Jakarta, 8 Mei 2021 --- Pusat Penguatan Karakter, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Puspeka Kemendikbudristek) menggelar webinar bertajuk “Puasa, Kemanusiaan, dan Toleransi” pada Sabtu (8/5). Webinar yang diselenggarakan secara virtual kali ini menghadirkan narasumber menarik yaitu Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim, Yenny Wahid (Direktur Wahid Foundation), Habib Husein Jafar Al-Hadar (tokoh agama) dan Abdul Arsyad (Komika). Acara ini dipandu oleh Anya Dwinov dan ditutup dengan penampilan spesial dari Raef yang merupakan penyanyi religi internasional.
 
Webinar ini diselenggarakan dalam rangka memberikan penyadaran tentang sikap-sikap toleran yang biasa terjadi di lingkup satuan pendidikan sekaligus mengedukasi pentingnya sikap menjaga hubungan baik antar-manusia saat berpuasa. Toleransi merupakan suatu nilai karakter yang diterapkan dalam dunia pendidikan maupun di lingkungan keluarga dan masyarakat.
 
Kepala Pusat Penguatan Karakter Hendarman yang hadir secara langsung mengapresiasi jalannya acara hari ini. Acara hari ini merupakan bagian dari serial Ramadan Puspeka 1442 Hijriyah. Tema kali ini ‘Puasa, Kemanusiaan, dan Toleransi’, ” ujar Hendarman secara langsung di studio.
 
Antusiasme Sahabat Karakter, sapaan Puspeka pada warga pendidikan seluruh Indonesia, sangat tinggi dengan jumlah pendaftar lewat membludak hingga delapan ribu orang. Sebelumnya, acara dilangsungkan secara luring terbatas dengan protokol kesehatan dan telah dilaksanakan swab antigen bagi seluruh pengisi dan panitia acara untuk dapat masuk ke studio.
 
Menteri Nadiem pada sambutannya mengatakan bahwa di samping menjalankan ibadah puasa pada Ramadan ini, masih ada hal lain yang harus dilakukan. “Kita harus menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, terlepas dari latar belakang agama dan golongan,” tutur Mendikbudristek secara virtual.
 
Ibadah puasa, dikatakan Mendikbudristek, juga merupakan praktik beragama yang dijalankan banyak umat. “Teman-teman kita beragama Hindu juga berpuasa wajib di hari besar. Jelang Paskah, teman-teman Kristen juga beribadah puasa. Oleh karena itu, toleransi adalah nilai karakter yang harus dijalankan sebagai bagian hidup kebangsaan,” kata Mendikbudristek.
 
“Saya yakin kita semua ingin menjalankan ibadah dengan tenang dan belajar tanpa paksaan, serta menjalin pertemanan dengan siapa saja. Tanamkan dalam benak kita rasa cinta terhadap perbedaan, lalu tularkan pada sekitar kita, agar semua orang punya hak yang sama dalam beragama, belajar, dan berkarya. Mari sama-sama kita wujudkan Indonesia yang bebas dari intoleransi yang akan mengakslerasi kemajuan bangsa kita,” imbau Mendikbudristek.
 
Senada dengan itu, tokoh agama yang akrab dikenal generasi muda Habib Husein Jafar Al-Hadar mengungkapkan bahwa puasa mengajarkan kemanusiaan dan toleransi. “Puasa mengajarkan kita untuk lapar. Agar meskipun kita kuat beli makanan, kita rasakan sebulan ini beratnya jadi orang lapar. Kita belajar untuk tidak tega membiarkan orang lapar, selama kita masih bisa membantu,” ujar Habib Husein.
 
Habib Husein juga menekankan pentingnya penghayatan iman dalam berpuasa. “Kita belajar tidak mudah marah pada orang lain. Ciri orang sukses puasa adalah bertakwa. Ciri orang bertakwa, kata Allah dalam surat Al-Imran, adalah tidak mudah marah, memaafkan orang lain yang membuat dia marah, dan bukan hanya itu saja, tapi malah memberi sedekah kepada orang yang membuat dia marah,” tutur Habib Husein.
 
Selain itu, Habib Husein juga menyatakan bahwa di Surat Al-Baqarah telah dijelaskan bahwa puasa diwajibkan seperti kaum-kaum sebelum kamu. “Tadi Mas Menteri sudah menjelaskan, agama apapun ada puasanya. Bahkan puasa, sejak zaman Nabi Nuh sudah ada, walau berbeda bentuk, cara, dan waktunya. Tapi dari sini kita belajar, kita ini ada persamaannya walau berbeda agama. Ayo kita fokus pada persamaannya, jangan mengumbar perbedaannya, agar persaudaraan makin erat. Kita cari titik samanya, jangan cari titik bedanya,” imbau Habib Husein.
 
“Kita berbeda dalam cara dan waktu puasanya. Itu kebenarannya. Tapi, dalam kebaikannya kita sama. Sama-sama diajarkan berpuasa untuk menumbuhkan empati sosial kepada orang yang membutuhkan. Kata Allah: ‘Fastabiqul Khairat’. Berlomba-lombalah dalam kebaikan, bukan dalam kebenaran. Tidak usah merasa saya lebih benar daripada kamu, lalu berdebat. Namun, taruhlah kebenaran di hati. Yang penting output-nya yanng ditampilkan, yaitu kebaikan pada sesama,” jelas Habib Husein.
 
Komika Abdur Rasyad yang tampil menghibur audiens pada sore ini juga mengaku bahwa dirinya memiliki pengalaman sedih ketika merantau ke Pulau Jawa untuk menuntut ilmu. “Saya diejek karena punya logat tertentu,” ucap pemuda asal Nusa Tenggara Timur ini. Namun, ia pun menyadari, dirinya pernah menjadi pelaku perundungan ketika dulu ada siswa suku lain yang tinggal di daerahnya. “Dulu, ketika mengalami dihina, rasanya ingin bertengkar. Tapi, saya belajar untuk berdamai dengan itu semua,” jelas Abdur. Ia menyalurkan pengalamannya itu menjadi bahan tulisan yang kemudian ia kembangkan menjadi prestasi sebagai seorang komedian panggung (stand up comedy). Abdur pun mengimbau agar generasi muda lebih saling merangkul dan menghargai perbedaan yang ada.
 
Habib Husein pun juga pernah mengalami perundungan. “Saya keturunan Arab dan pernah mengalami jadi ras minoritas di sekolah. Dulu juga saya sedih dan marah. Tetapi ini mengajarkan saya berempati dan mengubah perilaku jadi lebih saling mengerti dan menerima perbedaan,” terang dia.
 
Sebagai contoh, beberapa bentuk intoleransi di dunia pendidikan adalah: tidak memberi sarana prasarana bagi guru, siswa, mahasiswa, dan dosen karena perbedaan SARA dan kepercayaan, melarang ibadah agama tertentu di lingkungan sekolah atau kampus, dan memaksa pemakaian seragam atau atribut khas agama atau suku dan kepercayaan tertentu. Selain itu, menolak pendaftaran pendidik dan peserta didik karena alasan perbedaan SARA juga merupakan bentuk intoleransi.
 
Indonesia, Negeri Ekspresi Agama yang Mengejutkan Mancanegara

Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid, menyatakan keprihatinannya akan intoleransi yang terjadi di sekolah-sekolah. “Kita sering lupa akan nikmat kita tinggal di Indonesia,” ujar Yenny yang menjelaskan bahwa hal serupa tak mudah ditemui di sejumlah negara. “Pekerjaan saya mengharuskan saya bepergian ke banyak negara. Ada suatu negara yang bahkan umat agama apapun, tidak boleh mengenakan atribut keagamaannya di ruang-ruang publik seperti rumah sakit dan sekolah,” jelas Yenny. Ia mengakui, di berbagai negara memang banyak represi terhadap ragam ekspresi keagamaan yang ditemui oleh berbagai pemeluk agama apapun.
 
“Sementara di sini, pemerintah biasa membangunkan rumah ibadah untuk masyarakat. Di luar negeri, orang melihat keadaan negara kita itu kaget dan bingung,” tambah Yenny.
 
Menurut Yenny, ini karena Indonesia punya ikatan suci Pancasila. “Pancasila ini menyatukan seluruh warga NKRI, di mana semua orang dapat mengekspresikan kebebasan beragamanya. Janganlah kita rusak dengan praktik-praktik intoleransi, justru harus kita kuatkan agar semua orang makin menghargai Pancasila,” imbau Yenny.
 
Peran Pendidik Memupuk Toleransi pada Generasi Muda

Menyikapi pertanyaan salah satu pendidik, yaitu Guru SD Negeri 5 Duhiadaa, Gorontalo, bernama Thahira Wahyuni tentang upaya yang dapat dilakukan pendidik untuk mengurangi intoleransi di kalangan pelajar di era digital, Yenny mengakui bahwa para guru punya tugas berat karena bukan digital native, artinya tidak lahir di zaman teknologi 4.0 ini.
 
“Saya pun gagap, sementara anak-anak kita sejak lahir sudah pegang gadget,” ucap Yenny. “Namun yang paling utama adalah kita harus menguatkan nilai, baik di sekolah maupun bekerjasama dengan orangtua di rumah agar anak-anak tumbuh dalam sikap menghargai perbedaan dan memperlakukan orang lain dengan baik,” jelas Yenny.
 
Menurut dia, kalau nilai yang tertanam pada anak-anak sudah kuat, maka anak dapat diajari menghormati orang lain yang berbeda pendapat dan keyakinan. “Perbedaan pendapat, keyakinan politik, keyakinan agama, semuanya adalah fitrah manusia. Kita dilahirkan memang berbeda-beda. Perbedaan itu adalah rahmat yang harus disyukuri sebagai nikmat. Namun, peran pendidik memang amat besar. Saya tahu tugas Bapak dan Ibu berat sekali. Sebagai orangtua, kami hanya bisa mendoakan para pendidik diberikan kekuatan oleh Allah agar dapat mendidik anak-anak kita supaya ber-akhlakul karimah,” ujar Yenny.
 
Kita sebetulnya sudah sering bicara tentang toleransi dan saling rukun menghargai. Tapi kenyataannya, kasus-kasus intoleransi terus terjadi di sekitar. Ini karena belum ada kebijakan yang langsung mengarah kepada pencegahan atau penanganan kasus intoleransi. Dan ironisnya, cukup banyak praktik intoleransi di sekolah dan kampus, yang seharusnya jadi tempat belajar cara menghargai perbedaan lewat pertemanan dan pelajaran di kelas. Maka, kami bertekad menghapuskan seluruh tiga dosa besar dunia pendidikan, yaitu: intoleransi, kekerasan seksual, dan perundungan,” jelas Mendikbudristek.
 
Presenter Anya Dwinov pun mengakui, ketika sekolah dulu, ia pernah diajarkan mengucapkan selamat hari raya di luar agamanya. “Padahal, saya berasal dari keluarga multiagama. Bagaimana menyikapi hal ini? Kita punya energi di Indonesia dengan berbagai latar belakang agama yang dipeluk. Kita punya kekuatan yang luar biasa kalau kita bersatu,” ucap Anya.
 
Yenny mengatakan, “Allah menciptakan manusia dengan jenis kelamin, suku, dan bagsa berbeda, bukan untuk saling memusuhi dan megucilkan, tapi untuk saling mengenal satu sama lainnya. Kita diciptakan menjadi instrumen Rahmatan Lil’Alamin di dunia ini.”
 
Senada dengan itu, Habib Husein menguraikan, “Berbuat baik pada semua orang adalah salah satu prinsip dalam islam, Rahmatan Lil’Alamin. Rahmat bagi semesta alam. Bukan hanya sesama Muslim, tapi semua manusia yang beda agama dan juga semua makhluk hidup. Kita diajarkan konsep ukhuwah insaniyah, yaitu persaudaraan sesama manusia, karena siapa yang bukan saudara dalam agama, adalah saudara dalam kemanusiaan. Dan juga ukhuwah makhlukiyah, yaitu persaudaraan sesama makhluk Allah. Ini adalah pahala besar di sisi Allah SWT. Kita harus berpuasa, membangun kemanusiaan, dan saling bertoleransi,” ucap Habib Husein.  
 
Webinar juga dimeriahkan penampilan spesial Raef, seorang musisi, penyanyi, dan penulis asal Maryland, Amerika Serikat. “Thank you Pusat Penguatan Karakter for inviting me to this beautiful program. We’re oceans apart, but alhamdulillah for the chance to spend sometime with you here. I really miss Indonesia,” ujar Raef yang dapat berkata-kata dalam Bahasa Indonesia. Ia mengakui dirinya beruntung sudah pernah berkunjung ke 140 kota dan kabupaten di Indonesia. “InsyaAllah, after this pandemic ends, I will visit Indonesia again,” harap Raef. Ia pun menunjukkan peta Negara Bagian Maryland yang merupakan tanah airnya di Amerika Serikat. Namun, uniknya, di atas peta Maryland ia memajang peta Indonesia. “Ini untuk mengingatkan saya akan Indonesia, rumah saya yang jauh dari rumah,” jelas Raef.
 
Raef pun menyanyikan lagu yang terinspirasi dari Sholawat Badriyah, suatu lagu religi Islam yang amat populer di Indonesia. “Seluruh dunia tahu lagu ini ditulis oleh orang-orang Indonesia. Ini tentang Baginda Nabi Muhammad SAW yang menjadi teladan umat manusia untuk menghormati sesama manusia,” ujar Raef. “Ini Sholawat Badriyah versi Amerika, yang saya sebut Southern Sholawat,” kata Raef yang kemudian mempersembahkan penampilannya secara virtual bagi para audiens dari kediamannya.
 
Kapuspeka Hendarman pun mengapresiasi para pengisi acara. “Kita belajar banyak dari Habib Husein dan Abdur, walau dengan canda-canda yang membuat kita terbahak-bahak. Mereka menyadarkan kita untuk mengedepankan sikap toleran dalam lingkungan keluarga dan bermasyarakat. Tindakan intoleran harus kita pinggirkan dan tuntaskan. Tidak boleh ada. Itu semua di mulai dari dunia pendidikan. Ini tantangan besar kita,” jelas Hendarman.
 
“Gerakan penuntasan intoleransi harus jadi salah satu prioritas Kemendikbudristek seperti disampaikan Mas Menteri. Di samping itu, kita juga harus menuntuskan perundungan dan kekerasan seksual, yang semuanya kita rajut dalam narasi Tiga Dosa Besar dalam Dunia Pendidikan. Kita menginginkan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman. Ini harapan kita semua agar kemanapun kita berada, kita lebih aman dan nyaman untuk berkarya bagi negara kita,” ungkap Hendarman.
 
Kapuspeka Hendarman juga bersyukur acara hari ini telah dibuka oleh Mendikbudristek. “Terima kasih Mas Menteri yang sudah membuka webinar hari ini. Untuk pertama kalinya pembukaan dilakukan oleh Mas Menteri. Ini luar biasa sekali. Terima kasih juga pada narasumber dan bintang tamu yang telah menyemarakkan acara hari ini dengan pesan-pesan dan harapan dari seluruh pengisi acara,” tutur Hendarman.
 
“Kita juga sudah belajar bahwa umat berbagai agama menjalankan puasa. Maka, puasa juga dapat memupuk tumbuh kembang persaudaraan. Seluruh pemangku kepentingan pendidikan berperan menghayati makna kemanusiaan dalam agama yang ia peluk. Dalam semangat Ramadan, semoga kita makin toleran dan saling meyayangi tanpa membeda-bedakan SARA. Kita harap pendidikan Indonesia lebih baik dengan mengedepankan sikap toleran dan menjunjung tinggi Bineka Tunggal Ika,” harap Hendarman.
 
“Pendidikan harusnya bebas dari intoleransi. Karena kreativitas, nalar kritis, dan inovasi hanya dapat berkembang jika peserta didik dan pendidik seluruh Indonesia belajar dengan merdeka tanpa paksaan dan tekanan, itulah esensi Merdeka Belajar,” tutup Mendikbudristek.







Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Laman: kemdikbud.go.id    
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id
#MerdekaBelajar
#CerdasBerkarakter
Sumber : Siaran Pers Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor : 171 /sipres/A6/V/2021

Jakarta, 4 Mei 2021 – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menggelar upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2021 secara daring dan luring terbatas dengan protokol kesehatan ketat, di Kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta (2/5). Berbagai perwakilan pemangku kepentingan pendidikan turut hadir dalam acara tersebut, mulai dari perwakilan peserta didik, guru, hingga pegawai di lingkungan Kemendikbud. Generasi muda sebagai pemilik masa depan Merdeka Belajar yang terus digelorakan Kemendikbudristek pun hadir secara langsung pada peringatan Hardiknas 2021.

Andrea Pramesti Putri, peserta didik SMA Bopkri 1 Yogyakarta, adalah salah satu perwakilan generasi muda yang berkesempatan menjadi pengisi acara dalam peringatan Hardiknas 2021. Sebagai solois, ia menyanyikan lagu daerah Bolelebo, sedangkan lagu Gemu Famire dinyanyikannya secara berkelompok bersama tiga siswi lainnya. Ketika ditemui usai acara, Andrea terlihat gembira dan antusias. “Aku suka bernyanyi sejak umur empat tahun. Ketika itu masih iseng dan mencari model-model nyanyi yang paling tepat. Masuk SD, aku ikut les vokal, dan SMP belajar menyanyi klasik hingga sekarang,” jelas Andrea yang didampingi orang tuanya.

Andrea mengaku, peran orang tua amat penting dalam pembentukan talentanya bermusik. “Keluargaku pencinta musik. Ibuku bermain piano, kakak bermain biola. Hanya ayah yang tidak bisa main musik,” tutur Andrea tertawa. Gadis berusia 17 tahun ini mengungkapkan bahwa dirinya amat terinspirasi penyanyi pop dalam negeri seperti Rossa, Raisa, dan Lyodra. “Kalau dari luar negeri, aku suka Mariah Carey dan Ariana Grande,” ujar dia.

Ditanya mengenai cita-citanya, Andrea dengan yakin mengatakan ingin jadi dokter. “Aku ingin masuk Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada,” ujarnya. Andrea juga berharap agar anak-anak muda di Indonesia bisa semakin mencintai musik. “Semoga pendidikan musik bisa diperbanyak lagi. Saya pribadi, awalnya belajar di genre pop, lalu belajar genre klasik. Di Indonesia, genre klasik kurang disukai. Mudah-mudahan lebih banyak yang suka,” harapnya. Ia pun juga berharap agar semua anak muda di Indonesia, pada Hardiknas ini, dapat semakin memaknai pendidikan. “Semua anak muda punya passion masing-masing. Semoga kita bisa meningkatkan passion kita di bidang masing-masing,” jelas Andrea.

Pelajar lain, Yohanes Nico, adalah seorang pemain terompet yang menjadi anggota orkestra Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta. Ia mengaku senang bermusik dan belajar pendidikan musik secara formal. “Harapannya, bisa masuk ISI Yogyakarta,” ungkapnya menyebut Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, perguruan tinggi seni yang terkemuka di Indonesia.

Nico, begitu ia akrab dipanggil, juga berharap agar pandemi Covid-19 cepat usai. “Saat pandemi ini, orkestra tidak ada (penampilan). Saya ingin kembali bermusik secara luring lagi. Bermusik secara online tidak seru,” katanya. Ia juga berharap, agar ke depannya pendidikan musik di Indonesia bisa lebih maju. “Semoga bisa lebih keren lagi,” ujar dia. Ditanya mengenai siapa musisi idolanya, Nico menjawab mantap, “Dewa 19.”

Sementara itu, anggota orkestra dari SMK Negeri 2 Bantul Yogyakarta, Raden Widyatama, mengaku bangga bisa turut tampil di Hardiknas tahun ini. “Saya bangga sebagai bagian dari pelajar dan bisa berpartisipasi di Hari Pendidikan Nasional di Kemendikbud,” ungkap Raden.

Ia juga mengaku bahwa sebagai peserta didik sekaligus musisi, ia masih berusaha memahami kebijakan-kebijakan Kemendikbudristek selama masa pandemi. Menurutnya, pandemi Covid-19 menjadi hambatan bagi para musisi untuk berkembang. “Mungkin karena pandemi, jadi bagi para musisi, kita lebih sulit berproses. Semula kita bisa latihan rutin secara luring, sekarang jadi daring. Menurut saya, ini kekurangannya,” terang Raden. Ia melanjutkan, “Saya merasa seharusnya para musisi diberi porsi (penampilan) yang lebih, karena para musisi bisa hidup kalau musik seperti ini. Jadi itu mungkin yang perlu diperhatikan lagi,” terang Raden. Ia berharap semoga para musisi tetap semangat bermusik dalam kondisi pandemi ini. “Semoga tetap semangat dan pantang menyerah,” harapnya.

Inisiatif Para Guru Bergerak Lewat Transformasi Budaya Digital

Sementara itu, Kepala Humas Ikatan Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (IGTIK) PGRI, Youri Lylie, mengamati bahwa kebebasan bergerak untuk pendidik pada dewasa ini lebih terbuka. “Peringatan Hardiknas hari ini adalah puncak perubahan-perubahan yang dilakukan Mas Menteri,” ungkap Youri yang turut hadir pada upacara Hardiknas di Kantor Kemendikbud.

Menurut dia, salah satu contohnya adalah pendekatan yang mengacu pada standar internasional seperti PISA, dan bukan standar lokal saja. “Jadi, saya lihat semua potensi guru itu semuanya bergerak. Semuanya melakukan perubahan yang sebelumnya mungkin cenderung monoton sebelum Mas Menteri ini. Jadi kita harap ada perubahan sistem pendidikan dengan berubahnya guru-guru itu menjadi lebih fleksibel melalui kebijakan Merdeka Belajar karena saat ini sudah banyak aspek yang diberikan kebebasan,” terang Youri.

Di sektor budaya, lanjut Youri, saat ini banyak dipengaruhi media sosial. “Sekarang lebih banyak yang mengonsumsi informasi dari media sosial daripada TV atau radio. Perubahannya lebih cepat,” kata Youri. Ia berharap, figur Mendikbudristek yang masih muda akan mampu membuat kebijakan kebudayaan berubah, salah satunya bisa membantu perubahan budaya ke arah yang lebih positif dengan memanfaatkan teknologi.

“Kita tahu Mas Menteri saat ini sedang berjuang untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia, salah satunya agar tidak seperti hasil PISA kemarin. Saya melihat Mas Menteri telah berbuat banyak agar peringkat PISA kita lebih baik dari sebelumnya,” tambah Youri lagi.

Youri mengamati, pada masa pandemi muncul inisiatif-insiatif yang datang dari para guru sendiri. “Tanpa bantuan pemerintah, guru-guru melakukan webinar sendiri. Misalnya melalui MGMP, guru-guru matematika bekerja sama dengan guru-guru TIK mengadakan webinar tentang literasi numerasi untuk meningkatkan kreativitas. Dan dengan mencari sponsor sendiri, peserta mendapatkan hadiah sponsor agar lebih semangat. Nantinya, pengetahuan yang didapatkan dari webinar dibagikan kepada siswa-siswanya,” jelas Youri antusias.







Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Laman: kemdikbud.go.id    
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
TikTok: @kemdikbud.ri
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) resmi membuka pendaftaran seleksi bagi calon Pelatih Ahli Program Sekolah Penggerak. Seleksi ini merupakan bentuk dukungan bagi sekolah pelaksana program Sekolah Penggerak yang menjadi terobosan Merdeka Belajar Episode Ketujuh.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Iwan Syahril, mengajak para akademisi, praktisi pendidikan, widyaiswara, pengawas sekolah di 111 kabupaten/kota daerah sasaran program untuk berpartisipasi. Selain itu, ajakan untuk menjadi bagian dari program Sekolah Penggerak juga ditujukan kepada kepala sekolah, wakil kepala sekolah, manajemen sekolah, dan guru dari sekolah yang mengembangkan kurikulum satuan pendidikan secara mandiri dan atau menggunakan kurikulum internasional. Lebih lanjut, ajakan juga diserukan kepada pensiunan kepala sekolah, pengawas sekolah, dan guru yang memiliki komitmen untuk memajukan ekosistem pendidikan.

“Kami mengajak para pemangku kepentingan untuk berkontribusi melalui belajar dan berbagi bersama pengawas, kepala sekolah, dan guru di daerah sasaran Program Sekolah Penggerak dalam upaya gotong-royong untuk transformasi pendidikan Indonesia,” demikian disampaikan Iwan di Jakarta, pada Selasa (27/04/2021).

Pelatih ahli akan berperan sebagai pendamping dan pendukung kepala sekolah, guru/pendidik dan pengawas sekolah/penilik, untuk mewujudkan sekolah yang berpusat pada murid. Pelatih Ahli akan mendampingi tiga sampai lima sekolah dalam satu kabupaten, selama minimal satu tahun. Pelatih Ahli Program Sekolah Penggerak juga akan bertugas untuk mendorong kolaborasi seluruh ekosistem pendidikan sekolah dan pemangku kepentingan di kabupaten.

“Peran pelatih ahli akan mengembangkan kompetensi, komunitas praktisi, dan melakukan monitoring kemajuan pembelajaran kepala sekolah, pengawas sekolah/penilik, dan guru/pendidik di sekolah pelaksana program sekolah penggerak,” ujar Iwan.

Iwan melanjutkan, pelatih ahli ini hadir menjadi teman belajar yang penuh inspirasi dan tempat konsultasi untuk menjadikan sekolah lebih berpihak kepada murid. “Bagaimanapun kondisi sekolah, kepala sekolah, guru, dan para pemangku kepentingan di sekolah maupun sekitar sekolah harus terus berupaya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan menyenangkan bagi anak-anak Indonesia,” tutur Iwan.

Seleksi untuk Mendapatkan Pelatih-Pelatih Terbaik

Program Sekolah Penggerak merupakan program transformasi sekolah yang fokus pada pengembangan SDM sekolah, mulai dari siswa, guru, sampai kepala sekolah yang diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan menyenangkan. Program Merdeka Belajar Episode Ketujuh ini telah diluncurkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim dan turut dihadiri Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Muhammad Hudori, dan Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda pada 1 Februari 2021 lalu sebagai salah satu program untuk mewujudkan visi transformasi pendidikan Indonesia yang bertujuan untuk mencapai pendidikan yang berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia.

Adapun rekrutmen ini akan menyaring 700 pelatih ahli dengan kualifikasi terbaik untuk bersama memberikan dampak bagi cita-cita besar pendidikan Indonesia. Pendaftaran dan rekrutmen tahap pertama pelatih ahli program Sekolah Penggerak mulai dibuka pada 23 April s.d. 5 Juni 2021, yang terdiri dari pengisian biodata diri, pengisian esai, dan seleksi administrasi. Selanjutnya, pada tahap kedua yaitu pada 28 Juni s.d. 2 Juli 2021 akan meliputi simulasi melatih dan wawancara. Setelah itu akan ada unggah surat kesehatan dan bimbingan teknis kepada yang lolos seleksi tahap kedua. Tahap terakhir adalah pengumuman dan penetapan hasil seleksi pelatih ahli angkatan pertama pada sekitar Agustus 2021.

Berikut informasi mengenai rekrutmen pelatih ahli program Sekolah Penggerak.

Kriteria Umum:

  1. Warga negara Indonesia.
  2. Berasal dari unsur (i) akademisi; (ii) praktisi pendidikan; (iii) widyaiswara; (iv) pengawas sekolah di 111 kabupaten/kota daerah sasaran program, (v) kepala sekolah, wakil kepala sekolah, manajemen sekolah, dan guru dari sekolah yang mengembangkan kurikulum satuan pendidikan secara mandiri dan atau menggunakan kurikulum internasional; (vi) pensiunan kepala sekolah, pengawas sekolah/penilik, widyaiswara, dan guru/pendidik.
  3. Sehat jasmani dan rohani yang dibuktikan dengan melampirkan surat keterangan sehat dari dokter setelah lolos seleksi tahap 2.
  4. Pada saat mendaftar usia minimal 30 (tiga puluh) tahun dan maksimal 65 (enam puluh lima) tahun.
  5. Memiliki pengalaman melakukan pendampingan peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah minimal 2 (dua) tahun.
  6. Terbiasa dengan teknologi (internet dan aplikasi).
  7. Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik secara lisan dan tulisan.
  8. Memiliki komitmen, semangat perbaikan berkelanjutan, jiwa kolaborasi dan terbuka pada hal-hal baru.
  9. Bersedia melakukan kunjungan lapangan sebanyak 4-6 kali dalam setahun.
  10. Tidak memiliki peran sebagai asesor pada Guru Penggerak atau program Sekolah Penggerak.
  11. Mengisi pakta integritas.

Jadwal Pendaftaran Pelatih Ahli:

  • Pembukaan pendaftaran Calon Pelatih Ahli: 27 April - 5 Juni 2021.
  • Seleksi Tahap I (registrasi, esai, biodata diri): 27 April - 5 Juni 2021.
  • Seleksi Tahap II (simulasi melatih, wawancara): 28 Juni - 2 Juli 2021
  • Bimbingan teknis Peran Pelatih Ahli: 3-26 Agustus 2021.
  • Pengumuman dan Penetapan Pelatih Ahli: September 2020.
  • Pelaksanaan Pendampingan Program Sekolah Penggerak: 5 Oktober - 31 Agustus 2020.

Informasi pendaftaran Pelatih Ahli ini dapat dilihat lebih lanjut pada laman berikut https://sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id/programsekolahpenggerak

pauddikdasmen.kemdikbud.go.id

Pontianak - LPMP Kalbar - Modis  Pisan  merupakan sebuah  inovasi  kreatif yang dikembangkan oleh PPPPTK  IP A untuk  membakar semangat peserta  didik  untuk  mempelajari sains  secara  instan dengan  konsep  edusaintment (edukasi sains dan entertainment) dengan  cara menarik, unik, dan   menyenangkan.   
Dalam    pelaksanaannya, @p4tkipa.kemdikbud   bekerjasama   dengan    @lpmpkalbar dan Duta  Sains  Kalimantan Barat akan mengadakan kegiatan  Pelaksanaan Penguatan Literasi Sains  Siswa  melalui Inovasi Layanan Modis Pisan  kepada  50 siswa jenjang  SD, 50 siswa.jenjang SMP dan 50 siswa SMAsecara  daring dan dapat di tonton secara langsung melalui Youtube LPMP Kalimantan Barat.
Bentuk  kegiatannya adalah  demonstrasi sains  dan pemutaran film yang  diharapkan dapat  meningkatkan minat  siswa  dan motivasi serta  rasa keingintahuan terhadap  sains.  
Kegiatan akan dilaksanakan pada tanggal 3 Mei 2021 untuk jenjang SMP, 4 Mei 2021 untuk jenjang SMA dan 5 Mei 2021 untuk jenjang SD.

#LPMPKalbar #CiptakanInovasi #AsesmenKompetensiMinimum #AKM
#kemendikbud #LPMPKalBar #LPMP #unitlayananterpadu #PertahankanWBK #RaihWBBM #LPMPKalbarMenujuWBBM #WilayahBersihBebasMelayani #LembagaPenjaminanMutuPendidikan #gurupenggerak #PendidikanProfesiGuru #sertifikasiguru #GuruHonorer #GuruPPPK #SekolahPenggerak

Video

Jakarta, 28 April 2021 ---  Presiden Republik Indonesia Joko Widodo hari ini menetapkan dan melantik Nadiem Anwar Makarim yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menjadi Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) sesuai Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 72/P Tahun 2021 tentang Pembentukan dan Pengubahan Kementerian serta Pengangkatan Beberapa Menteri Negara Kabinet Indonesia Maju Periode Tahun 2019-2024.

Dalam kesempatan itu, Presiden mengambil sumpah jabatan para menteri Kabinet Indonesia Maju untuk sisa masa jabatan periode tahun 2019-2024 dan Kepala BRIN yang dilantik pada hari ini, kemudian diakhiri dengan  pemberian ucapan selamat oleh Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin, diikuti oleh tamu undangan terbatas yang hadir.

Sementara itu Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim dalam keterangan pers usai pelantikan di istana negara (28/04) mengatakan, “Alhamdulillah, saya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan Bapak Presiden Joko Widodo dan seluruh rakyat Indonesia untuk mengemban amanah baru dalam upaya memajukan Indonesia. Riset dan teknologi adalah hal yang dekat di hati saya sehingga harapan saya besar untuk benar-benar meningkatkan kualitas dan inovasi di perguruan tinggi kita dalam bidang riset dan teknologi sebagai bagian dari Tridharma perguruan tinggi. Kami juga berharap untuk dapat menjadi mitra dan bekerja sama secara dekat dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).”

Nadiem juga berpesan bahwa penggabungan riset dan teknologi di tingkat perguruan tinggi menjadi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) harus disikapi dengan semangat optimisme dalam upaya mengakselerasi karya dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat, melalui penelitian dan program Kampus Merdeka serta program link and match, sebagai upaya peningkatan kapasitas SDM di abad 21.

“Mari kita semua bergotong royong dalam menjalankan amanah besar ini dengan ketulusan hati, dan kami juga memohon kesabaran seluruh pemangku kepentingan untuk menunggu arahan yang tercantum di Peraturan Presiden yang mengatur skema organisasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.” Tutup Nadiem.





Foto: BPMI

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Laman: kemdikbud.go.id    
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id

Pusdatin Kemendikbud, (26/4) – Program Pembelajaran berbasis TIK (PembaTIK) tahun 2021 yang diluncurkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim, M.B.A pada Rabu 15 April 2021 lalu, telah diikuti oleh 80.000 guru yang telah mendaftar  berdasarkan data panitia pada hari Sabtu, 24 April 2021, pukul 21.23 WIB.

Provinsi jawa Timur berada tingkat teratas dengan 14.309 Guru, diikuti Jawa Barat dengan 12.024 Guru, DKI Jakarta dengan 9.510 guru dan Jawa Tengah 9.228 guru yang telah mendaftar. Selain itu terdapat 141 guru yang mendaftar yang berasal dari Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN).

Peserta yang mendaftar Program PembaTIK 2021 terdiri dari: Guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) dari semua jenjang, guru tetap Yayasan, guru honorer di Instansi Pendidikan Pemerintah/Swasta dari semua jenjang yang telah mengajar minimal satu bidang studi di sekolahnya (guru mata pelajaran/guru kelas)

Jumlah Peserta PembaTIK 2021 Sabtu, 24 April 2021, Pkl 21.23 WIB

Ini adalah capaian luar biasa, karena hanya dalam kurun waktu 10 hari target peserta yang dicanankan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim pada peluncuran 15 April 2021 lalu yakni sebanyak 75.000 guru mengikuti PembaTIK 2021 telah tercapai, ungkap Muhammad Hasan Chabibie, plt. Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin).

Pada kesempatan yang sama ia mengapresiasi kepada seluruh pihak yakni satuan kerja internal Kemdikbud, Kepala Daerah, Dinas Pendidikan provinsi maupun kota/ kabupaten dan khususnya Duta Rumah Belajar serta sahabat rumah belajar yang ada di seluruh Indonesia.

Hasil ini juga memberikan rasa optimisme bahwa guru diseluruh Indonesia memiliki motivasi yang sama dengan kebijakan Kemdikbud seperti yang disampaikan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim saat peluncuran PembaTIK lalu, “Guru-guru dapat mensinergikan seluruh kebijakan Kemendikbud yaitu Merdeka Belajar, Guru Penggerak dan juga bantuan kuota data internet”.

Melalui pemanfaatan bantuan kuota data Internet dari pemerintah, para guru dapat mengakses, membuat hingga mendistribusikan beragam konten pembelajaran hasil mengikuti PEMBATIK ini ke media sosial. Bahkan bisa digunakan dalam proses pembelajaran di kelas. Sehingga diharapkan para guru dan siswa meningkatkan kemampuan literasi digital, Guru yang dapat memaksimalkan potensi diri dengan memanfaatkan TIK dalam pembelajaran, merupakan salah satu kriteria Guru Penggerak yang akan menjadi garda terdepan memajukan pendidikan di Indonesia,” imbuh Mendikbud.

Selanjutnya, Muhammad Hasan Chabibie berpesan kepada peserta yang sudah mendaftar dapat “mengikuti setiap tahapan demi tahapan yang telah dijadwalkan PembaTIK 2021, yang diharapkan menjadi pembelajaran untuk implementasikan model pemanfaatan TIK dengan sebaik-baiknya”.

Kegiatan PembaTIK tahun 2020 sukses diselenggarakan secara daring, tahun 2021 kembali dilakukan dengan 80.000 peserta

Pendaftaran telah ditutup setelah kuota peserta pada Gelombang 40 terpenuhi, Selanjutnya akan dibuka untuk pendaftaran tahap kedua. Selamat mengikuti program PembaTIK tahun 2021, Semoga ikhtiar kita untuk menjaga nyala api belajar peserta didik dapat terwujud dengan hadirnya berbagai inovasi pembelajaran yang menyenangkan oleh guru-guru Indonesia yang telah menunjukkan kemampuannya beradaptasi menghadapi dinamika perubahan lingkungan pendidikan di era digital ini.

Jakarta, 24 April 2021 --- Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai sosok pahlawan yang memperjuangkan hak-hak manusia khususnya para perempuan. Setiap tahun, tepat di hari kelahirannya pada 21 April, bangsa Indonesia memperingatinya dengan berbagai kegiatan. Tahun ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) menggelar nonton bareng Film Kartini secara virtual yang dihadiri oleh 4.000 penonton dari berbagai kalangan.

Pelaksana tugas (Plt.) Sekretaris Jenderal Kemendikbud, Ainun Na’im, mengatakan film Kartini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat khususnya generasi muda untuk mengenal lebih jauh ketokohan R.A. Kartini. Dengan menonton film ini, Ainun berharap generasi muda dapat memahami, menghayati, dan meneladani, apa saja yang diwariskan oleh Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan hak-hak manusia pada peradaban dulu hingga sekarang. “Selamat nonton bareng Film Kartini,” demikian disampaikan Ainun Nai’m saat membuka acara secara virtual di Jakarta, pada Sabtu (24/04/2021).

Menurut Ainun, film Kartini merupakan salah satu film Indonesia yang sukses diproduksi oleh anak bangsa, Hanung Bramantyo. Film ini, kata dia, mengangkat cerita kepahlawanan perempuan Indonesia ke ranah yang lebih luas. “Film ini sangat tepat dan akan sangat bermanfaat bagi kita dalam membangun karakter bangsa sehingga kita memahami dan menghayati apa yang telah dikedepankan secara baik oleh Ibu kita,” tutur Ainun.

Pada saat yang sama, sutradara film Kartini, Hanung Bramantyo, menceritakan alasan mengapa tokoh R.A. Kartini layak untuk diangkat ke dalam sebuah film. Pertama, literasi yang digaungkan oleh wanita kelahiran Jepara tersebut. Semangat literasi Kartini, kata Hanung, menjadi pengingat bangsa Indonesia bahwa menulis dan membaca adalah dasar dari sebuah pendidikan. “Literasi menjadi penting sekali. Itu yang mendasari kenapa Kartini menjadi seorang pahlawan yang harus diperingati,” ujar Hanung.

Kedua, R.A. Kartini merupakan sosok pahlawan yang turut menggerakan roda perekonomian yang ada di wilayah tempat tinggalnya, yaitu Kabupaten Jepara. Di mana, kerajinan ukir kayu pada saat itu dianggap sebagai sebuah kerajinan kampung dan orang-orang di desanya pada saat itu tidak mau mengukir wayang karena takut dikutuk.

“Melalui kartini mereka diberikan semacam motivasi bahwa ini boleh, tidak melanggar apapun. Karena itu kiprahnya Kartini dalam ekonomi siklus itu membuat kerajinan ukir di Desa Mukirsari bisa dikirim ke Negara Belanda,” tuturnya.

Senada dengan itu, pemeran utama film Kartini, Dian Sastrowardoyo, mengungkapkan sosok R.A. Kartini merupakan tokoh pahlawan yang menjadi idolanya karena banyak belajar dari tulisan-tulisan yang dituangkan dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”. “Tulisan-tulisan beliau sangat menginspirasi saya karena dia pantang menyerah di saat hidupnya dalam keadaan tidak ada harapan,” imbuhnya.

Dian mengutarakan, menjadi pemeran R.A. Kartini dalam film Kartini menjadi sebuah anugerah baginya karena dengan kesempatan bekerja, Dian dapat membaca seluruh tulisan R.A. Kartini. “Dengan menerapkan teladannya beliau, saya sendiri merasa jadi terbantu karir saya dan untuk menemukan tujuan hidup sendiri,” ungkapnya.

Aktivis perempuan dan penulis, Kalis Mardiasih, juga mengungkapkan perasaannya setelah menonton film Kartini. Kalis menjelaskan dengan menonton film Kartini, masyarakat tahu bahwa R.A. Kartini mendobrak hak-hak perempuan yang saat itu sulit sekali untuk merdeka. R.A. Kartini mampu mendefinisikan dirinya sendiri, nilai-nilai yang dipercayainya, mimpi-mimpi yang sudah dibangun serta perjuangannya dengan segala tantangannya.

“Dia (R.A. Kartini) saya kira menginspirasi semua orang. Dari latar belakang apapun dia berasal, dia berani selalu mempertanyakan siapa kamu, dan untuk apa kamu ada, dan bagaimana kamu memperjuangkan tentu dengan pengetahuan dan keberanian,” katanya.

Dalam laporannya, Kepala Puspeka Kemendikbud, Hendarman, berharap kegiatan nonton bareng film Kartini dapat terus menyalakan dan meneruskan semangat R.A. Kartini. Ia mengatakan, tujuan nonton bareng film Kartini ini adalah untuk mengedukasi kesetaraan dalam hal pendidikan terutama untuk perempuan Indonesia, dan mendorong kepercayaan diri perempuan dalam berkarya. Dan tidak kalah penting, menumbuhkan semangat perempuan untuk berkarya di berbagai bidang serta membangkitkan kualitas hidup perempuan.
 






Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Laman: kemdikbud.go.id

 Jakarta, 19 April 2021 --- Sehubungan dengan beredarnya protes dari kalangan yang menuding Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) atas penghilangan jejak tokoh pendiri Nahdlatul Ulama Hadratus Syech Hasyim Asy’ari dalam Kamus Sejarah Indonesia Jilid I, Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid menegaskan, “Kemendikbud selalu berefleksi pada sejarah bangsa dan tokoh-tokoh yang ikut membangun Indonesia, termasuk Hadratus Syech Hasyim Asy’ari dalam mengambil kebijakan di bidang pendidikan dan kebudayaan”.

Hilmar yang juga dikenal sebagai sejarawan melengkapi pernyataannya dengan fakta. “Museum Islam Indonesia Hasyim Asyari di Jombang didirikan oleh Kemendikbud. Bahkan, dalam rangka 109 tahun Kebangkitan Nasional, Kemendikbud menerbitkan buku KH. Hasyim Asy’ari: Pengabdian Seorang Kyai Untuk Negeri,” terangnya.

Meluruskan tudingan yang dimaksud kalangan tersebut, Hilmar menjelaskan “buku Kamus Sejarah Indonesia Jilid I tidak pernah diterbitkan secara resmi. Dokumen tidak resmi yang sengaja diedarkan di masyarakat oleh kalangan tertentu merupakan salinan lunak (softcopy) naskah yang masih perlu penyempurnaan. Naskah tersebut tidak pernah kami cetak dan edarkan kepada masyarakat”.

Lebih penting lagi, lanjut Hilmar, “naskah buku tersebut disusun pada tahun 2017, sebelum periode kepemimpinan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim. Selama periode kepemimpinan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim, kegiatan penyempurnaan belum dilakukan dan belum ada rencana penerbitan naskah tersebut,” jelasnya.

Keterlibatan publik menjadi faktor penting yang akan selalu dijaga oleh segenap unsur di lingkungan Kemendikbud. "Saya ingin menegaskan sekali lagi bahwa tidak mungkin Kemendikbud mengesampingkan sejarah bangsa ini, apalagi para tokoh dan para penerusnya,” tutup Hilmar.

https://www.nu.or.id/post/read/100448/kisah-gus-sholah-dirikan-museum-kh-hasyim-asyari-

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Sekretariat Jenderal

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Ciputat, 7 April 2021 --- Pusat Data dan Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Pusdatin Kemendikbud) kembali menyiapkan program Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), atau lazim disingkat “Pembatik”, di tahun 2021 ini. Sosialisasi prapeluncuran Pembatik dilaksanakan secara luring terbatas di Kantor Pusdatin Kemendikbud, Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (7/4). Pembatik akan diluncurkan secara resmi pada 15 April 2021, dan dilaksanakan pada pertengahan April s.d. Oktober mendatang.

Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Pusdatin, Muhammad Hasan Chabibie, berharap Pembatik mampu memperkuat literasi TIK para guru. Tahun lalu, Pembatik diikuti oleh 70 ribu guru. Hasan berharap, tahun ini bisa diikuti minimal 75 ribu guru yang akan jadi mitra penggerak pembelajaran abad 21. “Pandemi ini memaksa kita, mau tidak mau, untuk makin lincah memanfaatkan TIK dalam proses belajar mengajar,” ujar Hasan saat ditemui di kantornya.

Hasan mengatakan, program Pembatik dapat diikuti guru Pegawai Negeri Sipil (PNS), swasta, maupun guru honorer. Semua guru, kata dia, boleh mengikuti Pembatik, sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan. “Bukan berarti karena ini Pembatik, harus guru TIK yang ikut. Guru agama, bahasa, sejarah, apapun boleh. Harapannya, ini jadi cermin di mana teknologi dimanfaatkan di semua mata pelajaran,” ungkapnya.

Melalui Pembatik, Hasan berharap para peserta mampu menguasai TIK dan menerapkannya pada pengajaran di sekolah, serta menjadi penggerak TIK di lingkungan masing-masing. “Dengan ikut Pembatik, kami harap kompetensi dan wawasan mereka meningkat dan makin ahli menerapkan pembelajaran berbasis TIK,” tambahnya.

Syarat mengikuti Pembatik pun dibuat secara simpel dan mudah dipahami. Setiap calon peserta harus memiliki SK PNS bagi para guru PNS dan SK Yayasan bagi guru-guru swasta pada semua jenjang, yang dibuktikan dengan surat keputusan PNS yang bersangkutan, atau guru tetap yayasan yang dibuktikan dengan surat keputusan pengangkatan dari yayasan. “Kami buat persyaratan yang simpel, sesuai dengan semangat Merdeka Belajar. Sekali lagi, ini terbuka bagi guru negeri dan swasta,” imbuh Hasan.

Syarat lainnya, calon peserta yang mendaftar program Pembatik merupakan pengajar minimal satu bidang studi di sekolahnya (guru mata pelajaran/ guru kelas). Guru honorer di instansi pendidikan pemerintah/swasta dari semua jenjang juga dapat mengikuti program ini, dengan syarat bukti keputusan lembaga bersangkutan. Para guru yang menjadi peserta program pembatik diharapkan dapat meningkat kompetensinya sesuai dengan standar kompetensi TIK guru dari UNESCO.

Pada program Pembatik, dijelaskan Hasan, para peserta akan menghadapi empat tahapan pembelajaran. Fase yang akan dihadapi adalah literasi, implementasi, kreasi, dan berbagi. Pada tahap literasi, peserta akan dibekali wawasan. Selanjutnya tahap implementasi. “Mulailah kita bahas skenario paling tepat untuk implementasi di sekolah masing-masing,”  ujar Hasan.

Ketiga adalah tahap kreasi di manaa para guru akan diajarkan membuat konten seperti animasi sederhana. Tahap keempat, berbagi. Di sini, para guru akan didorong untuk berbagi inovasi-inovasi yang sudah dilakukan. “Inovasi-inovasi terbaik, pada penghujung program akan kita kumpulkan dan kita pilih yang terbaik untuk ditampilkan di portal Rumah Belajar,” jelas Hasan.

Hasan juga menyoroti, menyambung Pembelajaran Tatap Muka yang direncanakan mulai dilaksanakan kembali pada Juli 2021. Para siswa dan guru diharapkan tidak meninggalkan kemudahan teknologi yang sudah dirasakan selama masa Pembelajaran Jarak Jauh.

Lewat program ini, para guru juga didorong membagikan praktik baik di daerah masing-masing. Kemudian, guru-guru terbaik di 34 provinsi, akan dikumpulkan menjadi Duta Rumah Belajar, yang menjadi ujung proses peningkatan kompetensi di 2021.

Sebagai informasi, situs Rumah Belajar Kemendikbud sudah dikunjungi lebih dari 200 juta kali dan menjadi salah satu alternatif portal pemerintah yang terus memfasilitasi para pendidik selama masa pandemi.

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Laman: kemdikbud.go.id    
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id