Jakarta, Kemendikbud – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) kembali menyelenggarakan Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional. Tahun ini, sebanyak 694 guru yang merupakan perwakilan dari 34 provinsi akan berkompetisi dan berbagi inovasi serta kreativitas mereka dalam pembelajaran.

 

Pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional berlangsung mulai 13 sampai dengan 18 Agustus 2019, di beberapa lokasi di Jakarta. Ada 28 kategori penilaian yang diikuti oleh para peserta. Kesiapan Kemendikbud dalam penyelenggaraan Pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal GTK, Supriano, dalam Taklimat Media di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Senin siang (12/8/2019).

 

Supriano menyampaikan, kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap para guru yang telah melahirkan inovasi dan menunjukkan kreativitas dalam pembelajaran. Selain itu, pemberian apresiasi terhadap guru sejalan dengan program pembangunan lima tahun ke depan yang berfokus pada pembangunan sumber daya manusia.

 

“Output peserta didik yang unggul ada peran serta guru di situ, karena mereka mendapat pelayanan pendidikan dan kompetensi sesuai kebutuhan,” ujar Supriano. Melalui pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi, guru didorong untuk menghasilkan berbagai praktik baik dalam pembelajaran yang mampu menghasilkan peserta didik yang unggul.

 

Sekretaris Direktorat Jenderal GTK, Muhammad Qudrat Wisnu Aji, menambahkan, selain mengikuti serangkaian penilaian, para guru juga akan mengikuti Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) pada 16 Agustus 2019. “Sebagian peserta juga nanti akan mengikuti upacara 17 Agustus di Istana Negara,” tutur Wisnu Aji.

 

Ke-694 orang peserta Pemilihan GTK ini tahun ini terdiri dari 111 guru PAUD, 113 guru pendidikan dasar, 163 guru pendidikan menengah, dan 307 tenaga kependidikan. Para peserta telah berhasil melalui seleksi bertahap mulai dari tingkat kabupaten/kota sampai dengan provinsi sehingga mampu menjadi wakil daerahnya pada ajang Pemilihan GTK Tahun 2019.

Published in Warta Pendidikan
Kamis, 15 November 2018 07:33

Info Verval PTK ( NUPTK )

Dikarenakan akan dilakukan penataan sistem beserta database pengelolaan NUPTK di vervalptk, maka mulai tanggal 1 Desember 2018 sampai dengan waktu ditentukan berikutnya (setelah data master referensi PTK dan sistem kondisi stabil), pengajuan penerbitan bagi calon penerima NUPTK akan di tutup sementara. Proses penerbitan NUPTK bagi guru yang telah melakukan pengajuan NUPTK sebelum tanggal 1 Desember 2018 tetap berjalan seperti biasa. Operator sekolah diharapkan segera melakukan pengajuan penerbitan NUPTK bagi calon penerima NUPTK.

 

Proses Aproval Perbaikan Data Master dilakukan oleh Dinas setempat bukan oleh Pusat, jika belum dilakukan aproval silahkan kordinasi dengan operator Dinas. Perbaikan data master hanya dapat diajukan sebanyak 2 (dua) kali, setelah itu tidak dapat mengajukan perbaikan data master.

Published in Pengumuman

Jakarta, Kemendikbud -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) menyampaikan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terus berupaya mengangkat kembali posisi guru sebagai profesi terhormat. Selain terus berupaya memenuhi hak dan memperbaiki kesejahteraan para guru, pemerintah juga mendorong agar guru semakin berdaya sesuai dengan profesinya.

"Saat ini kita sedang berusaha keras menjadikan guru sebagai pekerjaan profesional. Sehingga tidak sembarang orang menangani pekerjaan guru," disampaikan Mendikbud Muhadjir Effendy dalam sambutannya pada Lokakarya Hari Guru Sedunia Tahun 2018, di kantor Kemendikbud, Jakarta, Selasa (2/10).

Guru, menurut Mendikbud, adalah 'akar rumput' pendidikan nasional. Perannya sangat penting, meski seringkali dianggap remeh karena posisinya. "Tidak akan ada pendidikan yang 'menghijau' jika tidak ada guru. Dan juga pendidikan tidak akan subur kalau gurunya, tidak 'subur'. Karenanya, sebelum bicara tentang pendidikan yang berkualitas, sejahterakan guru. Dan beri dia status yang membikin dia bangga, sehingga dia memiliki self-dignity," tuturnya.

Ditambahkannya, saat ini Kemendikbud terus berupaya memberikan hak-hak guru agar memiliki martabat dan kepercayaan diri. Diyakini Mendikbud, hal tersebut dapat mendorong kualitas proses pembelajaran yang lebih baik.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah mendorong jelasnya status guru. Namun, dengan keterbatasan kemampuan pemerintah, pengangkatan guru tidak bisa dilakukan serta merta, tetapi bertahap. "Setelah tes CPNS ini, masih ada peluang untuk guru yang usianya sudah 35 tahun untuk mengikuti tes calon pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja," ujar Muhadjir.

Menjadi guru profesional

Sekarang ini, menurut Mendikbud, tugas Kemendikbud adalah mendorong para guru dapat menjadikan peserta didiknya cerdas dan berkarakter. Untuk itu, pola pelatihan guru akan diubah agar semakin memberdayakan dan memperkuat posisi guru sebagai tenaga profesional.

Setidaknya terdapat tiga hal yang menjadikan guru sebagai profesi yang terpandang. Yang pertama adalah kompetensi inti (keahlian). Hal ini mencakup kecakapan pedagodis dan juga kepribadian (karakter) pendidik. Kedua, adalah kesadaran dan tanggung jawab sosial.

"Dia abdikan dirinya untuk kepentingan keahliannya, dan manfaat keahliannya dia persembahkan untuk kepentingan masyarakat. Kalau tidak, maka pekerjaan profesional itu justru bisa membahayakan banyak orang," kata Mendikbud.

Dan yang ketiga adalah adanya semangat kesejawatan dan kebanggaan terhadap korpsnya. Salah satu ciri profesi, menurut Mendikbud, adalah adanya asosiasi profesi.

"Asosiasi profesi itu untuk saling mengasah kemahiran, kecakapan, bersama-sama. Saling tukar menukar pengalaman tentang ilmu dan keahliannya. Seharusnya asosiasi guru juga demikian," ujar Muhadjir.

Peningkatan Kualitas Proses Pembelajaran

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Supriano, mengajak guru meningkatkan kualitas pembelajaran untuk menghadapi tantangan abad 21. Guru diharapkan menghadirkan pembelajaran yang mendorong aktivitas (belajar untuk mempraktikkan) dan kompetensi. Serta pembelajaran yang mengasah keterampilan berfikir tingkat tinggi/high order thinking skills.

Menurut Dirjen Supriano, fokus pelaksanaan program Ditjen GTK di tahun 2019 adalah mendorong peningkatan kualitas pembelajaran di kelas. Pengembangan kompetensi guru akan merujuk pada potret mutu yang sudah cukup spesifik, seperti analisis hasil ujian nasional. Dicontohkannya, jika nilai matematika pada ujian nasional di suatu zona masih rendah, maka para guru di dalam zona tersebut akan berdiskusi tentang strategi peningkatan mutu mata pelajaran matematika di zona tersebut.

"Ada masalah apa? Geometri atau Aljabarnya atau Kalkulusnya? 'Kan ada guru di zona itu yang pintar materi itu, nanti didiskusikan di MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) di zona itu. Jadi namanya peningkatan kompetensi proses pembelajaran," jelas Dirjen GTK.

Melalui pendekatan sistem zonasi, pemerintah akan mendorong pelatihan guru profesional oleh MGMP dan Kelompok Kerja Guru (KKG). "Yang menyiapkan guru inti dan instruktur kabupaten/kota itu Ditjen Dikdasmen (Pendidikan Dasar dan Menengah). Kami di Ditjen GTK yang menyiapkan model pembelajarannya, kemudian unit-unit pembelajaran, bukan modul. Guru inti menjadi fasilitator bersama guru-guru di zona itu," tuturnya.

Paradigma guru masa kini hendaknya menjawab empat tantangan besar, di antaranya revolusi industri 4.0, globalisasi, kebutuhan domestik terkait daya saing dan penyediaan tenaga kerja, serta mendidik generasi Z. Perubahan dunia yang begitu cepat dan tidak linear ini mengubah cara bekerja dan belajar. Untuk itu, pendidikan masa depan, menurut Dirjen GTK, harus berpusat pada siswa, baik secara aspek akademis, juga kepribadian/karakter.

Menyoal posisi guru di era revolusi industri 4.0, Dirjen Supriano mengingatkan agar para guru tidak melupakan perannya sebagai pendidik. Guru harus mampu menjadi teladan agar bisa menjalankan pendidikan karakter yang sangat penting di masa depan. "Dengan perkembangan teknologi, mengajar bisa dilakukan tanpa guru. Kalau cuma mengajar saja, guru bisa digantikan. Sebagai pendidik, guru masih akan dibutuhkan sampai kapanpun," katanya.

Lokakarya Nasional Hari Guru Sedunia

Hari Guru Sedunia dirayakan tanggal 5 Oktober setiap tahun di seluruh dunia dengan mengikutsertakan pemerintah dan lembaga pemerintah, organisasi multi-dan bilateral, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), sektor swasta, akademisi dan perguruan tinggi, guru dan ahli di bidang pendidikan. Dengan diadopsinya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG- 4 tentang Pendidikan Berkualitas, dan target khusus (SDG 4.c) yang mengakui bahwa Guru sebagai kunci pencapaian Agenda Pendidikan pada tahun 2030. Hari Guru Sedunia menjadi kesempatan meraih pencapaian SDG-4 dan juga memberikan langkah-langkah nyata untuk mengatasi tantangan dalam bidang pendidikan, terutama terkait dengan profesi dan profesionalisme guru.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud menjadi salah satu penerima Penghargaan UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization)-Hamdan bin Rashid Al-Maktoum untuk Praktik Luar Biasa dan Kinerja dalam Meningkatkan Efektivitas Guru tahun 2018. Penghargaan UNESCO-Hamdan bin Rashid Al-Maktoum akan diserahkan oleh Direktur General UNESCO kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tanggal 5 Oktober 2018, di Kantor Pusat UNESCO, Paris, Perancis.

Lokakarya Nasional Hari Guru Sedunia Tahun 2018 diselenggarakan atas kerja sama Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kantor UNESCO Jakarta, dan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU). Mengangkat tema “Hak Atas Pendidikan berarti Hak Untuk Guru dan Tenaga Kependidikan Berkualitas”, lokakarya nasional dihadiri 350 peserta yang mewakili unsur guru dan tenaga kependidikan, kementerian dan lembaga (KL), universitas, sekolah internasional, lembaga internasional dan UN agencies, dan pemerhati, dan pakar pendidikan

Published in Warta Pendidikan
Selasa, 25 September 2018 19:29

JARTI, Penebar Inspirasi Pelosok Negeri

Pontianak - Jarti merupakam sosok mulia penebar inspirasi ke berbagai pelosok negeri. Mereka adalah pengajar pengganti (Jarti). Tugas mereka adalah menggantikan sementara para guru daerah khusus yang saat ini sedang mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG). Jarti  ditugaskan tersebar ke berbagai daerah terpencil, tertinggal dan terluar (3T) wilayah Indonesia. Jarti dikontrak selama 3 bulan mulai 1 September sampai dengan awal Desember 2018.

Tanpa Jarti  proses belajar mengajar di sekolah akan terganggu, padahal mutu pendidikan harus terjaga selalu. Tanpa mereka kegiatan di sekolah akan minus, karena siswa-siswinya tak bisa mengembangkan bakat dan kreativitasnya dengan serius. Tanpa mereka masa depan anak-anak di daerah akan terbelenggu, karena selama 3 bulan tiada guru yang mengajarkan ilmu. 

Jarti hadir membawa harapan. Harapan anak-anak di daerah 3T tetap mendapatkan pendidikan. Harapan anak-anak daerah 3T menatap masa depan. Harapan anak-anak daerah 3T mendapatkan keadilan sosial. Semua harapan ini adalah solusi pemerintah (Kemdikbud) untuk terus konsisten melayani seluruh warga negara untuk mendapatkan kemudahan akses pendidikan.

Jarti juga merupakan agen budaya. Mereka bisa saja membawa budaya untuk dikenalkan kepada siswa-siswi di daerah yang berbeda dengan suka cita. Jarti sebagai agen budaya adalah mengayakan pengetahuan siswa-siswi akan ragam budaya nusantara. Sebaliknya Jarti juga bisa mempunyai pengetahuan baru tentang budaya baru dimana dia mengajar di lingkungan baru.

Bagi jarti mengajar adalah pengabdian. Pengabdian tertinggi setiap warga kepada negaranya. Pengabdian tulus agar pendidikan berjalan mulus. Pengabdian mental yang tak lekang oleh medan dan tantangan alam. Mereka adalah pahlawan. Penakluk pegunungan, sungai, bukit dan jalan terjal. Mereka sadar namun tak gentar. Mereka hadapi semua itu hanya untuk bisa berperan memajukan pendidikan Indonesia.

Adalah Andreas Anus Aris, seorang jarti yang bertugas di SDN 07 Nanga Pak, Kecamatan Sayan Kabupaten Melawi Provinsi Kalimantan Barat. Sebagai jarti, dia tidak disediakan tempat menginap di sekolah. Sehingga harus bolak-balik dari rumah ke sekolah dengan jarak tempuh selama 3 jam. Jalur darat dan sungai pun harus dilalui untuk sampai ke sekolah.

Begitu juga bagi Hersy Yuliarti, seorang jarti yang bertugas di SDN 03 Sebangki kabupaten Landak Provinsi Kalimantan Barat. Dia harus berangkat subuh untuk sampai ke sekolah dengan jarak tempuh 2 jam. Semua itu dilakukan karena ingin berbagi ilmu kepada siswa-siswi di daerah terpencil.

Lain halnya dengan Sabri, seorang jarti yang bertugas di SDN 03 Menggelai kecamatan Boyan Tanjung kabupaten Kapuas Hulu. Dia harus menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam untuk menuju ke sekolah. Lokasi sekolah yang terpencil mengharuskan dia berangkat lebih awal dan pulang menjelang petang. Jalur tempuhnya pun menantang. Sehingga perlu kehati-hatian demi menjalankan misi pendidikan.

Sekelumit kisah jarti ini adalah pembuktian bahwa mereka benar-benar peduli. Peduli pentingnya pendidikan untuk bangsa. Peduli untuk saling berbagi dan menginspirasi. Apapun yang mereka bisa lakukan untuk menjadikan mereka menjadi pribadi yang luar biasa. Mereka mengubah lelah menjadi gairah. Mengubah pesimis menjadi optimis. Mengubah jati diri menjadi bagian dari solusi.

Selamat berjuang. Tebarkan energi, teruslah mengedukasi, jadilah inspirasi ke pelosok negeri.

Published in Potret Pendidikan

Jakarta, Kemendikbud --- Perubahan yang sangat cepat menghadirkan tantangan dalam dunia pendidikan. Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) memegang peranan penting dalam penyiapan generasi muda yang mampu menghadapi berbagai tantangan zaman. Melalui Pemilihan GTK Beprestasi dan Berdedikasi tahun 2018, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mendorong semakin banyak guru yang mampu menyiapkan peserta didik menjadi generasi emas Indonesia.

"Pendidik dan tenaga kependidikan adalah agen perubahan di daerah. GTK berprestasi dan berdedikasi inilah yang akan menjadi role model (teladan) di daerahnya masing-masing," disampaikan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Supriano, pada pembukaan Pemilihan GTK Beprestasi dan Berdedikasi tahun 2018, di Jakarta, Minggu (12/8).

Menurut Dirjen GTK, Kemendikbud telah menggulirkan tiga kebijakan besar dalam rangka menyiapkan generasi emas penerus bangsa di era yang semakin global. Pertama adalah gerakan literasi nasional. Literasi bukan hanya terkait baca tulis saja, tetapi juga terkait informasi
literasi teknologi, khususnya digital. "Negara yang mampu bersaing adalah yang mampu menguasai teknologi, informasi, sumber daya, dan bisnis," kata Supriano.

Kedua, pembelajaran abad 21 yang salah satunya diupayakan melalui Kurikulum 2013. Menurut Dirjen GTK, terdapat 4 kompetensi dasar yang wajib dimiliki setiap peserta didik, yakni kompetensi untuk berfikir kritis (critical thinking). Kemudian kemampuan berkomunikasi, baik melalui media maupun secara interaksi langsung. Setelah itu, kemampuan berkolaborasi dan kerja sama. Dan yang terakhir adalah kreativitas untuk menghasilkan inovasi.

Masa depan yang serba tidak pasti dan ditandai dengan perubahan yang sangat cepat di berbagai bidang mendorong pemerintah melakukan pengembangan kurikulum. Selain kompetensi, menurut Dirjen GTK, pemerintah memandang perlu menguatkan karakter peserta didik yang merupakan generasi penerus bangsa. "Ketiga, yang paling penting adalah karakter. Banyak orang cerdas, tetapi gagal karena tidak memiliki karakter yang baik. Dalam panduan kita jelas, nasionalis, religius, mandiri, gotong royong, dan kejujuran (integritas)," ungkap Supriano.

Dilanjutkan Supriano, bahwa pendidikan karakter tidak bisa diceramahkan saja, tetapi harus ditumbuhkan dan dibiasakan melalui contoh dan teladan bapak dan ibu guru. Untuk itulah, pendidik menjadi kunci keberhasilan program penguatan pendidikan karakter (PPK) yang digulirkan pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017.

Kegiatan Pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi Tahun 2018 diikuti 914 peserta dari berbagai jenjang pendidikan mulai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai Pendidikan Menengah, termasuk perwakilan Sekolah Indonesia di Luar Negeri (SILN). Pengumuman pemenang untuk setiap kategori akan dilakukan pada tanggal 15 Agustus 2018.

Menutup sambutannya, Dirjen GTK berpesan agar kompetisi yang akan dilalui dapat dipandang sebagai pembelajaran, dan bukan sekadar kompetisi yang menghasilkan juara saja. Perwakilan yang hadir dari berbagai provinsi di tanah air diharapkan dapat menjalin komunikasi dan semangat saling berbagi wawasan serta pengetahuan agar mempercepat pemerataan mutu pendidikan. "Tujuan kita, bagaimana mengeratkan bangsa ini melalui pendidikan," pesan Dirjen GTK.

Sinergi Peningkatan Kualitas Pendidikan

Mendatang, program peningkatan kompetensi guru akan difokuskan pada perbaikan proses pembelajaran. Kemendikbud mendorong guru untuk dapat membantu peserta didik menguasai kompetensi abad 21 dan karakter yang baik. "Jadi, kita akan berfokus pada proses pembelajaran yang menyenangkan dan bisa mendorong pencapaian empat kompetensi abad 21 (critical thinking, creativity, collaboration, communication)," kata Dirjen GTK.

Supriano mengajak guru untuk tidak mudah puas dan terus meningkatkan kompetensinya. Praktik baik berbagi pengetahuan dan pengalaman melalui kelompok profesi sangat diharapkan. Dan bagi guru yang telah mendapatkan tunjangan profesi agar dapat mengalokasikan sebagian dana tersebut untuk pengembangan diri.

"Praktik peningkatan kompetensi dari guru belajar dari sesama guru itu sangat penting. Untuk itu, kita harapkan, tunjangan profesi guru itu juga dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kompetensi," ujarnya.

Sinergi antara unit-unit utama di Kemendikbud akan diperkuat. Saat ini, apa yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) GTK diarahkan untuk dapat melengkapi kebijakan yang dilaksanakan oleh Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) yang mengelola pembinaan satuan pendidikan. Penyelarasan program antara Ditjen GTK dan Ditjen Dikdasmen terkait pembenahan sekolah akan disinkronkan dan diperkuat lagi.

"Apa yang menjadi program Dikdasmen akan kita dukung dari sisi gurunya. Pendidikan kita bangun secara komprehensif, tidak parsial dan berjalan sendiri-sendiri. Ketika zonasi diterapkan, kita akan 'keroyok' bersama-sama," pungkasnya. 

Published in Penjaminan Mutu

Jakarta, Kemendikbud --- Sebanyak 1.296 orang mengikuti Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional Tahun 2018. Mereka terdiri dari guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, laboran, tenaga perpustakaan, dan kepala administrasi dari jenjang PAUD, SD, SMP, SMA, dan SMK. Ajang apresiasi ini diselenggarakan secara rutin oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK).

Sekretaris Ditjen GTK, M. Qodrat Wisnu Aji mengatakan, Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional Tahun 2018 diselenggarakan mulai tanggal 11 s.d. 18 agustus 2018 di enam lokasi di Jakarta. Sebelum dinyatakan lolos ke tahap nasional, para peserta diseleksi secara ketat, transparan, dan terukur, agar dapat memberikan rasa bangga dan memotivasi guru dan tenaga kependidikan.

“Penetapan pemenang oleh tim penilai akan dilaksanakan tanggal 15 Agustus 2018, dan pengumuman pemenang serta pemberian apresiasi akan dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2018 oleh Mendikbud,” ujarnya saat menyampaikan laporan dalam acara pembukaan Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional Tahun 2018 di Jakarta, Minggu pagi (12/8/2018).

Kegiatan  ini, katanya, merupakan bagian dari rangkaian acara untuk memperingati Hari Ulang Tahun ke-73 Kemerdekaan RI. Tahun ini, Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional mengangkat tema “Berkarya untuk Kemajuan Pendidikan dan Kebudayaan”.

Dalam sambutannya, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Supriano kembali menegaskan pentingnya penerapan pendidikan karakter untuk peserta didik. Ia menuturkan, guru dan tenaga kependidikan harus bisa menerapkan pendidikan karakter dan menjadi teladan bagi peserta didik di sekolah. “Suksesnya pendidikan karakter ada di tangan guru dan tenaga kependidikan juga. Maju mundurnya bangsa ini ada di tangan kita semua,” katanya.

Supriano juga mengucapkan selamat kepada para guru dan tenaga kependidikan yang telah lolos seleksi hingga tahap nasional. “Selamat mengikuti tahap berikutnya,” tuturnya. Ia juga berpesan agar para peserta tidak hanya berpikir atau bertujuan untuk menjadi juara 1, 2, atau 3 dalam ajang apresiasi ini. “Bapak/Ibu sudah menjadi pemenang. Yang paling penting adalah kembali ke tempat asal dan bisa melakukan perubahan. Pikirkan bagaimana merekatkan bangsa ini melalui pendidikan,” ujar Supriano. 

Published in Warta Pendidikan

Jakarta, Kemendikbud --- Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang sangat pesat, membuat peranan guru mengalami perubahan. Dulu guru adalah pendidik dan tempat bertanya segala hal, namun saat ini selain berperan sebagai pendidik dan pengajar, guru juga berfungsi sebagai penyaring informasi bagi siswa-siswanya.

"Di tengah kemajuan TIK ini, guru berperan penting sebagai penjaga gawang atau gatekeepers, yang membantu menapis pengaruh buruk internet dan media sosial bagi siswa-siswanya," katan Mendikbud saat membuka Rapat Koordinasi Pendayagunaan TIK untuk Pendidikan dan Kebudayaan, di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, Selasa (20/3/2018).

Menurut Muhadjir, fungsi guru sebagai pengajar sangat mungkin digantikan dengan berbagai fasilitas TIK, misalnya mesin pencari di internet. Namun peran guru sebagai pendidik tidak mungkin bisa digantikan dengan teknologi apapun. "Jangan sekali-kali menjadikan fasilitas TIK untuk menggantikan peran guru sebagai pendidik," ujarnya.

Mendikbud menyebut era saat ini sebagai era dimana sumber belajar melimpah ruah, namun tetap perlu disaring. Bagi Mendikbud, saat ini guru berperan penting sebagai penghubung sumber-sumber belajar (resource linkers) dan mengarahkan siswanya dimana menemukan sumber belajar yang tepat.

Kemudian, guru perlu mengembangkan diri sebagai fasilitator belajar siswa, dan fasilitas TIK berperan penting untuk mengoptimalkan proses belajar di era saat ini. "Guru harus bisa membimbing dan memberikan pemahaman kepada siswa mengenai 'untuk apa', bukan sekadar 'apa' dan 'bagaimana'," tutur mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang tersebut.

Mendikbud juga mengingatkan bahwa perkembangan TIK memiliki dua sisi yang berlawanan, yaitu sisi positif dan sisi negatif. "Kita tahu TIK sudah menjadi bagian dari kehidupan. Karena itu, jangan hanya melihat sisi positifnya saja, tetapi juga harus diwaspadai dampak negatifnya," tambah Muhadjir.

Sisi positif perkembangan TIK antara lain masyarakat sudah tidak lagi kesulitan mengakses informasi dan beraneka sumber belajar, bahkan disebutnya sudah melimpah ruah. Tetapi tantangan terbesar adalah mendapatkan sumber belajar yang tepat, tepercaya, dan berkualitas.

Di sisi lain, terdapat beberapa ancaman yang mudah menyebar di media baru dan memengaruhi generasi muda. Hal-hal seperti penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang, paham radikalisme dan intoleransi, serta berbagai informasi palsu atau kabar bohong adalah contoh beberapa sisi negatif perkembangan TIK. Oleh karena itu Mendikbud mengajak masyarakat bijaksana memanfaatkan teknologi.

Published in Penjaminan Mutu

Singkawang - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy mengatakan, pendidikan karakter diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan.

Penguatan pendidikan karakter ini adalah amanah dari janji presiden dan wakil presiden yang tertuang di dalam program aksi Jokowi JK, kemudian diterjemahkan lebih lanjut sebagai bagian dari nawacita. Pendidikan karakter diterapkan pada jenjang dasar SD dan SMP. Materi jenjang waktu yakni 70 persen pendidikan karakter dan 30 persen pengetahuan.

"Berarti sekolah SD dan SMP harus berubah. Harus ada restorasi pendidikan," katanya dalam kegiatan seminar pendidikan dalam rangka HUT PGRI dan Hari Guru Nasional (HGN) 2017 di Kantor Wali Kota Singkawang, Jalan Firdaus, Kamis (28/12/2017).

Lebih lanjut ia menjelaskan, bila di sekolah SD dan SMP masih padat dengan memberi pengetahun pada peserta didik, itu tidak zamannya lagi. Ia menilai di SD dan SMP harus berisi penguatan karakter pada siswa. Hal ini karena pendidikan karakter adalah pondasi dari pendidikan lebih lanjut.

"Kalau pondasinya kokoh apapun di atasnya dibangun itu pasti kokoh juga," tegasnya. Khusus tingkat SMA dan SMK juga sama diterapkan, tetapi penyiapan untuk memasuki dunia kerja atau melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

 

Sumber : http://pontianak.tribunnews.com

Published in Warta Pendidikan
Halaman 1 dari 5