Potret Pendidikan

Potret Pendidikan (61)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Potret Realita Pendidikan

Jakarta,07/10/2019 - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelar kembali kompetisi sepak bola tingkat siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Tahun 2019 bertempat di Gelanggang Mahasiswa Soemantri Brojonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan . Tim Gala Siswa Indonesia Jenjang SMP Kalimantan Barat tingkat nasional siap bertanding.

Galeri Foto

Pontianak,21/9/2019 - LPMP Kalbar - Aktivitas pendidikan di Provinsi Kalimantan Barat mengalami kelumpuhan diakibatkan kabut asap hasil kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah memutuskan meliburkan siswa sejak tanggal 11 September dan berlanjut hingga 20 September 2019 karena kondisi udara semakin tidak sehat. Akibat libur panjang tersebut, para guru dan siswa mengalami masalah karena harus mengejar ketertinggalan jadwal belajar.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengambil kebijakan dengan memberikan bantuan sosial tanggap bencana asap agar aktivitas belajar mengajar dapat dilakukan. Pada tanggal 21 September 2019, Direktorat PSMP telah memberikan bantuan ke SMPN 13 Pontianak yang telah diusulkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak sebagai percontohan sekolah aman asap. Program ini bertujuan untuk menyiapkan sekolah dengan kualitas udara yang aman, sehingga kegiatan belajar mengajar bisa berjalan dengan normal.  Bantuan diserahkan langsung oleh perwakilan dari Direktorat PSMP yaitu Bapak Nur Yamin dan Aris Prabowo, dan diterima oleh Kepala sekolah SMPN 13 Pontianak, ibu Sri Azyanti serta disaksikan oleh perwakilan dari LPMP Kalimantan Barat Ibu Suprapti selaku Kepala Seksi Fasilitasi Peningkatan Mutu Pendidikan (FPMP) LPMP Kalimantan Barat. Untuk tahap awal bantuan yang diberikan berupa 1 set peralatan untuk ruang kelas aman asap yang terdiri dari 2 Exhaust Fan dinding, 2 kipas angin, 1 aquarium dan dacron untuk seluruh ventilasi yang dipasang langsung di ruang kelas. Semua peralatan tersebut berfungsi untuk mengisolasi ruangan dari partikel berbahaya asap.

SMPN 13 Pontianak memiliki 1.046 siswa dengan 32 ruang kelas,  yang rencananya seluruh ruang kelas ditambah 1 ruang guru akan dipasang peralatan tersebut. Setelah seluruh bantuan diserahkan dan dipasang di seluruh ruang kelas dan ruang guru, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan akan meresmikan SMPN 13 Pontianak sebagai  ‘Sekolah Aman Asap’.

Natuna, Kemendikbud --- Program digitalisasi sekolah yang baru saja diluncurkan, tidak akan menghilangkan proses pembelajaran dengan tatap muka. Pembelajaran dengan tatap muka antara guru dan siswa di kelas tetap penting dan tidak tergantikan, dan akan diperkaya dengan konten-konten digital.

"Program digitalisasi sekolah ini, bukan berarti proses belajar mengajar dengan cara konvensional tidak berlaku, justru tetap penting. Pembelajaran dengan tatap muka antara guru dan siswa masih menjadi cara yang paling tepat, terutama dalam pembentukan karakter siswa," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy saat meluncurkan program digitalisasi sekolah di Gedung Srindit Ranai Kabupaten Natuna Kepulauan Riau, Rabu (18/9/2019).

Peran guru di era revolusi industri 4.0, menurut Mendikbud, semakin penting. "Guru tidak hanya mengajar, namun sekarang guru harus menguasai sumber-sumber di mana anak-anak bisa belajar. Anak-anak bisa belajar dari mana saja, dan guru mengarahkan," kata Muhadjir Effendy. Dengan kata lain guru berfungsi sebagai penghubung sumber belajar atau resorce linker.

Guru juga berperan sebagai fasilitator dalam pembelajaran. "Peran guru memfasilitasi, mencari narasumber yang relevan, siswa harus belajar dengan siapa, kemudian memerlukan fasilitas apa," ujar mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang tersebut.  

Selain itu, peran guru yang juga sangat penting adalah sebagai penjaga gawang informasi atau gate keeper. "Informasi mana yang membahayakan harus dibendung oleh guru. Ancaman kita semakin lama sangat besar, pengaruh ideologi yang bertentangan dengan Pancasila," kata Mendikbud menambahkan.
 
Oleh karena itu, guru harus meningkatkan kompetensinya dalam penguasaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). "Mulai sekarang saya mohon kepada guru untuk mulai mempelajari dan menguasai materi yang tersedia di portal Kemendikbud, khususnya yang ada di dalam platform digital yaitu Rumah Belajar. Itu gratis tidak perlu membayar," pesan Mendikbud

Rabu, 18 September 2019 08:57

Infografis Data Satuan Pendidikan Kalimantan Barat

Written by

Sumber : dikdasmen    semester ganjil 2019/2020

Prosentase Guru menurut jenis kelamin setiap jenjang

Prosentase Jumlah Sekolah Negeri dan Swasta

Prosentase SLB Negri dan Swasta

Prosentase SD Negeri dan Swasta

Prosentase SMP Negeri dan Swasta

Prosentase SMA Negeri dan Swasta

Prosentase SMK Negeri dan Swasta

Total jumlah sekolah di Kalimantan Barat

Total Jumlah Guru menurut jenis kelamin

Jakarta, Kemendikbud --- Penggunaan media digital untuk mengekspresikan karya komik menjadi terobosan di Festival Literasi Sekolah (FLS) 2019 tingkat SMA. Jika di tahun-tahun sebelumnya peserta menggoreskan cerita visual secara konvensional, tahun ini, mereka wajib menggunakan gawai (gadget), baik itu telepon selular, komputer jinjing atau laptop, maupun tablet. Pada FLS 2019, panitia menerima sekitar 200 karya komik yang semuanya sudah dalam bentuk digital.

Juri FLS 2019 bidang lomba Komik Digital, Iman Sudjudi mengatakan, perubahan pembuatan karya dari konvensional ke digital adalah perubahan yang tidak bisa dihindari. Sebab, kata Iman, saat ini, generasi milenial sudah melek teknologi informasi dan panitia tidak bisa membatasi penerimaan karya yang dikirim peserta dalam bentuk digital.

 “Karya yang kami terima di tahun lalu itu ada 600, tapi yang memenuhi syarat hanya 30. Sekarang, kami menerima 300 kurang sedikit, dan 70 persen kualitasnya bagus dari segi teknisnya,” ujar Iman di sela kegiatan FLS 2019, Minggu (28/7/2019) di Bogor, Jawa Barat.

Menurut Iman, untuk menghasilkan komik, apapun medianya, baik pensil maupun digital, yang terpenting adalah kemampuan pembuat komik untuk bercerita dan mengekspresikannya dalam bentuk visual dan tepat sasar.

Dalam menilai karya komik digital peserta FLS tahun ini, ia mengungkapkan, ada kriteria yang harus terpenuhi, di antaranya ketepatan menjawab tema, kebahasaan, kreativitas dalam visualisasi, dan teknik bercerita. Tema yang diangkat pada tahun ini yakni “Linimasa Cinta”.

Linimasa Cinta, tutur Iman, berkaitan tentang waktu. Penafsiran terhadap diksi ini bisa menjadi luas. Bisa tentang diri sendiri, pencapaian diri, orang lain, ataupun teman. “Di situ tantangan kreativitas untuk menjawabnya dan men-describe ke dalam bentuk storytelling. Memang, menjawab kata kunci linimasa awalnya agak berat untuk mereka, padahal linimasa mereka sudah melakukan itu sehari-hari dengan sebutan timeline,” kata Iman yang juga dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung.

Komik digital, tuturnya, tak jauh berbeda dengan pembuatan komik secara konvensional, sebab kekuatan komik itu adalah bagaimana pesan komunikasi dapat tersampaikan dengan baik. “Di komik itu prinsipnya bagaimana kita mampu menceritakan suatu ide atau pesan ke dalam bentuk rangkaian gambar yang berurutan. Sekuensial art itu di situ. Jadi, apapun itu mediumnya, mau pensil atau digital, sebetulnya kemampuan kita bercerita dan kemampuan mengekspresikan dalam bentuk visual yang tepat sasar,” kata Iman.

Ia berharap para peserta FLS, terutama di bidang lomba komik, dapat terus berkarya dan menggunakan gawai bukan hanya sekadar untuk bermedia sosial, melainkan bisa berkarya membuat komik dan menghasilkan sesuatu yang bernilai tambah.

Menurut Iman, dengan membuka peluang hadirnya komik digital, panitia memberikan tantangan kepada peserta dalam berkarya dan juga memperluas publikasi karya mereka ke masyarakat luas. Bahkan, ada peluang yang terbuka dari penerbit untuk melirik karya mereka dan mengapresiasinya. “Mereka nantinya juga bisa mempublikasikan karyanya ke digital publishing atau untuk diri sendiri melalui media sosial masing-masing. Bisa lewat Instagram, Facebook dan lainnya,” kata Iman.

Halaman 1 dari 13