Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengadakan Forum Badan Koordinasi dan Kehumasan (Bakohumas) Kementerian/Lembaga sebagai bentuk komunikasi program kebijakan kepada humas pemerintah dan masyarakat. Hal ini sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo mengenai kehumasan pemerintah yang meminta semua program pemerintah harus disosialisasikan ke masyarakat.

Forum Bakohumas dengan tema “Pengembangan Teknologi Pendidikan Melalui Digitalisasi Sekolah” dibuka oleh Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (BKLM) Kemendikbud, Ade Erlangga Masdiana, di Gedung A Kemendikbud, Jakarta, Selasa (15/10/2019).  Dalam sambutannya, Ade Erlangga mengatakan, ada konsekuensi yang dihadapi dunia pendidikan dalam memasuki industri 4.0 sehingga harus berbasis teknologi informasi. “Kemendikbud merespons itu dengan digitalisasi sekolah," ujarnya.

Menurutnya, digitalisasi sekolah sudah sewajarnya mulai digalakkan. Hal ini didukung dengan statistik dari  Asosisasi Penyelenggaraan Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2019, yang merilis data bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 150 juta orang dengan jumlah penduduk sebanyak 260 juta jiwa. Dilihat dari latar belakang pendidikan, sebesar 88-persen berasal dari lulusan S2 dan S3, dan 79,23-persen merupakan lulusan sarjana atau diploma. Melalui program Digitalisasi Sekolah, diharapkan guru terbiasa menggunakan internet dan kegiatan belajar mengajar. Guru juga dapat lebih mudah mengimplementasikan digitalisasi dalam pembelajaran.

Forum Bakohumas ini menghadirkan Direktur Infokom Polhukam Kementerian Komunikasi dan Informasi, Bambang Gunawan. Bambang mengatakan, teknologi muncul untuk memecahkan masalah di Indonesia. “Platform juga hadir untuk memecahkan masalah pendidikan di Indonesia," ujarnya. Platform yang digunakan Kemendikbud dalam melancarkan digitalisasi sekolah yaitu Rumah Belajar. Rumah Belajar bisa diakses secara gratis oleh masyarakat melalui laman belajar.kemdikbud.go.id atau aplikasi Rumah Belajar di ponsel berjenis android. Dalam pengembangannya, Rumah Belajar membutuhkan kontribusi dari berbagai pihak, antara lain untuk mengisi konten Rumah Belajar.

Published in Warta Pendidikan

Jakarta, Kemendikbud --- Dalam diskusi kelompok terpumpun (DKT) Gerakan Literasi Nasional (GLN) Tahun 2019, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyampaikan bahwa ruh dari semua gerakan pendidikan adalah literasi. Guru Besar Universitas Negeri Malang itu mengingatkan agar makna literasi jangan direduksi sekadar membaca buku saja.

"Padahal literasi itu tidak hanya membaca buku saja. Melalui membaca itu kemudian seseorang memiliki perspektif baru. Kemudian dia juga membuat karya. Proses itu terjadi terus menerus sepanjang hayat," diungkapkan Menteri Muhadjir Effendy di depan para peserta Diskusi Kelompok Terpumpun GLN Tahun 2019 di Hotel Atlet Century, Jakarta, Rabu (21/8/2019).

Mendikbud berharap agar program literasi yang dijalankan dapat tertanam dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. "Bagaimana menanamkan sikap positif gemar membaca, gemar menulis, gemar berimajinasi, itu yang harus kita dorong. Terutama termasuk para guru, tutor, bahkan kepada para tokoh masyarakat. Menyadarkan mereka tentang betapa pentingnya literasi itu", ungkap Muhadjir.

Guru hendaknya dapat membimbing dan merangsang siswa untuk berkreasi dari referensi yang dibacanya. Tidak sekadar mewajibkan untuk membaca buku saja, tetapi memantik diskusi sehat yang melatih daya kritis dan kemampuan berkomunikasi.

"Gerakan literasi itu harus bisa merangsang anak untuk berimajinasi terhadap apa yang dia baca. Kemudian dia mengekspresikan mengenai apa yang dia baca. Kemudian dia bisa membuat karya yang lain dari apa yang sudah dibacanya tadi," jelas Muhadjir.

"Sekarang anak-anak bisa mendapatkan informasi, pengetahuan dari mana saja. Dari internet, makanya guru jangan terpaku literasi itu membaca buku saja," tambah Mendikbud.

Pada peta jalan GLN 2016—2019, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menetapkan enam literasi dasar yang wajib dikembangkan melalui tripusat pendidikan (sekolah, keluarga, dan masyarakat). Di antaranya literasi bahasa, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial serta literasi budaya dan kewarganegaraan.

Diskusi yang diselenggarakan Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan ini bertujuan untuk membangun sinergi dalam mengembangkan dan memperkuat Gerakan Literasi Nasional di Indonesia yang dilakukan oleh berbagai kementerian dan lembaga serta masyarakat.

Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Dadang Sunendar berharap diskusi dapat merumuskan rekomendasi agenda bersama lintas kementerian dan lembaga serta masyarakat dalam rangka penguatan kerja sama, pemberdayaan pegiat literasi dan fasilitasi kegiatan GLN.

Terdapat lima tema dalam DKT GLN Tahun 2019, yaitu: Peta Jalan GLN Tahun 2019—2024, Rancangan pembuatan Peraturan Presiden (Perpres)/Instruksi Presiden (Inpres) tentang GLN, Praktik/Aksi Baik GLN, Literasi Digital, dan Literasi Numerasi.

"Mendatang, kita akan coba fokus pada dua literasi, yaitu literasi digital dan literasi numerasi," kata Dadang Sunendar.

Published in Warta Pendidikan
Selasa, 13 Agustus 2019 07:25

Lomba Foto "Unggul Versi Kamu"

LOMBA FOTO "UNGGUL VERSI KAMU"

Mari ambil bagian dalam merayakan kemerdekaan Indonesia dengan menunjukkan "keunggulan" versi kamu. Kamu bisa menunjukkan kemahiran,  keahlian, kegemaran atau prestasi yang pernah kamu raih di berbagai bidang seperti akademik, seni, budaya, olahraga, religi, wirausaha, masak dan lain-lain.

Tema foto: "Unggul Versi Kamu”

Syarat peserta:

  1. Berlaku hanya bagi Warga Negara Indonesia (WNI);
  2. Berlaku hanya untuk siswa, guru, dan tenaga kependidikan.


Ketentuan umum lomba:

  1. Foto harus milik sendiri dan dapat dipertanggungjawabkan;
  2. Foto diambil dengan menggunakan kamera digital/ponsel pintar;
  3. Foto belum pernah dipublikasikan atau diikutsertakan dalam kompetisi foto lain;
  4. Foto yang diunggah boleh diedit hanya sebatas pencahayaan;
  5. Foto tidak boleh mengandung unsur komersil (merek dagang), SARA, pornografi, kekerasan, dan melecehkan seseorang atau kelompok tertentu;
  6. Pihak penyelenggara berhak menggunakan foto yang dilombakan untuk kepentingan promosi, namun hak cipta tetap pada pemilik foto;
  7. Keputusan penetapan pemenang tidak dapat diganggu gugat.


Tata cara lomba foto:

  1. Ikuti akun resmi instagram @kemdikbud.ri
  2. Unggah foto melalui akun instagram peserta (pribadi) dengan menyebut (mention) dan menandai (tag) akun instagram @kemdikbud.ri;
  3. Tulis keterangan (caption) yang menarik dan sesuai dengan foto yang diunggah;
  4. Sertakan tagar #UnggulVersiSaya, #Kuis74Dikbud, #SDMUnggul dan #IndonesiaMaju
  5. Daftarkan karya dengan mengisi formulir daring di tautan berikut: http://bit.ly/daftarfotounggulversikamu2019
  6. Batas akhir unggah foto 31 Agustus 2019, pukul 23.59 WIB.


Juara I, II, dan III berhak menerima uang tunai sebagai berikut:

  1. Juara 1: Rp3.000.000,- (Tiga juta rupiah)
  2. Juara 2: Rp2.000.000,- (Dua juta rupiah)
  3. Juara 3: Rp1.000.000,- (Satu juta rupiah)
  4. Ditambah 10 Finalis berhak mendapatkan bingkisan dari Kemendikbud
  • Pemenang akan diumumkan pada awal September 2019 di laman kemdikbud.go.id dan akun media sosial resmi Kemendikbud.
  • Pajak ditanggung oleh pemenang.
Published in Pengumuman
Jumat, 02 Agustus 2019 08:33

Panduan Bagi Gerakan Literasi di Sekolah

Jakarta, Kemendikbud – Sebagai panduan umum bagi pelaksanaan gerakan literasi di sekolah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) telah menerbitkan Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah pada bulan Oktober 2018. Namun dengan berlangsungnya Festival Literasi Sekolah 2019 pada  26 s.d 29 Juli 2019 lalu, para pemangku kepentingan kembali diingatkan pentingnya peran aktif semua pihak dalam upaya menggerakkan literasi di sekolah. Untuk itu, perlu ada suatu panduan yang menyertainya.
 
Desain Induk disusun agar pemangku kepentingan dapat memberikan arahan strategis bagi kegiatan literasi di lingkungan satuan pendidikan dasar dan menengah. Dengan tersedianya Desain Induk, diharapkan pemangku kepentingan dapat memahami fondasi dan arahan konseptual mengenai bagaimana sebaiknya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dilaksanakan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan.

Ke depan, Desain Induk diharapkan berkembang secara kreatif dan inovatif dari tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota hingga masyarakat pegiat literasi. Salah satu kegiatan di dalam GLS yang masih dijalankan di banyak satuan pendidikn hingga saat ini adalah kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal,
nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik.

Literasi dasar yang terdiri atas baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, budaya dan kewargaan merupakan bagian dari kecakapan abad XXI. Bersama dengan kompetensi dan karakter, ketiga hal tersebut akan bermuara pada pembelajaran sepanjang hayat. Program GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Silakan unduh Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah pada tautan di sini.

Published in Warta Pendidikan

Jakarta, Kemendikbud --- Membaca dapat diibaratkan membuka jendela dunia karena dengan membaca akan memperluas wawasan seseorang. Karena itu, kebiasaan membaca buku harus dimulai sejak usia dini. Pengenalan membaca buku diharapkan dimulai dari lingkup keluarga. Di sinilah pentingnya kontribusi orang tua yaitu membacakan buku sebagai bentuk pengasuhan untuk mengoptimalkan kemampuan berkoordinasi dan berbahasa sejak dini.

Menyadari pentingnya hal tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Direktorat Bindikel, Ditjen PAUD Dikmas) kembali melaksanakan Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (Gernas Baku).

“Alhamdulillah kita dapat berkumpul pagi ini untuk merayakan bersama Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku. Ini mempunyai tujuan yang mulia yaitu melekatkan emosi bunda, ayah dan anak. Kelekatan emosi orang tua dan anak akan memungkinkan jiwa anak tumbuh dengan sempurna serta mengenalkan kecintaan terhadap buku,” demikian disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dirjen PAUD Dikmas), Harris Iskandar, saat membuka acara Gernas Baku di PAUD KM 0, kantor Kemendikbud, Jakarta, pada Sabtu pagi (27/7/2019).

“Kalau ini dibiasakan akan menjadi budaya dan menjadikan Indonesia lebih baik. Orang membaca buku adalah orang yang bahagia. Kalau ingin membahagiakan anak, bacakan saja buku. Saya optimis sudah mulai banyak yang mengenal Gernas Baku. Artinya mereka sudah mengerti pentingnya itu, dan kita mendukung itu semua,” ujar Dirjen Harris.

Ditemui awak media usai acara, Harris menjelaskan bahwa pengasuhan anak harus berada di bawah orangtua, bukannya orang lain. “Oleh karena itu, tidak boleh salah satu lepas apalagi diserahkan pada pengasuh, kepada orang lain. Ini harus orang tuanya langsung, baik ibunya maupun bapaknya. Kesempatan ini jangan disia-siakan karena anak umur 4 s.d.5 tahun, bahkan usia SD merupakan umur yang sangat baik sekali untuk menumbuh kembangkan karakter-karakter baik yang kita inginkan,” terang Harris.

Diungkapkan Harris, ketersediaan buku berkualitas juga tidak kalah penting. Kondisi geografis Indonesia kadang menyulitkan distribusi buku ke daerah terpencil. “Tadi saya juga sudah tanya orang tua, alhamdulillah untuk di daerah Jakarta mungkin tidak ada masalah, maka itu kami ingin berdialog dengan orang tua di NTB dan Papua untuk mengecek apakah mereka memiliki kendala dalam membeli buku? Kalau di Jakarta tidak masalah. Saya juga mengalami setiap minggu itu membawa anak dan cucu itu banyak sekali buku. Cuma kan belum tentu untuk di daerah luar Jawa ketersediaan buku-buku yang bagus itu banyak. Hal ini penting karena tidak semua buku bagus,” ungkap Harris.

Hal yang tidak kalah memprihatinkan, lanjut Harris, adalah kondisi di mana anak-anak sejak usia dini sudah kecanduan gawai. Oleh karena itu, dengan adanya gerakan ini, diharapkan dapat mengembalikan kesadaran orang tua mengenai bahaya gawai pada tumbuh kembang anak. “Jadi kita mulai membiasakan buku, nanti kita tidak 100% dimakan oleh gadget. Ini salah satu kampanye kami ke arah situ. Gadget itu efeknya jelek sekali terutama karena budayanya, ya ada efek dopamin, kecanduan ya, jadi anak akan lekat sekali dengan itu dan waktunya jadi terbuang percuma di layar. Padahal masa anak-anak itu untuk gerak motorik sangat penting. Pertumbuhan otot itu tidak akan berkembang sempurna kalau dia dari awal sudah dikenalkan gadget. Kedua, untuk kesehatan mata itu juga tidak bagus bagi anak. Banyak sekali dampak-dampak kesehatan selain yang saya sebutkan tadi dan juga secara psikologi tidak bagus, misalnya internet putih, ya internet khusus untuk anak tetap tidak semua orang tua mengikuti petunjuk dari kita. Kebanyakan mereka membebaskannya begitu saja, parental guide di dalam menu tidak pernah digunakan, tidak mau ribet orang tua itu, karena orang tuanya juga sudah kecanduan dengan gadgetnya,”kata Harris

Harris berharap agar orang tua mengendalikan dirinya ketika berada di dekat anak-anak, artinya tidak terus menerus menggunakan gawai agar tidak ditiru oleh anak. “Orang tua sudah kecanduan dan dia tidak mau diganggu, dan dikasih juga gadget ke anaknya, kan ini musibah bener. Ini yang saya kira kita semua harus sadar, ini bahaya. Kita seluruh masyarakat sadarkanlah semua orangtua ini marilah kita kembali membaca buku, coba kurangi kalau tidak bisa untuk tidak sama sekali, kita kurangi dalam waktu tertentu dan jangan menunjukan di depan anaknya. Dalam setiap kesempatan orangtua coba kendalikan diri, jadilah orangtua yang riil, bukan di depan anak kita pakai gadget. Anak itu akan mengikuti, anak itu adalah fotokopi yang paling baik mereka akan mereplikasi apa saja yang kita lakukan kalau kita stick dengan gadget mereka akan begitu juga,” ungkap Harris.

Dengan adanya Germas Baku, Kemendikbud mengajak warga masyarakat, para mitra yang memiliki jaringan sampai ke tingkat desa, bersama-sama menggerakkan semua anggotanya untuk mulai membiasakan ini sehingga bukan sekedar menjadi imbauan tetapi disertai dengan strategi penyebarannya. “Saya kira kami hanya semacam orkestra saja, saling menyemangati. Kenapa kita lakukan di hari yang sama serentak? Supaya semangat saja bahwa kita itu bukan sendiri tapi 230 ribu lembaga PAUD seluruh Indonesia. Syukur kalau seluruh keluarga Indonesia yang jumlahnya mencapai 42 juta itu sudah mendengar tentang Gernas Baku dan terinspirasi untuk ikuti kebiasaan baru di rumahnya, terutama keluarga muda,” pungkas Harris.

Rangkaian pelaksanaan Gernas Baku digelar sejak April 2019, dimulai dari pelaksanaan sosialisasi dan seminar. Selanjutnya, pada Mei 2019, para orang tua diajak untuk memberikan donasi buku dan menghadirkan pojok baca di rumah dan sekolah. Selain itu, juga diselenggarakan kelas parenting untuk orang tua di berbagai daerah.

Puncak acara Gernas Baku dihadiri oleh sejumlah pejabat di lingkungan Kemendikbud dan para mitra serta undangan. Anak-anak PAUD KM 0 beserta orang tua mereka juga turut memeriahkan acara ini. Dalam acara ini juga dilakukan konferensi jarak jauh (tele conference) serentak di 3 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Nusa Tenggara Barat, dan Papua. Kegiatan ini diselenggarakan seiring dengan Festival Literasi Sekolah.

Published in Warta Pendidikan
Minggu, 26 Mei 2019 10:21

Standar Operasional Prosedur

Published in Dokumen
Kamis, 16 Mei 2019 17:30

RENSTRA 2015-2019 REVISI 2

Published in Dokumen
Kamis, 16 Mei 2019 08:45

LAKIP 2018

Published in Dokumen
Halaman 1 dari 11