Pontianak - Dalam rangka akses pemerataan pelaksanaan Kurikulum 2013 LPMP Kalimantan Barat segera menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis (bimtek) Kurikulum 2013 bagi guru Kelas II dan V jenjang Sekolah Dasar. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada tanggal 9 s.d 13 Oktober 2018 (Angkatan I), 16 s.d 20 Oktober 2018 (Angkatan II), dan 23 s/d 27 Oktober 2018 (Angkatan III), dengan jumah keseluruhan peserta 507 orang mencakup 14 kabupaten/kota se-provinsi Kalimantan Barat.

Kegiatan ini berpedoman pada Petunjuk Teknis Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Bimbingan Teknis Kurikulum 2013 difokuskan pada guru kelas I, Kelas IV, Kepala Sekolah beserta guru Agama. Sedangkan untuk Guru Kelas II, V, dan VI beserta guru PJOK belum mendapatkan kesempatan untuk diberikan bimtek terkait implementasi Kurikulum 2013.

LPMP Kalimantan Barat berharap kepada bapak ibu guru yang ditugaskan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten/kota bisa mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh. Harapannya setelah mengikuti kegiatan ini peserta dapat mengimbaskan ilmu, pengetahuan dan pengalaman kepada ke rekan sejawat di daerah melalui forum K3S dan KKG.

Kuota peserta kegiatan ini terbatas. Namun demikian seluruh peserta diharapkan melaksanakan dengan antusias. Sehingga materi, diskusi dan praktek pembelajaran menjadi berkualitas.

Selamat datang di LPMP Kalimantan Barat. Selamat belajar. Selamat memperkaya pengetahuan, siap mendiseminasikan, siap turut serta membangun mutu pendidikan Kalimantan Barat yang gemilang.

Published in Penjaminan Mutu
Selasa, 25 September 2018 19:29

JARTI, Penebar Inspirasi Pelosok Negeri

Pontianak - Jarti merupakam sosok mulia penebar inspirasi ke berbagai pelosok negeri. Mereka adalah pengajar pengganti (Jarti). Tugas mereka adalah menggantikan sementara para guru daerah khusus yang saat ini sedang mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG). Jarti  ditugaskan tersebar ke berbagai daerah terpencil, tertinggal dan terluar (3T) wilayah Indonesia. Jarti dikontrak selama 3 bulan mulai 1 September sampai dengan awal Desember 2018.

Tanpa Jarti  proses belajar mengajar di sekolah akan terganggu, padahal mutu pendidikan harus terjaga selalu. Tanpa mereka kegiatan di sekolah akan minus, karena siswa-siswinya tak bisa mengembangkan bakat dan kreativitasnya dengan serius. Tanpa mereka masa depan anak-anak di daerah akan terbelenggu, karena selama 3 bulan tiada guru yang mengajarkan ilmu. 

Jarti hadir membawa harapan. Harapan anak-anak di daerah 3T tetap mendapatkan pendidikan. Harapan anak-anak daerah 3T menatap masa depan. Harapan anak-anak daerah 3T mendapatkan keadilan sosial. Semua harapan ini adalah solusi pemerintah (Kemdikbud) untuk terus konsisten melayani seluruh warga negara untuk mendapatkan kemudahan akses pendidikan.

Jarti juga merupakan agen budaya. Mereka bisa saja membawa budaya untuk dikenalkan kepada siswa-siswi di daerah yang berbeda dengan suka cita. Jarti sebagai agen budaya adalah mengayakan pengetahuan siswa-siswi akan ragam budaya nusantara. Sebaliknya Jarti juga bisa mempunyai pengetahuan baru tentang budaya baru dimana dia mengajar di lingkungan baru.

Bagi jarti mengajar adalah pengabdian. Pengabdian tertinggi setiap warga kepada negaranya. Pengabdian tulus agar pendidikan berjalan mulus. Pengabdian mental yang tak lekang oleh medan dan tantangan alam. Mereka adalah pahlawan. Penakluk pegunungan, sungai, bukit dan jalan terjal. Mereka sadar namun tak gentar. Mereka hadapi semua itu hanya untuk bisa berperan memajukan pendidikan Indonesia.

Adalah Andreas Anus Aris, seorang jarti yang bertugas di SDN 07 Nanga Pak, Kecamatan Sayan Kabupaten Melawi Provinsi Kalimantan Barat. Sebagai jarti, dia tidak disediakan tempat menginap di sekolah. Sehingga harus bolak-balik dari rumah ke sekolah dengan jarak tempuh selama 3 jam. Jalur darat dan sungai pun harus dilalui untuk sampai ke sekolah.

Begitu juga bagi Hersy Yuliarti, seorang jarti yang bertugas di SDN 03 Sebangki kabupaten Landak Provinsi Kalimantan Barat. Dia harus berangkat subuh untuk sampai ke sekolah dengan jarak tempuh 2 jam. Semua itu dilakukan karena ingin berbagi ilmu kepada siswa-siswi di daerah terpencil.

Lain halnya dengan Sabri, seorang jarti yang bertugas di SDN 03 Menggelai kecamatan Boyan Tanjung kabupaten Kapuas Hulu. Dia harus menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam untuk menuju ke sekolah. Lokasi sekolah yang terpencil mengharuskan dia berangkat lebih awal dan pulang menjelang petang. Jalur tempuhnya pun menantang. Sehingga perlu kehati-hatian demi menjalankan misi pendidikan.

Sekelumit kisah jarti ini adalah pembuktian bahwa mereka benar-benar peduli. Peduli pentingnya pendidikan untuk bangsa. Peduli untuk saling berbagi dan menginspirasi. Apapun yang mereka bisa lakukan untuk menjadikan mereka menjadi pribadi yang luar biasa. Mereka mengubah lelah menjadi gairah. Mengubah pesimis menjadi optimis. Mengubah jati diri menjadi bagian dari solusi.

Selamat berjuang. Tebarkan energi, teruslah mengedukasi, jadilah inspirasi ke pelosok negeri.

Published in Potret Pendidikan

Jakarta, Kemendikbud --- Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang sangat pesat, membuat peranan guru mengalami perubahan. Dulu guru adalah pendidik dan tempat bertanya segala hal, namun saat ini selain berperan sebagai pendidik dan pengajar, guru juga berfungsi sebagai penyaring informasi bagi siswa-siswanya.

"Di tengah kemajuan TIK ini, guru berperan penting sebagai penjaga gawang atau gatekeepers, yang membantu menapis pengaruh buruk internet dan media sosial bagi siswa-siswanya," katan Mendikbud saat membuka Rapat Koordinasi Pendayagunaan TIK untuk Pendidikan dan Kebudayaan, di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, Selasa (20/3/2018).

Menurut Muhadjir, fungsi guru sebagai pengajar sangat mungkin digantikan dengan berbagai fasilitas TIK, misalnya mesin pencari di internet. Namun peran guru sebagai pendidik tidak mungkin bisa digantikan dengan teknologi apapun. "Jangan sekali-kali menjadikan fasilitas TIK untuk menggantikan peran guru sebagai pendidik," ujarnya.

Mendikbud menyebut era saat ini sebagai era dimana sumber belajar melimpah ruah, namun tetap perlu disaring. Bagi Mendikbud, saat ini guru berperan penting sebagai penghubung sumber-sumber belajar (resource linkers) dan mengarahkan siswanya dimana menemukan sumber belajar yang tepat.

Kemudian, guru perlu mengembangkan diri sebagai fasilitator belajar siswa, dan fasilitas TIK berperan penting untuk mengoptimalkan proses belajar di era saat ini. "Guru harus bisa membimbing dan memberikan pemahaman kepada siswa mengenai 'untuk apa', bukan sekadar 'apa' dan 'bagaimana'," tutur mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang tersebut.

Mendikbud juga mengingatkan bahwa perkembangan TIK memiliki dua sisi yang berlawanan, yaitu sisi positif dan sisi negatif. "Kita tahu TIK sudah menjadi bagian dari kehidupan. Karena itu, jangan hanya melihat sisi positifnya saja, tetapi juga harus diwaspadai dampak negatifnya," tambah Muhadjir.

Sisi positif perkembangan TIK antara lain masyarakat sudah tidak lagi kesulitan mengakses informasi dan beraneka sumber belajar, bahkan disebutnya sudah melimpah ruah. Tetapi tantangan terbesar adalah mendapatkan sumber belajar yang tepat, tepercaya, dan berkualitas.

Di sisi lain, terdapat beberapa ancaman yang mudah menyebar di media baru dan memengaruhi generasi muda. Hal-hal seperti penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang, paham radikalisme dan intoleransi, serta berbagai informasi palsu atau kabar bohong adalah contoh beberapa sisi negatif perkembangan TIK. Oleh karena itu Mendikbud mengajak masyarakat bijaksana memanfaatkan teknologi.

Published in Penjaminan Mutu

Singkawang - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy mengatakan, pendidikan karakter diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan.

Penguatan pendidikan karakter ini adalah amanah dari janji presiden dan wakil presiden yang tertuang di dalam program aksi Jokowi JK, kemudian diterjemahkan lebih lanjut sebagai bagian dari nawacita. Pendidikan karakter diterapkan pada jenjang dasar SD dan SMP. Materi jenjang waktu yakni 70 persen pendidikan karakter dan 30 persen pengetahuan.

"Berarti sekolah SD dan SMP harus berubah. Harus ada restorasi pendidikan," katanya dalam kegiatan seminar pendidikan dalam rangka HUT PGRI dan Hari Guru Nasional (HGN) 2017 di Kantor Wali Kota Singkawang, Jalan Firdaus, Kamis (28/12/2017).

Lebih lanjut ia menjelaskan, bila di sekolah SD dan SMP masih padat dengan memberi pengetahun pada peserta didik, itu tidak zamannya lagi. Ia menilai di SD dan SMP harus berisi penguatan karakter pada siswa. Hal ini karena pendidikan karakter adalah pondasi dari pendidikan lebih lanjut.

"Kalau pondasinya kokoh apapun di atasnya dibangun itu pasti kokoh juga," tegasnya. Khusus tingkat SMA dan SMK juga sama diterapkan, tetapi penyiapan untuk memasuki dunia kerja atau melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

 

Sumber : http://pontianak.tribunnews.com

Published in Warta Pendidikan

Tabalong - Sejak melakoni profesi guru pada 2011 lalu, Zainatir mengajar di SDN Waling 2, Desa Waling Kecamatan Bintang Ara, Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).
Jarak desa ini dari pusat kabupaten sekitar 45 menit perjalanan bersepeda motor. SD itu hanyalah sekolah kecil yang jumlah muridnya 44 orang.
Guru yang mengajar di  sekolah berjumlah 13 orang, sudah termasuk kepala sekolah. Zainatir adalah guru kelas V. Kelasnya hanya berisi sembilan murid.
"Rasanya berat. Saya bakal rindu. Terutama para pengajarnya, kami sudah seperti keluarga. Tak ada dusta diantara kami," ujarnya.


Zainatir duduk di ruang dewan guru yang sempit dan sederhana. Ruangan itu tak ada komputer, proyektor, apalagi televisi layar datar.
Ruangan itu hanya berisi meja kayu, kursi plastik, dan papan pengumuman berisi daftar nama guru.
Ditemani teh panas dan tempe goreng dia mengawali cerita seperti apa kronologi dia bisa dikirim untuk mengajar ke Kuala Lumpur, Malaysia.


Zainatir yang selama ini guru dari SD terpencil ini tidak pernah menyangka sendiri bisa mengalahkan dua ribu guru terbaik se-Indonesia.
Bulan Mei silam dia mengikuti seleksi proses pengiriman guru untuk mengajar di luar negeri. Tes yang diikuti pun  cukup menguras energi.
Alhasil pada tahap pertama dia bisa terpilih untuk seleksi selanjutnya. Tes tahap awal itu hanya menyisakan 104 guru. Nama Zainitir masuk salah satunya.
Lantas dia mengikuti tes pada tahap kedua di Jakarta pada Agustus lalu.  Di tes kedua ini Zainatir juga dinyatakan lolos bersama tiga guru lainnya.
Satu guru berasal dari Jawa Barat, seorang lagi dari Sumatera Barat, ditambah dari Sulawesi Selatan, dan Zainatir dari Kalimantan Selatan.
Keempatnya diberi kesempatan oleh Kemendikbud untuk mengajar di luar negeri. Dua guru dikirim ke Jeddah, seorang guru ke Riyadh, dan Zainatir ke Kuala Lumpur.


"Awalnya suami yang lihat pengumuman seleksi itu di situs Kemendikbud. Dia pengen betul ikut, tapi kurang syarat administrasi. Dia lalu pinta saya mencoba," kisah wanita kelahiran Pasar Panas, Tabalong ini.
Dikatakannya tes dianggapnya cukup berat. Seluruh peserta dituntut harus bisa menulis dan berbicara dalam Bahasa Inggris. Di depan juri, satu demi satu peserta diminta memeragakan caranya mengajar.
"Pak Hakim bilang saya pasti menang. Saya orangnya realistis, melihat saingan sebanyak itu rasanya mustahil," aku ibu satu anak ini.  Marzuki Hakim adalah Kepala Dinas Pendidikan Tabalong.


Lantas, apa rahasia di balik keberhasilan Zainatir?
Ramadan lalu, ternyata ia meminta didoakan oleh sang ibu pada malam Lailatul Qadar. Malam-malam dengan hitungan ganjil pada 10 hari terakhir bulan puasa.
"Kalau berdoa sendiri makbulnya lambat, tapi doa seorang ibu setaraf doa para wali," jawab guru 30 tahun itu.
Sekarang, Zainatir sedang menyiapkan keberangkatan ke Kuala Lumpur. Kontrak awal tiga tahun mengajar, dimulai dari Januari tahun depan.
"Sekarang asik browsing, baca-baca di internet, bagaimana sih budaya orang di sana," ujarnya.
Kini dia juga mempersiapkan diri untuk menjalani hubungan jarak jauh dengan suami dan anak-anak. Sebab, Zainatir tak bisa langsung memboyong sang suami ke Malaysia. "Bagaimana rasanya LDR-an? Wah, saya jadi blank!" ujarnya

 

Sumber : http://www.jawapos.com

Published in Potret Pendidikan

Jakarta - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menaikkan nilai minimal atau passing grade kelulusan ujian pendidikan dan latihan profesi guru (PLPG), dari sebelumnya 42 menjadi 80.
Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud Sumarna Surapranata mengatakan, keputusan itu mengacu pada laporan Bank Dunia. Nilai uji kompetensi guru, baik yang sudah sertifikasi maupun belum, tidak berbeda signifikan
Nah, dengan meningkatkan nilai minimal kelulusan sertifikasi, diharapkan bisa diketahui perbedaan kualitas antara guru yang sudah sertifikasi dan belum.
Standar minimal kelulusan sebesar 42 poin dinilai terlalu rendah. Guru calon peserta sertifikasi tidak perlu resah. Sebab, lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) telah melakukan sosialisasi. Kebijakan itu sudah dikaji satu tahun terakhir.
Pranata optimistis para guru bisa mengejar nilai minimal kelulusan. "Jangan remehkan guru," katanya. Dilihat dari sebaran nilai UKG, banyak guru peserta sertifikasi 2016 yang nilainya lebih dari 80 poin. Memang ada potensi guru yang tidak lulus. Tapi, Kemendikbud memberikan kesempatan untuk mengulang.
Peserta yang mengulang tidak perlu mengikuti proses sertifikasi dari awal. Bisa langsung mengikuti ujian. Kesempatan mengulang dipatok sampai empat kali. Teknis pelaksanaan ujian ulangan akan ditetapkan berikutnya.
Salah satu kampus yang menyelenggarakan sertifikasi guru adalah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Rektor UNY Roch­mad Wahab mengatakan, sertifikasi bakal dilaksanakan Oktober. Menurut Rochmad, kenaikan nilai minimal kelulusan PLPG memang cukup tinggi. "Apakah itu realistis, kita lihat nanti hasilnya," katanya.
Meski nilai kelulusan cukup tinggi, Rochmad menjelaskan bahwa kampus tetap profesional. Tidak akan ada modifikasi nilai. Kampus akan menyebarkan kisi-kisi ujian. Sifatnya umum. Bukan mengarah atau menambah prediksi soal ujian.
Rochmad berharap para guru mulai bersiap. Guru yang belajar dan mempersiapkan diri dengan baik pasti tidak akan kesulitan. Se­baliknya, bagi guru yang belum apa-apa sudah down melihat passing grade itu, pasti akan kesulitan.
Sertifikasi guru 2016 rencananya dilaksanakan bulan ini. Sebelum itu, guru peserta akan dikarantina di kampus selama sepuluh hari.

 

Sumber : http://www.jawapos.com

Published in Penjaminan Mutu
Jakarta - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun ini akan mengirimkan 3.000 sarjana pendidikan untuk mengajar di 56 kabupaten di Indonesia. Para sarjana pendidikan itu merupakan peserta program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) tahun 2016, yang telah lulus semua tahap seleksi sebagai calon guru program SM-3T.
 
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikbud, Sumarna Surapranata mengatakan, pelaksanaan SM-3T sudah berjalan selama lima tahun di bawah Ditjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud saat itu, dan di bawah Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Tahun ini yang merupakan tahun ke-6 pelaksanaan SM-3T, pengelolaannya berada di bawah Ditjen GTK Kemendikbud.
 
“Dalam pelaksanaannya, SM-3T melibatkan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dari 12 perguruan tinggi negeri, Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), Badan Intelijen Negara (BIN), Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi, serta perwakilan pemerintah kabupaten (dinas pendidikan) yang menjadi lokasi sasaran SM-3T,” ,” ujar Pranata dalam acara Koordinasi Penetapan Penempatan Calon Peserta SM-3T di Jakarta, Kamis (25/8/2016).
 
Ia mengatakan, SM-3T juga menjadi wadah bagi calon guru untuk program Guru Garis Depan (GGD). Setelah mengikuti SM-3T selama setahun di sebuah daerah, para lulusan SM-3T akan mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG), kemudian mendapat kesempatan untuk diprioritaskan dalam seleksi program GGD.
 
“Sehingga ketika guru garis depan itu sudah ditempatkan sebagai guru PNS di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T), mereka bisa bertahan karena sudah punya pengalaman mengajar di program SM-3T selama satu tahun,” katanya.
 

Angkatan ke-6 program SM-3T akan dilepas ke daerah sasaran pada 1 September 2016. Pelepasannya secara simbolis akan dilakukan pada tanggal 31 Agustus 2016 secara telekonferensi. Pada tanggal 24 s.d 26 Agustus 2016 Kemendikbud menggelar Koordinasi Penetapan Penempatan Calon Peserta SM-3T untuk membuat sinergi semua pihak yang terkait dalam SM-3T tahun 2016.

 

Sumber : http://www.kemdikbud.go.id

Published in Warta Pendidikan

Pontianak - Profesi guru dan tenaga kependidikan harus dihargai dan dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat sebagaimana diamanatkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Hal ini dikarenakan guru dan tenaga kependidikan merupakan tenaga profesional yang mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat penting dalam mencapai visi pendidikan 2025 yaitu “Menciptakan Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif”. Setelah mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG) yang berlangsung secara serentak di seluruh Indonesia, guru secara sadar berupaya untuk belajar memperbaiki kompetensinya untuk menuju guru yang profesional. Guru yang profesional wajib terus belajar dan melakukan pengembangan keprofesian berkelanjutan sehingga terwujud sebagai guru pembelajar. Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar merupakan proses penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar dalam rangka meningkatkan kemampuan dan kompetensi guru dalam melaksanakan tugas profesinya. Peningkatan kemampuan tersebut mencakup kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk perbaikan dan pertumbuhan kemampuan (abilities), sikap (attitude), dan keterampilan (skill). Dari kegiatan ini diharapkan akan menghasilkan suatu perubahan perilaku guru yang secara nyata perubahan perilaku tersebut berdampak pada peningkatan kinerja guru dalam proses belajar mengajar di kelas. Guru sebagai pembelajar menjadikan Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar sebagai salah satu cara untuk memenuhi standar kompetensi guru sesuai dengan tuntutan profesi dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar menjadi bagian penting yang harus selalu dilakukan secara terus menerus atau berkelanjutan untuk menjaga profesionalitas guru. Oleh karena itu, Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar harus dirancang untuk memberikan pengalaman baru dalam membantu meningkatkan kompetensi sesuai bidang tugasnya agar guru memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan meningkatkan sikap perilaku yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik sesuai tanggung jawabnya. LPMP Kalimantan Barat bersama dengan P4Tk PLB Bandung pada tanggal 19 hingga 21 Agustus 2016 ini tengah melakukan Survey Pusat Sumber Belajar yang berada di 10 Kabupaten yang ada Provinsi Kalimanatan Barat. Survey ini dilakukan untuk melihat kesiapan dari Pusat Sumber Belajar yang ada dan dilakukan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat. Berikut pedoman Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar.

Published in Penjaminan Mutu
Jakarta - Pemerintah berencana akan menguji kompetensi terhadap seluruh guru pada akhir November tahun ini. Ujian ini dilakukan sebagai pemetaan terhadap kompetensi yang dimiliki guru. Ujian akan digelar di sebanyak 5.000 tempat uji kompetensi (TUK).

 

 

 

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Sumarna Surapranata menyampaikan, selama ini pemerintah baru memiliki potret uji kompetensi guru (UKG) terhadap 1,6 juta guru. Dari jumlah tersebut, kata dia, hanya 192 orang yang kompetensinya di atas 90. "Akhir November akan menguji seluruh guru tanpa kecuali," katanya saat memberikan keterangan pers di Kemendikbud, Jakarta, Senin (7/10/2015).

 

 

Sumarna mengatakan, dengan ujian ini akan diketahui kemampuan guru. Bagi guru yang kompetensinya kurang, kata dia, akan diberikan pembekalan melalui pengembangan profesi berkelanjutan. "Tidak melulu tatap muka, tetapi bisa daring," katanya.

 

 

 

Guru-guru akan dikelompokkan sesuai kemampuannya mengacu pada hasil ujian tersebut. Mereka yang meraih skor tinggi cukup mengikuti pembekalan wajib selama 4-10 jam. Sementara yang meraih skor kurang akan lebih banyak jumlah jamnya.

 

Sumarna menyebutkan, saat ini rata-rata nilai UKG 4,7. Target renstra tahun ini, kata dia, rata-rata nilai UKG 5,5. "Nanti tahun 2019 rata-rata kompetensi guru 8,0," katanya.

 

 

Untuk mencapai target tersebut, lanjut Sumarna, berbagai macam perlakuan dilakukan terhadap guru. Namun demikian, kata dia, peningkatan kompetensi guru bukan melulu tugas pemerintah, tetapi kewajiban individu guru juga ada. "Target kita adalah melakukan ujian terhadap mereka dan akan dilakukan peningkatan kompetensi," katanya.

 

Sumber : http://kemdikbud.go.id

Published in Penjaminan Mutu
Halaman 1 dari 6