admin2019

admin2019

Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kalimantan Barat mendapatkan kunjungan dari Tim Survey Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat dan diterima oleh Kepala LPMP Kalimantan Barat, Drs. Aristo Rahadi, M.Pd, Kegiatan survey awal ini merupakan salah satu penilaian terhadap pelayan publik yang ada di LPMP Kalimantan Barat dalam rangka Pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK).
Selanjutnya Tim survey BPS langsung meninjau Unit Layanan Terpadu (ULT) LPMP Kalimantan Barat diantaranya mensurvey sarana dan prasarana dan inovasi pelayanan dalam peningkatan kualitas pelayanan publik secara berkala sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat.

 

 

 

 

 

 


Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kalimantan Barat, Drs Aristo Rahadi, M.Pd menjadi pembina upacara pada peringatan Hari Ulang Tahun Ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia, di halaman Kantor LPMP Kalimantan Barat.
Setelah selesai upacara, Kepala LPMP Kalimantan Barat meresmikan Gedung Unit Layanan Terpadu (ULT) LPMP Kalimantan Barat. Acara peresmian dihadiri oleh Pejabat Struktural, Pejabat Fungsional, dan seluruh Pegawai. Gedung Unit Layanan Terpadu (ULT) LPMP Kalimantan Barat tersebut sebagai upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, LPMP Kalimantan Barat menghadirkan layanan publik dan pengaduan secara terpadu yang diperuntukkan bagi masyarakat. Melalui layanan ini, masyarakat dapat meminta informasi, menyampaikan pengaduan, bertanya, berdialog, memberikan saran dan masukan dengan nyaman dan memperoleh kepastian mendapatkan tanggapan yang baik dan profesional. 

 

 

Selasa, 13 Agustus 2019 07:25

Lomba Foto "Unggul Versi Kamu"

LOMBA FOTO "UNGGUL VERSI KAMU"

Mari ambil bagian dalam merayakan kemerdekaan Indonesia dengan menunjukkan "keunggulan" versi kamu. Kamu bisa menunjukkan kemahiran,  keahlian, kegemaran atau prestasi yang pernah kamu raih di berbagai bidang seperti akademik, seni, budaya, olahraga, religi, wirausaha, masak dan lain-lain.

Tema foto: "Unggul Versi Kamu”

Syarat peserta:

  1. Berlaku hanya bagi Warga Negara Indonesia (WNI);
  2. Berlaku hanya untuk siswa, guru, dan tenaga kependidikan.


Ketentuan umum lomba:

  1. Foto harus milik sendiri dan dapat dipertanggungjawabkan;
  2. Foto diambil dengan menggunakan kamera digital/ponsel pintar;
  3. Foto belum pernah dipublikasikan atau diikutsertakan dalam kompetisi foto lain;
  4. Foto yang diunggah boleh diedit hanya sebatas pencahayaan;
  5. Foto tidak boleh mengandung unsur komersil (merek dagang), SARA, pornografi, kekerasan, dan melecehkan seseorang atau kelompok tertentu;
  6. Pihak penyelenggara berhak menggunakan foto yang dilombakan untuk kepentingan promosi, namun hak cipta tetap pada pemilik foto;
  7. Keputusan penetapan pemenang tidak dapat diganggu gugat.


Tata cara lomba foto:

  1. Ikuti akun resmi instagram @kemdikbud.ri
  2. Unggah foto melalui akun instagram peserta (pribadi) dengan menyebut (mention) dan menandai (tag) akun instagram @kemdikbud.ri;
  3. Tulis keterangan (caption) yang menarik dan sesuai dengan foto yang diunggah;
  4. Sertakan tagar #UnggulVersiSaya, #Kuis74Dikbud, #SDMUnggul dan #IndonesiaMaju
  5. Daftarkan karya dengan mengisi formulir daring di tautan berikut: http://bit.ly/daftarfotounggulversikamu2019
  6. Batas akhir unggah foto 31 Agustus 2019, pukul 23.59 WIB.


Juara I, II, dan III berhak menerima uang tunai sebagai berikut:

  1. Juara 1: Rp3.000.000,- (Tiga juta rupiah)
  2. Juara 2: Rp2.000.000,- (Dua juta rupiah)
  3. Juara 3: Rp1.000.000,- (Satu juta rupiah)
  4. Ditambah 10 Finalis berhak mendapatkan bingkisan dari Kemendikbud
  • Pemenang akan diumumkan pada awal September 2019 di laman kemdikbud.go.id dan akun media sosial resmi Kemendikbud.
  • Pajak ditanggung oleh pemenang.

Jakarta, Kemendikbud -- Guru yang hebat  adalah guru yang memiliki karakter yang unggul dan menjadi teladan bagi peserta didik. Pembentukan karakter pada peserta didik dilakukan melalui keteladanan yang dapat ditiru oleh siswa. Pembentukan karakter pada siswa peserta didik hanya dapat dilakukan oleh guru-guru yang berkarakter pula.

Pendidikan karakter menanamkan kebiasaan tentang hal yang baik sehingga siswa menjadi paham tentang mana yang baik dan salah, mampu merasakan nilai yang baik, dan biasa melakukannya. Dengan demikian pendidikan karakter erat kaitannya dengan kebiasaan yang dilakukan terus menerus.

"Pendidikan Karakter yang paling mendasar adalah siswa melihat sendiri karakter pada gurunya,” ujar mantan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Indra Djati Sidi, pada saat pembekalan guru dalam Pleno Pemilihan Guru Berprestasi Berdedikasi dan Kreativitas Jenjang Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus di Jakarta, (15/8/2019). Kegiatan tersebut merupakan rangkaian kegiatan Pemilihan Guru dan Tenaga Pendidikan Berprestasi dan Berdedikasi 2019.

Menurut Indra, guru yang berkualitas akan memiliki karakter yang baik, yang mana perilakunya dapat ditiru oleh peserta didik. Pendidikan karakter lebih penting dari matematika dan fisika, bukan sekadar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah.

“Karakter itu adalah Anda, karena Anda adalah guru-guru berprestasi. Jika kita tidak berkarakter, tidak mungkin dapat berprestasi. Orang yang berprestasi adalah orang yang berkarakter, kerja keras, disiplin, mau belajar dan bangkit dari kekalahan,” katanya.

Indra mengatakan, guru hebat bukanlah guru yang sudah memiliki sertifikat profesional, tetapi guru yang hebat adalah guru yang memiliki kemampuan karakter lebih dibandingkan dengan guru-guru yang lainnya.

“Jadi, guru-guru berprestasi yang berada disini tolong didiklah siswa dengan karakter dan berikan contoh suri teladan. Karakter ini akan berlaku di zaman apapun. Jika kita tidak didik anak dengan karakter maka akan tumbang,” tuturnya.

Ia menegaskan, pendidikan karakter sangat penting, karena jika kita ingin menjadi bangsa yang besar, karakter itu harus terus dibangun, dan diajarkan dari pendidikan dasar sebagai modal generasi bangsa hingga dewasa. “Di sinilah peran guru sangat penting dan tidak hanya mentransformasi ilmu,” ujarnya.

Jakarta, Kemendikbud – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) kembali menyelenggarakan Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional. Tahun ini, sebanyak 694 guru yang merupakan perwakilan dari 34 provinsi akan berkompetisi dan berbagi inovasi serta kreativitas mereka dalam pembelajaran.

 

Pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional berlangsung mulai 13 sampai dengan 18 Agustus 2019, di beberapa lokasi di Jakarta. Ada 28 kategori penilaian yang diikuti oleh para peserta. Kesiapan Kemendikbud dalam penyelenggaraan Pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal GTK, Supriano, dalam Taklimat Media di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Senin siang (12/8/2019).

 

Supriano menyampaikan, kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap para guru yang telah melahirkan inovasi dan menunjukkan kreativitas dalam pembelajaran. Selain itu, pemberian apresiasi terhadap guru sejalan dengan program pembangunan lima tahun ke depan yang berfokus pada pembangunan sumber daya manusia.

 

“Output peserta didik yang unggul ada peran serta guru di situ, karena mereka mendapat pelayanan pendidikan dan kompetensi sesuai kebutuhan,” ujar Supriano. Melalui pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi, guru didorong untuk menghasilkan berbagai praktik baik dalam pembelajaran yang mampu menghasilkan peserta didik yang unggul.

 

Sekretaris Direktorat Jenderal GTK, Muhammad Qudrat Wisnu Aji, menambahkan, selain mengikuti serangkaian penilaian, para guru juga akan mengikuti Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) pada 16 Agustus 2019. “Sebagian peserta juga nanti akan mengikuti upacara 17 Agustus di Istana Negara,” tutur Wisnu Aji.

 

Ke-694 orang peserta Pemilihan GTK ini tahun ini terdiri dari 111 guru PAUD, 113 guru pendidikan dasar, 163 guru pendidikan menengah, dan 307 tenaga kependidikan. Para peserta telah berhasil melalui seleksi bertahap mulai dari tingkat kabupaten/kota sampai dengan provinsi sehingga mampu menjadi wakil daerahnya pada ajang Pemilihan GTK Tahun 2019.

Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan konsisten terus berupaya melakukan pemerataan kualitas pendidikan di seluruh wilayah Indonesia, terutama di daerah Tertinggal, Terluar, dan Terdepan (3T). Upaya tersebut antara lain diwujudkan melalui program Kemitraan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), yang mempertemukan guru inti dan guru mitra untuk saling berbagi pengalaman, menginspirasi, dan mengembangkan kerja sama dalam upaya peningkatan dan pemerataan kualitas pendidikan.

“Melalui program Kemitraan, guru inti dapat saling berbagi pengalaman, menginspirasi, dan mengembangkan kerja sama dalam upaya peningkatan dan pemerataan kemampuan guru mitra yang berasal dari daerah 3T untuk menghidupkan komunitas belajar profesional dengan fokus pada penguatan kualitas layanan pembelajaran,” terang Mendikbud saat melepas peserta program Kemitraan Guru tahun 2019 jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), di Jakarta, Jumat (02/08/2019).

Pemilihan guru inti dan guru mitra yang diundang sebagai peserta dalam kegiatan ini berdasarkan berbagai indikator, salah satunya adalah rata-rata nilai Ujian Nasional (UN) dari sekolah yang terpilih. Untuk guru inti berasal dari sekolah yang memiliki rata-rata capaian UN yang tinggi, sedangkan guru mitra berasal dari daerah yang secara nasional memiliki capaian UN rendah (tahun ini berdasarkan hasil UN tahun pelajaran 2017/2018).

Program Kemitraan tahun ini, kata Mendikbud, memiliki keunikan, yakni mengintegrasikan antara guru dan kepala sekolah dalam program yang sama, sehingga ada kesinambungan substansi yang dikerjakan oleh guru dan kepala sekolah. “Keterpaduan program ini meliputi desain dan langkah program, lokasi dan sasaran program, serta substansi program. Selain itu, antara guru inti dan guru mitra dapat saling bertukar pengalaman. Para guru mitra dapat melihat, mengamati, dan mempelajari proses belajar mengajar di sekolah guru inti,” terang Mendikbud.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbud, Supriano, menambahkan, pertemuan guru inti dan guru mitra dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada para peserta tentang kemitraan guru dan tenaga kependidikan. Di samping itu, menggiring para guru dan kepala sekolah untuk berkolaborasi dan saling berbagi pengalaman terbaik dalam peningkatan mutu pembelajaran di kelas. “Kegiatan ini akan dilaksanakan selama tujuh hari di sekolah inti,” ucap Supriano.

Usai penyelenggaraan program, kata Supriano, para guru inti nantinya akan melanjutkan kunjungan ke sekolah guru mitra untuk memonitoring dan mengevaluasi program yang telah dipelajari. “Para guru inti nantinya akan mengunjungi sekolah-sekolah guru mitra untuk melihat langsung dan memastikan program yang telah dipelajari dapat diterapkan. Mudah-mudah selesai dari program ini dapat terwujud adanya sister school di dalam negeri. Guru inti dapat terus mendampingi guru mitra,” jelas Supriano.

Para guru mitra jenjang SMP yang dilepas oleh Mendikbud berasal dari Aceh Utara, Bireun, Mempawah, Sambas, Malinau, Majene, Mamuju, Seram Bagian Barat, Halmahera Utara, Manggarai, Ende, Jayapura, Jayawijaya, Merauke, Nabire, Fak-Fak, Manokwari, Raja Ampat, Sorong. Sedangkan guru inti yang ikut dalam program ini berasal dari Kota Denpasar, Kabupaten Sidoarjo, Kota Malang, Kab. Bantul, Kota Semarang, Kab. Semarang, Kota Serang, Kab. Bandung, Kota Bekasi, dan Kota Bogor.

Supriano berharap para guru mitra dapat memanfaatkan program ini dengan sebaik-baiknya. Kesempatan yang sangat berharga ini, kata Supriano, agar dimanfaatkan untuk belajar lebih dalam tentang praktik baik dari guru inti, sehingga dapat mempercepat perubahan di sekolah asal. “Dengan itu, seluruh anak bangsa dapat merasakan pelayanan pendidikan yang lebih bermutu dan berkualitas,” pungkas Supriano.

Direktorat Jenderal GTK, Kemendikbud, menargetkan pada tahun ini, jumlah guru dan kepala sekolah yang terlibat dalam program kemitraan secara bertahap sebanyak 5.284 orang. Dengan rincian guru SMP sebanyak 76 guru inti, 228 guru mitra, dan 2.280 guru imbas; guru SMA sebanyak 30 guru inti, 120 guru mitra, dan 1.200 guru imbas. Sedangkan kepala sekolah untuk jenjang SMP terdiri dari 20 inti, 80 mitra, dan 800 imbas; serta kepala sekolah SMA terdiri dari 10 inti, 40 mitra, dan 400 imbas.

Jakarta, Kemendikbud --- Penggunaan media digital untuk mengekspresikan karya komik menjadi terobosan di Festival Literasi Sekolah (FLS) 2019 tingkat SMA. Jika di tahun-tahun sebelumnya peserta menggoreskan cerita visual secara konvensional, tahun ini, mereka wajib menggunakan gawai (gadget), baik itu telepon selular, komputer jinjing atau laptop, maupun tablet. Pada FLS 2019, panitia menerima sekitar 200 karya komik yang semuanya sudah dalam bentuk digital.

Juri FLS 2019 bidang lomba Komik Digital, Iman Sudjudi mengatakan, perubahan pembuatan karya dari konvensional ke digital adalah perubahan yang tidak bisa dihindari. Sebab, kata Iman, saat ini, generasi milenial sudah melek teknologi informasi dan panitia tidak bisa membatasi penerimaan karya yang dikirim peserta dalam bentuk digital.

 “Karya yang kami terima di tahun lalu itu ada 600, tapi yang memenuhi syarat hanya 30. Sekarang, kami menerima 300 kurang sedikit, dan 70 persen kualitasnya bagus dari segi teknisnya,” ujar Iman di sela kegiatan FLS 2019, Minggu (28/7/2019) di Bogor, Jawa Barat.

Menurut Iman, untuk menghasilkan komik, apapun medianya, baik pensil maupun digital, yang terpenting adalah kemampuan pembuat komik untuk bercerita dan mengekspresikannya dalam bentuk visual dan tepat sasar.

Dalam menilai karya komik digital peserta FLS tahun ini, ia mengungkapkan, ada kriteria yang harus terpenuhi, di antaranya ketepatan menjawab tema, kebahasaan, kreativitas dalam visualisasi, dan teknik bercerita. Tema yang diangkat pada tahun ini yakni “Linimasa Cinta”.

Linimasa Cinta, tutur Iman, berkaitan tentang waktu. Penafsiran terhadap diksi ini bisa menjadi luas. Bisa tentang diri sendiri, pencapaian diri, orang lain, ataupun teman. “Di situ tantangan kreativitas untuk menjawabnya dan men-describe ke dalam bentuk storytelling. Memang, menjawab kata kunci linimasa awalnya agak berat untuk mereka, padahal linimasa mereka sudah melakukan itu sehari-hari dengan sebutan timeline,” kata Iman yang juga dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung.

Komik digital, tuturnya, tak jauh berbeda dengan pembuatan komik secara konvensional, sebab kekuatan komik itu adalah bagaimana pesan komunikasi dapat tersampaikan dengan baik. “Di komik itu prinsipnya bagaimana kita mampu menceritakan suatu ide atau pesan ke dalam bentuk rangkaian gambar yang berurutan. Sekuensial art itu di situ. Jadi, apapun itu mediumnya, mau pensil atau digital, sebetulnya kemampuan kita bercerita dan kemampuan mengekspresikan dalam bentuk visual yang tepat sasar,” kata Iman.

Ia berharap para peserta FLS, terutama di bidang lomba komik, dapat terus berkarya dan menggunakan gawai bukan hanya sekadar untuk bermedia sosial, melainkan bisa berkarya membuat komik dan menghasilkan sesuatu yang bernilai tambah.

Menurut Iman, dengan membuka peluang hadirnya komik digital, panitia memberikan tantangan kepada peserta dalam berkarya dan juga memperluas publikasi karya mereka ke masyarakat luas. Bahkan, ada peluang yang terbuka dari penerbit untuk melirik karya mereka dan mengapresiasinya. “Mereka nantinya juga bisa mempublikasikan karyanya ke digital publishing atau untuk diri sendiri melalui media sosial masing-masing. Bisa lewat Instagram, Facebook dan lainnya,” kata Iman.

Jakarta, Kemendikbud --- Membaca dapat diibaratkan membuka jendela dunia karena dengan membaca akan memperluas wawasan seseorang. Karena itu, kebiasaan membaca buku harus dimulai sejak usia dini. Pengenalan membaca buku diharapkan dimulai dari lingkup keluarga. Di sinilah pentingnya kontribusi orang tua yaitu membacakan buku sebagai bentuk pengasuhan untuk mengoptimalkan kemampuan berkoordinasi dan berbahasa sejak dini.

Menyadari pentingnya hal tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Direktorat Bindikel, Ditjen PAUD Dikmas) kembali melaksanakan Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (Gernas Baku).

“Alhamdulillah kita dapat berkumpul pagi ini untuk merayakan bersama Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku. Ini mempunyai tujuan yang mulia yaitu melekatkan emosi bunda, ayah dan anak. Kelekatan emosi orang tua dan anak akan memungkinkan jiwa anak tumbuh dengan sempurna serta mengenalkan kecintaan terhadap buku,” demikian disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dirjen PAUD Dikmas), Harris Iskandar, saat membuka acara Gernas Baku di PAUD KM 0, kantor Kemendikbud, Jakarta, pada Sabtu pagi (27/7/2019).

“Kalau ini dibiasakan akan menjadi budaya dan menjadikan Indonesia lebih baik. Orang membaca buku adalah orang yang bahagia. Kalau ingin membahagiakan anak, bacakan saja buku. Saya optimis sudah mulai banyak yang mengenal Gernas Baku. Artinya mereka sudah mengerti pentingnya itu, dan kita mendukung itu semua,” ujar Dirjen Harris.

Ditemui awak media usai acara, Harris menjelaskan bahwa pengasuhan anak harus berada di bawah orangtua, bukannya orang lain. “Oleh karena itu, tidak boleh salah satu lepas apalagi diserahkan pada pengasuh, kepada orang lain. Ini harus orang tuanya langsung, baik ibunya maupun bapaknya. Kesempatan ini jangan disia-siakan karena anak umur 4 s.d.5 tahun, bahkan usia SD merupakan umur yang sangat baik sekali untuk menumbuh kembangkan karakter-karakter baik yang kita inginkan,” terang Harris.

Diungkapkan Harris, ketersediaan buku berkualitas juga tidak kalah penting. Kondisi geografis Indonesia kadang menyulitkan distribusi buku ke daerah terpencil. “Tadi saya juga sudah tanya orang tua, alhamdulillah untuk di daerah Jakarta mungkin tidak ada masalah, maka itu kami ingin berdialog dengan orang tua di NTB dan Papua untuk mengecek apakah mereka memiliki kendala dalam membeli buku? Kalau di Jakarta tidak masalah. Saya juga mengalami setiap minggu itu membawa anak dan cucu itu banyak sekali buku. Cuma kan belum tentu untuk di daerah luar Jawa ketersediaan buku-buku yang bagus itu banyak. Hal ini penting karena tidak semua buku bagus,” ungkap Harris.

Hal yang tidak kalah memprihatinkan, lanjut Harris, adalah kondisi di mana anak-anak sejak usia dini sudah kecanduan gawai. Oleh karena itu, dengan adanya gerakan ini, diharapkan dapat mengembalikan kesadaran orang tua mengenai bahaya gawai pada tumbuh kembang anak. “Jadi kita mulai membiasakan buku, nanti kita tidak 100% dimakan oleh gadget. Ini salah satu kampanye kami ke arah situ. Gadget itu efeknya jelek sekali terutama karena budayanya, ya ada efek dopamin, kecanduan ya, jadi anak akan lekat sekali dengan itu dan waktunya jadi terbuang percuma di layar. Padahal masa anak-anak itu untuk gerak motorik sangat penting. Pertumbuhan otot itu tidak akan berkembang sempurna kalau dia dari awal sudah dikenalkan gadget. Kedua, untuk kesehatan mata itu juga tidak bagus bagi anak. Banyak sekali dampak-dampak kesehatan selain yang saya sebutkan tadi dan juga secara psikologi tidak bagus, misalnya internet putih, ya internet khusus untuk anak tetap tidak semua orang tua mengikuti petunjuk dari kita. Kebanyakan mereka membebaskannya begitu saja, parental guide di dalam menu tidak pernah digunakan, tidak mau ribet orang tua itu, karena orang tuanya juga sudah kecanduan dengan gadgetnya,”kata Harris

Harris berharap agar orang tua mengendalikan dirinya ketika berada di dekat anak-anak, artinya tidak terus menerus menggunakan gawai agar tidak ditiru oleh anak. “Orang tua sudah kecanduan dan dia tidak mau diganggu, dan dikasih juga gadget ke anaknya, kan ini musibah bener. Ini yang saya kira kita semua harus sadar, ini bahaya. Kita seluruh masyarakat sadarkanlah semua orangtua ini marilah kita kembali membaca buku, coba kurangi kalau tidak bisa untuk tidak sama sekali, kita kurangi dalam waktu tertentu dan jangan menunjukan di depan anaknya. Dalam setiap kesempatan orangtua coba kendalikan diri, jadilah orangtua yang riil, bukan di depan anak kita pakai gadget. Anak itu akan mengikuti, anak itu adalah fotokopi yang paling baik mereka akan mereplikasi apa saja yang kita lakukan kalau kita stick dengan gadget mereka akan begitu juga,” ungkap Harris.

Dengan adanya Germas Baku, Kemendikbud mengajak warga masyarakat, para mitra yang memiliki jaringan sampai ke tingkat desa, bersama-sama menggerakkan semua anggotanya untuk mulai membiasakan ini sehingga bukan sekedar menjadi imbauan tetapi disertai dengan strategi penyebarannya. “Saya kira kami hanya semacam orkestra saja, saling menyemangati. Kenapa kita lakukan di hari yang sama serentak? Supaya semangat saja bahwa kita itu bukan sendiri tapi 230 ribu lembaga PAUD seluruh Indonesia. Syukur kalau seluruh keluarga Indonesia yang jumlahnya mencapai 42 juta itu sudah mendengar tentang Gernas Baku dan terinspirasi untuk ikuti kebiasaan baru di rumahnya, terutama keluarga muda,” pungkas Harris.

Rangkaian pelaksanaan Gernas Baku digelar sejak April 2019, dimulai dari pelaksanaan sosialisasi dan seminar. Selanjutnya, pada Mei 2019, para orang tua diajak untuk memberikan donasi buku dan menghadirkan pojok baca di rumah dan sekolah. Selain itu, juga diselenggarakan kelas parenting untuk orang tua di berbagai daerah.

Puncak acara Gernas Baku dihadiri oleh sejumlah pejabat di lingkungan Kemendikbud dan para mitra serta undangan. Anak-anak PAUD KM 0 beserta orang tua mereka juga turut memeriahkan acara ini. Dalam acara ini juga dilakukan konferensi jarak jauh (tele conference) serentak di 3 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Nusa Tenggara Barat, dan Papua. Kegiatan ini diselenggarakan seiring dengan Festival Literasi Sekolah.

Dalam rangka persiapan rilis Aplikasi Dapodikdasmen versi 2020, akan dilakukan pemeliharaan/maintenance pada server Dapodik. Untuk itu sinkronisasi menggunakan Aplikasi Dapodikdasmen versi 2019.e akan ditutup pada Rabu, 31 Juli 2019 pukul 23.59 WIB.

Sinkronisasi akan dibuka kembali setelah Aplikasi Dapodikdasmen versi 2020 dirilis dan akan diumumkan melalui laman ini (http://dapo.dikdasmen.kemdikbud.go.id).

Kapuas Hulu/15/07/2019 - LPMP -  SMA Negeri 1 Jelai Hulu Kabupaten Ketapang, sekitar 441 km dari Pontianak arah perbatasan Provinsi Kalimantan Tengah mendapat kehormatan dikunjungi oleh tim asesor dari Badan Akreditasi Provinsi Kalimantan Barat yaitu Jeperis Nahampun, S.Si, M.Pd dan Idham Azwar. Sekitar 50 km dari Tumbang Titi menuju Jelai Hulu jalannya hancur lebur ditempuh dengan waktu 2,5 jam.

Kedatangan asesor disambut oleh Kepala Sekolah dan guru-guru. Visitasi Akreditasi ini berlangsung selama 2 hari mulai hari Senin s/d Selasa ( 15 s.d. 16 Juli 2019). Visitasi diawali dengan adanya temu awal yang dilaksanakan di ruang Guru dihadiri oleh Tim Asesor, Kepala Sekolah dan Jajarannya. Dalam temu awal Kepala Sekolah menjelaskan profil SMA N 1 Jelai Hulu.

SMA Negeri 1 Jelai Hulu didirikan pada tahun 2005 sesuai SK Bupati Kabupaten Ketapang No. 564 Tahun 2005 dan lokasinya di Riam Kota Kec. Jelai Hulu Kabupaten Ketapang. SMA N Jelai Hulu telah dua kali diakreditasi dan tahap ini adalah akreditasi ke-3 kalinya. Nilai akreditasi terakhir tahun 2014 yang lalu dengan Akreditasi B. Meskipun sudah memasuki kali ke 3 proses penilaian Akreditasi, tetapi SMA Negeri 1 Jelai Hulu belum banyak berubah dari tahun ke tahun, terutama Standar Sarana dan Prasarana serta Standar Pendidik dan tenaga Kependidikan.

Kepala SMA Negeri 1 Jelai Hulu, Thomas Didimus, M.MPd mengatakan “Akreditasi ini merupakan penilaian bagi SMA Negeri 1 Jelai Hulu sehingga apa yang sudah kami lakukan dan benahi semampu kami dapat kami teruskan dan lanjutkan dimana yang masih perlu ditingkatkan sesuai dengan harapan sekolah yang unggul, tetapi dengan kemampuan terbatas.” ungkapnya dalam sambutan.

Sementara itu, Idham Azwar sebagai ketua Tim Asesor didampingi anggota Jeperis Nahampun, S.Si, M.Pd menyampaikan dalam sambutannya “Akreditasi merupakan hal penting yang harus dilakukan pemerintah terhadap sekolah untuk menilai sehingga terlihat sejauh mana sekolah mencapai Standar Nasional Pendidikan seperti yang diharapkan. Di samping itu akreditasi juga tentunya meruapakan faktor yang nyata sejauh mana mutu pendidikan di sekolah tersebut, sehingga Pemerintah mengetahui apa yang harus dilakukan untuk peningkatan mutu selanjutnya, paparnya.

Selama dua hari itu tim asesor bekerja memverifikasi data isian akreditasi dengan melihat bukti fisik serta observasi ke dokumen dan wawancara untuk 8 Standar Nasional pendidikan. Dalam kesempatan itu juga, kedua asesor menyambangi kelas untuk melihat kondisi proses belajar mengajar di SMA Negeri 1 Jelai Hulu pada dua kelas yang berbeda selama 2 x 45 menit.

Di akhir kegiatan, diadakan temu akhir dan dalam kesempatan itu Kepala Sekolah menyampaikan apa yang dinilai oleh tim asesor seperti itulah keadaan sebenarnya dan mengharapkan hasil yang diperoleh dapat lebih maksimal dan tim asesor mengatakan merasa senang situasi pelaksanaan visitasi berjalan dengan lancar karena tidak ada hambatan yang terjadi. Selanjutnya diadakan serah terima Berita Acara dan foto bersama. (Jep)