ekstrakurikuler. Demikian pula teman-temannya yaitu Moses, Petrus, Realino, Margareth, Elisabeth dan Indah. Setiap kali tiba waktunya ekstrakurikuler komputer, kegembiraan mereka tak dapat ditutup-tutupi.

Meski kondisi ruang komputer sekolah sangat sederhana, hanya terdiri dari 20 meja kursi kayu dan 5 laptop, namun tidak mengurangi antusias Annes dan kawan-kawan. Sebab, laptop sekolah kini sudah dilengkapi dengan akses internet. Annes dan kawan-kawan jadi memiliki akses terhadap informasi dan ilmu pengetahuan yang lebih luas.

“Betapa anak-anak SMP ini sangat senang setiap kali pintu ruang komputer dibuka. Anak-anak seringkali berlarian berebut untuk dapat posisi tepat di depan komputer. Memang 1 komputer harus digunakan untuk bertiga atau berempat dengan teman-temannya. Inilah antusiasme anak-anak di sini,” kata Pak Munandar, guru TIK di SMP 11 Merauke.

Pak Munandar sendiri merupakan pria asli Jawa lulusan Universitas Cendrawasih – Jayapura yang ditempatkan sebagai guru di daerah perbatasan Sota. “Dengan segala keterbatasan yang ada, anak-anak SMPN 11 Merauke di Sota ini sangat antusias memanfaatkan akses internet di sekolah,” imbuh Pak T.H. Sopacua, Kepala Sekolah SMP 11 Merauke.

Meskipun sangat sederhana, akses internet yang disediakan Telkom Indonesia di SMP 11 Merauke ini memberi harapan baru bagi Annes dan kawan-kawan untuk menggapai cita-cita lebih tinggi. Ya, itulah gambaran yang kini terjadi. Setelah puluhan tahun merdeka, kini dunia pendidikan Indonesia melaju tanpa ragu.

Dengan semangat membangun asa di seluruh negeri, satu demi satu cahaya, detak usaha dan karya kini perlahan hadir menerangi setiap mimpi. Membuka jendela pengetahuan bagi anak bangsa melalui jaringan internet terbaik, terluas dan terjangkau.

Tak kenal lelah dan tanpa keraguan, terus berupaya mempelopori gerakan digitalisasi pendidikan. Demi tercapainya impian dimana seluruh anak Indonesia dapat menikmati kualitas pendidikan yang sama dan 100.000 sekolah se-Indonesia memiliki koneksi wi-fi. Semoga berhasil.

 

Sumber : http://detik.com

Published in Teknologi Pendidikan
Page 1 of 3